Aku
masih ingat saat itu. Kamu berjalan terburu dengan selembar kertas yang kamu
genggam erat ditangan kirimu. Menerobos segerombolan teman-temanmu yang berdiri
terpaku melihat drastisnya perubahan sikapmu. Beberapa menit sebelum seorang
temanmu memberikan kertas itu. Tawamu lepas, Kamu bercanda riang dengan
teman-teman satu komunitasmu. Komunitas Drama.
Beberapa
anak menahan langkahmu yang tergesa, mencoba menenangkanmu. Tapi kamu tak
peduli. Kamu terobos mereka, meninggalkan mereka dengan sejuta tanda tanya dan
keheranan yang menghujani kepala mereka. Maklum saja, mereka tak tahu bahkan
akupun belum pernah melihatmu bersikap aneh seperti itu. Aku heran dan cemas
melihat sikapmu yang seperti itu. Jelas sekali kamu menyimpan sesuatu dariku
dan naluriku sebagai manusia membawaku untuk mengetahui ada apa sebenarnya
denganmu. Aku ingin segera menemuimu.
Aku
lihat kamu berjalan cepat, menyusuri lorong koridor kelasmu menuju ruang kantor
di ujung koridor. Diam-diam aku mengikutimu, memastikan dirimu baik-baik saja.
Memang wajahmu tak terlihat gelisah, tapi sorot matamu tak tenang. Bola matamu
penuh kewaspadaan memperhatikan sekeliling. Kamu aneh. Tapi untungnya aku bisa
mengikutimu tanpa kamu ketahui.
Kamu
sudah hampir mencapai pintu gerbang, sedikit mempercepat langkah untuk segera
pergi meninggalkan sekolah. Baju merah muda yang kamu kenakan dan kerudungmu
terkibar menyertai kepergianmu. Aku percepat langkah memburu jarak yang semakin
jauh darimu. Cepat aku melangkah hingga kamu akhirnya tahu aku dibelakangmu. Kamu
menoleh menatapku. Kosong dan sendu. Sinar matamu meredup dan berkaca. Apa yang
sedang terjadi? Masalah apa? Kenapa kamu sampai menangis? Aku terhenti terpana
tak tahu apa yang harus kulakukan.
Kamu
mengalihkan pandangan lalu berlari pergi. Meninggalkanku yang masih mematung
tak tahu apa yang terjadi denganmu. Apa? Apa yang membuatmu seperti ini? Ada
apa dengan surat itu?
@@@
Kamu.
Perlahan tapi pasti menjadi mozaik-mozaik terindah yang berserakan di sebuah
ruang di belahan lain di duniaku. Menjadi potongan puzzle terpenting untuk
melengkapi hari-hariku. Senyum tawa riangmu seakan selalu menyambut kehadiranku
saat aku bertemu denganmu. Matamu yang bening menatap sejuk dan langkah kakimu
bermain rayu menghampiriku.
Kamu
akan menyapaku dengan sapa khasmu “Hai bee.. sudah berapa madu yang kamu
kumpulkan pagi ini?”.
Bee.
Lebah. Nama itu kamu berikan padaku saat kita dulu bersama ada di club mading.
“Kamu ini banyak sekali ya kata mutiaranya? Dari mana sih?” tanyamu saat itu.
Aku tak tahu dari mana itu, karena aku memang tidak pernah mencarinya. “Mungkin
karena sering baca buku aja, jadi banyak deh kata pengingat yang bisa aku
keluarkan kembali dari ingatanku” jawabku saat itu. Tak pedulikan
keingintahuanmu yang besar saat itu. Bee, kamu panggil itu sebagai gambaran aku
yang selalu mengambil nilai yang baik di setiap peristiwa dan dari buku yang
aku baca. Seperti lebah yang selalu mengambil madu atau manfaat terbaik dari
bunga.
Kamu
memberiku sebuah senyum, yang ternyata kini berarti saat aku tak menemuimu
walau hanya satu hari. Sangat berarti dan itu yang menjadikanku nyaman untuk
selalu merindukan sapa, senyum dan riang tawamu. Aku menjadi ketagihan, senyum
dan tawamu menjadi candu. Sehari saja kamu tak menyapaku, aku akan sangat
gelisah dan mencari sosokmu.
Aku
dan kamu tidak banyak berbicara hal-hal yang penting. Pertemanan kita ringan
tapi begitu akrab. Kamu seperti adik kecil dan sahabatku yang menjadi sasaran
keusilan dan kegemasanku. Terkadang tangismu pun mengalir mengeluarkan
kegalauan hatimu, lalu kamu ceritakan semua masalahmu padaku. Bahkan kamu
menganggapku sebagai kakak laki-laki yang tak pernah kamu miliki. Itu cukup
bagiku. Bahkan itu lebih dari cukup. Tahun kedua menjadi lebih berwarna dengan
selalu adanya kamu. Tapi, terkadang aku merasakan sakit saat kamu bercerita
tentang teman laki-laki yang sedang mendekatimu. Aneh.
Aku
mungkin terlalu polos dan naif untuk menilai sebuah rasa. Bahkan arah anginpun
masih ragu untuk ku tebak akan kemanakah ia akan membawa dedaunan kering itu
terbang. Sebenarnya aku sangat suka hari ini. Hari ulang tahunmu yang juga
pertemuan dan perkenalan kita yang pertama kali. Tapi aku tak tahu ada yang
berkurang disini. Aku mencari sosokmu di ruang kelasmu. Tapi nihil. Mungkin
kamu sedang ada di luar kelas bersama teman-temanmu.
Hari
ini hari rabu, kita akan bertemu di jam kuliah umum Ekonomi. Meski kita tidak
satu angkatan, setiap hari rabu setiap minggu kita mempunyai jam kuliah yang
sama karena aku dan kamu mempunyai mata kuliah yang sama. Satu kali dalam satu
minggu pada hari rabu. Itu sudah lebih dari cukup bagiku untuk mengenali siapa
dirimu. Ya. Awal masuk kampus, kamu adalah gadis kecil energik yang membuat
warna baru saat ospek mahasiswa baru saat itu.
Aku
tak menduga kalau kamu sudah mulai mencari tahui tentangku sejak masa orientasi
mahasiswa baru. Aku berkenalan denganmu lewat jejaring social Facebook saat
kamu tiba-tiba muncul di kotak chating monitor laptopku.
Aku
tak menduga kamu sudah tahu namaku dan yang paling aku tidak sangka, kamu
mengajakku bertemu di sebuah danau di pinggir kota. Aku hanya mengiyakan
ajakanmu. Dengan setengah acuh aku menemuimu di hari itu bahkan aku tak
menyiapkan suatu yang special saat aku bertemu denganmu. Aku hanya mengenakan
kaos oblong bergambar tokoh idola musikku, Iwan Fals dan celana jeans
sepertiga. Cukup santai dan tidak terlalu special. Aku terkaget saat aku
melihatmu. Pakaianmu serasa sangat special dengan gaun yang berwarna terang dan
dandanan yang tidak biasa menurutku untuk pertemuan yang sebenarnya tidak aku
anggap special.
Waktu
itu sekitar pukul sepuluh pagi. Jalanan setapak sepanjang danau sepi dan damai.
Matahari yang mulai menghangat memberikan warna biru jernih di langit. Mengusir
awan dan mengundang kicauan burung untuk bernyanyi. Sinar-sinarnya yang
menerobos pepohonan seperti pedang-pedang cahaya. Indah.
Aku
tak menyangka kamu sudah sampai di bangku tempat pertemuan kita sebelum aku
sampai, padahal masih 15 menit dari waktu yang kamu tentukan sendiri. Aku
berjalan santai ke tempatmu duduk. Aku berhenti beberapa langkah sebelum
mancapai tempatmu, melihat dua angsa yang sedang berenang lambat di depanmu. “Angsanya
cantik ya?” sapaku lirih. “Iy, iy, iya..bagus” jawabmu tergagap. Aku tersenyum
melihatmu canggung saat aku sudah didekatmu. “Santai saja, oke?” candaku sambil
tersenyum melihatmu. “Ba, baik kak?” jawabmu masih tergagap. Aku hanya menahan
tawa, tak ingin mempermalukan sikapmu sendiri di hadapanku.
Aku
langsung berjalan ke tempat dudukmu dan meminta ijin untuk duduk disampingmu.
“Dewi ya?” tanyaku tanpa basa basi. Kamu menoleh ke arahku seraya memberikan
senyum terindahmu. Sejenak aku tersentak, senyum itu sangat cantik. Senyum
terindah yang kamu berikan saat kita pertama kali bertemu. Aku langsung
memalingkan wajah menatap angsa yang sedang berenang di pinggir danau. Kamu dan
aku lalu berbicara sekedarnya. Tapi sebenarnya kamu yang lebih banyak bercerita
tentang dirimu. Bahkan kamu menceritakan tentang aku. Aku sangat tidak
menyangka itu. Kamu seperti memberi laporan pada atasanmu. Hampir lengkap dan
tanpa cela. Aku tak tahu dari mana kamu bisa mendapatkan semua informasi
tentangku.
Angsa
di danau perlahan berenang ke arah tempat duduk kita. “Hai… mau?” tatapku
padamu sambil menatap ke arah angsa dan bungkusan roti yang aku keluarkan. Aku
lalu mengajakmu memberi makan angsa tadi. Tapi kamu terlihat bengong, bingung.
“Entar angsanya sampai kabur hlooo…???? Yukk..” ajaku sambil menawarimu bungkusan roti
untuk dijadikan makanan angsa.
Tiba-tiba
kamu berubah sewot dan merebut bungkus roti ditanganku. “Hei..” aku terkaget.
Lalu sejenak aku menatap dalam raut wajahmu. Manis. Wajahmu terlihat berbeda
saat itu, dari senyum yang terindah dan ekspresi terlucu saat sewotmu. Aku
tersenyum melihatmu. Terpana.
“Maaf
ya kak..” ucapmu lirih mencoba mencairkan suasana sambari memberikan kembali
bungkus roti padaku tanpa menoleh. “Tidak apa-apa. Tapi .. jangan panggil aku
kakak dunk..ya?” pintaku. Aku sengaja memegang tanganmu yang memegang bungkus
roti itu, dan hanya mengambil sedikit roti di dalamnya lalu kulemparkan
diantara angsa yang sedang asik berenang di danau.
Kamu
menoleh ke arahku, bingung. Aku hanya tersenyum. “Jangan memanggilku kakak.
Panggil saja namaku, gak pa pa kok…” jawabku saat kamu terheran dan sikapku.
Sejurus kemudian kita sudah asyik bermain-main dengan angsa yang mulai menjinak
dengan roti yang kita lemparkan.
Tak
terasa waktu ternyata sudah tengah hari. Suara adzan sayup terdengar menerobos
diantara rimbunnya pepohonan. “Alhamdulillah, shalat yukk…??” ajakku. Kamu
menolak dengan halus. Kamu beberapa kali menahanku untuk melaksanakan ibadah. Mungkin
karena kamu tidak ingin aku tinggalkan meski sejenak. Tapi aku juga tetap
bersikeras untuk melaksanakan ibadah. “Aku sedang berhalangan” katamu. “Owh..
aku shalat dulu ya?” ijinku sambil tersenyum meninggalkanmu sebentar.
Kamu
masih bermain dengan angsa-angsa yang terlihat semakin jinak denganmu saat aku
selesai shalat. Aku berjalan santai. Rasanya segar sekali setelah shalat.
“Alhamdulillah..” lirihku sambil berjalan menuju tempatmu bermain dengan
angsa-angsa itu.
Tak
terasa hari sudah semakin sore, aku mengajakmu pulang. Tanpa kusangka kamu
minta di antarkan. Kamu bilang rumahmu jauh dan tidak berani pulang sendiri,
padahal waktu baru saja pukul 3 sore. Hemh, kamu ini gadis yang aneh, baru saja
kenal denganku tapi sudah sangat manja. Aku tidak tega melihat raut wajahmu dan
suara memelasmu. Mau gimana lagi, aku
turuti kemauanmu. Kamu tersenyum, manja.
Ternyata
rumahmu tidak lah jauh dari tempat kita bertemu. Hanya sekitar 10 menit. Aku
dikerjai untuk pertama kali oleh cewek yang pertama kali ku kenal. Hufft.
Sialan. Umpatku dalam hati.
Kamu
menghentikan motormu di depan rumah. Aku yang kesal sudah dikerjain sengaja
berhenti di sampingmu. “Kamu ngerjain aku ya?!” kesalku. “Hehehe. Maaf ya maaf.
Aku Cuma pengen dianter sama kakak. Maafin ya kak?” jawabmu sambil tertawa
kecil dan wajahmu itu. Ah aku tidak sanggup melihatnya. “Okelah, aku maafin,
aku pergi ya. Assalam…” belum sempat aku selesai dia menghentikanku.
“Tunggu
tunggu. Bentar turun dulu turun.”
“Kok?
Ada apa lagi dhe?”
“Pokoknya
turun dulu. Kalau belum turun, gak aku ijinin pulang.” Pintanya memaksa.
Haduh,
ni cewek. Baru pertama kali ketemu udah ribet amat si? Umpatku dalam hati.
“Okelah.
.”. Aku mematikan motorku dan berdiri di depannya. “Udah turun nih. Aku pulang
ya?” ucapku sambil membalikkan badan menuju motorku. Tanpa ku kira, kamu
langsung menyeretku ke dalam. Masuk rumah. Aku mencoba berontak, tapi
genggamanmu erat. Terlebih lagi kamu ini cewek, kalau aku lepaskan paksa pasti
terjatuh.
“Ada
apa sih?!” tanyaku. Namun tak kau jawab. Sampai depan pintu, kamu mengetuk
pintu. Sebelum seorang keluar dari balik pintu, kau melepaskan tanganmu dariku.
“Siapa
itu dhe?” Tanya seorang wanita yang baru saja muncul dari balik pintu. “Mama,
ini kak Zaka. Kak Zaka, ini Mamanya Dewi” jelasmu sambil tersenyum. Senyum
bahagia dari seorang wanita yang mengenalkan orang yang dia sayang ke ibunya.
“Assalamu’alaikum ibu.” Ucapku padanya. “Wa’alaikum salam nak Zaka. Mari masuk
sini. Ayuk Dhe, ajak temanmu masuk” ajak ibunya sambil memasuki rumah.
Aku
mau tak mau harus masuk, menurutku tak sopan jika aku langsung pergi. Ibumu
sangat ramah padaku, entah sepertinya ada raut wajah yang berbeda dari
wajahnya. Wajah orang tua yang sangat mengharapkan kebahagiaan putrinya.
Dari
cerita yang dituturkannya, aku tahu kamu anak gadis satu-satunya yang dimiliki
ibumu dan ibumu sangat sayang padamu. Bahkan kamu sangat akrab dengan ibumu.
Aku sampai tersenyum saat kamu dan ibumu berdebat tentang angsa di danau tadi.
Kamu tak mau kalah, mungkin malu untuk kalah dengan ibumu saat ada aku. Aku tak
tahu, tapi kamu ngotot tak mau mengalah. Hingga ibumu akhirnya mengacak-acak
rambutmu dengan sayang. Aku sendiri hanya tersenyum melihat tingkahmu. Lucu.
@@@
Aku
tak tahu apa yang terjadi saat ini, tapi ku tahu itu bukanlah kamu yang ku
kenal saat itu. Aku seakan kehilangan sosokmu, kamu seolah menghilang dari
perinderaan rasaku. Kamu aneh. Kamu kenapa Dhe? Sejenak aku terpana, tak tahu
apa yang harus ku lakukan. Melihat mobilmu keluar dari sekolah dan tak ada
klakson yang biasa dibunyikan sopirmu, aku melihatmu mobilmu sampai menghilang
dari pandangan.
“Zak,
kenapa Dewi? Kok jadi aneh gitu? Zak.. Zaka!” tanya Astri menyadarkanku.
“Eh,
aku juga gak tau Tri. Dia kok aneh kayak gitu ya?”
“Ditanya
malah tanya balik, kamu gimana sih?” tangannya menepuk bahuku, kesal.
“Aku
juga gak tau Tri. Ak aku.. aku akan mencari tahu” jawabku sembari pergi ke
dalam mengambil kunci motor dan tasku di dalam ruang kelas.
@@@
“Bee,
kamu lama gak keliatan? Bahkan kantong madumu belum pernah kamu isi lagi, suara
dengungan sayapmu juga hampir menghilang. Kamu habis kemana Bee?” tanyamu
memberondong saat aku tiga hari aku tak menemuimu.
“Maaf De, hpku mati. Masih diperbaiki di counter
hp, maaf ya gak ngasih tau. Aku tadi buru-buru ke sini, Astri bilang kamu lagi
gak enak badan. Udah minum obat belum De?” tanyaku khawatir. Wajahmu pucat,
kamu sedang tidak sehat. Aku menyesal tak memberimu kabar hingga kamu sakit
saja aku tak tahu.
“Belum
Bee, ini aku mau makan terus makan obat.” Katamu sambil mengeluarkan bekal
makanan yang sudah kamu persiapkan dari rumah.
“Syukurlah,
cepet dimakan. Aku temenin ya?”
“Nih,
buat Lebahku biar gak malu nemenin De. Bee belum makan kan?” katamu sambil
menyodorkan makanan ringan untukmu. Aku menatap matamu, mencoba menolak tapi
kamu menyodorkan padaku.
“Kalau
gak diambil, aku gak mau makan!” katamu cemberut melengos tak menatapku.
“Oke
oke, Bee ikut makan. Maafkan Bee ya De. ” kataku sambil mengambil makanan yang
kamu sodorkan. Aku tak sanggup melihat raut wajahmu seperti itu.
“Nah
gitu donk Bee, ntar ibu marah kalau Bee gak mau ntrima kue ini. Ini buatan
ibuku hlo Bee” jelasmu dengan senyum riang. Ah, sinar itu kembali memancar dari
wajahmu. Sinar aneh yang entah hanya ku lihat dari dalam matamu. Aku tersenyum
melihatmu.
“Ohya?
Pasti enak nih. Kok bukan buatan kamu De? Bee pengen yang buatan kamu, buatin
ya?”
“Oke
Bee, tar aku buatin yang manis. Semanis madu yang biasa kamu ambil.” jawabmu
sambil memakan bekal.
Bel
tanda masuk kelas berbunyi nyaring. Aku
sudah tenang melihatmu sudah meminum obat untuk kesembuhanmu. Syukurlah.
“Ntar
anterin aku pulang ya Bee?” pintamu sebelum aku pergi. Aku berbalik menatapmu
ragu, tak yakin dengan apa yang baru saja kamu ucapkan. “Nanti anterin aku
pulang ya? Aku tunggu Kak Zaka di sini”.
