Translate

Sabtu, 30 Juni 2012

Cinta ini untukNYA dan untukmu .. (Untuk Ai...)

Malam memulai perangnya. Memberikan sepoi dingin angin yang semakin lama semakin menusuk kulit tipis manusia. Satu demi satu mata terpejam mengistirahatkan raga dan fikiran. Namun ada juga yang terjaga bahkan bekerja demi suatu yang dicita-citakannya. Entah apa pun itu, mereka melakukannya demi apa yang mereka yakini dan dapat membuat hati  mereka bahagia. Ya. Harapan. Itulah yang membuat hidup terus berjalan, sepahit dan sejauh apapun itu pasti akan tertempuh dan terobati dengan adanya harapan. Meski terkadang meredup atau bahkan hampir menghilang.

Pada sebuah malam, sebuah mimpi terukir. Menatap bintang-bintang yang berkelip jauh di angkasa, membawa terbang imajinasi dan bayang menuju sebuah mimpi yang semakin lama semakin kuat terbayang. Seperti nyata saja di depan mata. Senyum manis itu, uluran tangan itu, tatapan mata itu, serta altar suci itu. Mereka seperti nyata, menghibur hati yang telah lelah menunggu waktu nikah dengan perayaan yang megah.

"Hoi..!" suaranya menyadarkanku bila aku sedang tak sendiri. Malam telah menghipnotisku, maafkan aku sayang. Lalu ku tatap matanya dengan senyum terindah. Senyum yang tak ingin melihat dia sedih barang sedetik dalam hidupnya.
"Ah.. Aku melihat bintang disana. Cantik sekali bukan?" sambil kutunjukkan ribuan bintang di langit malam. Aku melihat langit sekejap, menggiring wajahnya untuk menatap angkasa. Dya mengikutiku.
"Iya.. Kenapa kamu tidak bilang kalau langit malam itu cantik?" tanyamu sembari melihat langit. Tersenyum.
"Karena aku tak tahu, bila kau menyukainya. Dan satu yang aku tau, kamu lebih cantik di bandingkan mereka". Aku sedikit menggodanya. Aku menatapnya dengan wajah tak berekspresi, memancingnya kesal padaku.

"Hufth.. Kamu selalu saja seperti itu. Gak mau ngasih tau yang kamu suka. Kamu suka malam kan? kamu suka bintang kan? kamu suka .." Belum selesai dia memarahiku, entah kenapa dan apa yang menggerakkanku. Aku langsung menutup mulutnya dengan satu jariku. Dya terbengong, innosen. Wajahnya lucu. Aku suka itu. Ternyata kecantikannya ada tidak hanya saat dya senyum, saat marahnya pun terlihat cantik.

"Ai.. Jangan bilang itu. Aku akan meberitahukannya nanti. Besok. Setelah kita menikah. Kita besok menikah kan? Jadi jangan khawatir ya.. Pasti aku beritahu Ai apa aja yang aku suka. Malam, bintang, angin, laut...buanyak sekali" aku menjelaskannya dengan tawa tertahan. Menunggu dya berekspresi.
"Iya.. Janji ya?" ucapnya tersenyum manja, sembari memegang tanganku dengan kedua tangannya. Makin cantik saja dya. Aku tidak sabar menuju pernikahanku besok.

Teras rumahnya menjadi saksi bisu janjiku, satu malam sebelum pernikahanku dengannya besok. Aku bahagia sekali, akhirnya setelah lama aku menunggu pernikahan dengannya pun tinggal menghitung detik saja. Aku bahagia sekali. Aku Tersenyum.

Setelah berpamitan dengan calon mertua yang sudah ku anggap ibu sendiri dan tentunya dengan dya, aku beranjak pulang. Memang aku disuruh menginap saja, tapi aku belum jadi suaminya. Meski nanti tidak tidur satu kamar, tetapi itu tidak sopan menurutku. Aku pulang setelah bujukan mereka tak satupun mempan menahanku pulang, tak juga dya. Aku belum pantas tidur dirumahnya sebelum menikah dengannya.

Jarak rumahku dengan rumahnya cukup jauh. Sekitar satu setengah jam perjalanan. Aku pulang dengan pamanku yang dari kemarin sudah bolak balik kerumahnya. Sekalian, daripada sendirian.

Sudah satu jam perjalanan. Paman memutuskan beristirahat di salah satu warung di pinggir jalan yang masih buka. "Makan lagi?" batinku.
"Paman belum makan?" tanyaku
"Belum, eh udah si tapi laper lagi nih. Ayuk makan dulu" timpalnya sambil berjalan menuju warung makan.

Aku melepaskan helm saat tiba-tiba ada yang menghantam tubuhku dengan keras. Aku tak tahu apa itu. Aku tak merasakan apapun Hanya suara yang berderum, klakson, teriakan paman dan lama kelamaan menghilang.

Aku terbangun di sebuah ruang terang berwarna putih. Disana aku melihat Ai sedang tertidur pulas. Ah, wajahnya cantik, tidak secanti kemarin atau tadi. Dya lebih cantik saat tertidur. Damai. Aku sangat ingin menyentuhnya, tapi entah apa aku tak bisa. Aku memanggilnya. Mencoba membangunkannya dengan sangat halus, takut nanti dya marah padaku.
"Ai, bangun. Bangun Ai" lirihku
"Ai dah nyenyak ya?" dya tak juga membuka matanya
" Ai bangun tah, aku mau ngomong sama kamu". Akhirnya setelah tiga kali aku memanggilnya, matanya mulai terbuka.

"Assalamu'alaikum Kak. Maaf ya ketiduran. Habis Kakak lama banget si" belanya tak mau disalahkan dengan wajah manjanya. Sifatnya tak berubah, manja.
Aku tersenyum melihatnya begitu.

"Ai, maafin Kakak ya. Ini janji Kakak. Meski tidak lewat kata-kata, Kakak harap Ai tahu kalo Kakak sangat mencintai Ai. Apapun itu, tapi mungkin hanya sampai sini Kakak nemenin Ai"
Raut mukanya berubah, heran dan menanyakan kenapa? Ada apa denganku?
Aku tak tahu apa yang ku ucapkan. Aku seperti sudah dikendalikan sesuatu. Aku ingin menangis, tapi tak bisa. Senyumku juga seakan sudah tak bisa dirubah. Kata perpisahan itu mengalir dengan lancar ku ucapkan. Hatikupun perih, mataku panas. Tapi entah, aku tak tahu.

"Ai.. Kakak sayang sama Ai... "..kata-kata itu terakhir terucap dengan sadar olehku. Dya mendongak, menatap mataku yang berair. Lalu aku serahkan sepucuk surat untuknya. Ya. Surat itu entah kapan ku tulis. Kukira sudah hilang tapi ternyata tidak. Syukurlah.
Dya menatap surat yang kuberikan, lalu mengambilnya dari tanganku. Dya menatapku sejenak. Memastikan ini bukanlah sebuah candaan yang biasa aku lakukan untuknya.

Aku hanya menatapnya sekuat yang aku bisa. Mataku berkaca-kaca tapi tak menangis. Saat dya sibuk membaca surat yang kuberikan, ada sesuatu yang menarikku ke belakang. Kuat sekali. Aku berontak, bertahan. Tapi tak bisa. Aku berteriak, tapi mulutku terkunci. Aku hanya tersenyum atas ketidak berdayaanku kali ini.

Ai mendongak saat aku sudah menjauh. Terlihat dya mengejarku, terhuyung sambil menangis. Semakin cepat dya mengejarku aku semakin cepat tertarik ke belakang. Dya terjatuh, menatapku dengan tatapan sendu dan uluran tanganya tak mampu ku raih. Jauh semakin jauh aku meninggalkanya. Dan. Gelap.

"Kak, kakak. Kakak bangun. Ai g mau ditinggalin seperti ini". Berkali-kali aku mendengar kata itu terucap. Tapi tubuhku tak berdaya untuk bergerak, bahkan membuka mataku pun aku tak kuat. Lalu tangisnya pecah. Aku bertanya, ada aoa denganku. Bukannya tadi aku baru saja sampai warung makan? Kenapa Ai menangis?

Aku mengumpulkan tenaga sebanyak dan sekuat yang aku bisa. Aku bershalawat dalam hati, tahlil, takbir, tahmid. "Bismillahihrrahmanirrahim.."

Dengan sekuat tenaga aku menggerakkan tubuhku. Tangan kaki mata dan kepala. Ujung tanganku bergerak. Aku terus mengeluarkan tenaga yang kubisa untuk menggerakkan badanku sendiri.Ujung kakiku bergerak. Aku semakin terpacu untuk bisa bergerak mendengar ucap bahagia dan syukur yang orang-orang katakan. Aku mencoba menggerakkan kepalaku. Tapi tak bisa. Hanya mataku yang terbuka.

"Kak..?? Kakak udah sadar?? Alhamdulillah.." Ai langsung menangis memeluk tanganku.
"Ai seneng banget kakak udah siuman".katanya lagi dengan binar mata bahagia yang baru pertama kali kulihat.

"Ai, kakak minta maaf ya? Sampaikan sama ibu bapak kakak juga ibu bapak kamu..ya?"
"Kakak sayang Ai, Kakak minta maaf.." Lirih ku katakan padanya. Air matanya semakin deras mengalir. Lalu ayahnya menariknya menjauh, mungkin agar tidak membuatku tertekan yang baru saja kehilangan kekuatan hanya untuk sekedar membuka mata.

Aku tak tahu kenapa aku disini, tapi yang jelas sekarang aku dirumah sakit. Senyum bahagia dan raut bahagia mereka tunjukkan di hadapanku. Entah kenapa. Kata mereka ada kecelakaan yang menimpaku, sekarang aku di rumah sakit. Padahal baru saja tadi aku pulang bersama paman sedang beristirahat di warung makan. Ada yang membisikkanku. Aku merasa tak lama lagi di sini.
Ai datang dengan muka yang lebih cerah. Dan senyumnya itu,, aku sangat rindu senyum itu.

"Kak.." sapanya padaku sambil duduk disampingku. "Ai cinta Kakak, Kakak cepet sembuh ya?" kata-kata itu diucapkannya dengan tatapan harapan yang sangat tak suka melihatnya. Aku pun tak ingin kehilangannya.

"Iya Ai, Kakak juga sayang sama Ai. Ikhlaskan ya, apapun yang tejadi." ucapku tak sadar dengan senyum dan mata yang berkaca menahan sakit yang teramat disekujur tubuhku.

"Jangan bilang gitu kak..Ai g mau.." suaranya menghilang. Dya berucap, tapi aku tak tahu apa yang diucapkannya.

Lalu hentakkan keras menarikku dari atas. Entah. Sakit, tapi lalu tak terasa. Nyaman dan Damai. Kudengar bisikan lembut dari telinga kanan dan kiriku. Suara ibu ada di telinga kananku mengucapkan syahadat "Lailaha ilallah, muhammadarrosulullah" dengan terisak dya mengucapkan itu. "Ikuti ibumu nak" ucapnya lalu dya kembali mengucap syahadat itu. Berkali-kali. Aku dengan mulut yang berat, berusaha mengucapkan apa yang ibu katakan. Lalu ditelinga kiriku, kudengan Ai menangis tertahan. Aku tak tahan mendengarnya menangis. Dya juga mengucapkan syahadat, sama seperti ibu. Lalu yang lain ku dengar melantunkan surah Yasin. Subhanallah. Sejuk sekali suara itu. Tangis ibu dan Ai semakin menjadi. Aku tak tega mendengar tangis itu, aku turuti saja kemauan mereka. "Laila ha ilallah, Muhammadarrosulullah" aku mengucapkan itu lirih sembari tersenyum agar mereka tak menangis lagi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar