Translate

Kamis, 16 Oktober 2014

Tentang Hati(mu)

Siapa tahu tentang hati(mu).
Tak ada yang tahu apa isi hati(mu).
Mungkin tentang dia.
Mungkin tentang cinta.
Atau mungkin tentang diri(mu) sendiri.

Siapa tahu tentang hati(mu).
Tak ada yang bisa menerka.
Apa isi hati(mu) dan sedang apa rasa hati(mu).

Apakah terasa hambar atau damai?
Apakah terasa bahagia atau terasa sempit?

Siapa tahu tentang hati(mu).
Tak ada. Tak ada yang tahu.
Selain hati(mu) sendiri.

Selasa, 13 Mei 2014

[Menyesal] Mengenalmu



“Banci aja ngerokok, kamu gak ngerokok kalah dong sama banci?!” ledek temanku di sambut suara tawa yang kompak mentertawakanku yang tak mau merokok. Biasanya ledekannya tidak mempan padaku, tapi kali ini aku sudah bosan mendengarnya. Aku berlagak tenang, tapi sebenarnya hatiku membuncah marah. “Enak saja! Aku dibanding bandingkan dengan banci. Akan aku tunjukan pada mereka!” batinku sembari menghabiskan satu gelas juz jeruk yang baru saja ada di depanku.

“Wuih... Gilee, langsung abis satu gelas. Kesetanan kamu Don?” tanya Beni.

Tanpa banyak kata, aku langsung masuk ke dalam warung. Membeli satu bungkus rokok dan langsung aku nyalakan di depan Beni dan teman-temanku. Sebuah awal dari kebiasaan tak sehat yang saat ini sangat aku sesali.

“Ckrik ckrik...” suara korek api membakar batang pertama rokok yang aku hisap. Bersama dengan nyala korek membakar batang rokok di mulutku, teman-temanku langsung menyambut girang. Menepuk pundaku hingga membuatku tersedak.

“Sabar aja sob! Nikmati aja rokoknya. Gak usah dimakan.” Kata Beni disusul tawanya melihatku tersedak karena asap racun itu memasuki rongga paru-paruku.


@@@


Baru dua minggu berkenalan dengan rokok, aku berubah menjadi pencandu rokok yang tak bisa berhenti. Setiap hari setidaknya satu bungkus rokok aku habis. Padahal saat dulu aku masih duduk di kelas satu SMP.

“Udah kayak kereta asap aja Lo bro. Ngepul terus..” sahut Andre menyindir melihatku sudah menghabiskan setengah bungkus rokok pagi ini. Aku tak peduli dengan apa yang dikatakan temanku ini. Dia tak tahu betapa pahitnya saat aku tidak merokok satu batang pun dalam sehari.

“Kok kamu jadi perokok si Don? Padahal kan kemaren-kemaren enggak?” tanya Anita sesaat setelah aku mematikan rokok. Wajahnya terlihat cemas dan heran melihat kebiasaanku yang berubah secara drastis.

Aku hanya menjawabnya dengan senyum, tak ingin berdebat dengannya. Karena sudah pasti pernyataanku tidak akan berguna baginya dan pasti dia akan mencoba menceramahiku untuk berhenti merokok. Aku sudah bosan mendengar segala macam ceramah yang mencoba membujukku untuk berhenti merokok.

“Kau bicara seperti itu karena tak tahu rasanya merokok bukan?” timpalku balik saat ada orang yang mencoba menceramahiku untuk berhenti merokok.


@@@


Sudah sekitar tiga hari aku terbaring di sini. Di ruang bercat putih dan bertirai hijau. Obat dan infus sudah menggantikan sahabat karibku selama tiga tahun lalu. Rokok. Ya, sahabat karib yang dulu selalu dibanggakan oleh teman-temanku. Kini akhirnya berusaha membunuhku.

“Uhuk uhuk..” aku tersedak saat sedang tertidur. Terbatuk tak kunjung henti hingga mengeluarkan darah.

“Kamu kenapa Nak?” tanya ibu melihat keadaanku yang tiba-tiba batuk di tengah malam.

“Uhuk.. nggak tau bu.. Uhuk.. tiba-tiba sa.. “ aku tak sadarkan diri.

Cahaya putih silau mengganggu penglihatanku. Mataku tak bisa melihat, aku memutuskan untuk memejamkan mataku beberapa saat. Menunggu seseorang mematikan lampu yang ditujukan ke wajahku. Tapi sepertinya cahayanya tak kunjung dipadamkan. Aku memaksakan mataku melihat sekeliling. Semua terlihat berwarna sama, putih.

“Nak, kau sudah sadar?” sapa seorang yang entah dari mana sudah duduk disampingku.

“Ah.. Iya, Anda? Siapa?” tanyaku kaget dan heran melihatnya tiba-tiba saja berada disampingku.

“Syukurlah. Ini menjadi peringatan untukmu. Kau tahu, dulu ayahmu juga meninggal karena penyakit ini. Penyakit yang sama yang membuatmu terbaring seperti ini.” Katanya pelan tapi menusuk.

“Ke.. Kenapa kau bisa tahu hal itu? Siapa kau?” tanyaku heran. Tak ada jawaban sama sekali, dia hanya memberikan senyum. Senyum yang bermakna ganda, damai dan mengancam. Tiba-tiba cahaya putih semakin kuat. Silau membuat kepalaku semakin pusing, rasa-rasanya dunia seperti berputar dan aku terbawa di dalamnya.


@@@



Tubuhku masih terbaring dengan selang infus juga masker oksigen yang masih terpasang. Beberapa temanku terlihat menjenguk, tapi aku tak dapat bersuara bahkan bergerak. Paru-paruku saja terasa sakit untuk bernafas. Akibat dari merokok, ternyata telah memicu kanker paru-paru, sama seperti pemmbunuh yang membunuh ayahku dulu. Seharusnya aku tak menanggapi ledekan temanku.

--------



Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba menulis "Diary Sang Zombigaret"

Rabu, 19 Februari 2014

Ini selalu dirimu jika kau tahu




 Mawar melayu
Langit muram sedih
Menangis bersandar bumi

Melihatmu . . .

Terbawa jauh jarak dan waktu
Melarang cinta dan rindu
Temui bayangmu

Aku luluh. . . remuk. . . berserak

Ini selalu kamu. . .jika kau tahu. . .



08 Januari 2010 

Belum sepenuhnya, Tapi hatiku...





Belum sepenuh purnama ku lalui malam tanpa hadirmu
Namun rinduku menyeruak, resah
Keluar dari jiwa yang telah lama tak jumpai dirimu

Belum sepenuh purnama ku lalui waktu mencoba tak memikirkanmu
Namun otakku tak mampu melepasmu dari fikirku
Menahan kenangan-kenangan kita
Yang selalu memberi warna pada tiap inci dunia

Belum sepenuh purnama ku mencoba berpaling darimu
Namun cinta ini tercipta tak inginkan yang lain selain dirimu
Dan rindu ini pun tak inginkan yang lain selain hadirmu

Belum sepenuhnya aku mengenalmu
Belum juga tahu semua tentang dirimu
Tapi rasa ini tercipta sepenuhnya untukmu

Belum sepenuh purnama, tapi hatiku telah sepenuhnya untukmu
Hanya kamu



03 Agustus 2010

Biarlah Berlalu, Seperti Hujan





Pagi ini terasa aneh. Jalanan menuju sekolah sungguh tidak seperti biasanya, wajah lain dari suatu yang tak ku ketahui sepertinya menampakkan dirinya hari ini. Gerbang sekolahpun tak seriang pagi sebelumnya menyambut para pencari ilmu yang datang. Muram. Berbeda. Bahkan langit terlihat datar, tak ceria pun tak muram. Aku tak tahu deskripsi apa yang bisa menggambarkannya. Langit yang datar dan tak berekspresi. Kejutan apa yang akan ku dapatkan hari ini? Perasaanku tak enak sendiri.


Semua yang ada di hadapanku pun terlihat berbeda. Wajah-wajah teman sekelasku sungguh berbeda. Tak ada senyum, canda dan tawa seperti pagi sebelumnya. Beberapa temanku membalas senyum padaku meski sangat kentara yang mereka lakukan itu sangat mereka paksakan. Aku tidak tahu dengan apa yang terjadi di pagi ini. Hingga aku tahu dari pengeras suara di depan kelas dari ruang kontrol sekolah.


“Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.” Suara dari pengeras di dalam kelas berbunyi. Ada pengumuman apakah sepagi ini, fikirku. Belum rampung aku membalas salam, beberapa temanku langsung mendatangi ku dan memeluk tubuhku erat.


“Eh.. ad  ada apa ini?” tanyaku lirih. Pertanyaanku langsung dijawab oleh Pak Agus di ruang kontrol. 
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un… ” Aku termenung tak menggubris beberapa sahabatku yang memeluk dan menangis di pundakku. “Telah meninggal dunia, ananda . . .”


@@@


Pikiranku melayang menuju tempat yang tak bertuan, aku tak tahu dimana ini. Sesosok bayangan mendekat dari ujung jalan. Mendekatiku.


“Kamu? Kamu kemana saja?” tanyaku padanya. Aku mungkin tak pernah menanggapi apa yang telah ia lakukan selama ini. Tapi itu secara lahir, tidak begitu dengan hatiku. Aku mulai terpengaruh dari kata-kata yang ia selipkan diantara sajak-sajak singkat yang sering ia tujukan padaku. Meski memang aku tak pernah menyukai itu.


Hanya senyumnya yang menjawab pertanyaanku. Menatap lekat pada kedua mataku yang aku tak tahu tak dapat aku menghindari tatapnya padaku. Aku tak dapat berpaling dari tatapnya seperti biasanya, saat aku dan dia berpaling saat bersitatap.


“Maafkan aku Fa, atas semua sikapku yang telah membuatmu tidak nyaman.” katanya padaku tak menggubris sedikitpun pertanyaanku.


“Ini yang terakhir untukmu. Ku harap kau tidak terpaksa menerima ini seperti keterpaksaanmu saat membaca sajak-sajakku” katanya padaku tersenyum sembari memberiku mawar putih. Padahal setahuku dia paling tahu kesukaanku mawar merah. Tapi aku tak tahu apa maksudnya ini. Aku menerima mawar itu sambil aku amati kelopaknya, indah dan bersih. 


Saat aku mendongak, dia telah menjauh dari jangkauku. Aku memanggilnya keras. Mengejarnya. Menginginkan penjelasan dari semua ini. Apa maksudnya? Aku tak mngerti. Aku berlari mengejarnya secepat dan sekuat yang bisa kulakukan. Tapi semakin cepat aku memburu, semakin cepat pula ia menjauh. Hingga akhirnya hilang dari jangkau dan tatapanku. Aku terduduk menunduk. Menangis sekeras yang bisa ku keluarkan. Aku tak tahu. Aku hanya takut kehilangannya.


@@@


Aku terbangun dari ketidaksadaranku dengan nafas memburu. Seakan yang baru saja terjadi adalah nyata dan sebuah mawar putih tergeletak disampingku.


Banyak cerita yang ku ingin kau mendengarkannya. Tapi sepertinya kau sudah tak mau mendengarkan ceritaku. Lama aku tak menjumpaimu seperti ini. Sungguh aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu hingga kau berubah seperti ini. Aku sungguh terkaget dan tidak menyangka kau akan memperlakukanku seperti ini. Meninggalkanku sendiri di tempat yang belum pernah aku sambangi. Aku takut. Sungguh aku sangat kehilanganmu.


“Kamu sudah sadar? Syukurlah…”


“Apa yang terjadi?”


“Kamu tadi pingsan. Ini minum dulu”


Dari cerita teman-teman, aku baru tahu kalau aku baru saja pingsan. Cukup lama, hingga akhirnya aku dibawa ke rumah sakit seperti ini. Aku shock, kaget mendengar kabar meninggalnya temanku. Teman, apakah selama ini dia ku anggap teman? Atau…?


@@@


“Hi, mf ini bnar dg Na y?” sebuah pesan singkat mampir diteleponku sekitar pukul tujuh malam saat aku sedang asyik membaca novel yang baru saja aku beli tadi siang. Aku tak menggubris pesan singkat itu. Membiarkannya menguap ditelan waktu agar nomor tak dikenal itu tak lagi menghubungiku. Aku tak suka. Tapi rasanya tak enak juga kalau tidak dibalas.


“Iy,ad ap?” balasku singkat sekitar pukul sepuluh malam setelah mataku lelah melahap beberapa bab novel Ketika Cinta Bertasbih.


“Indra, boleh kenalan?” mataku merem melek membaca pesannya. Entahlah aku tak sadar aku hanya melihat pesan itu lalu terlelap.


Hari selanjutnya aku baru tahu ternyata yang semalam mengirimkan sms kepadaku adalah salah seorang anak laki-laki yang satu kelas denganku. Dia bersikap biasa denganku, seperti tidak terjadi apa-apa semalam. Tidak ada kata protes darinya saat aku sengaja tak membalas sms terakhirnya semalam.


“Salah siapa malam-malam? Mengganggu orang saja..” batinku. Hari-hari pertama merupakan waktu adaptasi dengan beberapa teman baru yang belum ku kenal meski sudah satu tahun aku di sekolah ini bersama mereka. Kelas yang berbeda dan lokasi kelas yang selalu berpindah (moving class) menjadikanku sulit untuk mengetahui semua teman-temanku, terkecuali untuk yang satu kelas denganku.


Tidak ada perkenalan secara resmi, akan tetapi semua berbaur untuk mengenali satu sama lain. Dan juga dia, dia dengan sedikit gugup berkenalan denganku. Meskipun sudah sekuat tenaga dia tahan kegugupannya, tapi masih sangat jelas di mataku dia sangat gugup saat berkenalan denganku.


“Emmmh,, kamu Nana ya?” tanyanya padaku.


“Iya, salam kenal ya?” singkatku lalu aku pergi meninggalkannya. Aku tak tahu, tapi aku memang ingin menjaga diriku. Atau mungkin lebih tepatnya aku tak ingin dia melihatku salah tingkah jika berada di depannya. Mungkin.


Di kelas, dia senang sekali membuat sajak. Entah sajak apapun itu, baik persahabatan, cinta maupun tentang alam. Dia juga senang sekali berkunjung ke perpustakaan dengan salah satu teman kelasnya dulu.


Lalu, entah dia tahu dari siapa. Pada saat malam ulang tahunku dia mengirimkan sajak padaku. Sajak tentang kepasrahan dan keputus asaannya tentang rasanya padaku, juga tentang doanya padaku. Ya, hari itu adalah ulang tahunku yang ke 17 dan puisinya itu...
Demi sebuah hati telah aku susuri semua waktu
Hingga terhenti langkahku pada jiwa suci yang tertanam pada ragamu
Ilusif.. dan semua hanya imajiner-imajiner yang terlalu tinggi yang menghinggapi fikiranku
Najam yang terang bersinar di batas cakrawala menyadarkanku untuk tinggalkan semua mimpi dan ilusiku
Aurora suci kasihmu tak mampu ku gapai walau telah aku coba dengan sepenuh hati

Fajar pagi bersinar terang

Ridhoimu tapaki jalan baru, menjadi sesuatu yang baru seperti doamu keluargamu dan doamu

Aamiin

“Aamiin.. terima kasih.. ” balasku singkat.

Sajak pertama yang aku terima darinya saat malam pertama umurku yang ke tujuh belas. Mungkin sebagai ucapan selamat ulang tahun padaku. Beberapa hari sebelumnya dia pernah mengungkapkan padaku kalau dia menyukaiku. Sebenarnya aku pun mempunyai rasa yang lain. Aku menyukainya, tapi tidak bisa lebih untuk saat ini. ada hal yang menurutkku lebih penting daripada menerima cinta seorang yang belum tentu akan menjadi seorang yang sama di waktu yang lain.


Sejenak, aku kembali membaca sms yang ditujukannya padaku pada malam hari saat ulang tahun ke tujuh belasku. Cukup bagus. Aku tersenyum sendiri merangkai huruf depan yang mengawali setiap baris sajaknya.

@@@

Aku melewati lorong gelap. Tak sedikitpun bercahaya. Sepertinya bulan dan bintang berhalangan hadir malam ini. Tak ada berkas sinar mereka sedikitpun yang terlihat. Semua hitam gelap, bahkan aku harus berjalan perlahan agar aku tak menabrak benda yang bisa saja berada di depanku.


“Slaasshh…” sebuah garis cahaya terlihat melintas panjang di langit yang gelap. Bahkan aku tak yakin apa yang di atasku ini benar-benar langit yang biasa aku lihat kemarin. Entah datang dari mana, setelah kilatan cahaya meteorit langit berubah menjadi proyektor raksasa.


“It.. itu? siapa?” tanyaku kaget melihat semuayang terpampang tiba-tiba di hadapanku.


“Apakah kau sudah lupa? Bukankah kau sering melihatnya?” jawab suara dari seseorang yang sudah sangat ku kenal. Tapi entah mengapa aku tak tahu namanya sama sekali. perlahan langkahnya mendekat, lalu menepuk bahuku.


“Kau tidak lupa dengan ini bukan?” tanyanya padaku. Suaranya bijak, tak ada kata perintah ataupun sebuah bentakan. Mungkin dia mengerti ingatanku masih sedikit lupa dengan apa yang ada di depanku.


Jalanan yang sedari tadi gelap, sedikit demi sedikit mulai terlihat. Menjelma menjadi sebuah tempat yang sangat aku kenal. Pohon rambutan di pinggir jalan yang sudah sangat aku hafal letaknya. Lalu tak jauh dari pohon rambutan itu, sekitar 50 meter ada halte bus yang biasanya ramai saat pagi hari sewaktu jam sibuk anak-anak berangkat sekolah. Perlahan matahari bersinar di ujung timur, mulai merangkak naik menyinari semua permukaan bumi. Bebatuan, jalanan, atap-atap dari seng dan genteng berwarna merah. Bahkan kehangatan sinarnya pun dapat ku rasakan. Apakah ini benar-benar dunia?


Satu demi satu orang-orang mulai memulai aktifitasnya. Kendaraan bermotor pun mulai berlalu lalang melewati jalanan lengang dengan kecepatan cukup tinggi. Maklum, masih belum terlalu ramai. Aku berdiri di seberang halte, melihat kesibukan yang perlahan terbangun dari tidurnya.


“Dimana aku?” tanyaku.


“Bukankah kau tahu sendiri ini dimana? Kau sudah mengenal tempat ini dengan sangat jelas bukan?”


Aku benar-benar tak habis pikir dengan kakek yang ada disampingku ini. Bukankah aku yang bertanya? Mengapa dia membalikkannya dengan pertanyaan lagi? Aku hanya terdiam, Kakek ini memang benar. Aku memang sudah sangat mengahafal sedang dimana aku saat ini. Jadi mengapa aku harus bertanya?


“Lalu siapa anda, Kek?” tanyaku lagi sambil menoleh padanya.


Dia menoleh padaku lalu tersenyum, sorotnya matanya menatapku teduh. Menenangkanku sejenak. Mulutnya bergetar, seperti sedang mengatakan sesuatu. Tapi entah, aku tidak mendengar suaranya sama sekali.


Dari ujung jalan sana, terlihat satu demi satu anak-anak kecil berseragam merah putih. Anak-anak kecil berwajah polos yang berlarian saling berkejaran. Meniti langkah-langkah kecil menuju sekolah mereka. Kemudian beberapa anak bersergam putih biru pun mulai muncul. Tak ketinggalan pula beberapa remaja berseragam putih abu-abu mulai terlihat. Berbaur satu sama lain. Lalu berkumpul di pinggiran jalan dan halte bus.


Jalanan mulai ramai, beberapa bus angkutan umum bahkan terlihat penuh sesak oleh anak-anak sekolah yang kebanyakan berseragam biru putih dan putih abu-abu. Bau debu bercampur dengan asap knalpot kendaraan yang mulai ramai memaksa beberapa anak harus menutup hidung mereka. Ya. Aku masih sangat ingat, saat itu masih musim kemarau, sekitar satu bulan setelah hari penerimaanku sebagai salah satu murid tingkat atas di kotaku.


Lalu perlahan dari ujung jalan disana, satu sosok perempuan berkerudung berwajah putih dengan mata bening berjalan terburu menuju halte bus. Sepertinya belum terlalu siang untuk sampai di sekolah, tapi aku tak tahu mengapa dia berjalan terburu seperti itu.


@@@


Aku memutuskan untuk pulang menenangkan diri. Sepertinya menangis pun tak ada gunanya, aku harus mengalihkan diri segera agar tak ada yang tahu sebenarnya perasaanku. Menyembunyikannya secara rapi dan membagi cerita pada orang yang benar-benar aku percaya bisa menjaga semuanya untukku.


Beberapa kali aku harus menyapu tangan membersihkan air mata yang entah darimana terus saja menetes. Apakah ini yang disebut dengan kehilangan? Tapi, bukankah aku tak pernah memilikinya? Bahkan menganggapnya berharga pun tidak. Tapi mengapa aku menjadi aneh sendiri seperti ini? Jika dia bukanlah seorang yang berharga, seharusnya aku tak seperti ini bukan?


“Aku akan menemanimu pulang. Kau tidak keberatan kan? Dan aku memaksa.” paksa Wati menawarkan diri. Khawatir dengan kondisiku yang masih shock, belum stabil.


“Baiklah.” Aku tahu satu temanku ini sangat keras kepala. Tak ada gunanya berdebat atau mengusirnya sekarang.


Wati tak berkata apapun sepanjang mengantarkanku pulang. Mungkin takut membuat keadaanku semakin parah, hingga canda kecil yang biasa dilontarkannya pun tak keluar darinya. Biasanya dia akan dengan bersemangat menceritakan hal-hal lucu yang membuatku tertawa jika sedang sedih. Tapi tidak untuk saat ini. Dia paham sekarang aku sedang tidak membutuhkan lelucon untuk tertawa, aku membutuhkan lebih banyak pasokan oksigen yang harus otakku terima agar pikiranku lebih tenang sedikit.


“Sepertinya kau membutuhkan banyak istirahat. Kesibukanmu akhir-akhir ini membuatmu tak seperti biasanya Na.” katanya padaku sesampainya di rumahku.


“Ku pikir juga begitu.” Jawabku sambil mencoba tersenyum. “Makasih ya, udah mau nganterin aku.” lanjutku.


Dia hanya tersenyum, matanya teduh mencoba menguatkanku. Tiba-tiba dia memelukku erat.

“Kau harus kuat Na.” katanya berbisik padaku. Tangisku hampir kembali tumpah, tapi aku harus segera membuatnya percaya kalau aku tidak apa-apa. Sesaat kemudian tangannya melonggar. Aku menjawabnya dengan senyum dan anggukan pelan. Lalu dia meminta ijin untuk pergi.


Aku merebahkan tubuhku, menarik nafas panjang dan membuangnya pelan. Cara ini adalah cara paling ampuh yang selalu aku gunakan saat perasaanku tak tenang. Biasanya  dengan cara ini aku bisa dengan cepat menenangkan saraf dan pikiranku yang tak tenang, lalu perlahan otak akan memerintahkan mataku terpejam dan tertidur. Melupakan semua masalah dengan memejamkan mata –lebih tepatnya tertidur –sedikit banyak bisa membantuku mendapatkan solusi saat aku terbangun dengan kondisi fikiran dan tubuh yang lebih fresh.


“Dimana aku?” tanyaku kepada kegelapan yang tiba-tiba saja mengurungku. Sepi, tak ada yang menjawab. Perlahan sebuah sinar samar bercahaya terlihat di ujung jauh. Menampakkan siluet jalan yang terpampang menuju sumber cahayanya. Mendadak tanpa aba-aba, cahaya samar itu berputar, mengaburkan pandanganku. Tubuhku terasa tersedot ke dalam cahaya itu, aku berteriak minta tolong sekeras suara yang bisa ku keluarkan. Perlahan cahaya itu menyeret tubuhku masuk ke dalamnya. Aku berusaha berlari menjauh, mencari sesuatu yang mungkin bisa saja ku pegang untuk menghambat pusaran itu hingga seorang datang menolongku.


“Tolong! Tolong!” teriakku berulang kali, berharap ada seorang yang mendengar teriakanku dan segera menolongku. Nafasku memburu, pusaran itu semakin lama semakin kuat menarik tubuhku. Aku panik, detak jantungku semakin tak terkendali, hingga tanganku lemas dan terlepas. Terserat ke dalam pusaran yang tak ku ketahui muaranya, dan semuanya gelap.


“Na Na… bangun. Kau tidak apa apa?” sapa seorang membangunkanku dari tidurku.


“Hah! Dimana aku? Kenapa kau di sini?” aku terlonjak kaget. Ternyata itu hanyalah mimpi. Nafasku masih memburu, mimpi tadi seperti sangat nyata membuat jantung berdegup tak karuan.


“Tenang, kau hanya mimpi buruk Na. Minumlah dulu.” Katanya sambil memberikan segelas air putih kepadaku.


“Terimakasih.” Kataku setelah meminum air putih yang dia berikan padaku. “Tapi… kenapa kau ada di sini? Pergi sana!” Aku kaget sendiri kenapa dia bisa sampai berada di kamarku. Apakah ayah dan ibu tak mendengar teriakanku? Dan juga, mengapa dia yang harus ada di sini. Tidak sopan! Batinku tak suka.


@@@


Matahari meninggi, waktu terus berlalu dan jalanan pun bertambah ramai. Aku masih berdiri di sini melihat waktu memvisualkan lagi masa laluku. Dari seberang jalan ini, aku bisa melihat wajahmu yang sudah lama tak ku lihat. Paras cantik yang selalu kau lindungi dengan kerudung yang kau kenakan dan selalu kau palingkan saat kau tahu aku sedang melihat wajahmu. Tapi sekarang tak perlu lagi kau memalingkan wajahmu saat aku melihatmu, karena aku tahu kau pasti tak menyadari kehadiranku disini.


Kerudung putih yang kau kenakan berkelebat lembut saat kau berlari-lari kecil menuju halte bus. Lalu tiba-tiba kau berhenti, mencari sekeliling. Sepertinya kau tahu ada yang sedang mengamatimu dari jauh. Sejenak mata kita beradu tatap. Tapi matamu tak fokus saat menatapku, sepertinya kehadiranku sama sekali tak kau sadari.


Tak berapa lama, sebuah bus berhenti. Kau masuk ke dalamnya. Dari kaca jendela bus yang kau naiki, aku masih bisa melihatmu dari jauh. Sejenak matamu menyisir ke belakang, mencari tempat duduk yang kosong. Tapi semua kursi sudah terisi oleh penumpang. Dan sepertinya kau harus berdiri. Bus melaju menjauh. Aku hanya bisa melihatmu dari sini yang menghilang dibawa bus sekolah. Tiba-tiba penglihatanku berputar. Gelap.


“Kau tak akan melewatkan moment ini bukan?” kata Kakek tua disampingku. Aku belum sadar sepenuhnya, mataku masih terasa pusing.

“Tak akan pernah aku melupakan ini.” kataku lirih pada Kakek tua yang menanyakan hal itu padaku.

Di depanku kini terpampang sebuah ruangan yang sangat aku kenali. Ruangan bersejarah dengan seribu kenangan di dalamnya. Jika menengok ke luar jendela di sana, masih terlihat sawah yang menghijau, lalu jauh di seberang terlihat perbukitan hijau dengan berbagai macam tanaman yang memenuhi permukaan tanahnya. Dari luar jendela, aku melihatmu datang terburu. Kau tak melihat seseorang yang juga sama sedang berlari. Lebih tepatnya berkejaran. Iseng, mumpung waktu masih pagi dan keadaan belum terlalu ramai dengan anak-anak yang lain. Aku mengenal sekali wajah itu.

“Aaww… ‼” kau tiba-tiba saja terhenti, hampir terjatuh dari larimu. Terkaget melihat seorang yang melintas di depanmu.

“Eitss..” kata anak itu kaget, langsung berhenti di sampingmu. Beruntung tidak sampai menabrakmu yang sedang terburu-buru.

“Huh..!” kesalmu langsung berjalan menuju ruang kelas. Tapi tidak disangka, kau menginjak tali sepatumu sendiri. Kau hampir saja terjatuh lalu reflek anak itu memegang tanganmu.

“Eh.. Maaf.” Tangannya langsung dilepaskan. Darisini ku lihat mukamu sedikit memerah. Entah karena malu atau marah, karena kau hampir saja bertabrakan dengannya lalu kau hampir saja terjatuh sendiri. Aku tersenyum melihat adegan itu. Anak laki-laki itu berdiri mematung.

“Hati - … “ belum sempat anak itu selesai berkata kau langsung memotongnya.

“Terima kasih.” Katamu menatap sejenak wajah anak itu, tak sampai tiga detik kau segera menundukan wajahmu. Wajahmu terlihat kaget karena anak itu sekelas denganmu, lalu kau segera beranjak pergi menuju kelas. Dibalik kaca di luar sekolah ini, aku tersenyum melihatmu bertingkah seperti itu.

@@@


Aku kesal melihatmu yang hanya tersenyum saat kau menatap wajah marahku. Aku sama sekali sedang tidak bercanda atau melawak, tapi kau hanya senyam-senyum saja melihat kekesalanku. Sungguh benar-benar kau tak menghargaiku.

“Aku pamit untuk pergi Na. Maafkan jika kedatanganku membuatmu tak nyaman.” Katamu penuh penyesalan menatap lekat mataku. Aku menunduk, menghindari tatapmu yang sangat mengintimidasi perasaanku. “Bukan sesuatu yang istimewa, tapi ku harap kau akan menyukainya.” Lanjutnya memberiku satu kupu-kupu kertas putih di depan mataku. Aku tergagap, mendongak menatapnya.

Tiba-tiba semua berubah. Ruangan kamarku yang sangat ku kenali terserap pada satu titik di belakang punggungnya. Aku mencoba berteriak, tapi tak sanggup. Seluruh tubuhku terasa tak bertenaga. Suaraku  hilang. Lidahku kaku. Bahkan tangan dan kakiku pun tak bisa ku gerakkan. Mataku terbelalak kaget. Perlahan wujud yang ada di depanku perlahan menjauh. Matanya terus menatapku yang kini tak bisa lagi berpaling menerima sorot matanya yang semakin damai. Seketika seseorang berada di sampingnya, mengatakan sesuatu padanya seperti tak terjadi apa-apa. Tak mempedulikanku sedikitpun.

“Baiklah.” Kata Kakek di sampingnya sembari menepuk pundaknya lembut. “Ayo pulang.” lanjutnya sembari mendorongnya untuk mengikuti langkahnya. Namun seperti dia masih tak rela dan mencoba menahan langkahnya untuk tinggal, tapi tak bisa. Dia menatapku pasrah.

“Mungkin saat ini kau belum mengerti. Memang bukan kapasitasku untuk menjelaskan tentang selengkapnya yang terjadi. Ada yang mempunyai kuasa untuk memberitahukanmu semuanya padamu nanti. Kau harus tahu, ada hal yang memang tak bisa kau pahami dengan hanya membacanya, mendengarnya atau menulisnya. Ada banyak hal yang membutuhkan hati agar kau bisa memahaminya.” Jelasnya tak memepedulikan keberadaanku yang sedang mematung tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

“Jangaan..‼” teriakku mencoba menahannya pergi. “Ja.. jangan, jangan pergi! Ku mohon jangan pergi dariku. Tolong...” Pintaku padanya. Dia hanya tersenyum padaku, tak ada satu pun kata yang terucap darinya. Mataku panas menahan perih yang tiba-tiba saja terasa sangat menyakitkan. Aku benar-benar sudah tak bertenaga, tubuhku lemas bahkan indera pendengaranku pun tak berfungsi maksimal. Mulutnya mengucapkan sesuatu sesaat sebelum dia berbalik menuju cahaya putih yang menyerap semua hal di sekitarku. Perlahan kesadaranku menghilang, tubuhku tumbang. Mataku samar melihat bayangnya pergi bersama sesosok orang yang tak ku ketahui. Lalu semuanya gelap.


@@@


Angin dingin berhembus tenang, membelai halus padang rumput ilalang yang sedang berbunga. Menerbangkan putik-putik berwarna putih ke segala arah, berhamburan mengikuti arah angin yang berubah-ubah. Langit kelabu mulai berarak menyebar ke segala arah. Menutupi birunya langit dengan sempurna. Hingga tak ada celah sedikitpun bagi cahaya matahari untuk menyapa bumi.

Aku menatap langit dengan mata panas, geram. Rasa dan rindu itu terkumpul menggumpal, berarak tak tentu arah mencari sosok yang telah hilang. Hingga sesak. Penuh. Tak jua tahu kemana rasa dan rindu itu harus aku labuhkan.

“Terima kasih telah mencintaiku.” Kataku pada kupu-kupu kertas putih di tanganku. Mataku memanas. Menahan sesak dan perih tersakiti rasa yang harusnya aku lupakan.

“Tik ..” satu tetes air membasahi kupu-kupu kertas di tanganku. Tangis itu keluar begitu saja tanpa ku sadari. Tanganku segera mengusap, menahan tangisku sekuat yang ia bisa lakukan. Namun aku tak kuasa menahannya. Tangis itu tercipta tanpa bisa ku tahankan. Berlinang beriring hujan yang perlahan membasahi rerumputan.

Rasa dan rindu itu akhirnya tumpah berlinang bersama hujan. Membasahi tanah dan meresap. Terkubur dan tersimpan rapi, berharap tak ada celah untuk kembali. Karena semua hanyalah masa lalu yang tak mungkin bisa terulang lagi.

Banjarnegara, 16 februari 2014