30 Desember 2011
Sudah rutin seperti
tahun-tahun sebelumnya, satu orang temanku ini selalu saja sibuk atau menurutku
membuat dirinya sibuk sendiri dengan event yang sangat tidak penting menurutku.
Perayaan rutin tahunan yang selalu membuat setiap remaja tanggung seperti
mereka melakukan hal-hal aneh yang menurutku tak masuk akal. Ah, mungkin di
sisi kegilaan terhadap event perayaan tahun baru seperti ini tidak terlalu
parah meracuni pikiranku. Hingga aku tak terlalu memikirkan akan bagaimana
menyambut tahun baru yang rutin di sambut setiap tahun. Apa pentingnya?
“Memangnya apa
istimewanya? Sama saja kan? Awal tahun ini juga udah ngerayain tahun baru..”
jawabku remeh saat Ikbal menanyakan akan memakai baju seperti apa dan akan
pergi mengajak siapa malam tahun baru nanti.
“Kau memang aneh Sob.
Anak muda gitu, jangan sia-siakan malam tahun baru nanti. Akan ada banyak cewek
cantik disana.. hahaha” jawab Ikbal sembari memilah-milah koleksi sepatu, jam
tangan, dan kemeja yang akan dikenakannya malam tahun baru nanti.
“Halaah.. yang aneh
kamu kaleee” jawabku ngeloyor pergi, tak menghiraukan jawabannya yang tak jelas
dan pastinya melantur. Lama-lama melihat tingkahnya yang sangat over menyambut
tahun baru, bisa-bisa membuatku gila sendiri.
Malam terakhir di tahun
ini, malam 31 desember. Esok, ya esok tak sampai 48 jam lagi tahun akan
berganti. Malam terakhir yang berlangit cerah. Padahal beberapa hari sebelum
ini hujan selalu turun setiap malam seperti ini. Mungkin langit sengaja
memberikan waktu bagi para ribuan bintang mengucapkan salam selamat tinggal
bagi para pecinta malam. Mengucapkan selamat tinggal bagi para pemuja malam
yang selalu mencurahkan setiap perasaan rindu dan cinta serta luka pada malam
dan ribuan bintang.
Sepoi angin
menghembuskan hawa dingin yang menusuk. Aku harus merapatkan jaket tipis yang
ku kenakan untuk sedikit menghalau hawa dingin yang terus memaksaku kembali ke
dalam rumah. Satu cangkir capuccino hangat menemaniku menikmati malam terakhir
yang ramai dengan jutaan kerlip bintang.
Slaaaaasshhh… Satu
meteorit menggesek atmosfir bumi. Menciptakan garis api seperti bintang jatuh.
Hatiku mengucap doa lirih. Ya. Doa untuk sebuah kesyukuran dan harapan tahun
depan agar lebih baik lagi dari pada tahun kemarin. Doa tentang seorang yang ku
harap akan dipertemukannya kembali aku dengannya.
@@@
31 Desember 2009
“Hai.. Kakak gak ikut
anak-anak ke pusat kota?” tanya seorang gadis yang tanpa aku sadari sudah
berdiri di depanku dengan satu cangkir cokelat hangat ditangannya.
“Oh, hai. Mengagetkanku
saja. Enggak nih.. “ jawabku singkat menahan mukaku yang mulai memerah,
beruntunglah malam disini pencahayaan tak terlalu terang. Sejenak mataku
menangkap mata bening dan wajahnya yang anggun dengan santai berdiri di depan
mejaku.
“Beruntunglah aku tak
ikut pergi bersama anak-anak ke pusat kota menikmati perayaan tahun baru
bersama ribuan orang lainnya. Aku tak akan mendapatkan kesempatan bertemu
denganmu seperti ini jika aku ikut dengan mereka.” batinku.
Sejenak aku tak bisa
berkata apa-apa, aku salah tingkah dibuatnya. Gadis mungil bermata indah itu
menatapku dengan santai. Rambutnya ia biarkan jatuh bebas, dengan bandana merah
muda yang mengikat di kepalanya. Sweater cokelat menghangatkan tubuhnya dari
dinginnya angin malam ini, ditambah dengan syal krem melingkari lehernya.
Serasi.
“Ehmmm.. aku boleh
duduk di sini?” tanyanya menyadarkan lamunanku.
“Eh, Iya. Silahkan Vel.
Tak perlu izin dulu.”
Aku perlu mendongak
untuk melihatnya dan mempersilahkannya duduk di kursi di depanku. Hanya
terpisah dari meja makan bundar kecil, aku dapat melihat wajahnya yang putih
bersih dari dekat. Dari dekat sini wajahnya yang putih dan mungil terlihat
merona. Mungkin warna merah blas on dari make up yang dia kenakan atau mungkin
juga karena wajahnya benar-benar memerah. Aku tak tahu pastinya. Kau tahu? Saat
wajah seorang wanita merona merah, bagiku saat itulah wajahnya terlihat sangat
cantik. Entah menurutmu.
“Sedang menunggu..”
tanyanya menggantung saat baru saja duduk.
“Tahun baru. Kamu
sendiri?”
“Mungkin kembang api.”
“Mungkin?” aku
mengernyitkan dahi mendengar jawabannya yang sedikut ragu. Atau mungkin ada
yang dia tutupi. Ah, siapa peduli. Aku sedang duduk dengannya saat ini, jadi
mengapa aku harus bertanya mengapa dia di sini? Vel hanya tersenyum melihat
ekspresiku yang aneh menanggapi jawabannya yang mengambang.
Pukul 23.15 WIB. Kurang
dari satu jam lagi tahun akan berganti. Meninggalkan sejuta kenangan di tahun
ini dan bersiap menyongsong hari baru dan semangat baru di tahun yang baru
besok. Beberapa suara ledakan mulai terdengar, disusul kerlip warna yang
terlihat menyebar lalu membentuk berbagai pola sudah mulai terlihat menghiasi
langit. Bersaing dengan gemerlapnya kerlip bintang di atas sana. Segelas
cappuccino hangat menemaniku menghabiskan beberapa menit terakhir di tahun ini.
Dan lagi seorang gadis yang tak ku duga kedatangannya, sekarang sedang duduk di
seberang meja disampingku.
Rasanya waktu terlalu
cepat untuk semakin berlalu. Aku merasa baru saja kemarin melihat kota Jogja.
Menelusuri tiap jalan, tiap gang bahkan tiap jalan setapak di pedesaan saat aku
harus berjuang banting tulang membiayai studiku di kota pelajar ini.
“Bagaimana kabar Kakak?
Lama sekali aku tak melihat Kakak.” tanyanya mengawali dialog denganku..
“Aku baik-baik saja.
Malah sangat baik saat ini.” jawabku “Kamu sendiri? Velan juga lama tak
terlihat batang hidungnya? Giliran kelihatan, eh kelihatan sama mukanya?”
ledekku padanya.
“Yee. Kakak ini aneh
dah. Emang mau cuma liat hidungnya Velan doang?” mukanya dimanyunkan manja. Aku
hanya tertawa mendengar jawaban darinya.
Aku mengalihkan mata
dari ekspresinya yang terlihat cemberut. Melihat kerlip lampu dari lantai dua
seperti ini, seperti melihat bintang-bintang yang ada di hadapan mata. Tak
perlu mendongak ke langit di atas sana. Di bawah sana, banyak sekali ratusan
bahkan ribuan orang memadati jalan menuju pusat kota. Melihat peluncuran
kembang api yang akan dilakukan nanti tepat pada pukul 00:00 sebagai tanda pergantian
tahun.
“Kenapa Kak? Ada yang
difikirkan?”
“Eh, tidak ada. Hanya
saja..”
“Hanya saja?” tanyanya
“Ini mungkin akan
menjadi tahun baru dan tahun terakhir aku di sini. Besok aku akan mudik ke Kota
Dawet Ayu.” jawabku.
“Dawet..?? Banjar..??”
tanyanya memastikan. Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Terlihat
sedikit gurat kecewa dari sinar matanya. Kenapa?
“Aku harap aku bisa
bertemu dengan Kakak lagi di sana.” Katanya berbarengan dengan beberapa kembang
api yang mulai meluncur ke atas. Bersuara, menjerit dan meledak indah.
Menampakkan berbagai warna yang menyemarakkan langit. Lalu beberapa kata dari
mulut mungilnya masih terucap, tapi aku tak begitu mendengarnya.
“Selamat tahun baru
Vel. Bagaimana kalau kita doa bareng-bareng?”
“Selamat ulang baru Kak
Kholil.” katanya bersemangat. “Ayok, Kakak yang mimpin doa ya?”
Seiring dengan
ledakan-ledakan kembang api yang ditembakkan ke langit. Seiring itu pula doa untuk
harapan-harapan baru di awal tahun yang baru terpanjatkan. Satu doa yang aku
panjatkan, bisa kembali menikmati waktu perayaan pergantian tahun baru gadis
yang ada di sampingku. Aamiin.
@@@
Namanya Velanita, aku
tak terlalu hafal dengan nama lengkapnya. Perkenalan dengannya pun tak sengaja
beberapa bulan lalu di café ini, saat dia secara tak sengaja menjatuhkan kamera
DSLR yang ada di mejaku. Beruntunglah kameraku jatuh di atas ransel yang aku
letakkan di bawah meja, hingga kameraku tak mengalami kerusakan yang berarti.
“Hey..! Kalau jalan
hati-hati dong!” seruku kaget melihat kamera yang baru saja ku letakkan di atas
meja tersenggol tas besar hingga menjatuhkannya. Mungkin sang pemilik tas ini
tak melihat kalau dibelakangnya ada barang berharga yang sudah susah payah aku
perjuangkan untuk mendapatkannya.
“Ah.. maaf maaf. Aku
tak sengaja.” Ia langsung membalik dan mencoba menolongku mengambilkan kamera
yang terjatuh di atas ranselku.
“Aaww‼” aku dan dia
mengaduh bersamaan. Kepala kamu berbenturan sedikit keras. Beberapa orang
disekitar yang mendengar gadis itu mengaduh, langsung menoleh menatapku
memastikan tak ada apa-apa. Tangannya reflek memegang keningnya.
“Kamu baik-baik saja?”
tanyaku khawatir melihat ekpresi wajahnya yang terlihat menahan sakit. Dia tak
menjawab, hanya senyum singkat yang mengartikan kalau dia baik-baik saja.
Senyum pertama darinya yang sampai saat ini tak dapat aku lupakan. Tangan
kirinya mengambil kamera untuk diserahkan padaku sedang tangan kanannya masih
memegang kening.
“Maafkan aku telah
menjatuhkaa,,,. “ tubuhnya tiba-tiba terjatuh. Untungnya satu tanganku masih
bisa menahan tubuhnya.
“Hei hei… kau tidak
apa-apa?” tanyaku sembari memapah tubuhnya untuk duduk di kursi. Wajahnya
pucat. Sepertinya dia terlalu capai, hingga benturan yang tak terlalu keras
saja mampu membuatnya limbung akan terjatuh.
Aku segera memesan teh
hangat untuknya.
“Aku tidak apa-apa.
Terima kasih atas bantuanmu.” Jawabnya setelah meminum teh hangat yang baru
saja diantarkan pelayan. “Kameramu tidak rusak kan?” tanyanya. Mungkin dia
sudah tak enak menjatuhkan kamera yang aku letakkan di atas meja.
“Tak ada yang rusak,
dan lagi barangelektronik kan bisa diperbaiki kalau rusak. Gak masalah soal
itu. Kamu sendiri kenapa? Sudah baikan?” Entah mengapa aku sangat
mengkhawatirkan keadaannya yang masih terlihat
capai. Mungkin dia terlalu kelelahan. Dia hanya memberikan simpul senyum
manisnya seperti tadi. mengisyaratkan kalau kondisinya baik-baik saja.
“Perkenalkan, namaku
Kholil. Siapa namamu?” tanyaku sambil mengulurkan tangan padanya.
“Velan. Velanita.”
Beruntunglah Velan tak
apa-apa. Setelah beberapa saat, mukanya yang tadi sedikit pucat sudah kembali
normal. Dari obrolan singkatnya, dia ternyata sudah sering kesini. Bahkan
hampir rutin setiap minggu, tapi anehnya aku tak pernah bertemu dengannya
sebelum ini. Mungkin karena aku tak terlalu memperhatikan sekeliling, hingga
beberapa kali aku dan dia berada pada tempat yang sama tak pernah menyadari
keberadaannya.
@@@
31 Desember 2011. Pagi.
Pagi ini mendung. Ikbal
yang sudah sedari kemarin mempersiapkan diri untuk perayaan tahun baru mala
mini resah bukan kepalang. Kamarnya masih berantakan dengan berbagai warna
baju, pakaian, topi, sepatu dan jam tangan yang sudah dia bongkar dari lemari
koleksinya. Benar-benar mirip kapal pecal, hanya saja tak ada buritan, dan
galangan kapalnya saja. Sedangkan kapten kapalnya, Ikbal, sedang resah keluar
masuk kamar dan teras memperhatikan awan mendung yang bergelayut setia di
langit Banjarnegara.
“Malam ini jangan
hujan, jangan hujan, jangan hujan.” Mulutnya lirih mengucapkan kata tersebut
berulang-ulang, di tangannya tersemat tasbih putih yang biasa digunakan oleh
Eyang buyutnya berdzikir saat menjadi imam masjid dahulu. Aku tertawa
terpingkal dibuatnya dengan aksi bodohnya yang satu ini. Tidak seperti tahun
lalu, kegilaan Ikbal untuk perayaan tahun baru kali ini benar-benar tak masuk
akal.
Sudah dua tahun dengan
ini malam tahun baru di Kota Dawet Ayu Banjarnegara selalu beriring hujan.
Perayaan tahun baru yang lalu, Ikbal pulang dengan pakaian basah kuyup. Hujan
lebat mengiring ratusan warna kembang api yang terlempar ke langit. Banyak
pengunjung yang rela berhujan-hujanan berkumpul di alun-alun Kota demi
menikmati ratusan kembang api berbagai warna dan bentuk menghiasi angkasa
menandai berakhirnya tahun dan menandai awal dari tahun yang baru.
Aku sendiri untuk
perayaan tahun baru yang lalu hanya berdiam diri di rumah. Menikmati malam
gerimis tahun baru dengan satu cangkir
cappuccino di lantai dua rumahku, sama seperti perayaan tahun baru di kota
pelajar dulu saat aku masih menjabat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan
tinggi favorit di Jogjakarta.
“Mungkin aku harus
menggunakan jurus cabai merah untuk menghalau hujan malam ini. Ya benar!.”
Katanya bersemangat akan menggunakan jurus cabai merah yang di tusuk pada lidi
lalu di tancapkanya di atas genting.
“Jeeddaarrrrrr…..‼”
bunyi petir di hujan gerimis mengagetkan Ikbal yang baru saja selesai
menempatkan satu buah lidi dengan tiga cabai merah di atap rumahnya. Namun
ternyata jurus cabai merah yang digunakannya malah memperparah keadaan. Tak
lama, hujan deras mengguyur. Ternyata jurus lidi cabai merah tak mempan
mengusir hujan.
Sejenak aku melihatnya
kecewa. Mukanya tertunduk dan berjalan lunglai menuju kamarnya yang sudah
berantakan. Sempurnalah sudah pemandangan menyedihkan darinya saat ini. Aku
tertawa tertahan, takut menyinggung perasaannya yang sudah kecewa, tidak ada
jurus yang mempan untuk menghentikan hujan.
“Sabar kawan. Semua
akan indah pada waktunya.” Aku mencoba menenangkan kekecewaan yang tampak jelas
di matanya.
@@@
31 Desember 2011. Siang.
Hujan masih mengguyur,
tak ada tanda-tanda akan berhenti. Awan mendung tak menipis sedikitpun. Apakah
benar-benar akan hujan hingga malam nanti? Aku tak tega melihat sahabat ku yang
terlihat sangat frustasi. Melihat hujan sedari tadi tidak jua berhenti.
“Nanti malam juga pasti
hujannya berhenti bro. Santai saja.” kataku mencoba menghiburnya.
“Semoga saja apa yang
kau ucapkan benar kawan.” Jawabnya dengan tatapan sendu. “Aku sudah
mempersiapkan semuanya. Aku harap hujan benar-benar berhenti nanti malam.”
Akhirnya sedikit kalimat positif terucap juga dari mulutnya.
“Emangnya kamu sudah
siap? Kamarmu aja masih berantakan seperti itu. Mana baju yang akan kamu pakai
nanti malam?” pertanyaanku langsung membuatnya meluncur menuju kamarnya di
lantai dua.
“Untunglah kau mengingatkan brot. Aku lupa ada satu hal yang
belum aku persiapkan kemarin, rencanya aku akan membelinya hari ini.” Tak
berapa lama dia langsung turun dengan wajah yang lebih segar dan semangat tahun
baru yang menyala-nyala. Benar-benar sahabat yang sangat aneh. Baru saja
mukanya ditekuk-tekuk seperti kertas koran lusuh di tong sampah, eh tiba-tiba
sudah berganti seperti nyala obor yang menyala terang. Aku sungguh tidak
mengerti apa motivasinya sampai-sampai dia bersikap seaneh ini.
“Baiklah, aku pulang
dulu kawan. Aku takut ketularan gila jika menemanimu sampai nanti malam.
Panggil aku jika kau perlu bantuan menghentikan hujan..hahaha ” Kataku sambil
pergi.
@@@
31 Desember 2011. Sore.
Waktu menunjukan pukul
17:00. Hujan mulai mereda, meski grimis masih saja turun dan langit tetap saja
mendung. Ikbal sudah mulai bersiap dan kembali memilah beberapa macam pakaian
dan aksesoris agar terlihat serasi untuk dipakai malam ini. Aku tak habis pikir
dengan tingkah polahnya yang aneh seperti ini hanya untuk memperingati
pergantian malam tahun baru nanti malam.
“Bukankah setiap waktu
umur dan tahun selalu bertambah? Apa istimewanya? Aku berfikir kalau ita tak
perlu bersikap seperti itu kawan, lagi pula tahun depan jika masih sempat kita
pun akan menemuinya lagi. Dan lagi, menurutku yang terpenting dari perayaan
tahun baru bukanlah sekeren apa kita berpenampilan saat kita ikut
memperingatinya nanti di Alun-alun kota. Arti dari tahun baru menurutku adalah
semakin kita memperbaiki diri agar lebih baik lagi di waktu yang akan datang.
Bukankah seperti itu kawan?” jawabku panjang lebar saat Ikbal menanyakan kenapa
aku tak terlalu antusias dengan penampilanku untuk menyambut malam pergantian
tahun nanti malam.
“Iya benar aku setuju
denganmu. Tapi untuk tahun ini aku mempunyai yang special kawan. Aku akan
menyatakan cinta pada cewek yang dulu pernah aku sukai saat aku SMA dulu.”
sahutnya.
Plak. Pantas saja
sohibku satu ini begitu rebut dan ribet menyambut perayaan pergantian tahun
mala mini. Tidak tahunya, ada udang di balik terigu. Ada sesuatu.
“Hahaha… Ya ampun
kawan, sampai segitunya?” tanggapku tertawa mendengar jawaban yang
diberikannya. Hanya demi seorang wanita yang pernah disukainya beberapa tahun
lalu dan akan kembali bertemu nanti malam, dia rela mempersiapkan semuanya yang
bagiku sungguh tak masuk akal. Apa mungkin benar cinta membuat tingkah laku
penderitanya jadi aneh bin gila? Hah! Tak tahulah, aku tak mau terbawa sensasi
kegilaan cinta yang sedang menjangkiti sohibku ini.
“Baiklah baiklah,
silahkan tertawa. Mmungkin kamu gak akan ngerti bro. Kamu gak pernah jatuh
cinta kayaknya. haha” sahutnya mengejekku.
@@@
31 Desember 2011. Malam.
Hujan sudah mereda saat
ini. Lima jam lagi, di bagian waktu Indonesia barat akan melangsungkan perayaan
pergantian tahun. Beberapa ruas jalan sudah terlihat ramai orang-orang berduyun
menuju pusat kota. Di sini, di Alun-alun kota kecil yang sudah sangat terkenal
dengan produk khas Dawet Ayu-nya pun sudah mulai ramai ratusan orang menunggu
puncak perayaan pergantian tahun nanti malam pukul 00:00 WIB.
Banyak suara terompet
yang disuarakan orang-orang. Mulai dari anak-anak, anak remaja bahkan orang tua
yang sudah menggendong anaknya pun berbaur di sini. Semua ingin bersama-sama
merayakan kegembiraan pergantian tahun baru di satu tempat yang sama. Acara
rakyat pun diselenggarakan untuk meramaikan malam tahun baru ini. Mulai dari
pasar malam yang menyediakan berbagai macam hiburan murah meriah bagi
masyarakat, terutama masyarakat menengah ke bawah. Semua membaur menjadi satu,
dari orang yang berangkatnya membawa mobil, sepeda motor bahkan berjalan kaki
untuk bersama berbagi kebahagiaan merayakan malam pergantian tahun baru.
Sebuah keberkahan yang dibagikan
Tuhan kepada semuanya. Saat perayaan tahun baru seperti ini, merupakan sebuah
berkah bagi para penjual kembang api, topi tahun baru dan terompet yang
menjamur di berbagai tempat-tempat berkumpulnya masyarakat. Benar-benar ada
masa dan musim rezeki bagi setiap orang. Dan saat ini aku pun menerima
keberkahan rizki yang Tuhan berikan. Aku dipaksa untuk menemani Ikbal merayakan
pergantian tahun baru di pusat kota. Jika bukan karena Sohibku ini, aku tak
akan mau berbaur di sini. Aku lebih memilih
menikmati perayaan tahun baru di café tingkat dua yang tak jauh dari
Alun-alun kota. Melihat bunga-bunga api berbagai warna yang meledak di atas
lantai dua tanpa ada bisingnya teriakan-teriakan dari orang-orang di sini.
“Hoi,,,‼ Yang benar
saja! Bukannya aku tak bersyukur dengan hadiah ini. Tapi, Kau pakai sendiri saja ini!” aku menolak memakai terompet dan topi tahun
baru yang dibelikan Ikbal untukku.
“Ayolah kawan,
pakailah. Lagi pula disini tak ada yang mengenalmu bukan?” ucapnya dengan
seringai yang menyebalkan disusul tawa menggelikan.
“Hai adik kecil, Om ada
hadian nih. Ini buatmu.” Beruntunglah ada anak kecil yang kebetulan lewat
disampingku. Aku terselamatkan.
“Hore‼ Makasih Om.”
Anak kecil itu girang lalu lari sambil meniup terompetnya tak beraturan.
Aku melihat Ikbal
dengan ekspresi sebal tak menyetujui idenya untuk gila-gilaan malam ini.
“Ayolah, kita sudah tak
sepantasnya seperti ini kawan.” Elakku dari ekspresi intimidasinya padaku.
Beberapa ledakan
petasan dan kembang api mulai terdengar. Malam yang terang tak berhujan,
membuat semakin ramai saja Alun-alun kota Dawet Ayu ini. Aku dan Ikbal
memutuskan berkeliling, gadis yang akan ditemui Ikbal belum juga terlihat
batang hidungnya.
Tak lama, handphone
Ikbal berdering. Dari hasil curi dengar yang aku lakukan, ternyata sang cewek
yang akan ditemui Ikbal sudah sampai di Alun-alun. Aku memutuskan untuk pergi
sendiri berjalan-jalan di ramainya pengunjung Alun-alun di sini dengan kamera
DSLR yang menggantung di leherku. Sebagai Sohib yang baik, aku mencoba
memberikan waktu bagi sahabatku untuk bertemu secara privasi dengan orang yang
disukainya.
“Hilang gak nanti kamu
brot? Ramai banget nih, nanti nyari kamunya gimana?” tanyannya disertai tawa
bercanda.
“Sms atau calling aja.
Oke? Have a great new year night, Ikbal.” Kataku sambil melambaikan tangan izin
pergi.
Aku berjalan mengitari
Alun-alun sendiri, berteman kamera DSLR yang terkalungkan malas di leherku.
Mencari objek menarik dan unik di malam tahun baru kali ini. Beberapa anak
kecil dengan kostum unik yang kebetulan lewat menjadi model dadakan.
Crack. Aku menangkap
ekspresi beberapa anak kecil dengan tawa lepas sedang memegang kembang api
kecil di tangannya. Dari wajahnya, terlihat mereka sangat menikmati malam
pergantian tahun ini. Lalu beberapa pasang pemuda pemudi yang saling bercanda
tawa pun tertangkap kameraku.
Semakin malam,
Alun-alun semakin semarak. Beberapa kembang api pembuka pun diluncurkan untuk
menambah meriahnya malam ini.
Crack. Shutter kameraku
menangkap sempurna kembang api yang meledak di langit. Merekah seperti bunga,
lalu perlahan menghilang. Disusul beberapa luncuran lainnya yang melengking,
meledak lalu merekah bercahaya di langit yang gelap.
Di sisi lain, aku
melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain wahana anak. Asyik melemparkan
bola-bola kecil yang terlempar kesana kemari. Saling balas lalu lari
bersembunyi. Tawa tawa kecil terdengar dari tingkah polahnya yang lucu. Beberapa foto menggemaskan berhasil aku abadikan
di kameraku.
Crack. Satu foto
seorang bayi dengan baju dan bandana merah muda tertangkap sempurna. Pipi
tembem yang putih dan tubuhnya yang kecil sangat menggemaskan. Aku hampir saja
membuatnya menangis saat aku mencoba mendekatinya. Beruntunglah ibunya yang
berada di dekatnya tidak memarahiku.
Aku berjalan memutar,
mencari objek lain yang dapat aku abadikan. Moment satu tahun sekali akan
sangat menarik untuk diabadikan. Dari jauh terdengar gemuruh para pengunjung
menghitung mundur, disusul suara melengking, tanganku beradu cepat dengan titik
fokus kamera berusaha menangkap secara sempurna.
Crack. Tapi terlambat.
“Aaww‼”
“Eh, Maaf. Aku tak
sengaja.” Karena tergesa, kameraku mengenai kepala seorang yang ada di depanku.
“Hati-hati dong! Bisa
liat gak sih!” bentaknya sambil membalikkan badan.
“Maaf, ma..”
“Kak Kholil?”
Glaaarr‼ Glaaarrr‼
Glllaaaarr‼ Puluhan bunga api meledak, berwarna terang melingkar, memutar dan
tak beraturan. Tahun lalu baru saja berakhir.
Crack. Kameraku
menangkap wajah tak percaya seorang gadis yang ada di hadapanku.
“Selamat Tahun Baru
Velanita Rosdiana.” akhirnya aku bisa ingat lagi namanya yang sudah lama terlupakan.