Untuk Kamu. . .
Hujan
sangat lebat. Bahkan mataku hampir tak melihat jalan. Tidak biasanya kemarau
memberi hujan selebat ini, tak bawa mantel pula. Daripada dingin, aku
kencangkan motorku melintasi jalanan. Toh mumpung sepi. Aku mengebut, sambil
bernyanyi. “Menyenangkan juga hujan hujanan ya? Sudah lama aku tak…”
Braak…!!!
Lalu semuanya gelap.
@@@
Jakarta, 13 Maret 2008
Teruntuk
Rharha..
Assalamu’alaikum
wr wb
Alhamdulillah,
terima kasih atas semua waktu yang telah Allah berikan padaku sehingga pada
kesempatan ini aku bisa menuliskan coretan ini untukmu. Akhirnya coretanku ini
sampai ditanganmu ataupun bila belum ditanganmu, semoga dapat sampai di
tanganmu.
Rasanya
sudah lama sekali aku ingin menyampaikan ini. Bukan lewat tulisan, bunga atau
cekolat. Tapi langsung terucap dari mulutku. Tapi ada dayaku yang lemah bila
didepanmu. Mungkin karena kau begitu berharga bagiku, hingga aku tak ingin kau
tahu ada yang sangat mencintaimu. Ya, inilah aku. Seorang yang pengecut, yang
tak mampu mengatakan saja kepadamu apa yang kurasakan dari awal dulu.
Hai
angle, how are you? I wish u always good. Aku berdoa kamu selalu sehat dan
selalu dilimpahi rahmat dan nikmat dari-Nya. Namun aku percaya, kamu selalu
sehat karena aku selalu melihat sinar matamu yang bercahaya bening, setulus dan
sekuat hatimu. Indah. Sama. Tak berubah seperti saat pertama kali aku bertemu
dengan kamu. Tak berubah sama sekali, terang dan menerangi semua sudut hatiku. Aku
secara paksa menculik dirimu dalam anganku, karena aku tahu belum dapat aku
memiliki nyatamu.
Hampir
3 tahun berlalu saat perjumpaan pertama kita dulu. Pertemuan singkat yang tak mampu
ku lupakan. Ya. Sangat singkat. Tak lebih dari 10 menit kurasa. Masih teringat
jales di memori otakku saat pertama kalu aku melihat sosokmu. Anggun dan cantik
dibalik kerudung putih itu.
Waktu
itu kamu terlihat malu atau mungkin kamu memang pemalu. Aku tak tahu karena
baru pertama kali aku bertemu dengan kamu. Aku tak pernah mengira akan
mencintai sosokmu. Sosok langka yang menjaga kehormatan seorang wanita. aku tak
tahu apa yang terjadi saat tiba-tiba sebuah tabrakan kecil menghentakkan
lamunanku saat di depan masjid itu aku menatap tulisan asing yang pertama kali
ku lihat. “Afwan, tidak sengaja”. Ucapmu lirih sambil menunuduk, menyembunyikan
parasmu di balik kerudung yang melindungi wajahmu. “Iya, hati-hati” jawabku
sambil mencari tahu siapa yang telah membangunkan lamunanku. Aku menatapmu
sejenak dan sejenak pula wajahmu mendongak mencoba menghargai lawan bicaramu.
“Afwan, Wassalamu’alaikum.” lalu kamu beranjak pergi. Aku amati kamu. Kepalamu
terus kamu tundukkan untuk melindungi wajahmu. Aneh dan jarang aku melihat laku
seperti itu.
Saat
itu kamu mengenakan kerudung lebar
berwarna putih dengan lipatan rapi yang tertata indah menutupi auratmu.
Terlihat sangat serasi dengan baju lengan panjang berawarna sama. Aku tertegun
melihat sikapmu itu. Ya, pertemuan itu singkat tapi mampu dengan sangat lama
tersimpan dalam bagian memori di otakku. Benar-benar tak kuasa aku menghapus
saat itu. Saat pertemuan yang singkat dulu. Sosok wanita ah bukan, tapi
bidadari yang hidup di bumi, pikirku saat itu. Mungkin terkesan berlebihan,
tapi tidak. Tuhan telah menciptakan mahluk secantik bidadari sepertimu.
