Translate

Selasa, 13 Mei 2014

[Menyesal] Mengenalmu



“Banci aja ngerokok, kamu gak ngerokok kalah dong sama banci?!” ledek temanku di sambut suara tawa yang kompak mentertawakanku yang tak mau merokok. Biasanya ledekannya tidak mempan padaku, tapi kali ini aku sudah bosan mendengarnya. Aku berlagak tenang, tapi sebenarnya hatiku membuncah marah. “Enak saja! Aku dibanding bandingkan dengan banci. Akan aku tunjukan pada mereka!” batinku sembari menghabiskan satu gelas juz jeruk yang baru saja ada di depanku.

“Wuih... Gilee, langsung abis satu gelas. Kesetanan kamu Don?” tanya Beni.

Tanpa banyak kata, aku langsung masuk ke dalam warung. Membeli satu bungkus rokok dan langsung aku nyalakan di depan Beni dan teman-temanku. Sebuah awal dari kebiasaan tak sehat yang saat ini sangat aku sesali.

“Ckrik ckrik...” suara korek api membakar batang pertama rokok yang aku hisap. Bersama dengan nyala korek membakar batang rokok di mulutku, teman-temanku langsung menyambut girang. Menepuk pundaku hingga membuatku tersedak.

“Sabar aja sob! Nikmati aja rokoknya. Gak usah dimakan.” Kata Beni disusul tawanya melihatku tersedak karena asap racun itu memasuki rongga paru-paruku.


@@@


Baru dua minggu berkenalan dengan rokok, aku berubah menjadi pencandu rokok yang tak bisa berhenti. Setiap hari setidaknya satu bungkus rokok aku habis. Padahal saat dulu aku masih duduk di kelas satu SMP.

“Udah kayak kereta asap aja Lo bro. Ngepul terus..” sahut Andre menyindir melihatku sudah menghabiskan setengah bungkus rokok pagi ini. Aku tak peduli dengan apa yang dikatakan temanku ini. Dia tak tahu betapa pahitnya saat aku tidak merokok satu batang pun dalam sehari.

“Kok kamu jadi perokok si Don? Padahal kan kemaren-kemaren enggak?” tanya Anita sesaat setelah aku mematikan rokok. Wajahnya terlihat cemas dan heran melihat kebiasaanku yang berubah secara drastis.

Aku hanya menjawabnya dengan senyum, tak ingin berdebat dengannya. Karena sudah pasti pernyataanku tidak akan berguna baginya dan pasti dia akan mencoba menceramahiku untuk berhenti merokok. Aku sudah bosan mendengar segala macam ceramah yang mencoba membujukku untuk berhenti merokok.

“Kau bicara seperti itu karena tak tahu rasanya merokok bukan?” timpalku balik saat ada orang yang mencoba menceramahiku untuk berhenti merokok.


@@@


Sudah sekitar tiga hari aku terbaring di sini. Di ruang bercat putih dan bertirai hijau. Obat dan infus sudah menggantikan sahabat karibku selama tiga tahun lalu. Rokok. Ya, sahabat karib yang dulu selalu dibanggakan oleh teman-temanku. Kini akhirnya berusaha membunuhku.

“Uhuk uhuk..” aku tersedak saat sedang tertidur. Terbatuk tak kunjung henti hingga mengeluarkan darah.

“Kamu kenapa Nak?” tanya ibu melihat keadaanku yang tiba-tiba batuk di tengah malam.

“Uhuk.. nggak tau bu.. Uhuk.. tiba-tiba sa.. “ aku tak sadarkan diri.

Cahaya putih silau mengganggu penglihatanku. Mataku tak bisa melihat, aku memutuskan untuk memejamkan mataku beberapa saat. Menunggu seseorang mematikan lampu yang ditujukan ke wajahku. Tapi sepertinya cahayanya tak kunjung dipadamkan. Aku memaksakan mataku melihat sekeliling. Semua terlihat berwarna sama, putih.

“Nak, kau sudah sadar?” sapa seorang yang entah dari mana sudah duduk disampingku.

“Ah.. Iya, Anda? Siapa?” tanyaku kaget dan heran melihatnya tiba-tiba saja berada disampingku.

“Syukurlah. Ini menjadi peringatan untukmu. Kau tahu, dulu ayahmu juga meninggal karena penyakit ini. Penyakit yang sama yang membuatmu terbaring seperti ini.” Katanya pelan tapi menusuk.

“Ke.. Kenapa kau bisa tahu hal itu? Siapa kau?” tanyaku heran. Tak ada jawaban sama sekali, dia hanya memberikan senyum. Senyum yang bermakna ganda, damai dan mengancam. Tiba-tiba cahaya putih semakin kuat. Silau membuat kepalaku semakin pusing, rasa-rasanya dunia seperti berputar dan aku terbawa di dalamnya.


@@@



Tubuhku masih terbaring dengan selang infus juga masker oksigen yang masih terpasang. Beberapa temanku terlihat menjenguk, tapi aku tak dapat bersuara bahkan bergerak. Paru-paruku saja terasa sakit untuk bernafas. Akibat dari merokok, ternyata telah memicu kanker paru-paru, sama seperti pemmbunuh yang membunuh ayahku dulu. Seharusnya aku tak menanggapi ledekan temanku.

--------



Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba menulis "Diary Sang Zombigaret"