Translate

Selasa, 31 Desember 2013

Di Kota Dawet Ayu, Kita Kembali Bertemu



30 Desember 2011
Sudah rutin seperti tahun-tahun sebelumnya, satu orang temanku ini selalu saja sibuk atau menurutku membuat dirinya sibuk sendiri dengan event yang sangat tidak penting menurutku. Perayaan rutin tahunan yang selalu membuat setiap remaja tanggung seperti mereka melakukan hal-hal aneh yang menurutku tak masuk akal. Ah, mungkin di sisi kegilaan terhadap event perayaan tahun baru seperti ini tidak terlalu parah meracuni pikiranku. Hingga aku tak terlalu memikirkan akan bagaimana menyambut tahun baru yang rutin di sambut setiap tahun. Apa pentingnya?
“Memangnya apa istimewanya? Sama saja kan? Awal tahun ini juga udah ngerayain tahun baru..” jawabku remeh saat Ikbal menanyakan akan memakai baju seperti apa dan akan pergi mengajak siapa malam tahun baru nanti.
“Kau memang aneh Sob. Anak muda gitu, jangan sia-siakan malam tahun baru nanti. Akan ada banyak cewek cantik disana.. hahaha” jawab Ikbal sembari memilah-milah koleksi sepatu, jam tangan, dan kemeja yang akan dikenakannya malam tahun baru nanti.
“Halaah.. yang aneh kamu kaleee” jawabku ngeloyor pergi, tak menghiraukan jawabannya yang tak jelas dan pastinya melantur. Lama-lama melihat tingkahnya yang sangat over menyambut tahun baru, bisa-bisa membuatku gila sendiri.
Malam terakhir di tahun ini, malam 31 desember. Esok, ya esok tak sampai 48 jam lagi tahun akan berganti. Malam terakhir yang berlangit cerah. Padahal beberapa hari sebelum ini hujan selalu turun setiap malam seperti ini. Mungkin langit sengaja memberikan waktu bagi para ribuan bintang mengucapkan salam selamat tinggal bagi para pecinta malam. Mengucapkan selamat tinggal bagi para pemuja malam yang selalu mencurahkan setiap perasaan rindu dan cinta serta luka pada malam dan ribuan bintang.
Sepoi angin menghembuskan hawa dingin yang menusuk. Aku harus merapatkan jaket tipis yang ku kenakan untuk sedikit menghalau hawa dingin yang terus memaksaku kembali ke dalam rumah. Satu cangkir capuccino hangat menemaniku menikmati malam terakhir yang ramai dengan jutaan kerlip bintang.
Slaaaaasshhh… Satu meteorit menggesek atmosfir bumi. Menciptakan garis api seperti bintang jatuh. Hatiku mengucap doa lirih. Ya. Doa untuk sebuah kesyukuran dan harapan tahun depan agar lebih baik lagi dari pada tahun kemarin. Doa tentang seorang yang ku harap akan dipertemukannya kembali aku dengannya.

@@@
31 Desember 2009
“Hai.. Kakak gak ikut anak-anak ke pusat kota?” tanya seorang gadis yang tanpa aku sadari sudah berdiri di depanku dengan satu cangkir cokelat hangat ditangannya.
“Oh, hai. Mengagetkanku saja. Enggak nih.. “ jawabku singkat menahan mukaku yang mulai memerah, beruntunglah malam disini pencahayaan tak terlalu terang. Sejenak mataku menangkap mata bening dan wajahnya yang anggun dengan santai berdiri di depan mejaku.
“Beruntunglah aku tak ikut pergi bersama anak-anak ke pusat kota menikmati perayaan tahun baru bersama ribuan orang lainnya. Aku tak akan mendapatkan kesempatan bertemu denganmu seperti ini jika aku ikut dengan mereka.” batinku.
Sejenak aku tak bisa berkata apa-apa, aku salah tingkah dibuatnya. Gadis mungil bermata indah itu menatapku dengan santai. Rambutnya ia biarkan jatuh bebas, dengan bandana merah muda yang mengikat di kepalanya. Sweater cokelat menghangatkan tubuhnya dari dinginnya angin malam ini, ditambah dengan syal krem melingkari lehernya. Serasi.
“Ehmmm.. aku boleh duduk di sini?” tanyanya menyadarkan lamunanku.
“Eh, Iya. Silahkan Vel. Tak perlu izin dulu.”
Aku perlu mendongak untuk melihatnya dan mempersilahkannya duduk di kursi di depanku. Hanya terpisah dari meja makan bundar kecil, aku dapat melihat wajahnya yang putih bersih dari dekat. Dari dekat sini wajahnya yang putih dan mungil terlihat merona. Mungkin warna merah blas on dari make up yang dia kenakan atau mungkin juga karena wajahnya benar-benar memerah. Aku tak tahu pastinya. Kau tahu? Saat wajah seorang wanita merona merah, bagiku saat itulah wajahnya terlihat sangat cantik. Entah menurutmu.
“Sedang menunggu..” tanyanya menggantung saat baru saja duduk.
“Tahun baru. Kamu sendiri?”
“Mungkin kembang api.”
“Mungkin?” aku mengernyitkan dahi mendengar jawabannya yang sedikut ragu. Atau mungkin ada yang dia tutupi. Ah, siapa peduli. Aku sedang duduk dengannya saat ini, jadi mengapa aku harus bertanya mengapa dia di sini? Vel hanya tersenyum melihat ekspresiku yang aneh menanggapi jawabannya yang mengambang.
Pukul 23.15 WIB. Kurang dari satu jam lagi tahun akan berganti. Meninggalkan sejuta kenangan di tahun ini dan bersiap menyongsong hari baru dan semangat baru di tahun yang baru besok. Beberapa suara ledakan mulai terdengar, disusul kerlip warna yang terlihat menyebar lalu membentuk berbagai pola sudah mulai terlihat menghiasi langit. Bersaing dengan gemerlapnya kerlip bintang di atas sana. Segelas cappuccino hangat menemaniku menghabiskan beberapa menit terakhir di tahun ini. Dan lagi seorang gadis yang tak ku duga kedatangannya, sekarang sedang duduk di seberang meja disampingku.
Rasanya waktu terlalu cepat untuk semakin berlalu. Aku merasa baru saja kemarin melihat kota Jogja. Menelusuri tiap jalan, tiap gang bahkan tiap jalan setapak di pedesaan saat aku harus berjuang banting tulang membiayai studiku di kota pelajar ini.
“Bagaimana kabar Kakak? Lama sekali aku tak melihat Kakak.” tanyanya mengawali dialog denganku..
“Aku baik-baik saja. Malah sangat baik saat ini.” jawabku “Kamu sendiri? Velan juga lama tak terlihat batang hidungnya? Giliran kelihatan, eh kelihatan sama mukanya?” ledekku padanya.
“Yee. Kakak ini aneh dah. Emang mau cuma liat hidungnya Velan doang?” mukanya dimanyunkan manja. Aku hanya tertawa mendengar jawaban darinya.
Aku mengalihkan mata dari ekspresinya yang terlihat cemberut. Melihat kerlip lampu dari lantai dua seperti ini, seperti melihat bintang-bintang yang ada di hadapan mata. Tak perlu mendongak ke langit di atas sana. Di bawah sana, banyak sekali ratusan bahkan ribuan orang memadati jalan menuju pusat kota. Melihat peluncuran kembang api yang akan dilakukan nanti tepat pada pukul 00:00 sebagai tanda pergantian tahun.
“Kenapa Kak? Ada yang difikirkan?”
“Eh, tidak ada. Hanya saja..”
“Hanya saja?” tanyanya
“Ini mungkin akan menjadi tahun baru dan tahun terakhir aku di sini. Besok aku akan mudik ke Kota Dawet Ayu.” jawabku.
“Dawet..?? Banjar..??” tanyanya memastikan. Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Terlihat sedikit gurat kecewa dari sinar matanya. Kenapa?
“Aku harap aku bisa bertemu dengan Kakak lagi di sana.” Katanya berbarengan dengan beberapa kembang api yang mulai meluncur ke atas. Bersuara, menjerit dan meledak indah. Menampakkan berbagai warna yang menyemarakkan langit. Lalu beberapa kata dari mulut mungilnya masih terucap, tapi aku tak begitu mendengarnya.
“Selamat tahun baru Vel. Bagaimana kalau kita doa bareng-bareng?”
“Selamat ulang baru Kak Kholil.” katanya bersemangat. “Ayok, Kakak yang mimpin doa ya?”
Seiring dengan ledakan-ledakan kembang api yang ditembakkan ke langit. Seiring itu pula doa untuk harapan-harapan baru di awal tahun yang baru terpanjatkan. Satu doa yang aku panjatkan, bisa kembali menikmati waktu perayaan pergantian tahun baru gadis yang ada di sampingku. Aamiin.

@@@
Namanya Velanita, aku tak terlalu hafal dengan nama lengkapnya. Perkenalan dengannya pun tak sengaja beberapa bulan lalu di café ini, saat dia secara tak sengaja menjatuhkan kamera DSLR yang ada di mejaku. Beruntunglah kameraku jatuh di atas ransel yang aku letakkan di bawah meja, hingga kameraku tak mengalami kerusakan yang berarti.
“Hey..! Kalau jalan hati-hati dong!” seruku kaget melihat kamera yang baru saja ku letakkan di atas meja tersenggol tas besar hingga menjatuhkannya. Mungkin sang pemilik tas ini tak melihat kalau dibelakangnya ada barang berharga yang sudah susah payah aku perjuangkan untuk mendapatkannya.
“Ah.. maaf maaf. Aku tak sengaja.” Ia langsung membalik dan mencoba menolongku mengambilkan kamera yang terjatuh di atas ranselku.
“Aaww‼” aku dan dia mengaduh bersamaan. Kepala kamu berbenturan sedikit keras. Beberapa orang disekitar yang mendengar gadis itu mengaduh, langsung menoleh menatapku memastikan tak ada apa-apa. Tangannya reflek memegang keningnya.
“Kamu baik-baik saja?” tanyaku khawatir melihat ekpresi wajahnya yang terlihat menahan sakit. Dia tak menjawab, hanya senyum singkat yang mengartikan kalau dia baik-baik saja. Senyum pertama darinya yang sampai saat ini tak dapat aku lupakan. Tangan kirinya mengambil kamera untuk diserahkan padaku sedang tangan kanannya masih memegang kening.
“Maafkan aku telah menjatuhkaa,,,. “ tubuhnya tiba-tiba terjatuh. Untungnya satu tanganku masih bisa menahan tubuhnya.
“Hei hei… kau tidak apa-apa?” tanyaku sembari memapah tubuhnya untuk duduk di kursi. Wajahnya pucat. Sepertinya dia terlalu capai, hingga benturan yang tak terlalu keras saja mampu membuatnya limbung akan terjatuh.
Aku segera memesan teh hangat untuknya.
“Aku tidak apa-apa. Terima kasih atas bantuanmu.” Jawabnya setelah meminum teh hangat yang baru saja diantarkan pelayan. “Kameramu tidak rusak kan?” tanyanya. Mungkin dia sudah tak enak menjatuhkan kamera yang aku letakkan di atas meja.
“Tak ada yang rusak, dan lagi barangelektronik kan bisa diperbaiki kalau rusak. Gak masalah soal itu. Kamu sendiri kenapa? Sudah baikan?” Entah mengapa aku sangat mengkhawatirkan keadaannya yang masih terlihat  capai. Mungkin dia terlalu kelelahan. Dia hanya memberikan simpul senyum manisnya seperti tadi. mengisyaratkan kalau kondisinya baik-baik saja.
“Perkenalkan, namaku Kholil. Siapa namamu?” tanyaku sambil mengulurkan tangan padanya.
“Velan. Velanita.”
Beruntunglah Velan tak apa-apa. Setelah beberapa saat, mukanya yang tadi sedikit pucat sudah kembali normal. Dari obrolan singkatnya, dia ternyata sudah sering kesini. Bahkan hampir rutin setiap minggu, tapi anehnya aku tak pernah bertemu dengannya sebelum ini. Mungkin karena aku tak terlalu memperhatikan sekeliling, hingga beberapa kali aku dan dia berada pada tempat yang sama tak pernah menyadari keberadaannya.

@@@
31 Desember 2011. Pagi.
Pagi ini mendung. Ikbal yang sudah sedari kemarin mempersiapkan diri untuk perayaan tahun baru mala mini resah bukan kepalang. Kamarnya masih berantakan dengan berbagai warna baju, pakaian, topi, sepatu dan jam tangan yang sudah dia bongkar dari lemari koleksinya. Benar-benar mirip kapal pecal, hanya saja tak ada buritan, dan galangan kapalnya saja. Sedangkan kapten kapalnya, Ikbal, sedang resah keluar masuk kamar dan teras memperhatikan awan mendung yang bergelayut setia di langit Banjarnegara.
“Malam ini jangan hujan, jangan hujan, jangan hujan.” Mulutnya lirih mengucapkan kata tersebut berulang-ulang, di tangannya tersemat tasbih putih yang biasa digunakan oleh Eyang buyutnya berdzikir saat menjadi imam masjid dahulu. Aku tertawa terpingkal dibuatnya dengan aksi bodohnya yang satu ini. Tidak seperti tahun lalu, kegilaan Ikbal untuk perayaan tahun baru kali ini benar-benar tak masuk akal.
Sudah dua tahun dengan ini malam tahun baru di Kota Dawet Ayu Banjarnegara selalu beriring hujan. Perayaan tahun baru yang lalu, Ikbal pulang dengan pakaian basah kuyup. Hujan lebat mengiring ratusan warna kembang api yang terlempar ke langit. Banyak pengunjung yang rela berhujan-hujanan berkumpul di alun-alun Kota demi menikmati ratusan kembang api berbagai warna dan bentuk menghiasi angkasa menandai berakhirnya tahun dan menandai awal dari tahun yang baru.
Aku sendiri untuk perayaan tahun baru yang lalu hanya berdiam diri di rumah. Menikmati malam gerimis tahun  baru dengan satu cangkir cappuccino di lantai dua rumahku, sama seperti perayaan tahun baru di kota pelajar dulu saat aku masih menjabat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi favorit di Jogjakarta.
“Mungkin aku harus menggunakan jurus cabai merah untuk menghalau hujan malam ini. Ya benar!.” Katanya bersemangat akan menggunakan jurus cabai merah yang di tusuk pada lidi lalu di tancapkanya di atas genting.
“Jeeddaarrrrrr…..‼” bunyi petir di hujan gerimis mengagetkan Ikbal yang baru saja selesai menempatkan satu buah lidi dengan tiga cabai merah di atap rumahnya. Namun ternyata jurus cabai merah yang digunakannya malah memperparah keadaan. Tak lama, hujan deras mengguyur. Ternyata jurus lidi cabai merah tak mempan mengusir hujan.
Sejenak aku melihatnya kecewa. Mukanya tertunduk dan berjalan lunglai menuju kamarnya yang sudah berantakan. Sempurnalah sudah pemandangan menyedihkan darinya saat ini. Aku tertawa tertahan, takut menyinggung perasaannya yang sudah kecewa, tidak ada jurus yang mempan untuk menghentikan hujan.
“Sabar kawan. Semua akan indah pada waktunya.” Aku mencoba menenangkan kekecewaan yang tampak jelas di matanya.

@@@
31 Desember 2011. Siang.
Hujan masih mengguyur, tak ada tanda-tanda akan berhenti. Awan mendung tak menipis sedikitpun. Apakah benar-benar akan hujan hingga malam nanti? Aku tak tega melihat sahabat ku yang terlihat sangat frustasi. Melihat hujan sedari tadi tidak jua berhenti.
“Nanti malam juga pasti hujannya berhenti bro. Santai saja.” kataku mencoba menghiburnya.
“Semoga saja apa yang kau ucapkan benar kawan.” Jawabnya dengan tatapan sendu. “Aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku harap hujan benar-benar berhenti nanti malam.” Akhirnya sedikit kalimat positif terucap juga dari mulutnya.
“Emangnya kamu sudah siap? Kamarmu aja masih berantakan seperti itu. Mana baju yang akan kamu pakai nanti malam?” pertanyaanku langsung membuatnya meluncur menuju kamarnya di lantai dua.
“Untunglah kau mengingatkan brot. Aku lupa ada satu hal yang belum aku persiapkan kemarin, rencanya aku akan membelinya hari ini.” Tak berapa lama dia langsung turun dengan wajah yang lebih segar dan semangat tahun baru yang menyala-nyala. Benar-benar sahabat yang sangat aneh. Baru saja mukanya ditekuk-tekuk seperti kertas koran lusuh di tong sampah, eh tiba-tiba sudah berganti seperti nyala obor yang menyala terang. Aku sungguh tidak mengerti apa motivasinya sampai-sampai dia bersikap seaneh ini.
“Baiklah, aku pulang dulu kawan. Aku takut ketularan gila jika menemanimu sampai nanti malam. Panggil aku jika kau perlu bantuan menghentikan hujan..hahaha ” Kataku sambil pergi.

@@@
31 Desember 2011. Sore.
Waktu menunjukan pukul 17:00. Hujan mulai mereda, meski grimis masih saja turun dan langit tetap saja mendung. Ikbal sudah mulai bersiap dan kembali memilah beberapa macam pakaian dan aksesoris agar terlihat serasi untuk dipakai malam ini. Aku tak habis pikir dengan tingkah polahnya yang aneh seperti ini hanya untuk memperingati pergantian malam tahun baru nanti malam.
“Bukankah setiap waktu umur dan tahun selalu bertambah? Apa istimewanya? Aku berfikir kalau ita tak perlu bersikap seperti itu kawan, lagi pula tahun depan jika masih sempat kita pun akan menemuinya lagi. Dan lagi, menurutku yang terpenting dari perayaan tahun baru bukanlah sekeren apa kita berpenampilan saat kita ikut memperingatinya nanti di Alun-alun kota. Arti dari tahun baru menurutku adalah semakin kita memperbaiki diri agar lebih baik lagi di waktu yang akan datang. Bukankah seperti itu kawan?” jawabku panjang lebar saat Ikbal menanyakan kenapa aku tak terlalu antusias dengan penampilanku untuk menyambut malam pergantian tahun nanti malam.
“Iya benar aku setuju denganmu. Tapi untuk tahun ini aku mempunyai yang special kawan. Aku akan menyatakan cinta pada cewek yang dulu pernah aku sukai saat aku SMA dulu.” sahutnya.
Plak. Pantas saja sohibku satu ini begitu rebut dan ribet menyambut perayaan pergantian tahun mala mini. Tidak tahunya, ada udang di balik terigu. Ada sesuatu.
“Hahaha… Ya ampun kawan, sampai segitunya?” tanggapku tertawa mendengar jawaban yang diberikannya. Hanya demi seorang wanita yang pernah disukainya beberapa tahun lalu dan akan kembali bertemu nanti malam, dia rela mempersiapkan semuanya yang bagiku sungguh tak masuk akal. Apa mungkin benar cinta membuat tingkah laku penderitanya jadi aneh bin gila? Hah! Tak tahulah, aku tak mau terbawa sensasi kegilaan cinta yang sedang menjangkiti sohibku ini.
“Baiklah baiklah, silahkan tertawa. Mmungkin kamu gak akan ngerti bro. Kamu gak pernah jatuh cinta kayaknya. haha” sahutnya mengejekku.

@@@
31 Desember 2011. Malam.
Hujan sudah mereda saat ini. Lima jam lagi, di bagian waktu Indonesia barat akan melangsungkan perayaan pergantian tahun. Beberapa ruas jalan sudah terlihat ramai orang-orang berduyun menuju pusat kota. Di sini, di Alun-alun kota kecil yang sudah sangat terkenal dengan produk khas Dawet Ayu-nya pun sudah mulai ramai ratusan orang menunggu puncak perayaan pergantian tahun nanti malam pukul 00:00 WIB.
Banyak suara terompet yang disuarakan orang-orang. Mulai dari anak-anak, anak remaja bahkan orang tua yang sudah menggendong anaknya pun berbaur di sini. Semua ingin bersama-sama merayakan kegembiraan pergantian tahun baru di satu tempat yang sama. Acara rakyat pun diselenggarakan untuk meramaikan malam tahun baru ini. Mulai dari pasar malam yang menyediakan berbagai macam hiburan murah meriah bagi masyarakat, terutama masyarakat menengah ke bawah. Semua membaur menjadi satu, dari orang yang berangkatnya membawa mobil, sepeda motor bahkan berjalan kaki untuk bersama berbagi kebahagiaan merayakan malam pergantian tahun baru.
Sebuah keberkahan yang dibagikan Tuhan kepada semuanya. Saat perayaan tahun baru seperti ini, merupakan sebuah berkah bagi para penjual kembang api, topi tahun baru dan terompet yang menjamur di berbagai tempat-tempat berkumpulnya masyarakat. Benar-benar ada masa dan musim rezeki bagi setiap orang. Dan saat ini aku pun menerima keberkahan rizki yang Tuhan berikan. Aku dipaksa untuk menemani Ikbal merayakan pergantian tahun baru di pusat kota. Jika bukan karena Sohibku ini, aku tak akan mau berbaur di sini. Aku lebih memilih  menikmati perayaan tahun baru di café tingkat dua yang tak jauh dari Alun-alun kota. Melihat bunga-bunga api berbagai warna yang meledak di atas lantai dua tanpa ada bisingnya teriakan-teriakan dari orang-orang di sini.
“Hoi,,,‼ Yang benar saja! Bukannya aku tak bersyukur dengan hadiah ini. Tapi, Kau pakai sendiri saja ini!” aku menolak memakai terompet dan topi tahun baru yang dibelikan Ikbal untukku.
“Ayolah kawan, pakailah. Lagi pula disini tak ada yang mengenalmu bukan?” ucapnya dengan seringai yang menyebalkan disusul tawa menggelikan.
“Hai adik kecil, Om ada hadian nih. Ini buatmu.” Beruntunglah ada anak kecil yang kebetulan lewat disampingku. Aku terselamatkan.
“Hore‼ Makasih Om.” Anak kecil itu girang lalu lari sambil meniup terompetnya tak beraturan.
Aku melihat Ikbal dengan ekspresi sebal tak menyetujui idenya untuk gila-gilaan malam ini.
“Ayolah, kita sudah tak sepantasnya seperti ini kawan.” Elakku dari ekspresi intimidasinya padaku.
Beberapa ledakan petasan dan kembang api mulai terdengar. Malam yang terang tak berhujan, membuat semakin ramai saja Alun-alun kota Dawet Ayu ini. Aku dan Ikbal memutuskan berkeliling, gadis yang akan ditemui Ikbal belum juga terlihat batang hidungnya.
Tak lama, handphone Ikbal berdering. Dari hasil curi dengar yang aku lakukan, ternyata sang cewek yang akan ditemui Ikbal sudah sampai di Alun-alun. Aku memutuskan untuk pergi sendiri berjalan-jalan di ramainya pengunjung Alun-alun di sini dengan kamera DSLR yang menggantung di leherku. Sebagai Sohib yang baik, aku mencoba memberikan waktu bagi sahabatku untuk bertemu secara privasi dengan orang yang disukainya.
“Hilang gak nanti kamu brot? Ramai banget nih, nanti nyari kamunya gimana?” tanyannya disertai tawa bercanda.
“Sms atau calling aja. Oke? Have a great new year night, Ikbal.” Kataku sambil melambaikan tangan izin pergi.
Aku berjalan mengitari Alun-alun sendiri, berteman kamera DSLR yang terkalungkan malas di leherku. Mencari objek menarik dan unik di malam tahun baru kali ini. Beberapa anak kecil dengan kostum unik yang kebetulan lewat menjadi model dadakan.
Crack. Aku menangkap ekspresi beberapa anak kecil dengan tawa lepas sedang memegang kembang api kecil di tangannya. Dari wajahnya, terlihat mereka sangat menikmati malam pergantian tahun ini. Lalu beberapa pasang pemuda pemudi yang saling bercanda tawa pun tertangkap kameraku.
Semakin malam, Alun-alun semakin semarak. Beberapa kembang api pembuka pun diluncurkan untuk menambah meriahnya malam ini.
Crack. Shutter kameraku menangkap sempurna kembang api yang meledak di langit. Merekah seperti bunga, lalu perlahan menghilang. Disusul beberapa luncuran lainnya yang melengking, meledak lalu merekah bercahaya di langit yang gelap.
Di sisi lain, aku melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain wahana anak. Asyik melemparkan bola-bola kecil yang terlempar kesana kemari. Saling balas lalu lari bersembunyi. Tawa tawa kecil terdengar dari tingkah polahnya yang lucu.  Beberapa foto menggemaskan berhasil aku abadikan di kameraku.
Crack. Satu foto seorang bayi dengan baju dan bandana merah muda tertangkap sempurna. Pipi tembem yang putih dan tubuhnya yang kecil sangat menggemaskan. Aku hampir saja membuatnya menangis saat aku mencoba mendekatinya. Beruntunglah ibunya yang berada di dekatnya tidak memarahiku.
Aku berjalan memutar, mencari objek lain yang dapat aku abadikan. Moment satu tahun sekali akan sangat menarik untuk diabadikan. Dari jauh terdengar gemuruh para pengunjung menghitung mundur, disusul suara melengking, tanganku beradu cepat dengan titik fokus kamera berusaha menangkap secara sempurna.
Crack. Tapi terlambat.
“Aaww‼”
“Eh, Maaf. Aku tak sengaja.” Karena tergesa, kameraku mengenai kepala seorang yang ada di depanku.
“Hati-hati dong! Bisa liat gak sih!” bentaknya sambil membalikkan badan.
“Maaf, ma..”
“Kak Kholil?”
Glaaarr‼ Glaaarrr‼ Glllaaaarr‼ Puluhan bunga api meledak, berwarna terang melingkar, memutar dan tak beraturan. Tahun lalu baru saja berakhir.
Crack. Kameraku menangkap wajah tak percaya seorang gadis yang ada di hadapanku.
“Selamat Tahun Baru Velanita Rosdiana.” akhirnya aku bisa ingat lagi namanya yang sudah lama terlupakan.