Translate

Minggu, 16 September 2012

Persembahan untuk Kakek



Aku masih ingat saat itu. Kamu berjalan terburu dengan selembar kertas yang kamu genggam erat ditangan kirimu. Menerobos segerombolan teman-temanmu yang berdiri terpaku melihat drastisnya perubahan sikapmu. Beberapa menit sebelum seorang temanmu memberikan kertas itu. Tawamu lepas, Kamu bercanda riang dengan teman-teman satu komunitasmu. Komunitas Drama.
Beberapa anak menahan langkahmu yang tergesa, mencoba menenangkanmu. Tapi kamu tak peduli. Kamu terobos mereka, meninggalkan mereka dengan sejuta tanda tanya dan keheranan yang menghujani kepala mereka. Maklum saja, mereka tak tahu bahkan akupun belum pernah melihatmu bersikap aneh seperti itu. Aku heran dan cemas melihat sikapmu yang seperti itu. Jelas sekali kamu menyimpan sesuatu dariku dan naluriku sebagai manusia membawaku untuk mengetahui ada apa sebenarnya denganmu. Aku ingin segera menemuimu.
Aku lihat kamu berjalan cepat, menyusuri lorong koridor kelasmu menuju ruang kantor di ujung koridor. Diam-diam aku mengikutimu, memastikan dirimu baik-baik saja. Memang wajahmu tak terlihat gelisah, tapi sorot matamu tak tenang. Bola matamu penuh kewaspadaan memperhatikan sekeliling. Kamu aneh. Tapi untungnya aku bisa mengikutimu tanpa kamu ketahui.
Kamu sudah hampir mencapai pintu gerbang, sedikit mempercepat langkah untuk segera pergi meninggalkan sekolah. Baju merah muda yang kamu kenakan dan kerudungmu terkibar menyertai kepergianmu. Aku percepat langkah memburu jarak yang semakin jauh darimu. Cepat aku melangkah hingga kamu akhirnya tahu aku dibelakangmu. Kamu menoleh menatapku. Kosong dan sendu. Sinar matamu meredup dan berkaca. Apa yang sedang terjadi? Masalah apa? Kenapa kamu sampai menangis? Aku terhenti terpana tak tahu apa yang harus kulakukan.
Kamu mengalihkan pandangan lalu berlari pergi. Meninggalkanku yang masih mematung tak tahu apa yang terjadi denganmu. Apa? Apa yang membuatmu seperti ini? Ada apa dengan  surat itu?
@@@
Kamu. Perlahan tapi pasti menjadi mozaik-mozaik terindah yang berserakan di sebuah ruang di belahan lain di duniaku. Menjadi potongan puzzle terpenting untuk melengkapi hari-hariku. Senyum tawa riangmu seakan selalu menyambut kehadiranku saat aku bertemu denganmu. Matamu yang bening menatap sejuk dan langkah kakimu bermain rayu menghampiriku.
Kamu akan menyapaku dengan sapa khasmu “Hai bee.. sudah berapa madu yang kamu kumpulkan pagi ini?”.
Bee. Lebah. Nama itu kamu berikan padaku saat kita dulu bersama ada di club mading. “Kamu ini banyak sekali ya kata mutiaranya? Dari mana sih?” tanyamu saat itu. Aku tak tahu dari mana itu, karena aku memang tidak pernah mencarinya. “Mungkin karena sering baca buku aja, jadi banyak deh kata pengingat yang bisa aku keluarkan kembali dari ingatanku” jawabku saat itu. Tak pedulikan keingintahuanmu yang besar saat itu. Bee, kamu panggil itu sebagai gambaran aku yang selalu mengambil nilai yang baik di setiap peristiwa dan dari buku yang aku baca. Seperti lebah yang selalu mengambil madu atau manfaat terbaik dari bunga.
Kamu memberiku sebuah senyum, yang ternyata kini berarti saat aku tak menemuimu walau hanya satu hari. Sangat berarti dan itu yang menjadikanku nyaman untuk selalu merindukan sapa, senyum dan riang tawamu. Aku menjadi ketagihan, senyum dan tawamu menjadi candu. Sehari saja kamu tak menyapaku, aku akan sangat gelisah dan mencari sosokmu.
Aku dan kamu tidak banyak berbicara hal-hal yang penting. Pertemanan kita ringan tapi begitu akrab. Kamu seperti adik kecil dan sahabatku yang menjadi sasaran keusilan dan kegemasanku. Terkadang tangismu pun mengalir mengeluarkan kegalauan hatimu, lalu kamu ceritakan semua masalahmu padaku. Bahkan kamu menganggapku sebagai kakak laki-laki yang tak pernah kamu miliki. Itu cukup bagiku. Bahkan itu lebih dari cukup. Tahun kedua menjadi lebih berwarna dengan selalu adanya kamu. Tapi, terkadang aku merasakan sakit saat kamu bercerita tentang teman laki-laki yang sedang mendekatimu. Aneh.
Aku mungkin terlalu polos dan naif untuk menilai sebuah rasa. Bahkan arah anginpun masih ragu untuk ku tebak akan kemanakah ia akan membawa dedaunan kering itu terbang. Sebenarnya aku sangat suka hari ini. Hari ulang tahunmu yang juga pertemuan dan perkenalan kita yang pertama kali. Tapi aku tak tahu ada yang berkurang disini. Aku mencari sosokmu di ruang kelasmu. Tapi nihil. Mungkin kamu sedang ada di luar kelas bersama teman-temanmu.
Hari ini hari rabu, kita akan bertemu di jam kuliah umum Ekonomi. Meski kita tidak satu angkatan, setiap hari rabu setiap minggu kita mempunyai jam kuliah yang sama karena aku dan kamu mempunyai mata kuliah yang sama. Satu kali dalam satu minggu pada hari rabu. Itu sudah lebih dari cukup bagiku untuk mengenali siapa dirimu. Ya. Awal masuk kampus, kamu adalah gadis kecil energik yang membuat warna baru saat ospek mahasiswa baru saat itu.
Aku tak menduga kalau kamu sudah mulai mencari tahui tentangku sejak masa orientasi mahasiswa baru. Aku berkenalan denganmu lewat jejaring social Facebook saat kamu tiba-tiba muncul di kotak chating monitor laptopku.
Aku tak menduga kamu sudah tahu namaku dan yang paling aku tidak sangka, kamu mengajakku bertemu di sebuah danau di pinggir kota. Aku hanya mengiyakan ajakanmu. Dengan setengah acuh aku menemuimu di hari itu bahkan aku tak menyiapkan suatu yang special saat aku bertemu denganmu. Aku hanya mengenakan kaos oblong bergambar tokoh idola musikku, Iwan Fals dan celana jeans sepertiga. Cukup santai dan tidak terlalu special. Aku terkaget saat aku melihatmu. Pakaianmu serasa sangat special dengan gaun yang berwarna terang dan dandanan yang tidak biasa menurutku untuk pertemuan yang sebenarnya tidak aku anggap special.
Waktu itu sekitar pukul sepuluh pagi. Jalanan setapak sepanjang danau sepi dan damai. Matahari yang mulai menghangat memberikan warna biru jernih di langit. Mengusir awan dan mengundang kicauan burung untuk bernyanyi. Sinar-sinarnya yang menerobos pepohonan seperti pedang-pedang cahaya. Indah.
Aku tak menyangka kamu sudah sampai di bangku tempat pertemuan kita sebelum aku sampai, padahal masih 15 menit dari waktu yang kamu tentukan sendiri. Aku berjalan santai ke tempatmu duduk. Aku berhenti beberapa langkah sebelum mancapai tempatmu, melihat dua angsa yang sedang berenang lambat di depanmu. “Angsanya cantik ya?” sapaku lirih. “Iy, iy, iya..bagus” jawabmu tergagap. Aku tersenyum melihatmu canggung saat aku sudah didekatmu. “Santai saja, oke?” candaku sambil tersenyum melihatmu. “Ba, baik kak?” jawabmu masih tergagap. Aku hanya menahan tawa, tak ingin mempermalukan sikapmu sendiri di hadapanku.
Aku langsung berjalan ke tempat dudukmu dan meminta ijin untuk duduk disampingmu. “Dewi ya?” tanyaku tanpa basa basi. Kamu menoleh ke arahku seraya memberikan senyum terindahmu. Sejenak aku tersentak, senyum itu sangat cantik. Senyum terindah yang kamu berikan saat kita pertama kali bertemu. Aku langsung memalingkan wajah menatap angsa yang sedang berenang di pinggir danau. Kamu dan aku lalu berbicara sekedarnya. Tapi sebenarnya kamu yang lebih banyak bercerita tentang dirimu. Bahkan kamu menceritakan tentang aku. Aku sangat tidak menyangka itu. Kamu seperti memberi laporan pada atasanmu. Hampir lengkap dan tanpa cela. Aku tak tahu dari mana kamu bisa mendapatkan semua informasi tentangku.
Angsa di danau perlahan berenang ke arah tempat duduk kita. “Hai… mau?” tatapku padamu sambil menatap ke arah angsa dan bungkusan roti yang aku keluarkan. Aku lalu mengajakmu memberi makan angsa tadi. Tapi kamu terlihat bengong, bingung. “Entar angsanya sampai kabur hlooo…????  Yukk..” ajaku sambil menawarimu bungkusan roti untuk dijadikan makanan angsa.
Tiba-tiba kamu berubah sewot dan merebut bungkus roti ditanganku. “Hei..” aku terkaget. Lalu sejenak aku menatap dalam raut wajahmu. Manis. Wajahmu terlihat berbeda saat itu, dari senyum yang terindah dan ekspresi terlucu saat sewotmu. Aku tersenyum melihatmu. Terpana.
“Maaf ya kak..” ucapmu lirih mencoba mencairkan suasana sambari memberikan kembali bungkus roti padaku tanpa menoleh. “Tidak apa-apa. Tapi .. jangan panggil aku kakak dunk..ya?” pintaku. Aku sengaja memegang tanganmu yang memegang bungkus roti itu, dan hanya mengambil sedikit roti di dalamnya lalu kulemparkan diantara angsa yang sedang asik berenang di danau.
Kamu menoleh ke arahku, bingung. Aku hanya tersenyum. “Jangan memanggilku kakak. Panggil saja namaku, gak pa pa kok…” jawabku saat kamu terheran dan sikapku. Sejurus kemudian kita sudah asyik bermain-main dengan angsa yang mulai menjinak dengan roti yang kita lemparkan.
Tak terasa waktu ternyata sudah tengah hari. Suara adzan sayup terdengar menerobos diantara rimbunnya pepohonan. “Alhamdulillah, shalat yukk…??” ajakku. Kamu menolak dengan halus. Kamu beberapa kali menahanku untuk melaksanakan ibadah. Mungkin karena kamu tidak ingin aku tinggalkan meski sejenak. Tapi aku juga tetap bersikeras untuk melaksanakan ibadah. “Aku sedang berhalangan” katamu. “Owh.. aku shalat dulu ya?” ijinku sambil tersenyum meninggalkanmu sebentar.
Kamu masih bermain dengan angsa-angsa yang terlihat semakin jinak denganmu saat aku selesai shalat. Aku berjalan santai. Rasanya segar sekali setelah shalat. “Alhamdulillah..” lirihku sambil berjalan menuju tempatmu bermain dengan angsa-angsa itu.
Tak terasa hari sudah semakin sore, aku mengajakmu pulang. Tanpa kusangka kamu minta di antarkan. Kamu bilang rumahmu jauh dan tidak berani pulang sendiri, padahal waktu baru saja pukul 3 sore. Hemh, kamu ini gadis yang aneh, baru saja kenal denganku tapi sudah sangat manja. Aku tidak tega melihat raut wajahmu dan suara memelasmu. Mau  gimana lagi, aku turuti kemauanmu. Kamu tersenyum, manja.
Ternyata rumahmu tidak lah jauh dari tempat kita bertemu. Hanya sekitar 10 menit. Aku dikerjai untuk pertama kali oleh cewek yang pertama kali ku kenal. Hufft. Sialan. Umpatku dalam hati.
Kamu menghentikan motormu di depan rumah. Aku yang kesal sudah dikerjain sengaja berhenti di sampingmu. “Kamu ngerjain aku ya?!” kesalku. “Hehehe. Maaf ya maaf. Aku Cuma pengen dianter sama kakak. Maafin ya kak?” jawabmu sambil tertawa kecil dan wajahmu itu. Ah aku tidak sanggup melihatnya. “Okelah, aku maafin, aku pergi ya. Assalam…” belum sempat aku selesai dia menghentikanku.
“Tunggu tunggu. Bentar turun dulu turun.”
“Kok? Ada apa lagi dhe?”
“Pokoknya turun dulu. Kalau belum turun, gak aku ijinin pulang.” Pintanya memaksa.
Haduh, ni cewek. Baru pertama kali ketemu udah ribet amat si? Umpatku dalam hati.
“Okelah. .”. Aku mematikan motorku dan berdiri di depannya. “Udah turun nih. Aku pulang ya?” ucapku sambil membalikkan badan menuju motorku. Tanpa ku kira, kamu langsung menyeretku ke dalam. Masuk rumah. Aku mencoba berontak, tapi genggamanmu erat. Terlebih lagi kamu ini cewek, kalau aku lepaskan paksa pasti terjatuh.
“Ada apa sih?!” tanyaku. Namun tak kau jawab. Sampai depan pintu, kamu mengetuk pintu. Sebelum seorang keluar dari balik pintu, kau melepaskan tanganmu dariku.
“Siapa itu dhe?” Tanya seorang wanita yang baru saja muncul dari balik pintu. “Mama, ini kak Zaka. Kak Zaka, ini Mamanya Dewi” jelasmu sambil tersenyum. Senyum bahagia dari seorang wanita yang mengenalkan orang yang dia sayang ke ibunya. “Assalamu’alaikum ibu.” Ucapku padanya. “Wa’alaikum salam nak Zaka. Mari masuk sini. Ayuk Dhe, ajak temanmu masuk” ajak ibunya sambil memasuki rumah.
Aku mau tak mau harus masuk, menurutku tak sopan jika aku langsung pergi. Ibumu sangat ramah padaku, entah sepertinya ada raut wajah yang berbeda dari wajahnya. Wajah orang tua yang sangat mengharapkan kebahagiaan putrinya.
Dari cerita yang dituturkannya, aku tahu kamu anak gadis satu-satunya yang dimiliki ibumu dan ibumu sangat sayang padamu. Bahkan kamu sangat akrab dengan ibumu. Aku sampai tersenyum saat kamu dan ibumu berdebat tentang angsa di danau tadi. Kamu tak mau kalah, mungkin malu untuk kalah dengan ibumu saat ada aku. Aku tak tahu, tapi kamu ngotot tak mau mengalah. Hingga ibumu akhirnya mengacak-acak rambutmu dengan sayang. Aku sendiri hanya tersenyum melihat tingkahmu. Lucu.
@@@
Aku tak tahu apa yang terjadi saat ini, tapi ku tahu itu bukanlah kamu yang ku kenal saat itu. Aku seakan kehilangan sosokmu, kamu seolah menghilang dari perinderaan rasaku. Kamu aneh. Kamu kenapa Dhe? Sejenak aku terpana, tak tahu apa yang harus ku lakukan. Melihat mobilmu keluar dari sekolah dan tak ada klakson yang biasa dibunyikan sopirmu, aku melihatmu mobilmu sampai menghilang dari pandangan.
“Zak, kenapa Dewi? Kok jadi aneh gitu? Zak.. Zaka!” tanya Astri menyadarkanku.
“Eh, aku juga gak tau Tri. Dia kok aneh kayak gitu ya?”
“Ditanya malah tanya balik, kamu gimana sih?” tangannya menepuk bahuku, kesal.
“Aku juga gak tau Tri. Ak aku.. aku akan mencari tahu” jawabku sembari pergi ke dalam mengambil kunci motor dan tasku di dalam ruang kelas.
@@@
“Bee, kamu lama gak keliatan? Bahkan kantong madumu belum pernah kamu isi lagi, suara dengungan sayapmu juga hampir menghilang. Kamu habis kemana Bee?” tanyamu memberondong saat aku tiga hari aku tak menemuimu.
“Maaf  De, hpku mati. Masih diperbaiki di counter hp, maaf ya gak ngasih tau. Aku tadi buru-buru ke sini, Astri bilang kamu lagi gak enak badan. Udah minum obat belum De?” tanyaku khawatir. Wajahmu pucat, kamu sedang tidak sehat. Aku menyesal tak memberimu kabar hingga kamu sakit saja aku tak tahu.
“Belum Bee, ini aku mau makan terus makan obat.” Katamu sambil mengeluarkan bekal makanan yang sudah kamu persiapkan dari rumah.
“Syukurlah, cepet dimakan. Aku temenin ya?”
“Nih, buat Lebahku biar gak malu nemenin De. Bee belum makan kan?” katamu sambil menyodorkan makanan ringan untukmu. Aku menatap matamu, mencoba menolak tapi kamu menyodorkan padaku.
“Kalau gak diambil, aku gak mau makan!” katamu cemberut melengos tak menatapku.
“Oke oke, Bee ikut makan. Maafkan Bee ya De. ” kataku sambil mengambil makanan yang kamu sodorkan. Aku tak sanggup melihat raut wajahmu seperti itu.
“Nah gitu donk Bee, ntar ibu marah kalau Bee gak mau ntrima kue ini. Ini buatan ibuku hlo Bee” jelasmu dengan senyum riang. Ah, sinar itu kembali memancar dari wajahmu. Sinar aneh yang entah hanya ku lihat dari dalam matamu. Aku tersenyum melihatmu.
“Ohya? Pasti enak nih. Kok bukan buatan kamu De? Bee pengen yang buatan kamu, buatin ya?”
“Oke Bee, tar aku buatin yang manis. Semanis madu yang biasa kamu ambil.” jawabmu sambil memakan bekal.
Bel tanda  masuk kelas berbunyi nyaring. Aku sudah tenang melihatmu sudah meminum obat untuk kesembuhanmu. Syukurlah.
“Ntar anterin aku pulang ya Bee?” pintamu sebelum aku pergi. Aku berbalik menatapmu ragu, tak yakin dengan apa yang baru saja kamu ucapkan. “Nanti anterin aku pulang ya? Aku tunggu Kak Zaka di sini”.
“Ha?” jawabku ragu. Lalu wajahmu itu… “Oke oke, baiklah. Ntar Bee anterin. Masuk kelas dulu ya?” jawabku sambil berlari keluar menuju kelas.
@@@
Aku berjalan menuju rumahmu dengan perasaan tak tenang. Aku sungguh tak pernah melihat kamu seperti itu sejak aku mengenalmu. Apa yang terjadi? Apa yang harus aku lakukan? Aku tak mau kehilangan senyummu, tawamu, sapamu, manjamu. Tak ingin melihatmu sedih atau menangis. Atau mungkin lebih tepatnya aku tak mau kehilanganmu.
Di depan rumahmu tampak tak ada sesuatu yang mengganjal. Sepi. Aku bertanya pada Mbok Mijem, katanya kamu belum sampai rumah. Kakekmu sedang sakit di Rumah Sakit dan Ibumu sedang disana. Mbok Mijem menyarankanku untuk ke rumah sakit, mungkin kamu ada di sana. Tapi kenapa kamu tak pernah mengatakan kalau Kakek sedang sakit? Ah, kamu.
Aku memacu motorku menuju Rumah Sakit Margono. Aku khawatir. Apa yang terjadi? Aku memacu motorku secepat yang ku bisa, tak  peduli teriakan tukang becak yang terkena cipratan air saat aku melewati genangan air di depan mereka. Aku mengkhawatirkanmu. Aku memarkirkan motorku dan langsung menghambur mencarimu. Meski aku tak tahu di ruang manakah kamu sekarang berada.
Hendarto, 72th. Mawar no 1
Pikiranku melayang, mengenang kebersamaan denganmu yang entah mengapa dengan begitu saja memenuhi seluruh otaku.Dulu kamu pernah bercerita, kalau kakekmu adalah sosok laki-laki yang sangat kamu sayang setelah ayahmu. Ayahmu meninggal satu tahun setelah kamu dilahirkan karena serangan jantung dan kamu hanya mengenal wajah ayahmu melalui foto-foto yang ibumu berikan padamu. Kakekmu sudah kamu anggap sebagai ayahmu sendiri dan kamu sangat menyayanginya, kamu pasti sangat sedih.
Setelah berkeliling dan bertanya kepada perawat, aku akhirnya menemukanmu. Aku lihat kamu sedang berjalan keluar dengan wajah yang lusuh. Kamu habis menangis? Aku mengamatimu duduk di kursi lobi depan ruang. Bahkan kamu pun tak menyadari aku mengamatimu, tak biasanya.
“De, kamu kenapa nangis?” tanyaku setelah aku duduk disampinya.
Dia menoleh, wajahnya sendu belum dapat mengatakan apapun padaku. Kamu hanya memegang tanganku erat tanpa memandangku.
“Nak Zaka?”
“Iy iyaa…” aku kaget mencoba melepaskan genggaman tangannya, tapi terlalu erat. Pak Abdul yang tak lain adalah Pak Dhenya Dewi menyapaku. Aku bersalaman dengannya. Menanyakan apa yang terjadi, tapi tidak sampai dijawab. Mungkin Pak Abdul tak mau menambah kesedihan keponakannya. Sejenak kemudian Ia kembali masuk, mungkin beliau hanya memastikan kondisi keponakannya baik-baik saja.
“Bee… “ katanya lirih.
“Iya De, Bee disini. Jangan nangis donk De? Masak dari tadi belum ngasih senyumnya buat Bee si?”
“Bee…” genggamannya semakin erat. Aku mencoba menolehkan wajahnya ke arahku.
“Udah dunk, jangan sedih kayak gitu. Bee gak tau apa apa jadi ikutan sedih nih…”jawabku.  Tapi dia hanya menyandarkan kepalanya di bahuku dan genggamannya erat. Tiba-tiba dia bangkit membawaku masuk ke dalam ruang. Sesampainya di dalam, aku kaget. Kakek sudah tergolek lemas di ranjang, selang infuse dan alat bantu pernafasan sudah terpasang. Bahkan monitor detak jantung juga sudah terpasang. Wajah yang biasanya ku temui bercahaya, kini seakan meredup. Kakek lemah, tapi masih sadar bahkan menyadari kedantanganku.
“Na.. nak Zaza…” ucapnya lirih dan parau saat aku mendekat.
“Iya Kek, ini saya. Zaka.” Jawabku. Aku dipersilahkan duduk disamping Kakek oleh ibunya Dewi.  Dari dekat aku dapat mengamati wajah kakek yang mulai kehilangan tenaganya.
“Kakek, kakek cepet sehat ya kek.” Kataku, tapi ia membalasnya dengan senyum khas yang biasa ia berikan padaku.
“Za.. Zaka.. kamu anak yang baik. Kakek gak tau apa mungkin besok bertemu dengan ..uhuhukk huhuukk. Nak Zaka, kakek bertahan sampai saat ini hanya ingin lihat cucu kakek tercinta menikah sebelum kakek meninggal” katanya padaku dengan senyum khasnya yang biasa ia berikan padaku.
Aku hanya mendengarkan apa yang kakek ucapkan, tak mengambil apa arti dari yang kakek ucapkan. Karena aku benar-benar tak mengerti apa yang beliau ucapkan padaku.
“Yang kuat Kek, Kakek pasti sembuh. Pasti sehat sampai Dewi menikah. Kakek cepet sembuh ya?” jawabku menyemangati.
Kakek tersenyum. Memandangku dan Dewi yang duduk bersebelahan.
“Nak Zaka… maukah menikah dengan Dewi?” katanya mantap saat matanya menatap mataku.
Deg! Apa yang baru aku dengar? Apakah aku bermimpi? Apakah kakek bercanda mengatakan itu? Aku belum bekerja, bahkan masih kuliah. Memang aku terkadang menjadi penulis di surat kabar, tapi uang hasil itupun ku gunakan untuk memenuhi kebutuhanku sendiri. Ah, kakek ini becanda. Aku mengenalya, dia memang humoris. Semoga ini hanya becandaan yang biasa ia lontarkan padaku.
Aku hanya tersenyum tak menjawab apa yang kakek tanyakan padaku. Aku terlalu takut untuk kehilangan Dewi, tapi menikah masih 2 atau 3 tahun lagi dari targetku. Aku…
“Bee .. Bee ..” kata Dewi menyadarkan lamunanku
“Nak Zaka, , , “ sapa Bu Indah. Aku memalingkan wajahku kepadanya. “Apakah Nak Zaka mau menikah dengan Dewi?” tanyanya mengulang pertanyaan kakek.
“Ee.. emm.. maaf bu, tapi apakah tidak terlalu mendadak? Ibuku belum tahu bu. Bahkan aku belum mengabari ibu dirumah kalau kakek sedang sakit.” Jawabku sengaja mengalihkan pembicaraan. Menikah? Belum terfikirkan olehku sama sekali.
“Baik, nanti ibu yang kasih tau ibumu Zak. Jangan khawatir. Jadi, kamu siap menikah dengan Dewi?” tanyanya mengulang.
“Aku…”
Aku membuang tatapanku dari tatapan Bu Nisa. Aku menangkap wajah Pak Abdul yang resah, tatapannya seakan memintaku untuk menjawab “iya”. Berharap orang tuanya masih bisa tersenyum di akhir hidupnya. Tapi, menikah? Genggaman tangan Dewi menguat, memaksaku untuk segera menjawab. Aku menatap wajahnya, mencoba mencari matanya yang ia sembunyikan. Tatapan penuh harap. Ia tak mau melihat kakeknya bersedih, ingin melihat kakeknya sehat dan kembali mengisi hari-harinya.
“Bee, tolong jangan buat kakek kecewa. Dokter bilang, kakek tidak boleh sampai sedih. Atau itu akan menambah parah kondisinya.” bisiknya padaku.
Aku kembali membuang pandanganku ke ruangan. Bu Nisa, Pak Abdul dan keluar jendela melihat awan-awan yang berarak mulai bergerombol. Langit mendung.
“Na Nak Zaka.. Ma maukah kamu menikah dengan Dewi?” tanyanya parau dengan tatapan yang tak bergeming sedikitpun.
“Sa saya.. saya mohon maaf Kek. Tapi bukankah ridho orang tua adalah segalanya? Terlebih itu ridho sang ibu. Sa saya minta ijin untuk memohon ijin pada ibunda dulu Kek.” Kataku lirih agar beliau paham.
Dia tersenyum menatapku. Senyum bijak yang ditampakkan oleh seorang pria yang telah berumur.
“Alhamdulillah. Terimakasih Nak Zaka. Kakek yakin kamu anak yang baik. Ayo hubungin ibumu dulu. Nanti Kakek dikasih tahu jawabannya ya?” katanya dengan nada yang ringan seperti orang sehat.
“Iya Kek, permisi Kek.” Kataku padanya sembari keluar menelpon ibu. Aku memandang sekeliling ruang. Raut wajah Dewi, Bu Ayu, Mbak Andini, Bu Abdul dan Pak Abdul terlihat sumringah. Entah karena apa, yang jelas bukan karena jawabanku. Tapi karena suara Kakek yang terlihat sehat.
Aku keluar ruang, Dewi membuntut. Tapi aku menyuruhnya untuk menemani Kakek. Belum sempat aku menutup pintu, Pak Abdul keluar menemuiku. Sepertinya ada yang penting yang mau disampaikan beliau untukku. Aku diajaknya duduk di kursi tunggu di luar yang sedikit tenang. Dari bahasa tubuhnya, memang ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikannya padaku.
Beliau menceritakan hampir semua yang terjadi sampai Kakek dirumah sakit. Dari cerita yang dituturkannya, aku tahu Kakek sangat menyayangi Dewi dan menginginkan yang terbaik untuk cucunya itu. Bahkan penyakitnya sekarang mengharuskan Kakek hanya mendengar berita-berita positif saja. Setelah dirasa cukup, Pak Abdul menyuruhku segera menelpon ibuku dan mengharapkan hasil yang terbaik. Tapi aku tak bisa menjanjikan itu. Semua bergantung pada ibuku.
“Insya Allah Pak Dhe. Allah akan memberikan yang terbaik” jawabku. Tangannya memegang pundakku, seakan yakin padaku. Beliau hanya tersenyum lalu meninggalkanku untuk memutuskan semuanya padaku.
Aku menghubungi ibu, tanpa disangka ternyata ibu sudah mengetahui semuanya dari Bu Nisa yang sudah menghubunginya tadi pagi saat Kakek dirawat di ruang ICU selama beberapa jam. Dari cerita yang disampaikan ibu, ternyata dulu Kakek Dewi adalah gurunya sewaktu di SMA. Bahkan ibu menjadi murid kesayangan Kakek sewaktu masih menjadi guru dulu. Aku protes mengapa tak memberitahuku dari tadi pagi. Tapi ibu memang tidak boleh memberitahukan semuanya padaku atas permintaan Bu Nisa.
“Nak, semua ibu serahkan padamu. Kamu sudah besar, tahu apa harus kamu lakukan. Shalatlah lebih dulu, biar hati dan fikiranmu tenang. Minta petunjuk sama Yang Maha Tahu, Insya Allah diberikan yang terbaik Nak.” Jelasnya panjang lebar. Apakah artinya aku sudah direstui ibuku.
“Baiklah Bu. Doakan yang terbaik yang Bu.”
“Pasti anakku. Sudah dulu ya, ibu mau masak dulu. Ada pengajian di masjid depan”
“Iya bu. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumuslam”
@@@
Aku memutuskan untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Hari ini sungguh sangat aneh, otakku diperas untuk mengkhawatirkan Dewi yang bertingkah aneh karena Kakek sedang sakit. Sedangkan sekarang aku harus memutuskan dengan segera langkah yang bukan main main. Menikah. Permintaan suci yang baru saja diminta oleh Kakek dan harus segera aku jawab.
Aku membasuh mukaku dengan air wudhu. Sungguh menyegarkan dan menenangkan, ailran darah seakan lancar dan menyegarkan otak serta hatiku. Lantas aku melakukan shalat sunah tahiyatul masjid, shalat sunah taubat dan shalat sunah tasbih.
Aku merasakan ada kekuatan lain yang merasuk. Hatiku sungguh tenang dan tentram.
“Semoga pilihan ini akan mendatangkan kebaikan bagiku, keluargaku, agamaku, duniaku dan akhiratku. Aamiin.” Lirihku dalam sujud. Menenangkan diri dengan berbisik kepada Allah. Sungguh moment yang aneh.
@@@
Aku keluar masjid. Merasakan sepasang mata mengawasiku, entah siapa. Aku tak peduli, kalau ada perlu juga nanti ketemu, fikirku. Aku berjalan menuju ruang kakek dirawat. Tak ku sangka di dalam ruang sudah ada penghulu dan seperangkat alat sholat untuk mahar. Bukan aku yang menyiapkan, bahkan bukan Pak Abdul atau yang lain di dalam ruang.
“Si, siapa yang menyiapkan ini Pak?” tanyaku.
“Bukankah ini kamu yang menyiapkan Nak Zaka? Bapak pikir tadi kamu yang menghubungi orang-orang ini. Bapak tahunya kamu yang menyiapkan.”
“Bu.. Bukan saya ..”
“Assalamu’alaikum” ucap seorang wanita yang sudah tak asing lagi di kehidupanku.
“Wa’alaikumusalam” ucap semua yang ada di dalam.
“I, ibu?”
“Iya Zaka. Ibu tidak mau terlambat menyaksikan putra kesayangan ibu menikah.” Jawabnya dengan ringan dan senyum sumringah.
“Iya Kak, Nisa juga nggak mau ketinggalan. Ini sama Paman Indra dan Pak Sholeh” jawab adikku dengan girang.
“Ja jadi..??”
“Iya, ibumu yang menyiapkan semuanya. Tadi Paman kesini dan menyiapkan semuanya. Tenanglah Nak, jangan khawatir.” Jawab Paman Indra sembari memegang pundakku, seakan sudah yakin padaku.
“Ini sudah tugas Paman, ayahmu dulu sudah mewasiatkan Paman untuk menjadi wali saat kamu menikah.” Lanjutnya.
@@@
“Saya terima, nikah dan kawinnya Khairunnisa Dewi dengan seperangkat alat sholat dan uang sebesar seratus lima puluh ribu dibayar tunai.” Kataku mantap sembari tanganku dipegang erat oleh Pak Abdul Mujib. Kakek terbaring didepanku. Menyaksikan cucu tersayangnya menikah, sinar wajahnya terlihat cerah dengan shalawat lirih yang selalu ia ucapkan.
“Sah?” tanya sang penghulu kepada semua yang ada di ruangan. Ada Dokter Budi, dokter keluarga Bu Dewi yang merawat Kakek dan satu perawat wanita berkerudung. Dari keluargaku Ibuku, adiku, Pamanku dan Pak Sholeh selaku Pak Kadus di tempatku. Dari keluarga Bu Ayu ada Bapak dan Ibu Abdul dan dua putrinya, Pak Ajiz paman Dewi dengan istrinya dan anaknya yang masih kecil, kemudian seorang Ustadz dan tentunya Kakek Hendarto yang terbaring lemah.
“Sah! Sah!” jawab semuanya.
“Alhamdulillah. Barakallah…” disambung dengan do’a yang dilantunkan penghulu. Aku melihat Kakek yang berada disamping Pak Abdul, telihat matanya berkaca. Tangis bahagia melihat cucunya menikah. Pun dengan Pak Abdul.
Untuk pertama kalinya Dewi memegang tanganku dengan halal. Dia mencium tanganku sebagai seorang istri dan aku membelai kepalanya yang dibalut kerudung putih sebagai seorang suami. Entah kenapa mataku menghangat dan berkaca saat membelai kepalanya yang terlindungi kerudung putih. Aku ingin menangis dan memeluknya.
“Bee, aku sudah halal untukmu. Bimbing aku ya Bee?.” Katanya lirih saat menatapku matanya berkaca. Bahagia.
“Insya Allah De” singkatku.
Seusai do’a, Ustadz Zainudin memberikan sedikit tausiah. Atau lebih tepatnya pesan bagiku. Aku sekarang sudah menikah, dan ini bukanlah main-main. Aku sudah mempunyai tanggung jawab yang lebih besar. Tidak lama, Kakek juga memberi pesan padaku dan pada Dewi.
“Dewi… Zaka…”
“Iya Kek.” Jawab kami bersamaan.
“Alhamdulillah, akhirnya kakek masih melihat kalian menikah. Kakek berdoa kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Selalu dilindungi dan dijaga olehNYA dan selalu dilimpah berkah dan rahmatNYA.”
“Aamiin..”
 “Ayu, bimbinglah anakmu ini ya? Mereka masih muda, masih butuh bimbingan. Sabarlah membimbing mereka. Aku titipkan mereka padamu Nak” katanya menatap Bu Ayu yang berdiri disamping Pak Abdul.
“Bu Zul, Pak Indra. Terimakasih atas ketersediaannya menerima pernikahan ini. Saya menitipkan cucu saya Dewi kepada kalian. Saya mohon bimbinglah mereka dengan sabar.”
“Insya Allah Kek.” Jawab Paman.
“Dengan begini, Kakek bisa pergi dengan tenang.” Lanjutnya.
“Jangan bilang seperti itu Kek, Dewi gak mau Kakek bilang seperti itu. Kakek pasti sembuh, pasti sehat.” Timpal Dewi dengan nada sedih, matanya berkaca. Aku memegang tangannya.
“Iya Kek, Kakek pasti sembuh. Zaka yakin itu.” Kataku yang entah mengapa tiba-tiba ingin menangis. Terharu dengan pernikahan ini dan sedih akan perpisahan yang akan terjadi. Entah mengapa aku tak tahu. Aku hanya ingin menangis, meluapkan emosi agar semua tahu aku bahagia dan sekaligus aku sedih tak inginkan perpisahan ini terjadi.
“Asyhadu alla ila ha illallah. . wa Asyhadu anna muhammadarrasulullah” ucapnya lirih dengan senyum, lalu matanya terpejam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar