Translate

Kamis, 28 Juni 2012

Yang Hampir Tak Tersampaikan. . .


Untuk Kamu. . .

Hujan sangat lebat. Bahkan mataku hampir tak melihat jalan. Tidak biasanya kemarau memberi hujan selebat ini, tak bawa mantel pula. Daripada dingin, aku kencangkan motorku melintasi jalanan. Toh mumpung sepi. Aku mengebut, sambil bernyanyi. “Menyenangkan juga hujan hujanan ya? Sudah lama aku tak…”
Braak…!!! Lalu semuanya gelap.
@@@
Jakarta, 13 Maret 2008
Teruntuk Rharha..
Assalamu’alaikum wr wb
Alhamdulillah, terima kasih atas semua waktu yang telah Allah berikan padaku sehingga pada kesempatan ini aku bisa menuliskan coretan ini untukmu. Akhirnya coretanku ini sampai ditanganmu ataupun bila belum ditanganmu, semoga dapat sampai di tanganmu.
Rasanya sudah lama sekali aku ingin menyampaikan ini. Bukan lewat tulisan, bunga atau cekolat. Tapi langsung terucap dari mulutku. Tapi ada dayaku yang lemah bila didepanmu. Mungkin karena kau begitu berharga bagiku, hingga aku tak ingin kau tahu ada yang sangat mencintaimu. Ya, inilah aku. Seorang yang pengecut, yang tak mampu mengatakan saja kepadamu apa yang kurasakan dari awal dulu.
Hai angle, how are you? I wish u always good. Aku berdoa kamu selalu sehat dan selalu dilimpahi rahmat dan nikmat dari-Nya. Namun aku percaya, kamu selalu sehat karena aku selalu melihat sinar matamu yang bercahaya bening, setulus dan sekuat hatimu. Indah. Sama. Tak berubah seperti saat pertama kali aku bertemu dengan kamu. Tak berubah sama sekali, terang dan menerangi semua sudut hatiku. Aku secara paksa menculik dirimu dalam anganku, karena aku tahu belum dapat aku memiliki nyatamu.
Hampir 3 tahun berlalu saat perjumpaan pertama kita dulu. Pertemuan singkat yang tak mampu ku lupakan. Ya. Sangat singkat. Tak lebih dari 10 menit kurasa. Masih teringat jales di memori otakku saat pertama kalu aku melihat sosokmu. Anggun dan cantik dibalik kerudung putih itu.
Waktu itu kamu terlihat malu atau mungkin kamu memang pemalu. Aku tak tahu karena baru pertama kali aku bertemu dengan kamu. Aku tak pernah mengira akan mencintai sosokmu. Sosok langka yang menjaga kehormatan seorang wanita. aku tak tahu apa yang terjadi saat tiba-tiba sebuah tabrakan kecil menghentakkan lamunanku saat di depan masjid itu aku menatap tulisan asing yang pertama kali ku lihat. “Afwan, tidak sengaja”. Ucapmu lirih sambil menunuduk, menyembunyikan parasmu di balik kerudung yang melindungi wajahmu. “Iya, hati-hati” jawabku sambil mencari tahu siapa yang telah membangunkan lamunanku. Aku menatapmu sejenak dan sejenak pula wajahmu mendongak mencoba menghargai lawan bicaramu. “Afwan, Wassalamu’alaikum.” lalu kamu beranjak pergi. Aku amati kamu. Kepalamu terus kamu tundukkan untuk melindungi wajahmu. Aneh dan jarang aku melihat laku seperti itu.
Saat itu kamu mengenakan kerudung  lebar berwarna putih dengan lipatan rapi yang tertata indah menutupi auratmu. Terlihat sangat serasi dengan baju lengan panjang berawarna sama. Aku tertegun melihat sikapmu itu. Ya, pertemuan itu singkat tapi mampu dengan sangat lama tersimpan dalam bagian memori di otakku. Benar-benar tak kuasa aku menghapus saat itu. Saat pertemuan yang singkat dulu. Sosok wanita ah bukan, tapi bidadari yang hidup di bumi, pikirku saat itu. Mungkin terkesan berlebihan, tapi tidak. Tuhan telah menciptakan mahluk secantik bidadari sepertimu.
“Subhanallah”. Hanya kalimat itu yang terucap. Aku tak lama melihatmu karena aku langsung ditarik temanku. Hanya sekilas aku meliihat sinar matamu, tapi tak sekilaspun sinar mata itu menghilang dari fikiranku. Dari pertama saat aku bertemu denganmu sampai saat ini. Dan aku harap sampai suatu hari nanti. Dari malam kemarin, malam ini dan malam nanti dirimu tak hilang dari memori sadar dan tak sadarku.

@@@
Aku tak tahu dimana aku. Sekelilingku gelap. Gelap sekali. Tak ada temaram lampu bohlam maupun cahaya lilin, bahkan bintang pun tek terlihat. Sekelilingku gelap pekat. Lalu sebuah titik sinar perlahan muncul dari kegelapan. Sesuatu berbisik padaku, tak jelas. Membisikkan kata yang tak kupahami.
Sinar itu perlahan menjadi terang. Lalu, seperti binatang malam yang mencari temaram cahaya penerang, aku menggerakkan kakiku. Berjalan tergopoh menuju cahaya sinar itu dengan langkah yang berat. Mata ini semakin sakit melihat sinar itu, semakin terang dan semakin terang. Terus dan terus, hinggaa…
@@@
Agar anganku tersenyum dapat memilikumu, meski hanya anganku. Hingga aku berdoa pada Allah, agar aku dapat memiliki sebenar dan seutuhnya dirimu. Agar aku selalu menjumpai nyata sosokmu. Lebih dari itu, aku ingin kamu dan aku bersatu di kehidupan abadi di surga nanti.
Meski kamu menganggap ini berlebihan, tapi aku sungguh-sungguh dengan doaku. Karena aku yakin dengan kesungguhan doa-doaku dapat kuraih sedikit cintaNya dari cintamu. Melengkapi dan menyempurnakan kehidupanku dengan menjadikan dirimu bidadari yang akan selalu ada saat tangis dan senyumku.
Mungkin ada pertanyaan darimu “mengapa aku yakin denganmu?”
Aku masih teringat. Saat pertemuan dulu, wajahmu tak lama menatapku, ayu parasmu kau lindungi dengan kerudung yang melingkupi wajahmu. Wajahmu tertunduk atau lebih tepatnya kau tundukan. Tak mau membiarkan mata liar laki-laki melihat ayumu. Atau mungkin matamu tak sudi bertemu dengan mata laki-laki yang bukan mahrammu. Ya. Aku memaklumi itu, karena memang itulah syariat islam tentang menjaga kehormatan diri. Lebih dari itu, aku yakin itu karena kekuatan iman di hatimu. Kamu menjaga kesucian diri dan harga dirimu hanya untuk lelaki yang memang akan menjadi imammu.
Memang aku tak telalu pintar dalam urusan agama atau apapun yang berkaitan dengannya. Aku tahu itu. Tapi meskipun sedikit, aku tahu.
Ah, aku sangat kagum dengan kekuatan islam dan iman yang nampak dalam laku anggunmu. Kamu seperti bidadari surga yang terjaga dari sentuhan malaikat dan jin. Terjaga seperti mutiara-mutiara di dalam dasar samudra yang belum sama sekali tersentuh eksplorasi keserakahan manusia. Kamu terjaga dengan penjagaan-Nya yang dikuatkan di hati dan sekitarmu. Aku terpana. Maafkan aku. Saat itu aku mencari matamu.  Liar. Pada titik diam sepenggal waktu dan saat kita saling bersitatap langsung kamu tundukkan wajahmu. Aku tersadar. Malu. Padamu, pada-Nya juga pada diri ku sendiri.
Pada suatu saat kita duduk berseberangan. Aku mencoba mencari kedua bening bola matamu, tapi tak ku temui lagi. Ah kamu. Membuatku semakin ingin mencari tahu siapa dirimu. Selain perjumpaan pertama dulu, tak kulihat lagi binar bening matamu. Binar tentang kekuatan iman yang terpancar pada matamu. Indah dan menyejukkan siapapun yang mampu melihatnya. Tapi tak pernah sekalipun aku bertemu lagi dengan sinar matamu. Hingga akhirnya aku terpisahkan waktu. Yang kulihat hanya jilbab yang menutup tubuhmu dan derap langkah yag perlahan menghilang, bersama hilangnya sosokmu.
Aku masih menjaga dan menyimpan ingatan itu agar hidup dalam mimpiku. Hingga ia  mencoba menggantikan sosokmu yang telah menghilang dariku. Bersamanya aku melewati waktu yang tak terbatas, menunggu sosok nyata dirimu kembali hadir untuk sekedar bertemu. Walau sekejap mataku. Bersamanya aku menahan rindu untuk kembali bersua dengamu. Menanti sosok nyata dirimu.
Maafkan aku, bila selama ini kamu tak tahu dan aku tak meminta ijin kamu untuk menahan bayangmu, karena aku tahu bila aku meminta padamu kamu tak akan menizinkannya pergi menemaniku. Melalui surat ini aku meminta maaf padamu atas kelancanganku menahan bayangmu saat sendiriku dulu, kemarin dan mungkin nanti.
Bidadariku… hingga saat ini aku tak bisa melupakan pertemuan denganmu. Gerak tubuhmu, laku malu langkahmu, tatapan singkat matamu, dan kamu sendiri. Memori itu mengalir bersama darah menuju kotak-kotak memori di otakku tentangmu. Semua tergambar jelas. Aku kunci memori itu dan kusimpan tersembunyi. Agar wangi dan desah lembut tarikan nafasmu dapat kukembalikan padamu. Pemilik asli kenangan itu. Ah, aku rindu denganmu, dengan kemisteriusan sikapmu. Dan entah mengapa sikapmu yang seperti itu membuatku tak mampu melupakan pertemuan denganmu dulu.
Kamu telah membuat rasa lain yang aneh, perlahan menyelusup masuk ke dalam ketenangan jiwaku. Membuatku tak tenang jika sehari saja aku tak bertemu dengan bayangmu. Rasa itu semakin menyiksa, menguat menjadi suatu yang sangat aneh.
Jujur, aku belum pernah merasakan hal sepert ini. Kerinduan yang menyiksa, kegelisahan yang tak berujung dan sakit yang perih dalam penantian. Sebuah rasa yang sangat manusiawi, yang kutahu itu tidak diperbolehkan sebelum waktunya. Untunglah aku tak begitu terlalu mencintaimu karena aku masih sadar masih ada Allah yang harus paling kucintai. Selain itu, aku sadar kamu belum sepenuhnya menjadi milikku. Alhamdulillah, aku masih dapat mengalihkan semua itu pada hal lain yang lebih berguna bagiku. Aku lebih medekatkan diri pada Dia sang pemilik cinta. Mengalihkan dengan mengingatNya dan berjuang di koridor-koridor yang telah ditentukanNya. Meski kadang bayangmu mengganggu, tapi Dia mampu membatasi semua itu.
Aku ingin kamu jadi yang pertama dan terakhir yang akan menjadi pendamping hidupku. Hanya hitungan hari, sejak pertemuan pertama itu aku telah merasakan yang lain tentangmu. Sosok yang mampu menjaga diri dengan hebat imannya. Seperti bidadari yang terjaga dari apapun yang belum menjadi pemiliknya.
Oya, ada puisi untukmu. Sayangnya aku belum bisa menemukan judul yang tepat. Aku minta kesediaanmu untuk menberinya judul pada sajak singkat ini.

Bismillah…
Ini tentang cinta yang tercipa untukmu
Cinta yang tercipta dan ‘ku ingin akan satukan kita
Ini tentang kata yang terucap padamu
Kata yang terucap dan akan ‘ku tepati sebagai janjiku

Bismillah…
Ini tentang kejujuranku yang ‘ku ingin kamu tahu
Ini tentang harapku yang ‘ku ingin kamu pun begitu

Bismillah…
Ini tentang semuanya
Tentang seutuh tulusnya cinta padamu

Ya. Aku mencintaimu. Mungkin tak sepantasnya, tapi aku mencintaimu menginginkanmu menjadi pendamping hidup yang akan menemani saat ini dan saat nanti. Tapi semuanya ada pada keputusannmu. Aku tak akan memaksakan cintamu. Karena aku tahu, cinta-Nya akan mampu mengobati lukaku.


Wassalamu’alaikum wr wb

Afrizal Azzam


@@@
Perlahan sinar itu membimbingku pada dua jalan. Aku tak tahu mana yang harus ku pilih. Aku berjalan pada jalan yang asing. Disana terlihat sungai, kolam dan yang indah adalah semuanya serba putih. Istana putih yang indah, menara suar yang kokoh dengan warna putih yang indah. Tak tergambarkan dengan kata-kata. Aku berjalan masuk, mencoba mencari tahu apa lagi di dalamnya. Kehidupan dan cinta. Semua menoleh padaku saat pintu masuk kubuka lebar. Senyum tulus para penghuninya. Aku terus menyusuri jalan menuju ke dalamnya, hingga sebuah bayang yang aku tahu sosok itu menggenggam tanganku, menarikku pada jalan lain. Aku tak dapat berontak, genggamannya kuat, hingga terasa sakit di kepalaku. Gelap.
@@@

Terdengar samar bacaan al qur’an yang lirih tapi cukup jelas. Meski pendengaranku masih belum jelas, tapi aku yakin itu adalah bacaan al quran
Penglihatanku kabur, tidak terlihat jelas, tapi lama kelamaan semuanya terlihat jelas. Langit-langit yang putih, gorden yang putih, pintu yang putih. “Aw.” Rasa sakit jarum infuse di tangan kananku menyadarkan kekagetanku. “dimana ini?” lirihku. Kekuatanku belum pulih sepenuhnya. Kepalaku terasa pusing dan semua tubuhku terasa aneh. Perlahan indera penciumaanku pulih. Bau obat! Ini rumah sakit?! Batinku. Aku kenapa? Kenapa disini? Aku tak mampu bicara. Perlahan aku menoleh ke kanan dan kiri. Tiga sosok manusia terlihat sedang duduk di kursi ruang tunggu, tak tahu aku sedang bingung. Sepertinya aku mengenal mereka. Bu Dhe, Dicky dan Eni. Oh tidak,,ada satu lagi. Tapi siapa? Mungkinkah? Ah, tidak mungkin. Mereka sedang duduk membaca buku dengan nada serasi bersamaan. Surah Yasin. Aku hafal surah itu.
Dicki tiba-tiba menoleh ke arahku. Melihat mataku yang sudah terbuka, dia langsung menuju ke tempat tidurku. “Kamu sadar?” tanyanya. “I iya..di dimana ini?” tanyaku pelan melihat 3 orang lainnya yang juga sedang berjalan ke arahku. “ini di rumah s…” jawabannya tidak ku dengar. Kepalaku masih belum normal. Lalu semuanya kembali gelap.

@@@
Aku bertemu dengan sesosok bayang. Sepertinya sudah tua, terlihat dari rambutnya yang memutih. Tetapi sinar matanya terlihat sangat menentramkan. “siapa anda?” tanyaku.
“Bagaimana kabarmu, nak? Ini sebuah buku kecil untukmu. Bacalah. Jagalah ia seperti kau menjaga cinta dan sayangmu untuk Rahma.”
Ku buka buku itu. Isinya tentang agama. Sepertinya mirip kitab kuning, buku pondok yang biasa dibaca oleh temanku. Aku tak tahu harus darimana membaca. Aku tak tahu bagaimana membacanya. Aku bolak balikkan halaman demi halaman. Tapi akau memang tidak paham. Sedang bingungnya aku mencari kata yang kumengerti suara rendahnya mendongakkanku.
“Bacalah.” Katanya lagi. “Tapi aku tidak..” belum selesai aku menyanggah, sosok itu telah menghilang.
Aku berusaha keras mencari tahu apa arti dari semua ini. Hurufnya tidak asing bagiku. Tapi kenapa aku tidak bisa membacanya? Kenapa? Aku berusaha sekuat mungkin, saat tiba-tiba gemuruh menggelegar dan ruangan menjadi gelap. Kudekap buku itu. Aku langsung berlari. Mengejar cahaya yang ada di depanku. Sekuatku.
@@@
“Ra.. ini adalah surat yang dituliskannya untukmu.” ucap Dicki sambil memberikan sebuah surat.
“Apa ini?” heran. “aku tidak tahu. Aku hanya memberikannya untukmu ini dari dia.”jawab dicki sambil menoleh kearahku. Sambil diterima dengan heran dan membukanya. Sejenak Dicki memperhatikan raut muka saudaranya itu. Lalu Rahma mencari tempat untuk membaca surat itu dengan tenang. Dicki memperhatikannya diam-diam. Eni sedang pulang untuk istirahat, capek juga nemenin Rahma. Air bening menetes perlahan. Entah air kesedihan atau kebahagiaan, namun langsung diusap air matanya saat langkah Dicki terdengar sedang menuju tempatnya.
@@@
Telah lama aku terbaring. Tak kurang 38 jam aku terbaring pada kasur rumah sakit ini. Betapa kegetnya aku saat kulihat di samping kananku seorang asing tidur menunggu kesadarannku. Tangannya menggennggam tanganku. Siapa ini? Batinku heran. Perlahan kutarik tangan ini dari genggamannya. Aw, ternyata dia belum terlelalp. Tangaanku tertahan. Ku tunggu hingga ia terlelap dan kucoba menarik tanganku, kini tanpa perlawanan dan bisa terlepas. Huffttt,, Alhamdulillah.
Aku mencoba mengamati ke sekeliling. Sesosok laki-laki yang telah lama ku kenal. Dia adalah sahabtaku, dicki terlihat sedang tertidur di kursi tengah. Sedangkan ini, siapa? Aku masih heran, tapi aku masih mencoba mengamati sekeliling. Di meja dekat tempat tidurku ada sepiring buah apel. Ini adalah buah kesukaanku. Sepertinya enak, tapi aku tak kuat untuk mengambilnyaa. Seterusnya penglihatanku berkeliling mengamati sekitar. Ku lihat sebuah kertas putih di tangan orang yang tidur di sebelahku. Syukurnya aku belum minus, jadi penglihatanku masih jelas. “Itu…“ lirihku. ingatanku mengelilingi masalalu. Betapa kagetnya saat aku tahu untuk siapa surat itu kubuat, sampai tak sengaja aku membuat gerakan yang membuatnya bangun.
“Ka.. ka.. kamu?”
Wajahnya mendongak tersenyum padaku. Diam. Wajahnya memerah.

"Saat kau benar-benar mencintai wanita, jagalah cintamu untuknya sampai dia benar-benar tidak menjadi milikmu. Meski memang sakit saat kecewa, tapi jika hanya mencintainya dengan tulus saja yang dapat kau lakukan, lakukan saja. Cintai dia setulusnya entah apapun nanti akhirnya"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar