Translate

Minggu, 16 September 2012

Perjuangan Hati


Assalamu’alaikum warahmatullah. Bismillahhirrahmannirrahiim..

Telah 5 tahun sudah aku mencoba untuk mempertahankan hati ini untuknya, walaupun aku belum pernah melihat, mendengar, berinteraksi dan bertemu dengannya secara langsung untuk menjaga kesucian hatiku kepadaNya. Cerita ini berawal ketika hidayah itu telah datang dan dengan datangnya itu mampu mengubah sedalanya menjadi lebih indah dan terarah untuk ku tempuh.

Dahulu aku adalah seorang anak manusia yang biasa-biasa saja, seperti anak muda normal lainnya. Akupun terkadang sering jatuh cinta kepada siapa yang aku kagumi. Hampir setiap hari mungkin hidupku terbiasa akan hal itu, hingga hal itu menjadi sesuatu yang lumrah dalam pribadiku.

Namun, pada suatu ketika datanglah hidayah kepadaku. Hidayah yang didasari dari materi Cinta Kepada Allah yang banyak aku pelajari dari sekelilingku ditambah dengan materi dari guru ngajiku ketika mentoring di sekolah. Hidayah itu menumbuhkan aku untuk mencintai Rabb (Tuhan) sehingga membuatku rela untuk menyingkirkan yang lainnya di hatiku terkecuali aku mencintainya karenaNya.

Kedatangan Cahaya itu mampu membuatku membuka mata hatiku dalam mengaplikasikan cinta, tanpa harus membawaku kepada jurang kehancuran. Sehingga akupun mulai berhati-hati terhadap hatiku dalam mencintai agar Cintaku kepada Allah yang telah DikaruniakanNya kepadaku mampu ku jaga karena aku menyadari bahwa hatiku miliknya. Dan karena akupun juga menyadari bahwa cinta yang salah mampu melumpuhkan kualitas Cintaku denganNya, sedangkan yang aku harapkan adalah CintaNya karena tidak ada yang mampu mencukupiku kecuali Dia.

Sejak kedatangannya, hidayah itu mampu merubah segalanya yang ada pada diriku seperti masalah cara berfikir dan kepribadianku hingga orientasiku dalam mencintai sesuatu. Termasuk masalah ketertarikanku dalam menyukai sesuatu. Jika sebelumnya mungkin aku tertarik dengan wanita yang biasa-biasa saja, maka setelah Hidayah itu datang justru hatiku tertarik untuk menyukai muslimah dengan busana khas dan sikapnya yang cenderung pemalu. Dan oleh karena itu akupun berharap agar Allah menakdirkanku untuk menikah dengan salah satu diantara mereka, muslimah yang shalehah. Insya Allah, Allahumma Aamiin. Karena aku mengetahui bahwa menikah adalah Sunnah Rasulullah.
Hidayah itupun mampu mengajarkan aku dalam mengendalikan perasaanku agar hatiku tidak salah dalam menyikapi apa yang menarik hatiku. Karena bagiku rasa ketertarikanku cukuplah aku tumpahkan kepada istriku kelak walaupun aku belum pernah bertemu dengannya. Karena sejak awal, hidayah itu mampu membuatku memahami diriku dan hakikat mencintai pasanganku walaupun sebelum aku menikah dengannya tanpa membuat aku cenderung melupakan Allah lantaran aku memahami bahwa kalau saja Allah menjadikanku aku menikah dengan seseorang perempuan yang ditakdirkan Allah kepadaku maka untuk apa aku berharap dan menghabiskan waktuku kepada yang lainnya yang belum tentu akan menjadi istriku kelak, sedangkan hati ini mudah terdominasi dengan sesuatu hal yang lain jika kita tidak mampu mempertahankan hakikatnya dalam mencintai Rabb?.

Dan karena akupun tidak memungkiri bahwa setiap manusia yang normal pasti akan merasakan fitrahnya, termasuk permasalahan ketertarikannya kepada lawan jenis, maka jika harus demikian, menurutku untuk apa jika hati ini aku tambatkan kepada siapa yang bukan orangnya nanti, jika memang hati ini sangat peka terhadap pengaruh diri yang memilikinya ketika hati itu salah dalam pengelolaannya. Oleh karenanya, aku memahami bahwa: Jika memang aku harus mencintai lantaran mencintai lawan jenis adalah fitrahku sebagai manusia maka aku akan mencoba untuk mencintai siapa yang akan aku nikahi nanti walaupun aku belum pernah bertemu dengannya, lantaran pasti Allah akan mempertemukannku dengannnya, sehingga usahaku yang sia-sia akan cenderung berkurang di dalam lingkup fitrahku. Insya Allah.

