“Banci aja ngerokok, kamu gak ngerokok kalah dong
sama banci?!” ledek temanku di sambut suara tawa yang kompak mentertawakanku
yang tak mau merokok. Biasanya ledekannya tidak mempan padaku, tapi kali ini
aku sudah bosan mendengarnya. Aku berlagak tenang, tapi sebenarnya hatiku
membuncah marah. “Enak saja! Aku dibanding bandingkan dengan banci. Akan aku
tunjukan pada mereka!” batinku sembari menghabiskan satu gelas juz jeruk yang
baru saja ada di depanku.
“Wuih... Gilee, langsung abis satu gelas. Kesetanan kamu
Don?” tanya Beni.
Tanpa banyak kata, aku langsung masuk ke dalam
warung. Membeli satu bungkus rokok dan langsung aku nyalakan di depan Beni dan
teman-temanku. Sebuah awal dari kebiasaan tak sehat yang saat ini sangat aku
sesali.
“Ckrik ckrik...” suara korek api membakar batang
pertama rokok yang aku hisap. Bersama dengan nyala korek membakar batang rokok
di mulutku, teman-temanku langsung menyambut girang. Menepuk pundaku hingga
membuatku tersedak.
“Sabar aja sob! Nikmati aja rokoknya. Gak usah
dimakan.” Kata Beni disusul tawanya melihatku tersedak karena asap racun itu
memasuki rongga paru-paruku.
@@@
Baru dua minggu berkenalan dengan rokok, aku berubah
menjadi pencandu rokok yang tak bisa berhenti. Setiap hari setidaknya satu
bungkus rokok aku habis. Padahal saat dulu aku masih duduk di kelas satu SMP.
“Udah kayak kereta asap aja Lo bro. Ngepul terus..”
sahut Andre menyindir melihatku sudah menghabiskan setengah bungkus rokok pagi
ini. Aku tak peduli dengan apa yang dikatakan temanku ini. Dia tak tahu betapa
pahitnya saat aku tidak merokok satu batang pun dalam sehari.
“Kok kamu jadi perokok si Don? Padahal kan
kemaren-kemaren enggak?” tanya Anita sesaat setelah aku mematikan rokok. Wajahnya
terlihat cemas dan heran melihat kebiasaanku yang berubah secara drastis.
Aku hanya menjawabnya dengan senyum, tak ingin
berdebat dengannya. Karena sudah pasti pernyataanku tidak akan berguna baginya
dan pasti dia akan mencoba menceramahiku untuk berhenti merokok. Aku sudah bosan
mendengar segala macam ceramah yang mencoba membujukku untuk berhenti merokok.
“Kau bicara seperti itu karena tak tahu rasanya
merokok bukan?” timpalku balik saat ada orang yang mencoba menceramahiku untuk
berhenti merokok.
@@@
Sudah sekitar tiga hari aku terbaring di sini. Di ruang
bercat putih dan bertirai hijau. Obat dan infus sudah menggantikan sahabat
karibku selama tiga tahun lalu. Rokok. Ya, sahabat karib yang dulu selalu
dibanggakan oleh teman-temanku. Kini akhirnya berusaha membunuhku.
“Uhuk uhuk..” aku tersedak saat sedang tertidur. Terbatuk
tak kunjung henti hingga mengeluarkan darah.
“Kamu kenapa Nak?” tanya ibu melihat keadaanku yang
tiba-tiba batuk di tengah malam.
“Uhuk.. nggak tau bu.. Uhuk.. tiba-tiba sa.. “ aku
tak sadarkan diri.
Cahaya putih silau mengganggu penglihatanku. Mataku tak
bisa melihat, aku memutuskan untuk memejamkan mataku beberapa saat. Menunggu seseorang
mematikan lampu yang ditujukan ke wajahku. Tapi sepertinya cahayanya tak
kunjung dipadamkan. Aku memaksakan mataku melihat sekeliling. Semua terlihat
berwarna sama, putih.
“Nak, kau sudah sadar?” sapa seorang yang entah dari
mana sudah duduk disampingku.
“Ah.. Iya, Anda? Siapa?” tanyaku kaget dan heran
melihatnya tiba-tiba saja berada disampingku.
“Syukurlah. Ini menjadi peringatan untukmu. Kau tahu,
dulu ayahmu juga meninggal karena penyakit ini. Penyakit yang sama yang
membuatmu terbaring seperti ini.” Katanya pelan tapi menusuk.
“Ke.. Kenapa kau bisa tahu hal itu? Siapa kau?”
tanyaku heran. Tak ada jawaban sama sekali, dia hanya memberikan senyum. Senyum
yang bermakna ganda, damai dan mengancam. Tiba-tiba cahaya putih semakin kuat.
Silau membuat kepalaku semakin pusing, rasa-rasanya dunia seperti berputar dan
aku terbawa di dalamnya.
@@@
Tubuhku masih terbaring dengan selang infus juga
masker oksigen yang masih terpasang. Beberapa temanku terlihat menjenguk, tapi
aku tak dapat bersuara bahkan bergerak. Paru-paruku saja terasa sakit untuk
bernafas. Akibat dari merokok, ternyata telah memicu kanker paru-paru, sama
seperti pemmbunuh yang membunuh ayahku dulu. Seharusnya aku tak menanggapi
ledekan temanku.
--------
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba menulis "Diary Sang Zombigaret"

.jpg)