“Ha?”
jawabku ragu. Lalu wajahmu itu… “Oke oke, baiklah. Ntar Bee anterin. Masuk
kelas dulu ya?” jawabku sambil berlari keluar menuju kelas.
@@@
Aku
berjalan menuju rumahmu dengan perasaan tak tenang. Aku sungguh tak pernah
melihat kamu seperti itu sejak aku mengenalmu. Apa yang terjadi? Apa yang harus
aku lakukan? Aku tak mau kehilangan senyummu, tawamu, sapamu, manjamu. Tak
ingin melihatmu sedih atau menangis. Atau mungkin lebih tepatnya aku tak mau
kehilanganmu.
Di
depan rumahmu tampak tak ada sesuatu yang mengganjal. Sepi. Aku bertanya pada
Mbok Mijem, katanya kamu belum sampai rumah. Kakekmu sedang sakit di Rumah
Sakit dan Ibumu sedang disana. Mbok Mijem menyarankanku untuk ke rumah sakit,
mungkin kamu ada di sana. Tapi kenapa kamu tak pernah mengatakan kalau Kakek
sedang sakit? Ah, kamu.
Aku
memacu motorku menuju Rumah Sakit Margono. Aku khawatir. Apa yang terjadi? Aku
memacu motorku secepat yang ku bisa, tak
peduli teriakan tukang becak yang terkena cipratan air saat aku melewati
genangan air di depan mereka. Aku mengkhawatirkanmu. Aku memarkirkan motorku
dan langsung menghambur mencarimu. Meski aku tak tahu di ruang manakah kamu
sekarang berada.
“Hendarto, 72th. Mawar no 1”
Pikiranku
melayang, mengenang kebersamaan denganmu yang entah mengapa dengan begitu saja
memenuhi seluruh otaku.Dulu kamu pernah bercerita, kalau kakekmu adalah sosok
laki-laki yang sangat kamu sayang setelah ayahmu. Ayahmu meninggal satu tahun
setelah kamu dilahirkan karena serangan jantung dan kamu hanya mengenal wajah
ayahmu melalui foto-foto yang ibumu berikan padamu. Kakekmu sudah kamu anggap
sebagai ayahmu sendiri dan kamu sangat menyayanginya, kamu pasti sangat sedih.
Setelah
berkeliling dan bertanya kepada perawat, aku akhirnya menemukanmu. Aku lihat kamu
sedang berjalan keluar dengan wajah yang lusuh. Kamu habis menangis? Aku
mengamatimu duduk di kursi lobi depan ruang. Bahkan kamu pun tak menyadari aku
mengamatimu, tak biasanya.
“De,
kamu kenapa nangis?” tanyaku setelah aku duduk disampinya.
Dia
menoleh, wajahnya sendu belum dapat mengatakan apapun padaku. Kamu hanya
memegang tanganku erat tanpa memandangku.
“Nak
Zaka?”
“Iy
iyaa…” aku kaget mencoba melepaskan genggaman tangannya, tapi terlalu erat. Pak
Abdul yang tak lain adalah Pak Dhenya Dewi menyapaku. Aku bersalaman dengannya.
Menanyakan apa yang terjadi, tapi tidak sampai dijawab. Mungkin Pak Abdul tak
mau menambah kesedihan keponakannya. Sejenak kemudian Ia kembali masuk, mungkin
beliau hanya memastikan kondisi keponakannya baik-baik saja.
“Bee…
“ katanya lirih.
“Iya
De, Bee disini. Jangan nangis donk De? Masak dari tadi belum ngasih senyumnya
buat Bee si?”
“Bee…”
genggamannya semakin erat. Aku mencoba menolehkan wajahnya ke arahku.
“Udah
dunk, jangan sedih kayak gitu. Bee gak tau apa apa jadi ikutan sedih
nih…”jawabku. Tapi dia hanya
menyandarkan kepalanya di bahuku dan genggamannya erat. Tiba-tiba dia bangkit
membawaku masuk ke dalam ruang. Sesampainya di dalam, aku kaget. Kakek sudah
tergolek lemas di ranjang, selang infuse dan alat bantu pernafasan sudah
terpasang. Bahkan monitor detak jantung juga sudah terpasang. Wajah yang
biasanya ku temui bercahaya, kini seakan meredup. Kakek lemah, tapi masih sadar
bahkan menyadari kedantanganku.
“Na..
nak Zaza…” ucapnya lirih dan parau saat aku mendekat.
“Iya
Kek, ini saya. Zaka.” Jawabku. Aku dipersilahkan duduk disamping Kakek oleh
ibunya Dewi. Dari dekat aku dapat
mengamati wajah kakek yang mulai kehilangan tenaganya.
“Kakek,
kakek cepet sehat ya kek.” Kataku, tapi ia membalasnya dengan senyum khas yang
biasa ia berikan padaku.
“Za..
Zaka.. kamu anak yang baik. Kakek gak tau apa mungkin besok bertemu dengan
..uhuhukk huhuukk. Nak Zaka, kakek bertahan sampai saat ini hanya ingin lihat
cucu kakek tercinta menikah sebelum kakek meninggal” katanya padaku dengan
senyum khasnya yang biasa ia berikan padaku.
Aku
hanya mendengarkan apa yang kakek ucapkan, tak mengambil apa arti dari yang
kakek ucapkan. Karena aku benar-benar tak mengerti apa yang beliau ucapkan
padaku.
“Yang
kuat Kek, Kakek pasti sembuh. Pasti sehat sampai Dewi menikah. Kakek cepet
sembuh ya?” jawabku menyemangati.
Kakek
tersenyum. Memandangku dan Dewi yang duduk bersebelahan.
“Nak
Zaka… maukah menikah dengan Dewi?” katanya mantap saat matanya menatap mataku.
Deg!
Apa yang baru aku dengar? Apakah aku bermimpi? Apakah kakek bercanda mengatakan
itu? Aku belum bekerja, bahkan masih kuliah. Memang aku terkadang menjadi
penulis di surat kabar, tapi uang hasil itupun ku gunakan untuk memenuhi
kebutuhanku sendiri. Ah, kakek ini becanda. Aku mengenalya, dia memang humoris.
Semoga ini hanya becandaan yang biasa ia lontarkan padaku.
Aku
hanya tersenyum tak menjawab apa yang kakek tanyakan padaku. Aku terlalu takut
untuk kehilangan Dewi, tapi menikah masih 2 atau 3 tahun lagi dari targetku.
Aku…
“Bee
.. Bee ..” kata Dewi menyadarkan lamunanku
“Nak
Zaka, , , “ sapa Bu Indah. Aku memalingkan wajahku kepadanya. “Apakah Nak Zaka
mau menikah dengan Dewi?” tanyanya mengulang pertanyaan kakek.
“Ee..
emm.. maaf bu, tapi apakah tidak terlalu mendadak? Ibuku belum tahu bu. Bahkan
aku belum mengabari ibu dirumah kalau kakek sedang sakit.” Jawabku sengaja
mengalihkan pembicaraan. Menikah? Belum terfikirkan olehku sama sekali.
“Baik,
nanti ibu yang kasih tau ibumu Zak. Jangan khawatir. Jadi, kamu siap menikah
dengan Dewi?” tanyanya mengulang.
“Aku…”
Aku
membuang tatapanku dari tatapan Bu Nisa. Aku menangkap wajah Pak Abdul yang
resah, tatapannya seakan memintaku untuk menjawab “iya”. Berharap orang tuanya
masih bisa tersenyum di akhir hidupnya. Tapi, menikah? Genggaman tangan Dewi
menguat, memaksaku untuk segera menjawab. Aku menatap wajahnya, mencoba mencari
matanya yang ia sembunyikan. Tatapan penuh harap. Ia tak mau melihat kakeknya bersedih,
ingin melihat kakeknya sehat dan kembali mengisi hari-harinya.
“Bee,
tolong jangan buat kakek kecewa. Dokter bilang, kakek tidak boleh sampai sedih.
Atau itu akan menambah parah kondisinya.” bisiknya padaku.
Aku
kembali membuang pandanganku ke ruangan. Bu Nisa, Pak Abdul dan keluar jendela
melihat awan-awan yang berarak mulai bergerombol. Langit mendung.
“Na
Nak Zaka.. Ma maukah kamu menikah dengan Dewi?” tanyanya parau dengan tatapan
yang tak bergeming sedikitpun.
“Sa
saya.. saya mohon maaf Kek. Tapi bukankah ridho orang tua adalah segalanya?
Terlebih itu ridho sang ibu. Sa saya minta ijin untuk memohon ijin pada ibunda
dulu Kek.” Kataku lirih agar beliau paham.
Dia
tersenyum menatapku. Senyum bijak yang ditampakkan oleh seorang pria yang telah
berumur.
“Alhamdulillah.
Terimakasih Nak Zaka. Kakek yakin kamu anak yang baik. Ayo hubungin ibumu dulu.
Nanti Kakek dikasih tahu jawabannya ya?” katanya dengan nada yang ringan
seperti orang sehat.
“Iya
Kek, permisi Kek.” Kataku padanya sembari keluar menelpon ibu. Aku memandang
sekeliling ruang. Raut wajah Dewi, Bu Ayu, Mbak Andini, Bu Abdul dan Pak Abdul
terlihat sumringah. Entah karena apa, yang jelas bukan karena jawabanku. Tapi
karena suara Kakek yang terlihat sehat.
Aku
keluar ruang, Dewi membuntut. Tapi aku menyuruhnya untuk menemani Kakek. Belum
sempat aku menutup pintu, Pak Abdul keluar menemuiku. Sepertinya ada yang
penting yang mau disampaikan beliau untukku. Aku diajaknya duduk di kursi
tunggu di luar yang sedikit tenang. Dari bahasa tubuhnya, memang ada sesuatu
yang penting yang ingin disampaikannya padaku.
Beliau
menceritakan hampir semua yang terjadi sampai Kakek dirumah sakit. Dari cerita
yang dituturkannya, aku tahu Kakek sangat menyayangi Dewi dan menginginkan yang
terbaik untuk cucunya itu. Bahkan penyakitnya sekarang mengharuskan Kakek hanya
mendengar berita-berita positif saja. Setelah dirasa cukup, Pak Abdul
menyuruhku segera menelpon ibuku dan mengharapkan hasil yang terbaik. Tapi aku
tak bisa menjanjikan itu. Semua bergantung pada ibuku.
“Insya
Allah Pak Dhe. Allah akan memberikan yang terbaik” jawabku. Tangannya memegang
pundakku, seakan yakin padaku. Beliau hanya tersenyum lalu meninggalkanku untuk
memutuskan semuanya padaku.
Aku
menghubungi ibu, tanpa disangka ternyata ibu sudah mengetahui semuanya dari Bu
Nisa yang sudah menghubunginya tadi pagi saat Kakek dirawat di ruang ICU selama
beberapa jam. Dari cerita yang disampaikan ibu, ternyata dulu Kakek Dewi adalah
gurunya sewaktu di SMA. Bahkan ibu menjadi murid kesayangan Kakek sewaktu masih
menjadi guru dulu. Aku protes mengapa tak memberitahuku dari tadi pagi. Tapi
ibu memang tidak boleh memberitahukan semuanya padaku atas permintaan Bu Nisa.
“Nak,
semua ibu serahkan padamu. Kamu sudah besar, tahu apa harus kamu lakukan.
Shalatlah lebih dulu, biar hati dan fikiranmu tenang. Minta petunjuk sama Yang
Maha Tahu, Insya Allah diberikan yang terbaik Nak.” Jelasnya panjang lebar.
Apakah artinya aku sudah direstui ibuku.
“Baiklah
Bu. Doakan yang terbaik yang Bu.”
“Pasti
anakku. Sudah dulu ya, ibu mau masak dulu. Ada pengajian di masjid depan”
“Iya
bu. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumuslam”
@@@
Aku
memutuskan untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Hari ini sungguh sangat
aneh, otakku diperas untuk mengkhawatirkan Dewi yang bertingkah aneh karena Kakek
sedang sakit. Sedangkan sekarang aku harus memutuskan dengan segera langkah
yang bukan main main. Menikah. Permintaan suci yang baru saja diminta oleh
Kakek dan harus segera aku jawab.
Aku
membasuh mukaku dengan air wudhu. Sungguh menyegarkan dan menenangkan, ailran
darah seakan lancar dan menyegarkan otak serta hatiku. Lantas aku melakukan
shalat sunah tahiyatul masjid, shalat sunah taubat dan shalat sunah tasbih.
Aku
merasakan ada kekuatan lain yang merasuk. Hatiku sungguh tenang dan tentram.
“Semoga
pilihan ini akan mendatangkan kebaikan bagiku, keluargaku, agamaku, duniaku dan
akhiratku. Aamiin.” Lirihku dalam sujud. Menenangkan diri dengan berbisik
kepada Allah. Sungguh moment yang aneh.
@@@
Aku
keluar masjid. Merasakan sepasang mata mengawasiku, entah siapa. Aku tak
peduli, kalau ada perlu juga nanti ketemu, fikirku. Aku berjalan menuju ruang
kakek dirawat. Tak ku sangka di dalam ruang sudah ada penghulu dan seperangkat
alat sholat untuk mahar. Bukan aku yang menyiapkan, bahkan bukan Pak Abdul atau
yang lain di dalam ruang.
“Si,
siapa yang menyiapkan ini Pak?” tanyaku.
“Bukankah
ini kamu yang menyiapkan Nak Zaka? Bapak pikir tadi kamu yang menghubungi
orang-orang ini. Bapak tahunya kamu yang menyiapkan.”
“Bu..
Bukan saya ..”
“Assalamu’alaikum”
ucap seorang wanita yang sudah tak asing lagi di kehidupanku.
“Wa’alaikumusalam”
ucap semua yang ada di dalam.
“I,
ibu?”
“Iya
Zaka. Ibu tidak mau terlambat menyaksikan putra kesayangan ibu menikah.”
Jawabnya dengan ringan dan senyum sumringah.
“Iya
Kak, Nisa juga nggak mau ketinggalan. Ini sama Paman Indra dan Pak Sholeh”
jawab adikku dengan girang.
“Ja
jadi..??”
“Iya,
ibumu yang menyiapkan semuanya. Tadi Paman kesini dan menyiapkan semuanya.
Tenanglah Nak, jangan khawatir.” Jawab Paman Indra sembari memegang pundakku,
seakan sudah yakin padaku.
“Ini
sudah tugas Paman, ayahmu dulu sudah mewasiatkan Paman untuk menjadi wali saat
kamu menikah.” Lanjutnya.
@@@
“Saya
terima, nikah dan kawinnya Khairunnisa Dewi dengan seperangkat alat sholat dan
uang sebesar seratus lima puluh ribu dibayar tunai.” Kataku mantap sembari
tanganku dipegang erat oleh Pak Abdul Mujib. Kakek terbaring didepanku.
Menyaksikan cucu tersayangnya menikah, sinar wajahnya terlihat cerah dengan
shalawat lirih yang selalu ia ucapkan.
“Sah?”
tanya sang penghulu kepada semua yang ada di ruangan. Ada Dokter Budi, dokter
keluarga Bu Dewi yang merawat Kakek dan satu perawat wanita berkerudung. Dari
keluargaku Ibuku, adiku, Pamanku dan Pak Sholeh selaku Pak Kadus di tempatku.
Dari keluarga Bu Ayu ada Bapak dan Ibu Abdul dan dua putrinya, Pak Ajiz paman
Dewi dengan istrinya dan anaknya yang masih kecil, kemudian seorang Ustadz dan
tentunya Kakek Hendarto yang terbaring lemah.
“Sah!
Sah!” jawab semuanya.
“Alhamdulillah.
Barakallah…” disambung dengan do’a yang dilantunkan penghulu. Aku melihat Kakek
yang berada disamping Pak Abdul, telihat matanya berkaca. Tangis bahagia
melihat cucunya menikah. Pun dengan Pak Abdul.
Untuk
pertama kalinya Dewi memegang tanganku dengan halal. Dia mencium tanganku
sebagai seorang istri dan aku membelai kepalanya yang dibalut kerudung putih
sebagai seorang suami. Entah kenapa mataku menghangat dan berkaca saat membelai
kepalanya yang terlindungi kerudung putih. Aku ingin menangis dan memeluknya.
“Bee,
aku sudah halal untukmu. Bimbing aku ya Bee?.” Katanya lirih saat menatapku
matanya berkaca. Bahagia.
“Insya
Allah De” singkatku.
Seusai
do’a, Ustadz Zainudin memberikan sedikit tausiah. Atau lebih tepatnya pesan
bagiku. Aku sekarang sudah menikah, dan ini bukanlah main-main. Aku sudah
mempunyai tanggung jawab yang lebih besar. Tidak lama, Kakek juga memberi pesan
padaku dan pada Dewi.
“Dewi…
Zaka…”
“Iya
Kek.” Jawab kami bersamaan.
“Alhamdulillah,
akhirnya kakek masih melihat kalian menikah. Kakek berdoa kalian menjadi
keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Selalu dilindungi dan dijaga olehNYA
dan selalu dilimpah berkah dan rahmatNYA.”
“Aamiin..”
“Ayu, bimbinglah anakmu ini ya? Mereka masih
muda, masih butuh bimbingan. Sabarlah membimbing mereka. Aku titipkan mereka
padamu Nak” katanya menatap Bu Ayu yang berdiri disamping Pak Abdul.
“Bu
Zul, Pak Indra. Terimakasih atas ketersediaannya menerima pernikahan ini. Saya
menitipkan cucu saya Dewi kepada kalian. Saya mohon bimbinglah mereka dengan
sabar.”
“Insya
Allah Kek.” Jawab Paman.
“Dengan
begini, Kakek bisa pergi dengan tenang.” Lanjutnya.
“Jangan
bilang seperti itu Kek, Dewi gak mau Kakek bilang seperti itu. Kakek pasti
sembuh, pasti sehat.” Timpal Dewi dengan nada sedih, matanya berkaca. Aku
memegang tangannya.
“Iya
Kek, Kakek pasti sembuh. Zaka yakin itu.” Kataku yang entah mengapa tiba-tiba
ingin menangis. Terharu dengan pernikahan ini dan sedih akan perpisahan yang
akan terjadi. Entah mengapa aku tak tahu. Aku hanya ingin menangis, meluapkan
emosi agar semua tahu aku bahagia dan sekaligus aku sedih tak inginkan
perpisahan ini terjadi.
“Asyhadu
alla ila ha illallah. . wa Asyhadu anna muhammadarrasulullah” ucapnya lirih
dengan senyum, lalu matanya terpejam.