Sejak saat itu hatiku mulai tersadarkan untuk meninggalkan hal-hal yang sia-sia dalam cinta yang tidak memberikan manfaat kepadaku dalam MencintaiNYA dan cinta yang mampu membuat hatiku cenderung meninggalkan Rabb.

%%%

Waktupun berjalan seiring kegembiraanku atas datangnya hidayah itu. Hingga tanpa aku sadari godaan-godaan kecilpun datang dari sekelilingku untuk menyukai muslimah yang aku rasa belum saatnya aku harus bersikap demikian kepadanya. Tanpa aku sadari hal itu mampu membuatku sedikit gundah, mungkin karena aku belum mampu mengendalikan fikiranku terhadap apa yang mempesonakanku terhadap mereka.

Kegundahanku itu membuatku khawatir jika demikian maka nikmat karunia yang berupa Hidayah itu akan menyingkir dari diriku lantaran sikapku yang salah. Sehingga akupun berdoa untuk meminta petunjuk kepada Allah agar Allah mengkaruniakanku kefahaman agar aku terus istiqomah untuk menyikapi hatiku ketika ia harus menghadapi fitrahnya.

Singkat cerita, lantaran aku mengetahui bahwa istikharah adalah salah satu cara yang dapat meyakinkan diri kita terhadap suatu pilihan, oleh karenanya setiap godaan itu datang dan di setiap ketidakmampuanku dalam menjaga diriku dalam mengelola hati, maka akupun berusaha mengistikharahkan siapapun yang mempesonakanku agar aku dapat mengetahui diantara mereka siapakah orang yang aku “cari” sehingga hal itu dapat cenderung membuatku terhindar dari kesia-siaanku dalam pengelolaan hati yang salah yang aku takutkan dapat cenderung mampu melumpuhkan rasa Cintaku kepada Rabbku.

Setelah aku membiasakan diri untuk istikharah di setiap waktu ada yang mempesonakanku, seolah dengan itu hatiku mampu diyakinkan kepada siapa yang akan aku nikahi nanti walaupun aku belum pernah mengenalnya. Sepertinya dirinya telah terkesan di hatiku sehingga hal itu mampu membedakan dirinya dengan yang lainnya, kemudian dengan itu dapat membuatku melepasan harapan dan keinginan hatiku kepada arah yang salah dalam pengelolaannya terhadap siapa yang bukan orangnya. Mungkin inilah cara Allah dalam meyakinkanku untuk mempertahankan hatiku kepada siapa yang pantas aku cintai nantinya yang salah satunya diperolah melalui jawaban dari istikharah-istikharah itu.

Walaupun demikina, aku masih tetap seperti dengan manusia normal lainnnya. Hal itu ku buktikan dengan masih adanya rasa kagum dengan muslimah yang mempesonakanku. Namun keberadaan mereka tidak sempat singgah dihatiku lantaran hatiku seolah gelisah ketika aku mendapati orang yang salah jika ku di “sembarang” tempat di hatiku. Namun ketika aku mengingat tentang sosok yang aku yakini akan aku nikahi nantinya, dan ku hadirkan dia di hatiku, meskipun aku belum mengenalnya dan aku belum mengetahui jasadnya, maka entah mengapa perasaanku seolah (cenderung) tenteram karenanya. Mungkin hal itu terjadi karena hatiku telah berfatnya terhadapnya.

Mengenai hati yang berfatwa, aku menjadi terngat dengan sebuah hadits Rasulullah, bahwa :
Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah ketika jiwa dan hati menjadi tenang kepadanya. Sedangkan al-itsm (dosa) adalah yang membingungkan jiwa dan meragukan hati. Meskipun manusia memberi fatwa kepadamu. (HR. Muslim)

Mungkin karena ketentraman dan kegelisahan yang aku dapati itulah dapat membuat diriku mengurungkan diri untuk tidak melepaskan tambatan hati ini kepada orang yang bukan dirinya yang akan aku nikahi nanti.

%%%

Waktu berjalan dengan caraku menjaga hati itu, membuat hidupku lebih tersenyum lantaran kegundahanku itu mengurang seiring usahaku dalam meyakinkan hatiku untuk tidak salah dalam pengelolaannya melalui istikharah-istikharah kepada Rabb. Semua itu aku lakukan untuk mempertahankan hatiku kepada Pemiliknya karena aku berharap agar Pemiliknya tidak tersingkir dari singgasananya lantaran pengelolaannya yang salah.
Namun, cobaan belum begitu saja berakhir hingga pada suatu ketika Allah sibakkan aku bertemu dengan seorang muslimah yang begitu mengagumkan. Dia berbeda, tidak seperti muslimah yang pernah aku temui pada biasanya, lantaran keberadaannya entah mengapa hampir menyerupai perasaanku terhadap sosok yang akan aku nikahi itu.

