Translate

Minggu, 08 Juli 2012

Kerinduan Untukmu

Pagi pertama di tempat yang akan menjadi bagian cerita ku. Sebuah tempat yang akan terkenang selama sisa hidupku. Entah akan menjadi cerita yang mengasikkan atau apapun itu aku tak peduli. Aku hanya akan menikmati ini dan semoga menjadi suatu yang akan mendatangkan keberkahan ilmu, silaturahmi, dan akhirat nanti.Sebuah karunia dan rezeki di sepotong episode hidupku yang nanti akan sangat aku rindukan.

Aku disini merindumu, pagi hari aku sudah disapa sang Merapi yang berdiri dengan kokohnya. Semilir angin pagi yang sejuk dan segar dan menyehatkan, hamparan padi yang telah menguning, kabut pegunungan yang masih saja betah menyelimuti Desa Gamblokan, Leses, Klaten dan aktifitas pagi orang-orang memulai semua aktifitasnya.

Langit masih orange, matahari bahkan belum sempat muncul menyampaikan salam pertamanya padaku disini tapi aku sudah menuju balkon atas. Memandang langit yang masih menyisakan purnama. Indah. Entah mengapa langit selalu memberikan suatu keindahan yang selalu saja berbeda di setiap aku memandangnya. Sebuah keindahan yang setiap kali berubah dan aku menikmati itu. Entah mengapa dan aku selalu mendapatkan kedamaian saat aku memandang langit, kapan pun itu.

Langit. Ah, nama itu juga selalu memberikan suatu yang meresahkanku. Aku merindukannya. Sudah beberapa hari ini dia bersikap aneh padaku. Seorang temannya menyuruhku untuk menjauhinya.

"km thu kan,dy kg3u klo km sms?"

Sms itu mampir dan langsung menampar bagian lain yang tak ku mengerti aku sangat kecewa dengan nada sms itu.

"Waw..!! Seperti itukah? Dia yang terlihat... Ah, teganya dia menyuruh temannya mengatakan itu padaku" ungkapku dalam hati. Jujur, ada rasa sakit yang tak ku mngerti. Aku menyayanginya kah? Atau ... Ah! Aku sakit! Mengapa dia begitu? Kenapa kenapa kenapa? Selama ini aku menganggapnya teman, bahkan sahabat. Ya. Sahabat spesial yang baru aku punyai sampai saat ini. Entah. Aku sayang tapi.. Biarlah, toh dia pun sudah tahu itu.

Aku menikmati pagi dan matahari menyambutku dengan senyum cerianya. Ah, cantik sekali. Aku sangat kagum pada alam, sungguh luar biasa. Subhanallah. Bahkan burung-burung pun mulai mengarungi angkasa, bernyanyi riang. Apakah mereka menyambutku? Apakah mereka menghiburku? Apakah mereka tahu keresahan hatiku yang merindu? Aku tersenyum mendengarkan kicauan riang mereka sembari menatap bentangan biru di atas kepala yang sungguh mendamaikan. Langit. Mendamaian dan meresahkan.

"La, kangen..:)" pesan singkat itu aku kirimkan padanyasebelum mataku terlelap di akhir malam tadi. "Blm ap' dh kgn" pesan balasannya ku baca. Pukul 4 pagi dia mengirimkan pesan itu. Memang dia sungguh berbeda. Entah ada perbedaan apa yang membuatku menyayanginya lebih dari sahabat. Bahkan meski aku berkli-kali terluka saat dia menceritakan tentang seorang lain yang dicintainya.

Disuatu hari dia bercerita kegiatannya sewaktu di kampung halamannya. Aku tersenyum menengarkan setiap cerita yang dia ceritakan padaku, entah senyum kebahagiaan saat temanku bahagia atau senyum menahan perih. "Mencintai sahabat sendiri, apakah itu terlarang?" kataku dalam hati sembari menyusuri jalan pulang setelah aku menemuinya. Sebuah pertemuan yang aku inginkan hanya mendapatkan cerita yang tak aku inginkan.Huffthhh...

Aku mengenang pertemuan terakhir sebelum kepergiannku ini. Hari senin, hari pertama ujian akhir semester. Waktu itu dia sedang sakit. Katanya hari sebelumnya dia bepergian jauh tapi tidak memakai masker. Wajahnya sedikit merah waktu itu, aku sedikit khawatir dengan kondisinya karena saat itu edang UAS dan dia tak mau meminum obat. "gk mau,biarin". Hafh, dia tak tahu aku khawatir dengan kondisi keadaanya, ditambah lagi sedang UAS belajarnya pasti terganggu. Dia tetap saja berkeras tak mau meminum obat. Ya sudahlah, biakan saja kekhawatiranku menguap tak dipedulikannya.

Dua hari aku membujuknya meminum obat tapi tetap saja tak mau minum obat. "La, apa kamu gak tau ada orang yang mangkhawatirkan kesehatanmu?" aku mendesah. Mengeluh dia mengabaikan sarnaku.

Tapi itu beberapa hari yang lalu dan sekarang pun masih begitu. Ah biarlah, biarlah sejenak aku membiarkannya tenang atau setidaknya tak mengabariku. Meski aku resah dan rindu. Aku tak tahu apakah dia juga merasakan yang sama sseperti itu atau sebaliknya. Dia merasakan rindu pada yang lain yang dicintainya, bukan aku  yang hanya sahabatnya.

Langit semakin terang, semakin menghangat. Bahkan kicauan burung-burung pun semakin terkalahkan bisingnya kendaraan yang semakin ramai lalu lalang di jalanan Klaten. Matahari sungguh sangat pengertian padaku, dia memberikan senyum langit di depanku. Senyum hangat, senyum rindu yang menghilangkan resah dan khawatirku padanya. Senyum yang mendamaikan dan menghangatkan hatiku. Memberikan energi yang tak terlihat, menghilangkan rindu yang meresahkan.

Aku tersenyum menahan rindu yang dengan sengaja aku abaikan. Biarlah kerinduan ini mengendap dan terhapus dengan perjumpaan yang semoga nanti masih diberikan.

Perjumpaan? Ya. Perjumpaan yang aku nantikan. Akankah menjadi perjumpaan yang membahagiakan atau menjadi perjumpaan yang menciptakan lagi luka yang tak ku harapkan? Aku tak tahu dan tak mau tahu. Aku... hanya tulus menyayanginya, apapun itu.







Kamis, 05 Juli 2012

Kamu, Kelopak Mawar Biru Itu


Hujan masih mengguyur deras sampai sore ini. Awan mendung tidak menipis sedikitpun. Air hujan mengalir sampai jernih menandakan hujan ini sudah lama dengan volume air yang juga banyak. Suhu pun semakin dingin, menembus jaket hijau tebal yang Fal kenakan.

@@@

“Fal! Bertahanlah. Pegang tanganku! Cepat!” katanya bersikeras menolongku. Matanya tajam menatapku. Menyuruhku segera memegang tangannya. Hujan semakin deras, air sungai semakin meninggi. Fal mengulurkan tangannya, menggapai tangan Ryo.

“Cepat Fal! Air semakin meninggi! Cepat!!” bentaknya padaku bersamaan dengan petir yang menggelegar berwarna putih berkilat di atas langit.

“Hyaaaa…!!!” aku terjatuh disamping tubuhnya yang terlihat mulai lelah. Nafasnya cepat, bersaing dengan semakin derasnya hujan.

“Aw..!!” setengah menjerit, sakit. Tanganku meraba kebelakang. Hangat
.
“Fal! Kamu tidak apa-apa?” sapanya dengan nafas tersengal. Khawatir.

Tanganku merah lalu gelap. “Fal! Fal! Sadarlah Fal!” teriakan Ryo masih terdengar. Suaranya makin khawatir, namun semakin lirih.

@@@

“Hey! Ngapain ngelamun? Entar kesambet hlo? Hehehe..” sapa Melly menyadarkanku. Bayang masa lalu yang sedari tadi melingkupi pikiranku, terhempas gerimis. Jatuh. Mengalir bersama air menuruni saluran air kecil menuju sungai serayu. Air itu mencuri lagi sebagian cerita yang sedang aku nikmati bersama hujan.

“Ah.. eh.. gangguin orang aja! Udah tahu sedang ngelamun, jangan dikagetin donk!” balasku keras sambil menunjukkan  muka tak senang. Raut berbeda. Entah marah atau sedih tidak mampu terbedakan. Marah seperti petir yang dengan keras menyuarakan kesediahan langit yang kelam.

“Iya deh, maaf maaf Falinda Diana. Maafkan kelancangan saya ya?” katanya sambil menunduk meminta maaf. Tak mengira aku hanya mengerjainya saja.

“Kenna dehh!! Hahaha. Satu sama ya Mel! Hahaha.” Aku tertawa lepas sukses mengerjai Melly yang sudah menghancurkan lamunanku. Wajahnya lucu, kesal terkena jahilanku. Dan aku sangat menyukai saat seperti ini.

“Iigghh.. kamu ini. Gue kira marah beneran. Dasar! Hahaha” 

Aku tertawa lepas diserambi. Menciptakan dunia baru yang hanya aku saja yang tahu apa yang sedang ku nikmati. Suhu dunia nyata yang dingin sampai tidak terasa. Hilang terhapus tawa dan emosi bahagia yang tercipta. Ya. Setelah kejadian itu, hanya Melly lah yang setia menemani .

Melly merupakan sahabat karib Fal dari SMP, SMA dan sampai sekarang di perguruan tinggi. Meski jurusan yang diambil tidak sama, tapi tidak masalah bagiku untuk menemuinya. Bercerita kesana kesini menceritakan semua yang kami alami. Cinta, kuliah, film bahkan tukang sayur yang melintasi rumah kost pun tak absen mereka ceritakan.

Hujan tak bergeming untuk mengurangi volume air yang diturunkannya. Bahkan, malampun kalah. Malam ini tak ada bintang atau bahkan bulan. Hujan menang kali ini. Menyimpan bintang dan bulan untuk lain kali, untuk hadir saat tak ada seorangpun yang dapat menemaniku mencurahkan tiap kesedihan yang dialaminya.

@@@

Aku melihat ke teras halaman, memberikan senyum terindah pada seorang yang pasti datang di tiap akhir minggu seperti ini. Ryo dengan sepeda unta tua disampingnya menantiku untuk turun. Mengajaknya bersepeda sore. Menikmati keindahan alam saat senja datang, menyambut bintang-bintang hadir mengisi ruang kosong di langit yang menghitam. Aku sudah tidak diperbolehkan untuk aktif di kegiatan pecinta alam setelah kejadian yang menimpanya. Kedua orang tuaku langsung melarang putri semata wayangnya itu dari kegiatan kampus yang berhubungan dengan alam terbuka. Mendaki gunung, berkemah atau pun yang sejenisnya. Sebenarnya Aku tidak terlalu bermasalah dengan itu, namun kedua orang tuaku trauma. Dan tidak ingin kejadian itu kembali terulang lagi.

Untuk mengobati kerinduanku pada alam, setiap akhir minggu Ryo setia menemaniku menikmati langit senja yang jingga. Keindahan alam yang tak dapat digantikan dengan lukisan manapun. 

“Alam adalah anugerah terindah dari Pencipta. Tak akan ada yang mampu menggantikan keindahannya. Tak seorangpun, meskipun itu adalah pelukis terkenal sekalipun.” Katanya padaku saat sedang melintasi hamparan luas taman bunga milik paman Ryo. Aku hanya bisa tersenyum di belakang sadel. Sambil menikmati indahnya bunga-bunga yang sedang mekar terkena cahaya keemasan mentari sore. Mawar, anggrek, dahlia, krisan dan masih banyak lagi. Aku menghadap ke barat, menyampaikan salam perpisahan pada matahari untuk hari ini. Berpesan besok masih menjumpainya lagi. Untuk memberikan sinar kabahagian para penghuni semesta. 

Aku mempererat peganganku di lingkar perutnya. Mengharap ini adalah awal dari kebahagiaan yang amat aku nantikan. Sepoi angin mennyanyikan irama indah dedauan yang saling bergesek. Mengajak rambutku menari mengikuti iramanya.

Sebelah tangannya menggenggam tanganku. Hangat. “Aku harap kau menikmati ini Fal.” Wajahnya menoleh kebelakang, mencari mataku. Di sepersekian waktu, aku menangkap sorot matanya. Sorot kebahagiaan yang terpancar bening. Sebening hatinya mencintaiku. Aku bahagia. Andaikan saja aku memiliki alat penghenti waktu. Akan aku hentikan waktu untuk menikmati keindahan sorot matanya saat itu. Memandangnya sampai bosan mataku menatap. Tapi itu tak akan mungkin terjadi. “Saat ini adalah saat yang tak akan terulang lagi. Lakukan hal terbaik yang ingin kau lakukan hari ini.” Kata dari seorang temanku waktu aku di sekolah menengah atas tiba-tiba terngiang di kepalaku. Seorang aktifis organisasi kerohaniahan islam yang sangat cukup disegani oleh teman-temannya.

Aku menyandarkan kepalaku ke punggunggya. Memejamkan mataku. Merekam dan menyimpan episode ini. Menyimpan sore ini dengan bunga-bunga yang bermekaran dan langit yang menjingga. Sepoi angin dan melodi dedaunan. Semerbak wanginya dan hangat genggaman tangannya. Aku menyiapkan kotak terindah di suatu tempat yang jauh dari orang-orang. Lalu aku letakkan di dalamnya, menyimpannya dan menguncinya. Agar saat nanti dapat aku nikmati lagi saat ini. Mengulang semua yang terjadi saat ini. Membuktikan pada temanku, apa yang dikatakannya tidaklah benar. Saat ini pasti akan terjadi lagi saat nanti.

Malam menyampaikan salamnya untuk datang, tapi Ryo pamit untuk pulang. Setelah mengantarkanku ke rumah dan memastikan aku sudah di kamar, dia pulang. Aku melihatnya dari balkon lantai dua dekat kamarku. Setelah melambaikan tangan dan memberikan senyumnya, ia pergi. Aku menatap punggungnya sampai ia hilang dari tatap ku.

“Terimakasih Ryo” lirihku. Setelah tak terlihat, ada yang aneh menyelusup. Aku tak mau kehilangannya. Semenit saja ia meninggalkanku, aku sudah merindukannya. Takut dia menghilang dari pelukku. Kehilangan senyumnya, sorot matanya, hangat genggaman tangannya dan kehilangan cintanya. Aku tidak menginginkan itu. Aku ingin bersamanya. Selalu bersamanya,agar semua yang terjadi dulu dapat terulang lagi suatu saat nanti.

Suara serangga meminta izin menyambut malam yang mulai datang. Bintang bintang pun satu demi satu berdatangan. Menghiasi kekosongan ruang dilangit yang gelap. Aku duduk di balkon lantai dua. Menunggu semua bintang untuk datang lalu ku ceritakan semuanya hari ini. Saat aku duduk memboncong di sadel sepeda. Saat aku menikmati hamparan bunga-bunga, saat aku menatap dua bola matanya saat merasakan aliran darah di genggaman tangannya. Merasakan kebahagian cinta yang diisyaratkan degup jantungnya. Akan aku ceritakan semua. Dan akan aku titipkan kotak itu pada sang rembulan. Agar ia menyimpannya untukku. Menjaganya tetap jauh disana. Agar dapat ku nikmati lagi kenangan itu saat nanti. Saat ia sejenak meninggalkanku untuk menciptakan dunia yang baru untukku. Senyum yang baru, kebahagiaan yang baru dan semua kehidupan yang baru.

@@@

Mataku melayang pada awan yang berjalan sendirian di birunya siang. Udara segar mengisi ruang di semua bilik di paru-paru tubuhku. Menyebar bersama dengan darah menuju ke seluruh anggota tubuh. Tangan, kaki, kepala, jantung, serta bagian terfital yang tak mungkin bisa digantikan apa bila rusak. Otak.

Ya, udara itu mengalir bersama darah menuju otak. Memberi tenaga baru yang segar. Menguatkan 
lagi otak yang akan melakukan aktifitas. Oh sungguh. Betapa Tuhan Maha Mengetahui. Di waktu saat otak membutuhkan asupan tenaga tambahan di sepenggalah pagi. Waktu menunjukkan pukul 09.30. masih ada waktu untukku melaksanakan shalat sunnah dhuha. Bermunajat pada Allah di sepenggalah waktu dipagi hari, bersyukur atas semua yang telah dimiliki dan meminta dimudahkan dalam menjemput rezeki. Rezeki ilmu, sehat dan jodoh. Diberi kekuatan untuk menjemput rizkinya dengan cara dan hasil yang halal.

Selesai dhuha, aku berjalan menuju toko bunga yang ibu berikan padaku  untuk aku kelola. Aku sangat suka dengan bunga, begitupun dengan ibu. Mungkin kesukaanku pada bunga adalah warisan dari ibuku. Bunga yang paling aku sukai adalah mawar biru.

Mawar Biru. Mawar yang ingin aku berikan untuknya saat perpisahan itu. Tapi entah, dia mengembalikannya padaku. “Aku pasti kembali Fal” katannya mantap. Matanya tegas. Aku tahu dia dari dulu, dia selalu menepati apa yang diucapkannya. “Jaga ini ya?” dia memberikan sebuah kalung mawa biru. 

“Pakailah ini agar aku tahu kau selalu ada disini menantiku” katanya sembari memakaikan kalung itu dileherku. Matanya menatapku. Sejuk dan damai tatapanya. Aku sungguh tak mau  jauh darinya. Aku memeluknya erat, takut kehilangannya.

Pesawat menuju Korea terbang tepat pukul empat sore. Meninggalkan Indonesia. Dia meninggalkanku. Untuk sementara, aku kehilangan satu kelopak mawarku yang dibawanya. Kelopak itu adalah dia.

Sayapku Terluka...

Sayap-sayapku patah. Aku tak bisa terbang lagi untuk bercanda dengan bintang dan rembulan. Aku sakit dan terbang rendah. Aku tak tahu kemana angin akan membawa jasadku yang sedang terjatuh dari awan. Akan kelautkah? atau kedaratan? atau malah akan dihantarkan di hatimu? Aku tak tahu. Aku terjatuh menuju bumi, tertarik gaya gravitasi.

Aku melayang mempertahankan diri di atas awan, melawan gaya gravitasi yang entah sangat kuat menarikku ke bumi. Aku tak tahu akan kah aku mati atau tidak. Tapi aku tak ingin jatuh ke bumi. Sakit dan pasti sakit. Sedang sayapku yang patahpun sakit sekali.

Entah aku hanya ingin tetap ada disini. Melihat senyumnya dari jauh dari tempat yang tak dapat dilihatnya. Ya. Senyum darinya yang entah mengapa membuatku menikmati kehidupan di atas sini. Bersembunyi menikmati keindahan senyum manisnya yang tak mampu tergambarkan kata-kata.

Sungguh aku dulu disana, disampingnya. Tapi entah mengapa aku tak tahu aku disini. Menjadi pelindung yang tak diketahuinya. Aku mulai mencintainya lalu aku tertarik ke atas menjadi penghuni langit-langit khayal yang mengiringi kemanapun kepergiannya.

Aku jauh darinya, tapi dari sini aku dapat melihatnya. Kemana dia pergi, dengan siapa ia berjalan bahkan saat ia murung dan menangis sendiri di sudut kamar. Aku tahu itu. Tapi aku jauh disini. Tak mampu menggapainya. Mengusap air mata di pipinya, membuat senyum setelah tangisnya. Ah, aku sangat menginginkan untuk memilikinya, tapi aku masih disini. Jauh darinya dan dari hidupnya.

Hingga sayapku terluka dan dia tak tahu itu. Aku sangat sedih saat dia tak tahu bahwa ada yang sangat mencintainya. Entah mengapa aku hanya mencintainya, Takk peduli pada awalnya. Tapi, biarlah semua cinta melukai. Jika aku akan terjatuh dengan sebelah sayap yang terluka, akan aku biarkan cinta ini tetap mencintainya.Cinta yang telah tercipta tulus untuknya. Untuk seorang anak manusia yang entah mengapa telah mengambil seluruh perhatianku padanya. Seorang perempuan yang telah menguasai sebagian besar tempat di hati dan fikiranku.

Biarlah aku terjatuh. Mempertahankan cinta padanya. Akan aku ikhlaskan meski ia tak peduli padaku. Sebuah cinta yang akan ku jaga hingga akhirnya menutup waktu dan menghabiskan satu persatu sayap-sayapku.

Rabu, 04 Juli 2012

Nisfu Sa'ban

Alhamdulillah, kita semua umat muslim di seluruh dunia telah dihantarkan kembali untuk bertemu dengan bulan sya'ban. Bulan sebelum bulan Ramadhan.
Bulan sya'ban mempunyai keistimewaan tersendiri. Diantara pada bulan ini Rasulullah saw rutin melakukan puasa sunah, karena bulan ini merupakan bulan diangkatnya semua dosa.

Lalu, bagaimana meramaikan bulan nisfu sya'ban dan terlebih lagi malam nisfu sya'ban? yaitu dengan memperbanyak do'a, shalawat, dzikir dan amalan lainnya yang sesuai dengan syariat islam. Sebagai seorang muslim, memang seharusnya tidak hanya malam nisfu sya'ban saja yang diramaikan dengan berbagai amalan baik, tapi juga malam-malam lainnya.

Amalan di Malam Nisfu Sya'ban :
membaca surah yasin 3 kali
membaca do'a nisfu sya'ban
memperbanyak malam dengan dzikir, shalawat, istigfar dan doa

Yang lebih penting pula adalah dengan tidak meninggalkan amalan wajib yang harus dilakukan sebagai seorang muslim.

http://www.kabarislam.com/puasa/amalan-amalan-pada-malam-nisfu-syaban

Senin, 02 Juli 2012

Aku tak mau melihatmu bersedih lagi..

Menangislah
Jika itu dapat tenangkan hatimu

Berteriaklah
Jika itu dapat hilangkan kecewamu

Akan aku biarkan air matamu menetes
Akan aku biarkan suaramu mengadu
Sesukamu
Sepuasmu

Hingga kesedihanmu pergi darimu
Hingga kesedihanmu lenyap dari matamu
Aku biarkan tangis itu, bukan karena aku tak menyayangimu
Aku hanya tak ingin melihat tangis sedihmu lagi

Bila kau menangis setelah ini
Aku tak tahu bagaimana menghentikan tangismu
Menghilangkan kesedihan yang masih erat kau dekap

Jikau kau mau
Ijinkan aku untuk selalu ada
Menghilangkan sedih itu
Dan membuat senyum bahagiamu, Kasih. . .

Semua Tentang Kamu

Bersyukur pada Tuhan
Berdoa  semua tentang kebaikan dan kebahagiaan
Juga doa tentangmu
Mengharap kamu ada menghadirkan senyum dan tawamu
Kehidupan ini hanyalah setitik waktu yang masih bisa ku lalui bersamamu.
Aku tak tahu, apakah disana kita juga akan bersatu?
                                                                        -teruntuk Kamu
@@@


Sepenggal puisi itu sengaja ditinggalkannya di atas meja. Sepenggal puisi perpisahan yang ia tujukan padaku. Meninggalkan kenangan yang tak terhitung bilangan angka. Baru sebentar dia melengkapi sisi kekosongan jiwaku, namun begitu cepat ia pergi. Membawa serta semuanya yang dulu pernah ada. Tawa, senyum, tangis, marah, kecewa, manja dan… dia sendiri. Kini menghilang bersama kepergiannya. Tak berbekas.

Aku rindu dengan godaan manjanya yang selalu membuatku geli saat aku mendengarnya. Meski aku tidak suka, tetapi dia lucu dan aku masih ingin mendengarnya. Tawanya yang lepas lalu tertahan, seakan mengejek ketidakmampuanku saat melakukan sesuatu.
Kamu, meskipun tak tahu, ternyata sedikit demi sedikit sebuah perasaan halus menyelusup pada salah satu pintu diantara ribuan pintu yang ada dalam hatiku

Kamu adalah arakan awan putih peneduh di padang gersang. Meski memang indah saat cerah, tapi aku rindu kamu untuk memberi warna yang berbeda pada birunya langit dunia. Melihatmu terbawa bayu, membuatku tertawa ternyata kamu tak terlalu perkasa. Namun pada akhirnya kamu membuktikan, kamu mampu kembali meneduhkan padang savana. Memberikan hidup dari air yang kamu bawa.

Kamu adalah awan putih yang berarak di langit luas. Memberi warna beda yang mampu meperindah dunia.

Diawali pertemuan singkat dulu saat kamu akan membayar uang SPP. Ya. Di lorong kecil di depan kantin sbelum menuju kantor administrasi di kampus kita. Tak tahu aku atau kamu yang memulai, tapi pertengkaran kecil itu terjadi. Suatu yang tidak penting memang. Masalah sepele, mungkin karena idealism dan kesombongan yang tinggi, aku langsung membentak tarikan tanganmu yang menarik sengaja lenganku. Kamu menghindarkanku dari bola liar yang terbang dari Lapangan basket di sebelah kanan lorong itu. Aku yang tak tahu karena sedang terburu, kaget. Kamu menarik tannganku kebelakang saat bola itu sedikit lagi mengenai kepalaku. Semua buku bawaanku terjatuh.

Dengan reflex yang tak terduga, mulut ini langsung mengeluarkan sumpah serapah tak tahu arah dan ditujukan untuk siapa. Karena saat itu pun aku belum tahu kamu. Kamu yang bodoh, tidak melihat didepannya ada orang yang sedang sama-sama jalan, atau aku yang terlalu tergesa tak mau menghindari bola itu hingga akhirnya kamu menarik tanganku. Tak peduli itu. Bagaikan mesin penembak, sumpah serapah langsung keluar tak terkendali menghabisi lalat bahkan semut di depanku. Tak kenal tempat ataupun waktu. Padahal waktu itu sedang ramai-ramainya kantin di kampus kita. Sontak pengunjung kantin di sebelah langsung menatap padaku. Malu. Dengan muka yang memerah aku melanjutkan jalanku. Meninggalkanmu yang terbengong tak percaya mendapat marah dari seorang yang kamu tolong. Ah, itu bukan urusanku pikirku sambil berjalan tak acuh menuju ruang kuliah.

@@@

Aku tak tahu harus darimana kuceritakan semua ini padamu. Tentang kerinduanku, kecemasanku, kecintaanku dan semua tentangmu yang ku ingin kamu tahu semua itu. Selama ini hanya coretan-coretan sajak tak berjudul yang menggantikan hadirmu. Menghiburku untuk mengulur waktu, supaya aku kuat menahan cinta ini agar tetap untukmu.

Aku berkeliling dunia tak berujung mencarimu. Kamu tahu, saat kamu pergi, kamu pun telah membawa sebagian hatiku bersamamu. Aku sangat kehilanganmu. Hati ini tak lengkap tanpa setangah hatiku yang terbawa bersama kepergianmu. Setelah semua yang telah aku lalui bersamamu aku tak bisa untuk tidak mencintaimu.

Telah lama aku tak merasakan cinta atau bahkan belum merasakan cinta kepada sosok pria selain ayah dan kakek. Ya. Gie, kamu yang pertama mampu membuat hati ini merasakan cinta pada sosok manusia sepertimu. Ah semua sangat indah saat aku mengenal dan dapat bersamamu. Waktu terasa lambat saat aku bisa menatap sinar ketegaran pada dua bola matamu. Kamu menceritakan tentang kampung halamanmu di kota kecil di Jawa Tengah. Sebuah kabupaten kecil yang terapit dua kabupaten besar di karesidenan Banyumas. Aku lupa, tapi ada kesamaan nama dengan sebuah kabupaten di Kalimantan dan Jawa Barat. Kabupaten Banjar… ah, bagian belakangnya aku lupa. Tapi aku sangat ingat cerita yang kau ceritakan padaku tentang kota kelahiranmu.

Aku berangkat kuliah suatu pagi tepatnya satu minggu sebelum ujian semester. Dengan langkah ragu dan malas, aku berusaha melangkahkan kakiku menuju gerbang kampus. Universitas Padjajaran Bandung, tepatnya Fakultas Ekonomi. Gerbang fakultas masih sepi, belum ada kegiatan kampus yang terlihat. Pukul Sembilan pagi lewat lima belas menit. Biasanya kamu sudah berdiri di depan gerbang kampus menunggu sahabatmu, Cho. Dengan topi cokelat dan hem berwarna biru kotak-kotak yang tak kamu kancingkan, kamu menunggu sahabatmu dengan sebuah buku kecil yang sudah lusuh.

“Heh! Penjaga pintu! Kotor nih, disapu dong? Kotor kok dibiarin aja?” sapaku pertama kali setelah kamu menjatuhkanku di sebelah kantin dulu. Melihatmu sok keren di gerbang kampus, iri.

“Maksudmu? Aku tukang sapu?” balasmu dengan tatapan kaget melihat kearahku.
“Kamu tuch yang harusnya di masukin ke tong sampah. Ditolong koq g terima kasih, udah kemarin marah-marah, sekarang ngolok-olokin lagi. Bodoh!” lanjutmu tanpa beranjak dari sandaran tembok gerbang.

“Apa!” bentakku.

Wajahmu tertutup topi yang terpasang lekat di kepalamu. Matamu bersembunyi atau sengaja kamu sembunyikan dari tatapan marahku. Dan kamu tak pedulikanku. Kembali menikmati dunia yang tercipta di otakmu dari buku lusuh di tanganmu.

Dengan langkah tergesa dan sedikit marah, aku berjalan menghampirimu. Kamu sedikitpun tak mempedulikan kehadiranku. Lalu dengan gerakan yang tak kusadari, aku merebut buku ditanganmu dan ku buang di tepat depanmu. Kamu mendongak, menatap kearahku dengan tatapan aneh. Raut muka tak berekspresi yang kosong tapi penuh harap.

“Apa kau bilang! Coba kau ulangi lagi!”

“Tidak ada siaran ulang, Nona. Terima kasih” datar kamu ucapkan seraya mengambil buku di depanmu. Lalu kamu pergi menghampiri sahabatmu yang datang tepat saat aku membuang bukumu.

Aku masih bengong tak percaya saat itu, saat kamu membiarkanku berdiri sendiri di gerbang itu. Sebuah foto tertinggal atau mungkin terjatuh dari buku lusuhmu itu saat kamu meninggalkanku. Foto kamu dan kedua sahabatmu. Aku tahu yang satu, tapi yang satu aku belum tahu siapa dia. Tapi yang jelas mereka sahabatmu.

Untuk Sahabatku, Gie. .
Jalan kita masih panjang kawan. Akhir ini adalah sebuah awal yang baru. Selamat berjuang, kawan. Aku menempuh jalan lain di percabangan jalan ini. Tapi aku yakin kita akan dipertemukan lagi di persimpangan jalan lain di depan. Aku yakin itu.
Semangat berjuang kawan. Ingat selalu janji kita. Salam Semangat.,.! :)
Sahabatmu DAQ
                                    (Bara, 16 Juli 2010)
Sebuah foto dan puisi. “Pasti kamu akan mencariku, aku tunggu kamu.”

@@@

Lalu di hari berikutnya tak jauh berbeda. Kamu berdiri di depan gerbang seperti biasa, tapi sekarang sudah bersama dengan sahabatmu. Dan sekarang bukan aku yang menghampirimu, tapi kamu yang menghampiriku. Selalu sama, dengan topi cokelat yang kamu pakai dan hem kotak-kotak biru yang tak kamu kancingkan kamu berjalan tergesa ke arahku.

“Maaf, bisa bicara sebentar?”

Waw! Ternyata kamu sangat sopan dengan wanita. Ada apa ini? Aku hanya mengangguk dan mengikuti arah jalanmu menuju tempat duduk kecil di bawah pohon.

“Mau bicara tentang apa?” ucapku memancingmu bicara.

“Maaf, kamu kemarin kan yang menarik buku yang ku pegang?”

“Terusss?”

“Di dalamnya ada fotoku dengan sahabatku. Apa kamu menemukannya? Atau…”

Kata-katamu berhenti saat aku keluarkan foto yang kamu cari.
“Eits!?” hindarku menjauhkan foto itu dari jangkaumu saat kamu berusaha mengambilnya dari tanganku.

“Tolonglah… foto itu sangat berharga bagiku. Tolong kembalikan.”

“Hemm… baik. Akan aku berikan, tapi dengan syarat. Syaratnya, kamu harus mengajariku belajar sebelum tes semester minggu depan. Deal or no deal?”

“Itukan fotoku, kenapa mesti dengan syarat.” Ucapmu kesal.

“Ya udah, kalo gak mau, gak akan aku kembaliin.”

“Okey. Deal!” ucapmu setuju dengan syaratku meskipun rautmu tanpa senyum sama sekali. Aku tak peduli, yang penting sekarang ada yang mau mengajariku tentang materi-materi di kuliahku.

“Foto ini akan aku berikan setelah tes semester usai. Di tempat ini.” Ucapku sembari berdiri dan melangkah pergi tak pedulikan persetujuanmu.

@@@

Seminggu belajar mengenai materi kuliah sebenarnya tidak menyenangkan bagiku. Tapi kamu membuatnya berbeda. Semua berjalan lebih menyenangkan saat ini. Kamu ternyata tidak seperti yang ku kira. Sebagai seorang yang dulu pernah memarahimu, membencimu dan yang sekarang sedang mengerjaimu aku jadi malu pada diriku sendiri.

Kamu pelengkap kecil diantara kekosongan puzzle yang belum terisi di kehidupanku. Kamu sangat hebat dalam memotivasi orang. Seperti yang kamu lakukan padaku. Aku yang sangat benci dengan pelajaran geometri, dengan kesabaranmu kamu mampu mengubahku untuk setidaknya tidak membenci satu pelajaranpun. Dan itu sangat membantuku mengatasi masalahku. Tapi, apakah kamu tahu ada yang lain yang kini menjadi masalah baruku. Suatu yang lain yang tak bisa terungkap mudah dengan sepatah kata.

“Kamu mau jadi apa nanti?”

Kamu menanyakan aku pertanyaan yang sangat sulit untuk ku jawab di hari terakhir sebelum test semester.

“Hmm… apa ya? Mungkin jadi… ekonom terhebat di dunia…” jawabku ragu. Lalu tawamu lepas, melihat raut bodoh mukaku dan jawaban tak yakin yang keluar dari mulutku sendiri.

“Kenapa tertawa?” tanyaku heran. Perlahan tawamu terhenti mencoba menanggapi kata-kataku.

“Kamu itu aneh. Masa udah besar gini, udah kuliah pula, masih ga tahu mau jadi apa? Anak TK aja kalau di tanya kayak gitu akan dengan pasti menjawa ‘aku mau jadi dokter! Aku mau jadi guru! Aku mau jadi presiden! Aneh kamu.. hahaha”

Aku jadi kesal padamu. Masa dibading bandingkan dengan anak TK, yang benar saja. Aku gemas padamu. Beberapa cubitan aku berikan sebagai jawaban dari pernyataan yang kamu berikan.

“Aw..! Aw..! oke oke.. maaf maaf dech hehehe”

“Tu kan? Masih mau ketawa?” tatapku mengancam. Tapi kamu memang tak kenal menyerah, masih saja meledekku dan tertawa di depanku. Aku pun lama-lama ikut tertawa juga. Tertawa melihat tawamu yang lucu.

Hari beranjak malam. Lalu kamu pulang dengan pesan yang seperti biasa kamu tinggalkan padaku.

“Temukan dirimu. Bukan menjadi seperti yang orang lain harapkan. Tapi jadilah apa yang kamu sukai dan  kamu yakini itu yang terbaik bagimu. Karena hidup terlalu singkat untuk menjadi orang lain. Okey?”

“Okey pak tua.” Jawabku sambil menatap mantap matamu. Kamu tersenyum. Senyum yang berbeda dari semua senyum yang telah kamu nampakkan di tiap pertemuanku dengan kamu. Kamu berjalan pergi, kulihat punggungmu semakin menjauh lalu perlahan menghilang.

“Aku sayang kamu, Gie” ucapku lirih dengan senyum yang termanis yang bisa kulakukan. Sayang, kamu sudah menghilang di antara kegelapan.

@@@

Hari ini hari pertama test semester. Kamu seperti biasa sudah berada di depan gerbang dengan topi hitam yang sudah menjadi bagian di hari-harimu. Aku hanya melihatmu dari jauh. Kamu dan Cho berjalan masuk, dan aku mengikutimu dari belakang. Banyak yang menyapamu, tak hanya teman-teman cowokmu, tapi juga teman-teman cewekmu. Dan saat itu aku merasakan yang lain. Cemburu.

“Gie..!! Tunggu aku dong..!!” panggilku keras. Aku langsung berlari mensejajarkan langkahmu.

“Kenapa lari-lari? Kayak mau nangkap maling aja si…hehehe” kata sahabatmu.

“Iya… Nih malingnya, hehehe” kataku sembari menunjuk kearah kamu. Ekspresimu yang lugu sangat lucu, aku tertawa. Innocence. Mungkin karena memang kamu tak bersalah atau tak tahu apa salah yang telah kamu lakukan.

Sebelum test dimulai, aku meminta kamu mengulas semua yang telah kita pelajari bersama. Aku merasa tenang.

@@@

Seminggu sudah. Test semester sudah selesai. Aku menunggumu di tempat duduk di bawah pohon sesuai janji kita dulu.

“Mana minumannya? Kok Cuma bawa satu si?” protesku padamu saat kamu datang dan hanya membawa satu botol minuman di tanganmu.

“Owh.. ini kan memang buat kamu. Aku sengaja bawa satu. Cuma buat kamu.” Katamu sembari menyerahkan minuman itu padaku dengan senyum seperti malam kemarin. Senyum yang membuatku mulai menguatkan diri untuk mengutarakan suatu padamu.

“Aah.. Maaf ya” mukaku ku rasa memerah. Malu.

“Udah, jangan malu-malu. Diminum gih? Ntar aku yang minum hlo…?”

“Eits!? Jangan donk? Katanya buat aku? Gimana sih…” kesal, langsung habiskan tak membiarkanmu berkomentar lebih jauh lagi.

“Ya ampun. Sekali tenggak? Hebat kali? Hahaha…” responmu dengan logat Medan yang lucu.

“Heh! Gak boleh? Ntar aku muntahin lagi nih?!”

“Yeee.. gitu aja marah. Lagi dapet ya? Dapet emosi maksudnya. . hehehe”

“Iigghhh.. kamu nih ya?”

Kamu malah senyam senyum melihatku. Katamu, ekspresiku lucu. “Emang orang lagi marah lucu. Lucu dari mananya? Fikirku. Dasar kamu!” Batinku merutuk.

“Ya udah udah, maaf deh. Sekarang, fotonya mana? Sini kembalikan, dah janji hlo? Janji itu harus ditepati..”pintamu dengan sedikit ceramah.

“Gak usah ceramah. Aku gak bakalan ingkar janji kok. Nih, fotonya.”

Kamu mau mengambilnya ditanganku, saat tiba-tiba aku jauhkan foto itu dari jangkaumu.

“Kena lagi deh ni. Hemmm. . . Mau apa lagi nih?”ucapmu kesal.

“Aku mau ngomong sesuatu. Tolong didengerin dan langsung dijawab. Deal or no deal”

“Deal dech., daripada fotonya gak balik.” Jawabmu kesal melengos tak memperhatikan mukaku yang memerah. Wajahmu lucu mengekspresikan kekesalanmu. Mungkin benar katamu, aku terlihat lucu saat marah tadi, karena kamu pun terlihat lucu saat ini.

“Ak aku. . . aku sayang kamu, Gie” ucapku lirih dan pelan mengungkapkan kata yang terpendam. Kamu terlihat kaget dan langsung mematap mataku. Mencari kesungguhan kata yang tadi terucap.

@@@

Liburan ini akan menjadi sangat lama bagiku. Kamu akan pulang kampung di kota kecil Banjarnegara. Ya, Banjarnegara aku ingat sekarang. Kota kecil yang katamu berada di dua kota besar, Purwokerto dan Wonosobo. Aku secara tidak sadar, mendadak menjadi seorang detektif yang mencari keberadaan dirimu. Meski aku tahu kamu akan memegang janjimu, tapi rindu ini memaksaku untuk mencarimu. Banjarnegara, sambutlah aku.

@@@

Aku kirimkan foto saat kita bersama dan sebuah puisi. Doa singkat untuk kamu. Agar kamu mengerti kerinduanku.

Pada sedetik waktu
Jarak telah memisahkan aku dan kamu
Menguji seberapa kuat rasamu dan rasaku
Tapi aku yakin dengan kamu
Kamu akan menjaga hatimu dan hatiku
Sampai saat itu
Saat kamu dan aku menyatu
                                    -teruntuk Kamu



*Diambil dari fantasiku yang selesai ku tulis tanggal 27 September 2011

Minggu, 01 Juli 2012

Curahan Hati 1 Juli 2012

Entah mengapa aku tetap mencintai orang yang memang sudah jelas sekarang tak lagi menyayangiku. Meski aku berkali-kali dibuatnya sakit. Entah. Aku tetap berharap padanya. Aku tak tahu. Dunia tak adilkah? Atau memang inilah cinta yang tulus pada seorang wanita hingga tak lagi terfikirkan betapa sakitnya perasaan yang telah terluka? Berkali-kali terluka.

Fyuhh...
Tak tahulah. Aku hanya bisa mencintainya saja. Hingga batas waktu yang ditentukanNya tiba, aku akan tetap mencintainya.

Hari ini, aku tahu dia sedang teringat tentang mantannya dulu. Bahkan bercerita kalau dia masih cemburu saat sms yang dikirimkannya dibalasseorang cewek yang dia tak tahu siapa. Mendengar dia berkata begitu, akupun cemburu. Hatiku terasa sakit, entah. Tapi aku sangat sadar mungkin memang bukan aku yang dicintainya. Meski dulu dia pernah menyatakan sayang padaku, mungkin hanya sebuah kata dari mulutnya saja. Bukan dari hatinya.

Aku tak tahu dengan diriku sendiri. Meski berulang kali terluka mendengar ceritanya menyukai orang lain. Jalan-jalan dengan orang lain. Bahkan yang lain aku tak tahu.

Tapi aku cemburu. Sakit. Meski ku tersenyum, tetap saja tak mengubah sakit dan perih ini. Aku mencintainya dan mungkin terlalu mencintainya. Hanya yang terbaik yang ku doakan untuknya. Hidupnya, kesuksesannya dan semua yang dia inginkan.

Biarlah sebuah cinta yang tak terbalas terasakan perih dan sakitnya kini. Meski aku tak tahu apakah dia akan bersanding denganku atau tidak. Mungkin aku terlalu bodoh untuk tidak melepasnya saat aku tahu dia mencintai yang lain. Bukan aku. Baru kali ini aku mencintai seorang wanita seperti ini. Seharusnya memang tidak begini, tapi entah mengapa aku bertahan meski seribu sembilu telah menggoreskan perih pada perasaan.

Sore ini terlalu indah. Menghiburku yang tengah gundah. Bukan karena cinta yang telah direngkuh, tapi karena cemburu yang kejam. Mencintainya dalam kebisuan. Aku teringat sebuah pesan pendek yang dituliskan seorang temanku.

"Mungkin aku belum bisa membuatnya bahagia, tapi setidaknya aku tak membuatnya bersedih"

Jika cinta memang seperti itu, mungkin aku akan begitu. Membuatnya bahagia meski beribu sembilu memgiris pilu dalam kalbu.
Aku mencintainya. Biarkan saja. Aku terima apa yang ada. Jika memang dia untukku, nantinya pun akan selalu ada disampingku. Jika tidak, setidaknya mencintainya dan membuatnya terenyum bahagia adalah persembahanku untuknya. Suatu yang bisa aku berikan untuknya. Untuk seorang yang aku cintai.