“Subhanallah”.
Hanya kalimat itu yang terucap. Aku tak lama melihatmu karena aku langsung
ditarik temanku. Hanya sekilas aku meliihat sinar matamu, tapi tak sekilaspun
sinar mata itu menghilang dari fikiranku. Dari pertama saat aku bertemu denganmu
sampai saat ini. Dan aku harap sampai suatu hari nanti. Dari malam kemarin,
malam ini dan malam nanti dirimu tak hilang dari memori sadar dan tak sadarku.
@@@
Aku
tak tahu dimana aku. Sekelilingku gelap. Gelap sekali. Tak ada temaram lampu
bohlam maupun cahaya lilin, bahkan bintang pun tek terlihat. Sekelilingku gelap
pekat. Lalu sebuah titik sinar perlahan muncul dari kegelapan. Sesuatu berbisik
padaku, tak jelas. Membisikkan kata yang tak kupahami.
Sinar
itu perlahan menjadi terang. Lalu, seperti binatang malam yang mencari temaram
cahaya penerang, aku menggerakkan kakiku. Berjalan tergopoh menuju cahaya sinar
itu dengan langkah yang berat. Mata ini semakin sakit melihat sinar itu,
semakin terang dan semakin terang. Terus dan terus, hinggaa…
@@@
Agar
anganku tersenyum dapat memilikumu, meski hanya anganku. Hingga aku berdoa pada
Allah, agar aku dapat memiliki sebenar dan seutuhnya dirimu. Agar aku selalu
menjumpai nyata sosokmu. Lebih dari itu, aku ingin kamu dan aku bersatu di
kehidupan abadi di surga nanti.
Meski
kamu menganggap ini berlebihan, tapi aku sungguh-sungguh dengan doaku. Karena
aku yakin dengan kesungguhan doa-doaku dapat kuraih sedikit cintaNya dari
cintamu. Melengkapi dan menyempurnakan kehidupanku dengan menjadikan dirimu
bidadari yang akan selalu ada saat tangis dan senyumku.
Mungkin
ada pertanyaan darimu “mengapa aku yakin denganmu?”
Aku
masih teringat. Saat pertemuan dulu, wajahmu tak lama menatapku, ayu parasmu kau
lindungi dengan kerudung yang melingkupi wajahmu. Wajahmu tertunduk atau lebih
tepatnya kau tundukan. Tak mau membiarkan mata liar laki-laki melihat ayumu.
Atau mungkin matamu tak sudi bertemu dengan mata laki-laki yang bukan mahrammu.
Ya. Aku memaklumi itu, karena memang itulah syariat islam tentang menjaga
kehormatan diri. Lebih dari itu, aku yakin itu karena kekuatan iman di hatimu.
Kamu menjaga kesucian diri dan harga dirimu hanya untuk lelaki yang memang akan
menjadi imammu.
Memang
aku tak telalu pintar dalam urusan agama atau apapun yang berkaitan dengannya.
Aku tahu itu. Tapi meskipun sedikit, aku tahu.
Ah,
aku sangat kagum dengan kekuatan islam dan iman yang nampak dalam laku
anggunmu. Kamu seperti bidadari surga yang terjaga dari sentuhan malaikat dan
jin. Terjaga seperti mutiara-mutiara di dalam dasar samudra yang belum sama
sekali tersentuh eksplorasi keserakahan manusia. Kamu terjaga dengan
penjagaan-Nya yang dikuatkan di hati dan sekitarmu. Aku terpana. Maafkan aku.
Saat itu aku mencari matamu. Liar. Pada
titik diam sepenggal waktu dan saat kita saling bersitatap langsung kamu
tundukkan wajahmu. Aku tersadar. Malu. Padamu, pada-Nya juga pada diri ku
sendiri.
Pada
suatu saat kita duduk berseberangan. Aku mencoba mencari kedua bening bola
matamu, tapi tak ku temui lagi. Ah kamu. Membuatku semakin ingin mencari tahu
siapa dirimu. Selain perjumpaan pertama dulu, tak kulihat lagi binar bening
matamu. Binar tentang kekuatan iman yang terpancar pada matamu. Indah dan
menyejukkan siapapun yang mampu melihatnya. Tapi tak pernah sekalipun aku
bertemu lagi dengan sinar matamu. Hingga akhirnya aku terpisahkan waktu. Yang
kulihat hanya jilbab yang menutup tubuhmu dan derap langkah yag perlahan
menghilang, bersama hilangnya sosokmu.
Aku
masih menjaga dan menyimpan ingatan itu agar hidup dalam mimpiku. Hingga
ia mencoba menggantikan sosokmu yang telah
menghilang dariku. Bersamanya aku melewati waktu yang tak terbatas, menunggu
sosok nyata dirimu kembali hadir untuk sekedar bertemu. Walau sekejap mataku.
Bersamanya aku menahan rindu untuk kembali bersua dengamu. Menanti sosok nyata
dirimu.
Maafkan
aku, bila selama ini kamu tak tahu dan aku tak meminta ijin kamu untuk menahan
bayangmu, karena aku tahu bila aku meminta padamu kamu tak akan menizinkannya
pergi menemaniku. Melalui surat ini aku meminta maaf padamu atas kelancanganku
menahan bayangmu saat sendiriku dulu, kemarin dan mungkin nanti.
Bidadariku…
hingga saat ini aku tak bisa melupakan pertemuan denganmu. Gerak tubuhmu, laku
malu langkahmu, tatapan singkat matamu, dan kamu sendiri. Memori itu mengalir
bersama darah menuju kotak-kotak memori di otakku tentangmu. Semua tergambar
jelas. Aku kunci memori itu dan kusimpan tersembunyi. Agar wangi dan desah
lembut tarikan nafasmu dapat kukembalikan padamu. Pemilik asli kenangan itu.
Ah, aku rindu denganmu, dengan kemisteriusan sikapmu. Dan entah mengapa sikapmu
yang seperti itu membuatku tak mampu melupakan pertemuan denganmu dulu.
Kamu
telah membuat rasa lain yang aneh, perlahan menyelusup masuk ke dalam
ketenangan jiwaku. Membuatku tak tenang jika sehari saja aku tak bertemu dengan
bayangmu. Rasa itu semakin menyiksa, menguat menjadi suatu yang sangat aneh.
Jujur,
aku belum pernah merasakan hal sepert ini. Kerinduan yang menyiksa, kegelisahan
yang tak berujung dan sakit yang perih dalam penantian. Sebuah rasa yang sangat
manusiawi, yang kutahu itu tidak diperbolehkan sebelum waktunya. Untunglah aku
tak begitu terlalu mencintaimu karena aku masih sadar masih ada Allah yang
harus paling kucintai. Selain itu, aku sadar kamu belum sepenuhnya menjadi milikku.
Alhamdulillah, aku masih dapat mengalihkan semua itu pada hal lain yang lebih
berguna bagiku. Aku lebih medekatkan diri pada Dia sang pemilik cinta.
Mengalihkan dengan mengingatNya dan berjuang di koridor-koridor yang telah
ditentukanNya. Meski kadang bayangmu mengganggu, tapi Dia mampu membatasi semua
itu.
Aku
ingin kamu jadi yang pertama dan terakhir yang akan menjadi pendamping hidupku.
Hanya hitungan hari, sejak pertemuan pertama itu aku telah merasakan yang lain
tentangmu. Sosok yang mampu menjaga diri dengan hebat imannya. Seperti bidadari
yang terjaga dari apapun yang belum menjadi pemiliknya.
Oya,
ada puisi untukmu. Sayangnya aku belum bisa menemukan judul yang tepat. Aku
minta kesediaanmu untuk menberinya judul pada sajak singkat ini.
Bismillah…
Ini tentang cinta
yang tercipa untukmu
Cinta yang
tercipta dan ‘ku ingin akan satukan kita
Ini tentang
kata yang terucap padamu
Kata yang
terucap dan akan ‘ku tepati sebagai janjiku
Bismillah…
Ini tentang
kejujuranku yang ‘ku ingin kamu tahu
Ini tentang
harapku yang ‘ku ingin kamu pun begitu
Bismillah…
Ini tentang
semuanya
Tentang
seutuh tulusnya cinta padamu
Ya.
Aku mencintaimu. Mungkin tak sepantasnya, tapi aku mencintaimu menginginkanmu
menjadi pendamping hidup yang akan menemani saat ini dan saat nanti. Tapi
semuanya ada pada keputusannmu. Aku tak akan memaksakan cintamu. Karena aku
tahu, cinta-Nya akan mampu mengobati lukaku.
Wassalamu’alaikum wr wb
Afrizal Azzam
@@@
Perlahan
sinar itu membimbingku pada dua jalan. Aku tak tahu mana yang harus ku pilih.
Aku berjalan pada jalan yang asing. Disana terlihat sungai, kolam dan yang
indah adalah semuanya serba putih. Istana putih yang indah, menara suar yang
kokoh dengan warna putih yang indah. Tak tergambarkan dengan kata-kata. Aku
berjalan masuk, mencoba mencari tahu apa lagi di dalamnya. Kehidupan dan cinta.
Semua menoleh padaku saat pintu masuk kubuka lebar. Senyum tulus para
penghuninya. Aku terus menyusuri jalan menuju ke dalamnya, hingga sebuah bayang
yang aku tahu sosok itu menggenggam tanganku, menarikku pada jalan lain. Aku
tak dapat berontak, genggamannya kuat, hingga terasa sakit di kepalaku. Gelap.
@@@
Terdengar
samar bacaan al qur’an yang lirih tapi cukup jelas. Meski pendengaranku masih
belum jelas, tapi aku yakin itu adalah bacaan al quran
Penglihatanku
kabur, tidak terlihat jelas, tapi lama kelamaan semuanya terlihat jelas.
Langit-langit yang putih, gorden yang putih, pintu yang putih. “Aw.” Rasa sakit
jarum infuse di tangan kananku menyadarkan kekagetanku. “dimana ini?” lirihku.
Kekuatanku belum pulih sepenuhnya. Kepalaku terasa pusing dan semua tubuhku
terasa aneh. Perlahan indera penciumaanku pulih. Bau obat! Ini rumah sakit?!
Batinku. Aku kenapa? Kenapa disini? Aku tak mampu bicara. Perlahan aku menoleh
ke kanan dan kiri. Tiga sosok manusia terlihat sedang duduk di kursi ruang
tunggu, tak tahu aku sedang bingung. Sepertinya aku mengenal mereka. Bu Dhe,
Dicky dan Eni. Oh tidak,,ada satu lagi. Tapi siapa? Mungkinkah? Ah, tidak
mungkin. Mereka sedang duduk membaca buku dengan nada serasi bersamaan. Surah
Yasin. Aku hafal surah itu.
Dicki
tiba-tiba menoleh ke arahku. Melihat mataku yang sudah terbuka, dia langsung
menuju ke tempat tidurku. “Kamu sadar?” tanyanya. “I iya..di dimana ini?”
tanyaku pelan melihat 3 orang lainnya yang juga sedang berjalan ke arahku. “ini
di rumah s…” jawabannya tidak ku dengar. Kepalaku masih belum normal. Lalu
semuanya kembali gelap.
@@@
Aku
bertemu dengan sesosok bayang. Sepertinya sudah tua, terlihat dari rambutnya
yang memutih. Tetapi sinar matanya terlihat sangat menentramkan. “siapa anda?”
tanyaku.
“Bagaimana
kabarmu, nak? Ini sebuah buku kecil untukmu. Bacalah. Jagalah ia seperti kau
menjaga cinta dan sayangmu untuk Rahma.”
Ku
buka buku itu. Isinya tentang agama. Sepertinya mirip kitab kuning, buku pondok
yang biasa dibaca oleh temanku. Aku tak tahu harus darimana membaca. Aku tak
tahu bagaimana membacanya. Aku bolak balikkan halaman demi halaman. Tapi akau
memang tidak paham. Sedang bingungnya aku mencari kata yang kumengerti suara
rendahnya mendongakkanku.
“Bacalah.”
Katanya lagi. “Tapi aku tidak..” belum selesai aku menyanggah, sosok itu telah
menghilang.
Aku
berusaha keras mencari tahu apa arti dari semua ini. Hurufnya tidak asing
bagiku. Tapi kenapa aku tidak bisa membacanya? Kenapa? Aku berusaha sekuat
mungkin, saat tiba-tiba gemuruh menggelegar dan ruangan menjadi gelap. Kudekap
buku itu. Aku langsung berlari. Mengejar cahaya yang ada di depanku. Sekuatku.
@@@
“Ra..
ini adalah surat yang dituliskannya untukmu.” ucap Dicki sambil memberikan sebuah
surat.
“Apa
ini?” heran. “aku tidak tahu. Aku hanya memberikannya untukmu ini dari
dia.”jawab dicki sambil menoleh kearahku. Sambil diterima dengan heran dan
membukanya. Sejenak Dicki memperhatikan raut muka saudaranya itu. Lalu Rahma
mencari tempat untuk membaca surat itu dengan tenang. Dicki memperhatikannya
diam-diam. Eni sedang pulang untuk istirahat, capek juga nemenin Rahma. Air
bening menetes perlahan. Entah air kesedihan atau kebahagiaan, namun langsung
diusap air matanya saat langkah Dicki terdengar sedang menuju tempatnya.
@@@
Telah
lama aku terbaring. Tak kurang 38 jam aku terbaring pada kasur rumah sakit ini.
Betapa kegetnya aku saat kulihat di samping kananku seorang asing tidur
menunggu kesadarannku. Tangannya menggennggam tanganku. Siapa ini? Batinku
heran. Perlahan kutarik tangan ini dari genggamannya. Aw, ternyata dia belum
terlelalp. Tangaanku tertahan. Ku tunggu hingga ia terlelap dan kucoba menarik
tanganku, kini tanpa perlawanan dan bisa terlepas. Huffttt,, Alhamdulillah.
Aku
mencoba mengamati ke sekeliling. Sesosok laki-laki yang telah lama ku kenal.
Dia adalah sahabtaku, dicki terlihat sedang tertidur di kursi tengah. Sedangkan
ini, siapa? Aku masih heran, tapi aku masih mencoba mengamati sekeliling. Di
meja dekat tempat tidurku ada sepiring buah apel. Ini adalah buah kesukaanku.
Sepertinya enak, tapi aku tak kuat untuk mengambilnyaa. Seterusnya
penglihatanku berkeliling mengamati sekitar. Ku lihat sebuah kertas putih di
tangan orang yang tidur di sebelahku. Syukurnya aku belum minus, jadi
penglihatanku masih jelas. “Itu…“ lirihku. ingatanku mengelilingi masalalu.
Betapa kagetnya saat aku tahu untuk siapa surat itu kubuat, sampai tak sengaja
aku membuat gerakan yang membuatnya bangun.
“Ka..
ka.. kamu?”
Wajahnya
mendongak tersenyum padaku. Diam. Wajahnya memerah.
"Saat kau benar-benar mencintai wanita, jagalah cintamu untuknya sampai dia benar-benar tidak menjadi milikmu. Meski memang sakit saat kecewa, tapi jika hanya mencintainya dengan tulus saja yang dapat kau lakukan, lakukan saja. Cintai dia setulusnya entah apapun nanti akhirnya"
"Saat kau benar-benar mencintai wanita, jagalah cintamu untuknya sampai dia benar-benar tidak menjadi milikmu. Meski memang sakit saat kecewa, tapi jika hanya mencintainya dengan tulus saja yang dapat kau lakukan, lakukan saja. Cintai dia setulusnya entah apapun nanti akhirnya"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar