Assalamu’alaikum
warahmatullah. Bismillahhirrahmannirrahiim..
Telah
5 tahun sudah aku mencoba untuk mempertahankan hati ini untuknya, walaupun aku
belum pernah melihat, mendengar, berinteraksi dan bertemu dengannya secara
langsung untuk menjaga kesucian hatiku kepadaNya. Cerita ini berawal ketika
hidayah itu telah datang dan dengan datangnya itu mampu mengubah sedalanya
menjadi lebih indah dan terarah untuk ku tempuh.
Dahulu
aku adalah seorang anak manusia yang biasa-biasa saja, seperti anak muda normal
lainnya. Akupun terkadang sering jatuh cinta kepada siapa yang aku kagumi. Hampir
setiap hari mungkin hidupku terbiasa akan hal itu, hingga hal itu menjadi
sesuatu yang lumrah dalam pribadiku.
Namun,
pada suatu ketika datanglah hidayah kepadaku. Hidayah yang didasari dari materi
Cinta Kepada Allah yang banyak aku pelajari dari sekelilingku ditambah dengan
materi dari guru ngajiku ketika mentoring di sekolah. Hidayah itu menumbuhkan
aku untuk mencintai Rabb (Tuhan) sehingga membuatku rela untuk menyingkirkan yang
lainnya di hatiku terkecuali aku mencintainya karenaNya.
Kedatangan
Cahaya itu mampu membuatku membuka mata hatiku dalam mengaplikasikan cinta,
tanpa harus membawaku kepada jurang kehancuran. Sehingga akupun mulai
berhati-hati terhadap hatiku dalam mencintai agar Cintaku kepada Allah yang
telah DikaruniakanNya kepadaku mampu ku jaga karena aku menyadari bahwa hatiku
miliknya. Dan karena akupun juga menyadari bahwa cinta yang salah mampu
melumpuhkan kualitas Cintaku denganNya, sedangkan yang aku harapkan adalah
CintaNya karena tidak ada yang mampu mencukupiku kecuali Dia.
Sejak
kedatangannya, hidayah itu mampu merubah segalanya yang ada pada diriku seperti
masalah cara berfikir dan kepribadianku hingga orientasiku dalam mencintai
sesuatu. Termasuk masalah ketertarikanku dalam menyukai sesuatu. Jika
sebelumnya mungkin aku tertarik dengan wanita yang biasa-biasa saja, maka
setelah Hidayah itu datang justru hatiku tertarik untuk menyukai muslimah
dengan busana khas dan sikapnya yang cenderung pemalu. Dan oleh karena itu
akupun berharap agar Allah menakdirkanku untuk menikah dengan salah satu
diantara mereka, muslimah yang shalehah. Insya Allah, Allahumma Aamiin. Karena
aku mengetahui bahwa menikah adalah Sunnah Rasulullah.
Hidayah
itupun mampu mengajarkan aku dalam mengendalikan perasaanku agar hatiku tidak
salah dalam menyikapi apa yang menarik hatiku. Karena bagiku rasa
ketertarikanku cukuplah aku tumpahkan kepada istriku kelak walaupun aku belum
pernah bertemu dengannya. Karena sejak awal, hidayah itu mampu membuatku
memahami diriku dan hakikat mencintai pasanganku walaupun sebelum aku menikah
dengannya tanpa membuat aku cenderung melupakan Allah lantaran aku memahami
bahwa kalau saja Allah menjadikanku aku menikah dengan seseorang perempuan yang
ditakdirkan Allah kepadaku maka untuk apa aku berharap dan menghabiskan waktuku
kepada yang lainnya yang belum tentu akan menjadi istriku kelak, sedangkan hati
ini mudah terdominasi dengan sesuatu hal yang lain jika kita tidak mampu
mempertahankan hakikatnya dalam mencintai Rabb?.
Dan
karena akupun tidak memungkiri bahwa setiap manusia yang normal pasti akan
merasakan fitrahnya, termasuk permasalahan ketertarikannya kepada lawan jenis,
maka jika harus demikian, menurutku untuk apa jika hati ini aku tambatkan
kepada siapa yang bukan orangnya nanti, jika memang hati ini sangat peka
terhadap pengaruh diri yang memilikinya ketika hati itu salah dalam
pengelolaannya. Oleh karenanya, aku memahami bahwa: Jika memang aku harus
mencintai lantaran mencintai lawan jenis adalah fitrahku sebagai manusia maka
aku akan mencoba untuk mencintai siapa yang akan aku nikahi nanti walaupun aku
belum pernah bertemu dengannya, lantaran pasti Allah akan mempertemukannku
dengannnya, sehingga usahaku yang sia-sia akan cenderung berkurang di dalam
lingkup fitrahku. Insya Allah.
Sejak
saat itu hatiku mulai tersadarkan untuk meninggalkan hal-hal yang sia-sia dalam
cinta yang tidak memberikan manfaat kepadaku dalam MencintaiNYA dan cinta yang
mampu membuat hatiku cenderung meninggalkan Rabb.
%%%
Waktupun
berjalan seiring kegembiraanku atas datangnya hidayah itu. Hingga tanpa aku
sadari godaan-godaan kecilpun datang dari sekelilingku untuk menyukai muslimah
yang aku rasa belum saatnya aku harus bersikap demikian kepadanya. Tanpa aku
sadari hal itu mampu membuatku sedikit gundah, mungkin karena aku belum mampu
mengendalikan fikiranku terhadap apa yang mempesonakanku terhadap mereka.
Kegundahanku
itu membuatku khawatir jika demikian maka nikmat karunia yang berupa Hidayah
itu akan menyingkir dari diriku lantaran sikapku yang salah. Sehingga akupun
berdoa untuk meminta petunjuk kepada Allah agar Allah mengkaruniakanku
kefahaman agar aku terus istiqomah untuk menyikapi hatiku ketika ia harus
menghadapi fitrahnya.
Singkat
cerita, lantaran aku mengetahui bahwa istikharah adalah salah satu cara yang
dapat meyakinkan diri kita terhadap suatu pilihan, oleh karenanya setiap godaan
itu datang dan di setiap ketidakmampuanku dalam menjaga diriku dalam mengelola
hati, maka akupun berusaha mengistikharahkan siapapun yang mempesonakanku agar
aku dapat mengetahui diantara mereka siapakah orang yang aku “cari” sehingga
hal itu dapat cenderung membuatku terhindar dari kesia-siaanku dalam
pengelolaan hati yang salah yang aku takutkan dapat cenderung mampu melumpuhkan
rasa Cintaku kepada Rabbku.
Setelah
aku membiasakan diri untuk istikharah di setiap waktu ada yang mempesonakanku,
seolah dengan itu hatiku mampu diyakinkan kepada siapa yang akan aku nikahi
nanti walaupun aku belum pernah mengenalnya. Sepertinya dirinya telah terkesan
di hatiku sehingga hal itu mampu membedakan dirinya dengan yang lainnya,
kemudian dengan itu dapat membuatku melepasan harapan dan keinginan hatiku
kepada arah yang salah dalam pengelolaannya terhadap siapa yang bukan orangnya.
Mungkin inilah cara Allah dalam meyakinkanku untuk mempertahankan hatiku kepada
siapa yang pantas aku cintai nantinya yang salah satunya diperolah melalui
jawaban dari istikharah-istikharah itu.
Walaupun
demikina, aku masih tetap seperti dengan manusia normal lainnnya. Hal itu ku
buktikan dengan masih adanya rasa kagum dengan muslimah yang mempesonakanku.
Namun keberadaan mereka tidak sempat singgah dihatiku lantaran hatiku seolah
gelisah ketika aku mendapati orang yang salah jika ku di “sembarang” tempat di
hatiku. Namun ketika aku mengingat tentang sosok yang aku yakini akan aku
nikahi nantinya, dan ku hadirkan dia di hatiku, meskipun aku belum mengenalnya
dan aku belum mengetahui jasadnya, maka entah mengapa perasaanku seolah
(cenderung) tenteram karenanya. Mungkin hal itu terjadi karena hatiku telah
berfatnya terhadapnya.
Mengenai
hati yang berfatwa, aku menjadi terngat dengan sebuah hadits Rasulullah, bahwa
:
Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah ketika jiwa dan hati menjadi tenang kepadanya. Sedangkan al-itsm (dosa) adalah yang membingungkan jiwa dan meragukan hati. Meskipun manusia memberi fatwa kepadamu. (HR. Muslim)
Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah ketika jiwa dan hati menjadi tenang kepadanya. Sedangkan al-itsm (dosa) adalah yang membingungkan jiwa dan meragukan hati. Meskipun manusia memberi fatwa kepadamu. (HR. Muslim)
Mungkin
karena ketentraman dan kegelisahan yang aku dapati itulah dapat membuat diriku
mengurungkan diri untuk tidak melepaskan tambatan hati ini kepada orang yang
bukan dirinya yang akan aku nikahi nanti.
%%%
Waktu
berjalan dengan caraku menjaga hati itu, membuat hidupku lebih tersenyum
lantaran kegundahanku itu mengurang seiring usahaku dalam meyakinkan hatiku
untuk tidak salah dalam pengelolaannya melalui istikharah-istikharah kepada
Rabb. Semua itu aku lakukan untuk mempertahankan hatiku kepada Pemiliknya
karena aku berharap agar Pemiliknya tidak tersingkir dari singgasananya
lantaran pengelolaannya yang salah.
Namun,
cobaan belum begitu saja berakhir hingga pada suatu ketika Allah sibakkan aku
bertemu dengan seorang muslimah yang begitu mengagumkan. Dia berbeda, tidak
seperti muslimah yang pernah aku temui pada biasanya, lantaran keberadaannya
entah mengapa hampir menyerupai perasaanku terhadap sosok yang akan aku nikahi
itu.
Kemungkinan
ini jauh dari apa yang aku bayangkan, karena hal ini sepertinya akan lebih
mengancam pertahananku dalam mempertahankan hatiku untuk Rabb. Apalagi aku
menyadari bahwa wanita merupakan godaan terbesar laki-laki.
Terkadang
fikirankupun terbuai dengan dirinya di saat-saat aku kurang siaga dalam
memelihara hati ini untukNYA. Hingga akupun kehilangan definisi dalam
mempertahankan hatiku untukNYA. Mungkin karena terpesonanya aku dengan
keserupaannya dengan kayakinanku terhadap sosok yang akan ku nikahi itu,
membuatku terlupa untuk mengetahui jawabannya dengan istikharah-istikharahku
dalam usahaku meyakinkan diriku atasnya.
Dan
tanpa ku sadari…
Hal-hal
Rabbani (Ketuhanan / keislaman) yang aku kenali seolah menjadi nuansa yang
datar di hati. Awalnya ku anggap hal itu sebagai future (menurunnya iman) yang
biasa, namun aku mendapati bahwa nuansa khas itu belum kunjung tiba dalam waktu
yang cukup lama dan ketika aku telah lelah menunggu kedatangannya kembali.
Hal-hal
yang dahulunya begitu peka di relung-relung hati ini seolah berkurang
penginderaannya. Hingga akupun menyadari bahwa hal ini terjadi karena sikapku
yang salah dalam pengelolaan hati terhadap seorang muslimah yang menyerupai
sosokyang akan aku nikahi itu.
Ketika
aku tersadar, hal itu dapat membuatku takur ketika aku berfikir jikalau Allah
memfuturkanku dengan keadaan yang demikian. Jika demikian, aku harus melakukan
tindakan pencegahan agar perbuatanku tidak menjadikan keburukan bagiku.
Sesekali
ku coba bertanya dalam hati, bahwa jika memang dirinya adalah orangnya maka hal
itu seharusnya tidak membuatku jauh dari Allah. Lantaran dasarku menambatkan
hati kepadanya adalah karena Cintaku Kepada Rabb. Hingga akhirnya aku menyadari
dari gerak hatiku bahwa bukan muslimah itulah orangnya.
Hingga
keadaanpun mampu menegurku, sehingga dapat membantu menyadarkanku dari
kesalahan yang telah aku perbuat, meskipun pesonaku terhadapnya belum pulih.
(ada
part satu halaman yang hilang, lalu halaman seterusnya… )
kepada
Allah ketika malam itu. Dan hal ini sedikit-sedikit terbukti ketika aku
melakukan istikharah untuknya, perasaan tenang yang tidak aku temukan jika aku
meng-istikharahkan yang lainnya. Masya Allah…
Walaupun
sosoknya telah tersibakkan, namun jika aku disuruh menggambarkan wajahnya maka
aku tidak mampu , karena aku tidak bisa melihat jelas bagaimana wajahnya. Namun
sepertinya hanya hatikulah yang mampu mendeskripsikannya, hingga gambaran wajah
itu mampu membawaku kepada ketentraman dan ketenangan yang memuaskan hati.
Mungkin dengan ini, hatiku telah berfatwa lagi atas dirinya.
Namun,
bukan hanya wajahnya saja yang Allah tunjukkan kepadaku melainkan
karakter-karakter khasnya yang diperkenalkan kepadaku agar dengan itu mampu
membedakan membantuku mencari dirinya dengan yang lainnya secara lebih tepat.
Masya Allah..
Sebelumnya
aku mengira-ngira bahwa apa yang aku alami itu merupakan kebisaan fikiranku
dalam berimajinasi. Namun ketika ku telaah lagi, peristiwa itu dapat
mengingatkanku kepada apa yang pernah Rasulullah sabdakan dalam sebuah hadist,
meskipun hadist ini telah ditemukan olehku 5 tahun setelah kejadian itu.
“Rasulullah
saw bersabda kepada Aisyah, “Sebelum aku menikahimu, aku perah melihatmu dua
kali di dalam mimpiku. Aku melihat Malaikat membawa secarik kain yang terbuat
dari sutra, kukatakan kepadanya, “Singkapkanlah”, Malaikat itupun menyingkapnya
dan ternyata kain itu memuat gambarmu. Lalu ku katakana, “Jika ini merupakan
ketentuan Allah, maka dia pasti akan membuatnya terjadi” pada kesempatan lain
aku kembali melihatnya datang membawa secarik kain yang terbuat dari sutra.
Maka ku katakana kepadanya, “Singkapkanlah”, Malaikat itupun menyingkapnya dan
ternyata kain itu memuat gambarmu. Lalu aku berkata, “Jika ini merupakan
ketentuan Allah, maka dia pasti akan membuatnya terjadi. (HR. Bukhari, Muslim
dan Ahmad)
Subhanallah,
aku tidak percaya ini. Namun aku tetap bertawakal kepada Allah. Jikalau aku
mendapatkan kesalahan atas apa yang terjadi pada peristiwa tersebut.
Karena
aku menyadari bahwa muslimah tersebut ku lihat di mimpiku, maka akupun berdoa
kepada Allah agar Allah menghentikan keberadaannya di mimpiku lantaran aku
tidak menginginkan apa yang aku impikan itu adalah penyerupaan jin, terkecuali
di waktu ketika aku membutuhkan kedatangannya. Alhamdulillah, beberapa waktu
kemudian aku tidak memimpikannya lagi, hingga aku pun merasa lebih legaan
lantaran aku takut syaitan ikut campur dalam hal ini. Bagiku cukup dengan
Ketawakalan dan Keyakinan dari hatik yang terdalamlah yang sekiranya mampu
membuatku membedakan dirinya dengan sesuatu yang menyerupai dirinya. Semoga
Allah menunjuki kita semua kepada jalan yang benar. Allahumma Aamiin..
Memang
dirinya sudah tidak sering datang di dalam mimpi-mimpiku. Namun, dirinya
kadang-kadang datang diwaktu aku perlu ada yang menegurku. Entah mengapa setiap
kali aku berbuat zalim seperti halnya aku tidak mampu menundukkan pandanganku,
dirinya terkadang hadir di mimpiku beberaoa hari kemudian ataupuun bisa malam
harinya ketika aku tertidur untuk menegurku denga bahasa khasnya yang cukup
mampu menjadi nasehat dan introspeksiku atas perbuatan yang telah aku perbuat.
Bukan hanya itu, iapun juga akan terlihat memberikan nuansa kepuasannya yang khas ketika aku mampu mengendalikan
diriku. Dia seolah benar-benar telah hidup di dalam diriku meskipun aku tidak
mengenali siapa dirinya. Namun aku yakin dia ada.
Dan
ada pula beberapa hal special yang aku alami setelah peristiwa itu terjadi di
mana perasaanku merasa tidak nyaman ketika aku menempatkan seseorang wanita
untuk aku jatuh cintai jika bukan sosok tersebut. Hatiku seolah kering, tidak
menenangkan dan mampu meresapi indahnya rasa cinta itu seperti hal yang pernah
aku rasakan dahulu terhadap siapa yang mempesonakanku. Seolah hati itu telah
menjadi tidak peka terhadap cinta ketika aku sembarangan menempatkan seorang
yang salah di sana. Namun ketika aku ingat dengan sosok yang pernah hadir di
mimpiku itu, entah mengapa seolah hati ini begitu luas dan begitu ‘basah’ untuk
menempatkan dirinya di hati ini. Subhannallah, hal ini benar-benar mampu
mengajarkanku untuk mempertahankan perasaanku dengannya demu membantuku untuk
mempertahankan Kecintaanku Kepada Allah, lantaran aku menyadari bahwa hatiku
hanya satu sehingga aku tidak mampu jika harus mencintai lebih dari satu cinta
terkecuali aku mencintai yang lainnya karenaNYA. Insya Allah..
%%%
Mengenai
keberadaannya pernah menjadi pertanyaan bagiku, namun hatiku lebih tentram
ketika meyakini bahwa keberadaannya itu memang benar-benar ada. Meskipun aku
tidak tahu dimanakah ia saat ini. Jika saja muslimah sehebat Aisyah, Fatimah,
Khadijah, Asiah dan Maryam pernah hidup di bumi ini, maka hal itu membuatku
makin percaya akan keberadaannya.
Peristiwa
ini mampu menjadikanku tersadar akan keterbatasan kemampuanku dalam memelihara
hati demi menjaga Kecintaanku Kepada Allah, membuatku yakin dengan kedatangan
seseorang yang akan aku nikahi dan membuatku mengurungku diri untuk
mengira-ngira seseorang disekelilingku sehingga hal ini dapat cenderung
membuatku mengurangi kesia-siaan.
Namun
seperti dari awa, aku berharap kepada Allah agar Allah mempertemukanku ketika
aku hendak menikahinya lantaran aku tidak mau menjadikan hati ini berlama-lama
bermain dengan peraaanku terhadapnya walaupun nantinya dirinya akan dinikahkan
olehku.
Namun
aku tidak berharap banyak, cukuplah Allah sebagai harapanku. Allah
mengajarkanku keikhlasan dan karenanya aku mencoba ikhlas untuk menerima selain
dari yang dicirikan itu. Jikalau memang benar dia tidak ada di bumi ini dan di
waktu yang bersamaan denganku ketika aku hidup. Meskipun aku berharap
kehadirannya lantaran aku merasakan bahwa dialah belahan jiwaku. Bisa jadi aku
menemukan sosok itu setelah aku menikah dengan seseorang muslimah, ataupun bisa
jadi muslimah itu adalah anak-anakku nanti yang dimana hal itu akan sangat membanggakan
orang tuanya karena mengetahui memiliki anak yang shaleh dan shalehah. Ataupun aku
tidak menemukannya di manapun, karena bisa jadi dia adalah diriku sendiri yang
memang telah Allah tentukan di dalam diriku agar aku bisa menjadi seperti
dirinya dan mengajarkan itu kepada istriku kelak agar apa yang aku dapati dalam
yakinku dapat terwujud. Insya Allah..
Aku
tidak ‘jatuh cinta’ bukan karena aku tidak seperti laki-laki seperti biasanya.
Hatiku kupersembahkan kepada Pemiliknya dan diisi hanya kepada yang halal
olehku, siapapun yang mengisinya nanti, dialah bidadariku.. Subhanallah..
Insya
Allah …
Terima
kasih kepada siapa yang pernah mengalami peristiwa ini. Semoga Allah senantiasa
merahmati dan mengampunkan segala dosa-dosamu beserta dosa-dosa kita semua dan
menjadikan kita semua orang-orang yang dijauhi dari kesia-siaan.
Allahuma
Aamiin..
(Sumber
dari print out beberapa lembar kertas yang tercecer di antara tumpukan kertas
yang sedang dirapikan. Dan karena saya tidak mau mengubah keotentikan naskah,
saya hanya menyalinnya saja. Mohon maaf bila ada yang sudah membaca atau bahkan
yang membuat naskah tersebut, membaca salinan ini terdapat kesalahan dalam penulisannya.
Karena saya hanya manusia yang pasti banyak salah, untuk itu saya memohon maaf
yang seikhlas-ikhlasnya. Semoga salinan ini bermanfaat bagi pembaca. ‘Afwan wa Jazakallah
khairan katsir…)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar