Pagi
ini terasa aneh. Jalanan menuju sekolah sungguh tidak seperti biasanya, wajah
lain dari suatu yang tak ku ketahui sepertinya menampakkan dirinya hari ini.
Gerbang sekolahpun tak seriang pagi sebelumnya menyambut para pencari ilmu yang
datang. Muram. Berbeda. Bahkan langit terlihat datar, tak ceria pun tak muram.
Aku tak tahu deskripsi apa yang bisa menggambarkannya. Langit yang datar dan
tak berekspresi. Kejutan apa yang akan ku dapatkan hari ini? Perasaanku tak
enak sendiri.
Semua
yang ada di hadapanku pun terlihat berbeda. Wajah-wajah teman sekelasku sungguh
berbeda. Tak ada senyum, canda dan tawa seperti pagi sebelumnya. Beberapa
temanku membalas senyum padaku meski sangat kentara yang mereka lakukan itu
sangat mereka paksakan. Aku tidak tahu dengan apa yang terjadi di pagi ini.
Hingga aku tahu dari pengeras suara di depan kelas dari ruang kontrol sekolah.
“Assalamu’alaikum
warahmatullah wabarakatuh.” Suara dari pengeras di dalam kelas berbunyi. Ada
pengumuman apakah sepagi ini, fikirku. Belum rampung aku membalas salam,
beberapa temanku langsung mendatangi ku dan memeluk tubuhku erat.
“Eh..
ad ada apa ini?” tanyaku lirih.
Pertanyaanku langsung dijawab oleh Pak Agus di ruang kontrol.
“Innalillahi wa
inna ilaihi roji’un… ” Aku termenung tak menggubris beberapa sahabatku yang memeluk
dan menangis di pundakku. “Telah meninggal dunia, ananda . . .”
@@@
Pikiranku
melayang menuju tempat yang tak bertuan, aku tak tahu dimana ini. Sesosok
bayangan mendekat dari ujung jalan. Mendekatiku.
“Kamu?
Kamu kemana saja?” tanyaku padanya. Aku mungkin tak pernah menanggapi apa yang
telah ia lakukan selama ini. Tapi itu secara lahir, tidak begitu dengan hatiku.
Aku mulai terpengaruh dari kata-kata yang ia selipkan diantara sajak-sajak
singkat yang sering ia tujukan padaku. Meski memang aku tak pernah menyukai
itu.
Hanya
senyumnya yang menjawab pertanyaanku. Menatap lekat pada kedua mataku yang aku
tak tahu tak dapat aku menghindari tatapnya padaku. Aku tak dapat berpaling
dari tatapnya seperti biasanya, saat aku dan dia berpaling saat bersitatap.
“Maafkan
aku Fa, atas semua sikapku yang telah membuatmu tidak nyaman.” katanya padaku
tak menggubris sedikitpun pertanyaanku.
“Ini
yang terakhir untukmu. Ku harap kau tidak terpaksa menerima ini seperti
keterpaksaanmu saat membaca sajak-sajakku” katanya padaku tersenyum sembari
memberiku mawar putih. Padahal setahuku dia paling tahu kesukaanku mawar merah.
Tapi aku tak tahu apa maksudnya ini. Aku menerima mawar itu sambil aku amati
kelopaknya, indah dan bersih.
Saat
aku mendongak, dia telah menjauh dari jangkauku. Aku memanggilnya keras.
Mengejarnya. Menginginkan penjelasan dari semua ini. Apa maksudnya? Aku tak
mngerti. Aku berlari mengejarnya secepat dan sekuat yang bisa kulakukan. Tapi
semakin cepat aku memburu, semakin cepat pula ia menjauh. Hingga akhirnya
hilang dari jangkau dan tatapanku. Aku terduduk menunduk. Menangis sekeras yang
bisa ku keluarkan. Aku tak tahu. Aku hanya takut kehilangannya.
@@@
Aku
terbangun dari ketidaksadaranku dengan nafas memburu. Seakan yang baru saja
terjadi adalah nyata dan sebuah mawar putih tergeletak disampingku.
Banyak
cerita yang ku ingin kau mendengarkannya. Tapi sepertinya kau sudah tak mau
mendengarkan ceritaku. Lama aku tak menjumpaimu seperti ini. Sungguh aku tak
tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu hingga kau berubah seperti ini. Aku
sungguh terkaget dan tidak menyangka kau akan memperlakukanku seperti ini.
Meninggalkanku sendiri di tempat yang belum pernah aku sambangi. Aku takut.
Sungguh aku sangat kehilanganmu.
“Kamu
sudah sadar? Syukurlah…”
“Apa
yang terjadi?”
“Kamu
tadi pingsan. Ini minum dulu”
Dari
cerita teman-teman, aku baru tahu kalau aku baru saja pingsan. Cukup lama,
hingga akhirnya aku dibawa ke rumah sakit seperti ini. Aku shock, kaget mendengar
kabar meninggalnya temanku. Teman, apakah selama ini dia ku anggap teman?
Atau…?
@@@
“Hi,
mf ini bnar dg Na y?” sebuah pesan singkat mampir diteleponku sekitar pukul
tujuh malam saat aku sedang asyik membaca novel yang baru saja aku beli tadi
siang. Aku tak menggubris pesan singkat itu. Membiarkannya menguap ditelan
waktu agar nomor tak dikenal itu tak lagi menghubungiku. Aku tak suka. Tapi
rasanya tak enak juga kalau tidak dibalas.
“Iy,ad
ap?” balasku singkat sekitar pukul sepuluh malam setelah mataku lelah melahap
beberapa bab novel Ketika Cinta Bertasbih.
“Indra,
boleh kenalan?” mataku merem melek membaca pesannya. Entahlah aku tak sadar aku
hanya melihat pesan itu lalu terlelap.
Hari
selanjutnya aku baru tahu ternyata yang semalam mengirimkan sms kepadaku adalah
salah seorang anak laki-laki yang satu kelas denganku. Dia bersikap biasa
denganku, seperti tidak terjadi apa-apa semalam. Tidak ada kata protes darinya
saat aku sengaja tak membalas sms terakhirnya semalam.
“Salah
siapa malam-malam? Mengganggu orang saja..” batinku. Hari-hari pertama
merupakan waktu adaptasi dengan beberapa teman baru yang belum ku kenal meski
sudah satu tahun aku di sekolah ini bersama mereka. Kelas yang berbeda dan
lokasi kelas yang selalu berpindah (moving class) menjadikanku sulit untuk
mengetahui semua teman-temanku, terkecuali untuk yang satu kelas denganku.
Tidak
ada perkenalan secara resmi, akan tetapi semua berbaur untuk mengenali satu
sama lain. Dan juga dia, dia dengan sedikit gugup berkenalan denganku. Meskipun
sudah sekuat tenaga dia tahan kegugupannya, tapi masih sangat jelas di mataku
dia sangat gugup saat berkenalan denganku.
“Emmmh,,
kamu Nana ya?” tanyanya padaku.
“Iya,
salam kenal ya?” singkatku lalu aku pergi meninggalkannya. Aku tak tahu, tapi
aku memang ingin menjaga diriku. Atau mungkin lebih tepatnya aku tak ingin dia
melihatku salah tingkah jika berada di depannya. Mungkin.
Di
kelas, dia senang sekali membuat sajak. Entah sajak apapun itu, baik
persahabatan, cinta maupun tentang alam. Dia juga senang sekali berkunjung ke
perpustakaan dengan salah satu teman kelasnya dulu.
Lalu,
entah dia tahu dari siapa. Pada saat malam ulang tahunku dia mengirimkan sajak
padaku. Sajak tentang kepasrahan dan keputus asaannya tentang rasanya padaku,
juga tentang doanya padaku. Ya, hari itu adalah ulang tahunku yang ke 17 dan
puisinya itu...
Demi sebuah hati telah aku susuri semua
waktu
Hingga terhenti langkahku pada jiwa
suci yang tertanam pada ragamu
Ilusif.. dan semua hanya imajiner-imajiner
yang terlalu tinggi yang menghinggapi fikiranku
Najam yang terang bersinar di batas
cakrawala menyadarkanku untuk tinggalkan semua mimpi dan ilusiku
Aurora suci kasihmu tak mampu ku gapai
walau telah aku coba dengan sepenuh hati
Fajar pagi bersinar terang
Ridhoimu tapaki jalan baru, menjadi
sesuatu yang baru seperti doamu keluargamu dan doamu
Aamiin
“Aamiin..
terima kasih.. ” balasku singkat.
Sajak
pertama yang aku terima darinya saat malam pertama umurku yang ke tujuh belas. Mungkin
sebagai ucapan selamat ulang tahun padaku. Beberapa hari sebelumnya dia pernah
mengungkapkan padaku kalau dia menyukaiku. Sebenarnya aku pun mempunyai rasa
yang lain. Aku menyukainya, tapi tidak bisa lebih untuk saat ini. ada hal yang
menurutkku lebih penting daripada menerima cinta seorang yang belum tentu akan
menjadi seorang yang sama di waktu yang lain.
Sejenak,
aku kembali membaca sms yang ditujukannya padaku pada malam hari saat ulang
tahun ke tujuh belasku. Cukup bagus. Aku tersenyum sendiri merangkai huruf
depan yang mengawali setiap baris sajaknya.
@@@
Aku
melewati lorong gelap. Tak sedikitpun bercahaya. Sepertinya bulan dan bintang
berhalangan hadir malam ini. Tak ada berkas sinar mereka sedikitpun yang
terlihat. Semua hitam gelap, bahkan aku harus berjalan perlahan agar aku tak
menabrak benda yang bisa saja berada di depanku.
“Slaasshh…”
sebuah garis cahaya terlihat melintas panjang di langit yang gelap. Bahkan aku
tak yakin apa yang di atasku ini benar-benar langit yang biasa aku lihat
kemarin. Entah datang dari mana, setelah kilatan cahaya meteorit langit berubah
menjadi proyektor raksasa.
“It..
itu? siapa?” tanyaku kaget melihat semuayang terpampang tiba-tiba di hadapanku.
“Apakah
kau sudah lupa? Bukankah kau sering melihatnya?” jawab suara dari seseorang
yang sudah sangat ku kenal. Tapi entah mengapa aku tak tahu namanya sama
sekali. perlahan langkahnya mendekat, lalu menepuk bahuku.
“Kau
tidak lupa dengan ini bukan?” tanyanya padaku. Suaranya bijak, tak ada kata
perintah ataupun sebuah bentakan. Mungkin dia mengerti ingatanku masih sedikit
lupa dengan apa yang ada di depanku.
Jalanan
yang sedari tadi gelap, sedikit demi sedikit mulai terlihat. Menjelma menjadi
sebuah tempat yang sangat aku kenal. Pohon rambutan di pinggir jalan yang sudah
sangat aku hafal letaknya. Lalu tak jauh dari pohon rambutan itu, sekitar 50
meter ada halte bus yang biasanya ramai saat pagi hari sewaktu jam sibuk
anak-anak berangkat sekolah. Perlahan matahari bersinar di ujung timur, mulai
merangkak naik menyinari semua permukaan bumi. Bebatuan, jalanan, atap-atap
dari seng dan genteng berwarna merah. Bahkan kehangatan sinarnya pun dapat ku
rasakan. Apakah ini benar-benar dunia?
Satu
demi satu orang-orang mulai memulai aktifitasnya. Kendaraan bermotor pun mulai
berlalu lalang melewati jalanan lengang dengan kecepatan cukup tinggi. Maklum,
masih belum terlalu ramai. Aku berdiri di seberang halte, melihat kesibukan
yang perlahan terbangun dari tidurnya.
“Dimana
aku?” tanyaku.
“Bukankah
kau tahu sendiri ini dimana? Kau sudah mengenal tempat ini dengan sangat jelas
bukan?”
Aku
benar-benar tak habis pikir dengan kakek yang ada disampingku ini. Bukankah aku
yang bertanya? Mengapa dia membalikkannya dengan pertanyaan lagi? Aku hanya
terdiam, Kakek ini memang benar. Aku memang sudah sangat mengahafal sedang
dimana aku saat ini. Jadi mengapa aku harus bertanya?
“Lalu
siapa anda, Kek?” tanyaku lagi sambil menoleh padanya.
Dia
menoleh padaku lalu tersenyum, sorotnya matanya menatapku teduh. Menenangkanku
sejenak. Mulutnya bergetar, seperti sedang mengatakan sesuatu. Tapi entah, aku
tidak mendengar suaranya sama sekali.
Dari
ujung jalan sana, terlihat satu demi satu anak-anak kecil berseragam merah
putih. Anak-anak kecil berwajah polos yang berlarian saling berkejaran. Meniti
langkah-langkah kecil menuju sekolah mereka. Kemudian beberapa anak bersergam
putih biru pun mulai muncul. Tak ketinggalan pula beberapa remaja berseragam
putih abu-abu mulai terlihat. Berbaur satu sama lain. Lalu berkumpul di
pinggiran jalan dan halte bus.
Jalanan
mulai ramai, beberapa bus angkutan umum bahkan terlihat penuh sesak oleh anak-anak
sekolah yang kebanyakan berseragam biru putih dan putih abu-abu. Bau debu
bercampur dengan asap knalpot kendaraan yang mulai ramai memaksa beberapa anak
harus menutup hidung mereka. Ya. Aku masih sangat ingat, saat itu masih musim
kemarau, sekitar satu bulan setelah hari penerimaanku sebagai salah satu murid
tingkat atas di kotaku.
Lalu
perlahan dari ujung jalan disana, satu sosok perempuan berkerudung berwajah
putih dengan mata bening berjalan terburu menuju halte bus. Sepertinya belum
terlalu siang untuk sampai di sekolah, tapi aku tak tahu mengapa dia berjalan
terburu seperti itu.
@@@
Aku
memutuskan untuk pulang menenangkan diri. Sepertinya menangis pun tak ada
gunanya, aku harus mengalihkan diri segera agar tak ada yang tahu sebenarnya
perasaanku. Menyembunyikannya secara rapi dan membagi cerita pada orang yang
benar-benar aku percaya bisa menjaga semuanya untukku.
Beberapa
kali aku harus menyapu tangan membersihkan air mata yang entah darimana terus
saja menetes. Apakah ini yang disebut dengan kehilangan? Tapi, bukankah aku tak
pernah memilikinya? Bahkan menganggapnya berharga pun tidak. Tapi mengapa aku
menjadi aneh sendiri seperti ini? Jika dia bukanlah seorang yang berharga,
seharusnya aku tak seperti ini bukan?
“Aku
akan menemanimu pulang. Kau tidak keberatan kan? Dan aku memaksa.” paksa Wati
menawarkan diri. Khawatir dengan kondisiku yang masih shock, belum stabil.
“Baiklah.”
Aku tahu satu temanku ini sangat keras kepala. Tak ada gunanya berdebat atau
mengusirnya sekarang.
Wati
tak berkata apapun sepanjang mengantarkanku pulang. Mungkin takut membuat
keadaanku semakin parah, hingga canda kecil yang biasa dilontarkannya pun tak
keluar darinya. Biasanya dia akan dengan bersemangat menceritakan hal-hal lucu
yang membuatku tertawa jika sedang sedih. Tapi tidak untuk saat ini. Dia paham
sekarang aku sedang tidak membutuhkan lelucon untuk tertawa, aku membutuhkan
lebih banyak pasokan oksigen yang harus otakku terima agar pikiranku lebih
tenang sedikit.
“Sepertinya
kau membutuhkan banyak istirahat. Kesibukanmu akhir-akhir ini membuatmu tak
seperti biasanya Na.” katanya padaku sesampainya di rumahku.
“Ku
pikir juga begitu.” Jawabku sambil mencoba tersenyum. “Makasih ya, udah mau
nganterin aku.” lanjutku.
Dia
hanya tersenyum, matanya teduh mencoba menguatkanku. Tiba-tiba dia memelukku
erat.
“Kau
harus kuat Na.” katanya berbisik padaku. Tangisku hampir kembali tumpah, tapi
aku harus segera membuatnya percaya kalau aku tidak apa-apa. Sesaat kemudian
tangannya melonggar. Aku menjawabnya dengan senyum dan anggukan pelan. Lalu dia
meminta ijin untuk pergi.
Aku
merebahkan tubuhku, menarik nafas panjang dan membuangnya pelan. Cara ini
adalah cara paling ampuh yang selalu aku gunakan saat perasaanku tak tenang.
Biasanya dengan cara ini aku bisa dengan
cepat menenangkan saraf dan pikiranku yang tak tenang, lalu perlahan otak akan
memerintahkan mataku terpejam dan tertidur. Melupakan semua masalah dengan
memejamkan mata –lebih tepatnya tertidur –sedikit banyak bisa membantuku
mendapatkan solusi saat aku terbangun dengan kondisi fikiran dan tubuh yang
lebih fresh.
“Dimana
aku?” tanyaku kepada kegelapan yang tiba-tiba saja mengurungku. Sepi, tak ada
yang menjawab. Perlahan sebuah sinar samar bercahaya terlihat di ujung jauh.
Menampakkan siluet jalan yang terpampang menuju sumber cahayanya. Mendadak
tanpa aba-aba, cahaya samar itu berputar, mengaburkan pandanganku. Tubuhku
terasa tersedot ke dalam cahaya itu, aku berteriak minta tolong sekeras suara
yang bisa ku keluarkan. Perlahan cahaya itu menyeret tubuhku masuk ke dalamnya.
Aku berusaha berlari menjauh, mencari sesuatu yang mungkin bisa saja ku pegang
untuk menghambat pusaran itu hingga seorang datang menolongku.
“Tolong!
Tolong!” teriakku berulang kali, berharap ada seorang yang mendengar teriakanku
dan segera menolongku. Nafasku memburu, pusaran itu semakin lama semakin kuat
menarik tubuhku. Aku panik, detak jantungku semakin tak terkendali, hingga
tanganku lemas dan terlepas. Terserat ke dalam pusaran yang tak ku ketahui
muaranya, dan semuanya gelap.
“Na
Na… bangun. Kau tidak apa apa?” sapa seorang membangunkanku dari tidurku.
“Hah!
Dimana aku? Kenapa kau di sini?” aku terlonjak kaget. Ternyata itu hanyalah
mimpi. Nafasku masih memburu, mimpi tadi seperti sangat nyata membuat jantung
berdegup tak karuan.
“Tenang,
kau hanya mimpi buruk Na. Minumlah dulu.” Katanya sambil memberikan segelas air
putih kepadaku.
“Terimakasih.”
Kataku setelah meminum air putih yang dia berikan padaku. “Tapi… kenapa kau ada
di sini? Pergi sana!” Aku kaget sendiri kenapa dia bisa sampai berada di kamarku.
Apakah ayah dan ibu tak mendengar teriakanku? Dan juga, mengapa dia yang harus
ada di sini. Tidak sopan! Batinku tak suka.
@@@
Matahari
meninggi, waktu terus berlalu dan jalanan pun bertambah ramai. Aku masih
berdiri di sini melihat waktu memvisualkan lagi masa laluku. Dari seberang
jalan ini, aku bisa melihat wajahmu yang sudah lama tak ku lihat. Paras cantik
yang selalu kau lindungi dengan kerudung yang kau kenakan dan selalu kau
palingkan saat kau tahu aku sedang melihat wajahmu. Tapi sekarang tak perlu
lagi kau memalingkan wajahmu saat aku melihatmu, karena aku tahu kau pasti tak
menyadari kehadiranku disini.
Kerudung
putih yang kau kenakan berkelebat lembut saat kau berlari-lari kecil menuju
halte bus. Lalu tiba-tiba kau berhenti, mencari sekeliling. Sepertinya kau tahu
ada yang sedang mengamatimu dari jauh. Sejenak mata kita beradu tatap. Tapi
matamu tak fokus saat menatapku, sepertinya kehadiranku sama sekali tak kau
sadari.
Tak
berapa lama, sebuah bus berhenti. Kau masuk ke dalamnya. Dari kaca jendela bus
yang kau naiki, aku masih bisa melihatmu dari jauh. Sejenak matamu menyisir ke
belakang, mencari tempat duduk yang kosong. Tapi semua kursi sudah terisi oleh
penumpang. Dan sepertinya kau harus berdiri. Bus melaju menjauh. Aku hanya bisa
melihatmu dari sini yang menghilang dibawa bus sekolah. Tiba-tiba penglihatanku
berputar. Gelap.
“Kau
tak akan melewatkan moment ini bukan?” kata Kakek tua disampingku. Aku belum
sadar sepenuhnya, mataku masih terasa pusing.
“Tak
akan pernah aku melupakan ini.” kataku lirih pada Kakek tua yang menanyakan hal
itu padaku.
Di
depanku kini terpampang sebuah ruangan yang sangat aku kenali. Ruangan
bersejarah dengan seribu kenangan di dalamnya. Jika menengok ke luar jendela di
sana, masih terlihat sawah yang menghijau, lalu jauh di seberang terlihat
perbukitan hijau dengan berbagai macam tanaman yang memenuhi permukaan
tanahnya. Dari luar jendela, aku melihatmu datang terburu. Kau tak melihat
seseorang yang juga sama sedang berlari. Lebih tepatnya berkejaran. Iseng,
mumpung waktu masih pagi dan keadaan belum terlalu ramai dengan anak-anak yang
lain. Aku mengenal sekali wajah itu.
“Aaww…
‼” kau tiba-tiba saja terhenti, hampir terjatuh dari larimu. Terkaget melihat
seorang yang melintas di depanmu.
“Eitss..”
kata anak itu kaget, langsung berhenti di sampingmu. Beruntung tidak sampai
menabrakmu yang sedang terburu-buru.
“Huh..!”
kesalmu langsung berjalan menuju ruang kelas. Tapi tidak disangka, kau
menginjak tali sepatumu sendiri. Kau hampir saja terjatuh lalu reflek anak itu
memegang tanganmu.
“Eh..
Maaf.” Tangannya langsung dilepaskan. Darisini ku lihat mukamu sedikit memerah.
Entah karena malu atau marah, karena kau hampir saja bertabrakan dengannya lalu
kau hampir saja terjatuh sendiri. Aku tersenyum melihat adegan itu. Anak
laki-laki itu berdiri mematung.
“Hati
- … “ belum sempat anak itu selesai berkata kau langsung memotongnya.
“Terima
kasih.” Katamu menatap sejenak wajah anak itu, tak sampai tiga detik kau segera
menundukan wajahmu. Wajahmu terlihat kaget karena anak itu sekelas denganmu,
lalu kau segera beranjak pergi menuju kelas. Dibalik kaca di luar sekolah ini,
aku tersenyum melihatmu bertingkah seperti itu.
@@@
Aku
kesal melihatmu yang hanya tersenyum saat kau menatap wajah marahku. Aku sama
sekali sedang tidak bercanda atau melawak, tapi kau hanya senyam-senyum saja
melihat kekesalanku. Sungguh benar-benar kau tak menghargaiku.
“Aku
pamit untuk pergi Na. Maafkan jika kedatanganku membuatmu tak nyaman.” Katamu
penuh penyesalan menatap lekat mataku. Aku menunduk, menghindari tatapmu yang
sangat mengintimidasi perasaanku. “Bukan sesuatu yang istimewa, tapi ku harap
kau akan menyukainya.” Lanjutnya memberiku satu kupu-kupu kertas putih di depan
mataku. Aku tergagap, mendongak menatapnya.
Tiba-tiba
semua berubah. Ruangan kamarku yang sangat ku kenali terserap pada satu titik
di belakang punggungnya. Aku mencoba berteriak, tapi tak sanggup. Seluruh
tubuhku terasa tak bertenaga. Suaraku
hilang. Lidahku kaku. Bahkan tangan dan kakiku pun tak bisa ku gerakkan.
Mataku terbelalak kaget. Perlahan wujud yang ada di depanku perlahan menjauh.
Matanya terus menatapku yang kini tak bisa lagi berpaling menerima sorot
matanya yang semakin damai. Seketika seseorang berada di sampingnya, mengatakan
sesuatu padanya seperti tak terjadi apa-apa. Tak mempedulikanku sedikitpun.
“Baiklah.”
Kata Kakek di sampingnya sembari menepuk pundaknya lembut. “Ayo pulang.” lanjutnya
sembari mendorongnya untuk mengikuti langkahnya. Namun seperti dia masih tak rela
dan mencoba menahan langkahnya untuk tinggal, tapi tak bisa. Dia menatapku
pasrah.
“Mungkin
saat ini kau belum mengerti. Memang bukan kapasitasku untuk menjelaskan tentang
selengkapnya yang terjadi. Ada yang mempunyai kuasa untuk memberitahukanmu
semuanya padamu nanti. Kau harus tahu, ada hal yang memang tak bisa kau pahami
dengan hanya membacanya, mendengarnya atau menulisnya. Ada banyak hal yang
membutuhkan hati agar kau bisa memahaminya.” Jelasnya tak memepedulikan
keberadaanku yang sedang mematung tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
“Jangaan..‼”
teriakku mencoba menahannya pergi. “Ja.. jangan, jangan pergi! Ku mohon jangan
pergi dariku. Tolong...” Pintaku padanya. Dia hanya tersenyum padaku, tak ada
satu pun kata yang terucap darinya. Mataku panas menahan perih yang tiba-tiba
saja terasa sangat menyakitkan. Aku benar-benar sudah tak bertenaga, tubuhku
lemas bahkan indera pendengaranku pun tak berfungsi maksimal. Mulutnya
mengucapkan sesuatu sesaat sebelum dia berbalik menuju cahaya putih yang
menyerap semua hal di sekitarku. Perlahan kesadaranku menghilang, tubuhku
tumbang. Mataku samar melihat bayangnya pergi bersama sesosok orang yang tak ku
ketahui. Lalu semuanya gelap.
@@@
Angin
dingin berhembus tenang, membelai halus padang rumput ilalang yang sedang
berbunga. Menerbangkan putik-putik berwarna putih ke segala arah, berhamburan
mengikuti arah angin yang berubah-ubah. Langit kelabu mulai berarak menyebar ke
segala arah. Menutupi birunya langit dengan sempurna. Hingga tak ada celah
sedikitpun bagi cahaya matahari untuk menyapa bumi.
Aku
menatap langit dengan mata panas, geram. Rasa dan rindu itu terkumpul
menggumpal, berarak tak tentu arah mencari sosok yang telah hilang. Hingga
sesak. Penuh. Tak jua tahu kemana rasa dan rindu itu harus aku labuhkan.
“Terima
kasih telah mencintaiku.” Kataku pada kupu-kupu kertas putih di tanganku.
Mataku memanas. Menahan sesak dan perih tersakiti rasa yang harusnya aku
lupakan.
“Tik
..” satu tetes air membasahi kupu-kupu kertas di tanganku. Tangis itu keluar
begitu saja tanpa ku sadari. Tanganku segera mengusap, menahan tangisku sekuat
yang ia bisa lakukan. Namun aku tak kuasa menahannya. Tangis itu tercipta tanpa
bisa ku tahankan. Berlinang beriring hujan yang perlahan membasahi rerumputan.
Rasa
dan rindu itu akhirnya tumpah berlinang bersama hujan. Membasahi tanah dan
meresap. Terkubur dan tersimpan rapi, berharap tak ada celah untuk kembali.
Karena semua hanyalah masa lalu yang tak mungkin bisa terulang lagi.
Banjarnegara, 16 februari 2014