Pagi pertama di tempat yang akan menjadi bagian cerita ku. Sebuah tempat yang akan terkenang selama sisa hidupku. Entah akan menjadi cerita yang mengasikkan atau apapun itu aku tak peduli. Aku hanya akan menikmati ini dan semoga menjadi suatu yang akan mendatangkan keberkahan ilmu, silaturahmi, dan akhirat nanti.Sebuah karunia dan rezeki di sepotong episode hidupku yang nanti akan sangat aku rindukan.
Aku disini merindumu, pagi hari aku sudah disapa sang Merapi yang berdiri dengan kokohnya. Semilir angin pagi yang sejuk dan segar dan menyehatkan, hamparan padi yang telah menguning, kabut pegunungan yang masih saja betah menyelimuti Desa Gamblokan, Leses, Klaten dan aktifitas pagi orang-orang memulai semua aktifitasnya.
Langit masih orange, matahari bahkan belum sempat muncul menyampaikan salam pertamanya padaku disini tapi aku sudah menuju balkon atas. Memandang langit yang masih menyisakan purnama. Indah. Entah mengapa langit selalu memberikan suatu keindahan yang selalu saja berbeda di setiap aku memandangnya. Sebuah keindahan yang setiap kali berubah dan aku menikmati itu. Entah mengapa dan aku selalu mendapatkan kedamaian saat aku memandang langit, kapan pun itu.
Langit. Ah, nama itu juga selalu memberikan suatu yang meresahkanku. Aku merindukannya. Sudah beberapa hari ini dia bersikap aneh padaku. Seorang temannya menyuruhku untuk menjauhinya.
"km thu kan,dy kg3u klo km sms?"
Sms itu mampir dan langsung menampar bagian lain yang tak ku mengerti aku sangat kecewa dengan nada sms itu.
"Waw..!! Seperti itukah? Dia yang terlihat... Ah, teganya dia menyuruh temannya mengatakan itu padaku" ungkapku dalam hati. Jujur, ada rasa sakit yang tak ku mngerti. Aku menyayanginya kah? Atau ... Ah! Aku sakit! Mengapa dia begitu? Kenapa kenapa kenapa? Selama ini aku menganggapnya teman, bahkan sahabat. Ya. Sahabat spesial yang baru aku punyai sampai saat ini. Entah. Aku sayang tapi.. Biarlah, toh dia pun sudah tahu itu.
Aku menikmati pagi dan matahari menyambutku dengan senyum cerianya. Ah, cantik sekali. Aku sangat kagum pada alam, sungguh luar biasa. Subhanallah. Bahkan burung-burung pun mulai mengarungi angkasa, bernyanyi riang. Apakah mereka menyambutku? Apakah mereka menghiburku? Apakah mereka tahu keresahan hatiku yang merindu? Aku tersenyum mendengarkan kicauan riang mereka sembari menatap bentangan biru di atas kepala yang sungguh mendamaikan. Langit. Mendamaian dan meresahkan.
"La, kangen..:)" pesan singkat itu aku kirimkan padanyasebelum mataku terlelap di akhir malam tadi. "Blm ap' dh kgn" pesan balasannya ku baca. Pukul 4 pagi dia mengirimkan pesan itu. Memang dia sungguh berbeda. Entah ada perbedaan apa yang membuatku menyayanginya lebih dari sahabat. Bahkan meski aku berkli-kali terluka saat dia menceritakan tentang seorang lain yang dicintainya.
Disuatu hari dia bercerita kegiatannya sewaktu di kampung halamannya. Aku tersenyum menengarkan setiap cerita yang dia ceritakan padaku, entah senyum kebahagiaan saat temanku bahagia atau senyum menahan perih. "Mencintai sahabat sendiri, apakah itu terlarang?" kataku dalam hati sembari menyusuri jalan pulang setelah aku menemuinya. Sebuah pertemuan yang aku inginkan hanya mendapatkan cerita yang tak aku inginkan.Huffthhh...
Aku mengenang pertemuan terakhir sebelum kepergiannku ini. Hari senin, hari pertama ujian akhir semester. Waktu itu dia sedang sakit. Katanya hari sebelumnya dia bepergian jauh tapi tidak memakai masker. Wajahnya sedikit merah waktu itu, aku sedikit khawatir dengan kondisinya karena saat itu edang UAS dan dia tak mau meminum obat. "gk mau,biarin". Hafh, dia tak tahu aku khawatir dengan kondisi keadaanya, ditambah lagi sedang UAS belajarnya pasti terganggu. Dia tetap saja berkeras tak mau meminum obat. Ya sudahlah, biakan saja kekhawatiranku menguap tak dipedulikannya.
Dua hari aku membujuknya meminum obat tapi tetap saja tak mau minum obat. "La, apa kamu gak tau ada orang yang mangkhawatirkan kesehatanmu?" aku mendesah. Mengeluh dia mengabaikan sarnaku.
Tapi itu beberapa hari yang lalu dan sekarang pun masih begitu. Ah biarlah, biarlah sejenak aku membiarkannya tenang atau setidaknya tak mengabariku. Meski aku resah dan rindu. Aku tak tahu apakah dia juga merasakan yang sama sseperti itu atau sebaliknya. Dia merasakan rindu pada yang lain yang dicintainya, bukan aku yang hanya sahabatnya.
Langit semakin terang, semakin menghangat. Bahkan kicauan burung-burung pun semakin terkalahkan bisingnya kendaraan yang semakin ramai lalu lalang di jalanan Klaten. Matahari sungguh sangat pengertian padaku, dia memberikan senyum langit di depanku. Senyum hangat, senyum rindu yang menghilangkan resah dan khawatirku padanya. Senyum yang mendamaikan dan menghangatkan hatiku. Memberikan energi yang tak terlihat, menghilangkan rindu yang meresahkan.
Aku tersenyum menahan rindu yang dengan sengaja aku abaikan. Biarlah kerinduan ini mengendap dan terhapus dengan perjumpaan yang semoga nanti masih diberikan.
Perjumpaan? Ya. Perjumpaan yang aku nantikan. Akankah menjadi perjumpaan yang membahagiakan atau menjadi perjumpaan yang menciptakan lagi luka yang tak ku harapkan? Aku tak tahu dan tak mau tahu. Aku... hanya tulus menyayanginya, apapun itu.
Aku disini merindumu, pagi hari aku sudah disapa sang Merapi yang berdiri dengan kokohnya. Semilir angin pagi yang sejuk dan segar dan menyehatkan, hamparan padi yang telah menguning, kabut pegunungan yang masih saja betah menyelimuti Desa Gamblokan, Leses, Klaten dan aktifitas pagi orang-orang memulai semua aktifitasnya.
Langit masih orange, matahari bahkan belum sempat muncul menyampaikan salam pertamanya padaku disini tapi aku sudah menuju balkon atas. Memandang langit yang masih menyisakan purnama. Indah. Entah mengapa langit selalu memberikan suatu keindahan yang selalu saja berbeda di setiap aku memandangnya. Sebuah keindahan yang setiap kali berubah dan aku menikmati itu. Entah mengapa dan aku selalu mendapatkan kedamaian saat aku memandang langit, kapan pun itu.
Langit. Ah, nama itu juga selalu memberikan suatu yang meresahkanku. Aku merindukannya. Sudah beberapa hari ini dia bersikap aneh padaku. Seorang temannya menyuruhku untuk menjauhinya.
"km thu kan,dy kg3u klo km sms?"
Sms itu mampir dan langsung menampar bagian lain yang tak ku mengerti aku sangat kecewa dengan nada sms itu.
"Waw..!! Seperti itukah? Dia yang terlihat... Ah, teganya dia menyuruh temannya mengatakan itu padaku" ungkapku dalam hati. Jujur, ada rasa sakit yang tak ku mngerti. Aku menyayanginya kah? Atau ... Ah! Aku sakit! Mengapa dia begitu? Kenapa kenapa kenapa? Selama ini aku menganggapnya teman, bahkan sahabat. Ya. Sahabat spesial yang baru aku punyai sampai saat ini. Entah. Aku sayang tapi.. Biarlah, toh dia pun sudah tahu itu.
Aku menikmati pagi dan matahari menyambutku dengan senyum cerianya. Ah, cantik sekali. Aku sangat kagum pada alam, sungguh luar biasa. Subhanallah. Bahkan burung-burung pun mulai mengarungi angkasa, bernyanyi riang. Apakah mereka menyambutku? Apakah mereka menghiburku? Apakah mereka tahu keresahan hatiku yang merindu? Aku tersenyum mendengarkan kicauan riang mereka sembari menatap bentangan biru di atas kepala yang sungguh mendamaikan. Langit. Mendamaian dan meresahkan.
"La, kangen..:)" pesan singkat itu aku kirimkan padanyasebelum mataku terlelap di akhir malam tadi. "Blm ap' dh kgn" pesan balasannya ku baca. Pukul 4 pagi dia mengirimkan pesan itu. Memang dia sungguh berbeda. Entah ada perbedaan apa yang membuatku menyayanginya lebih dari sahabat. Bahkan meski aku berkli-kali terluka saat dia menceritakan tentang seorang lain yang dicintainya.
Disuatu hari dia bercerita kegiatannya sewaktu di kampung halamannya. Aku tersenyum menengarkan setiap cerita yang dia ceritakan padaku, entah senyum kebahagiaan saat temanku bahagia atau senyum menahan perih. "Mencintai sahabat sendiri, apakah itu terlarang?" kataku dalam hati sembari menyusuri jalan pulang setelah aku menemuinya. Sebuah pertemuan yang aku inginkan hanya mendapatkan cerita yang tak aku inginkan.Huffthhh...
Aku mengenang pertemuan terakhir sebelum kepergiannku ini. Hari senin, hari pertama ujian akhir semester. Waktu itu dia sedang sakit. Katanya hari sebelumnya dia bepergian jauh tapi tidak memakai masker. Wajahnya sedikit merah waktu itu, aku sedikit khawatir dengan kondisinya karena saat itu edang UAS dan dia tak mau meminum obat. "gk mau,biarin". Hafh, dia tak tahu aku khawatir dengan kondisi keadaanya, ditambah lagi sedang UAS belajarnya pasti terganggu. Dia tetap saja berkeras tak mau meminum obat. Ya sudahlah, biakan saja kekhawatiranku menguap tak dipedulikannya.
Dua hari aku membujuknya meminum obat tapi tetap saja tak mau minum obat. "La, apa kamu gak tau ada orang yang mangkhawatirkan kesehatanmu?" aku mendesah. Mengeluh dia mengabaikan sarnaku.
Tapi itu beberapa hari yang lalu dan sekarang pun masih begitu. Ah biarlah, biarlah sejenak aku membiarkannya tenang atau setidaknya tak mengabariku. Meski aku resah dan rindu. Aku tak tahu apakah dia juga merasakan yang sama sseperti itu atau sebaliknya. Dia merasakan rindu pada yang lain yang dicintainya, bukan aku yang hanya sahabatnya.
Langit semakin terang, semakin menghangat. Bahkan kicauan burung-burung pun semakin terkalahkan bisingnya kendaraan yang semakin ramai lalu lalang di jalanan Klaten. Matahari sungguh sangat pengertian padaku, dia memberikan senyum langit di depanku. Senyum hangat, senyum rindu yang menghilangkan resah dan khawatirku padanya. Senyum yang mendamaikan dan menghangatkan hatiku. Memberikan energi yang tak terlihat, menghilangkan rindu yang meresahkan.
Aku tersenyum menahan rindu yang dengan sengaja aku abaikan. Biarlah kerinduan ini mengendap dan terhapus dengan perjumpaan yang semoga nanti masih diberikan.
Perjumpaan? Ya. Perjumpaan yang aku nantikan. Akankah menjadi perjumpaan yang membahagiakan atau menjadi perjumpaan yang menciptakan lagi luka yang tak ku harapkan? Aku tak tahu dan tak mau tahu. Aku... hanya tulus menyayanginya, apapun itu.