Kemungkinan ini jauh dari apa yang aku bayangkan, karena hal ini sepertinya akan lebih mengancam pertahananku dalam mempertahankan hatiku untuk Rabb. Apalagi aku menyadari bahwa wanita merupakan godaan terbesar laki-laki.

Terkadang fikirankupun terbuai dengan dirinya di saat-saat aku kurang siaga dalam memelihara hati ini untukNYA. Hingga akupun kehilangan definisi dalam mempertahankan hatiku untukNYA. Mungkin karena terpesonanya aku dengan keserupaannya dengan kayakinanku terhadap sosok yang akan ku nikahi itu, membuatku terlupa untuk mengetahui jawabannya dengan istikharah-istikharahku dalam usahaku meyakinkan diriku atasnya.

Dan tanpa ku sadari…
Hal-hal Rabbani (Ketuhanan / keislaman) yang aku kenali seolah menjadi nuansa yang datar di hati. Awalnya ku anggap hal itu sebagai future (menurunnya iman) yang biasa, namun aku mendapati bahwa nuansa khas itu belum kunjung tiba dalam waktu yang cukup lama dan ketika aku telah lelah menunggu kedatangannya kembali.

Hal-hal yang dahulunya begitu peka di relung-relung hati ini seolah berkurang penginderaannya. Hingga akupun menyadari bahwa hal ini terjadi karena sikapku yang salah dalam pengelolaan hati terhadap seorang muslimah yang menyerupai sosokyang akan aku nikahi itu.
Ketika aku tersadar, hal itu dapat membuatku takur ketika aku berfikir jikalau Allah memfuturkanku dengan keadaan yang demikian. Jika demikian, aku harus melakukan tindakan pencegahan agar perbuatanku tidak menjadikan keburukan bagiku.

Sesekali ku coba bertanya dalam hati, bahwa jika memang dirinya adalah orangnya maka hal itu seharusnya tidak membuatku jauh dari Allah. Lantaran dasarku menambatkan hati kepadanya adalah karena Cintaku Kepada Rabb. Hingga akhirnya aku menyadari dari gerak hatiku bahwa bukan muslimah itulah orangnya.
Hingga keadaanpun mampu menegurku, sehingga dapat membantu menyadarkanku dari kesalahan yang telah aku perbuat, meskipun pesonaku terhadapnya belum pulih.

(ada part satu halaman yang hilang, lalu halaman seterusnya… )

kepada Allah ketika malam itu. Dan hal ini sedikit-sedikit terbukti ketika aku melakukan istikharah untuknya, perasaan tenang yang tidak aku temukan jika aku meng-istikharahkan yang lainnya. Masya Allah…

Walaupun sosoknya telah tersibakkan, namun jika aku disuruh menggambarkan wajahnya maka aku tidak mampu , karena aku tidak bisa melihat jelas bagaimana wajahnya. Namun sepertinya hanya hatikulah yang mampu mendeskripsikannya, hingga gambaran wajah itu mampu membawaku kepada ketentraman dan ketenangan yang memuaskan hati. Mungkin dengan ini, hatiku telah berfatwa lagi atas dirinya.

Namun, bukan hanya wajahnya saja yang Allah tunjukkan kepadaku melainkan karakter-karakter khasnya yang diperkenalkan kepadaku agar dengan itu mampu membedakan membantuku mencari dirinya dengan yang lainnya secara lebih tepat. Masya Allah..

Sebelumnya aku mengira-ngira bahwa apa yang aku alami itu merupakan kebisaan fikiranku dalam berimajinasi. Namun ketika ku telaah lagi, peristiwa itu dapat mengingatkanku kepada apa yang pernah Rasulullah sabdakan dalam sebuah hadist, meskipun hadist ini telah ditemukan olehku 5 tahun setelah kejadian itu.

“Rasulullah saw bersabda kepada Aisyah, “Sebelum aku menikahimu, aku perah melihatmu dua kali di dalam mimpiku. Aku melihat Malaikat membawa secarik kain yang terbuat dari sutra, kukatakan kepadanya, “Singkapkanlah”, Malaikat itupun menyingkapnya dan ternyata kain itu memuat gambarmu. Lalu ku katakana, “Jika ini merupakan ketentuan Allah, maka dia pasti akan membuatnya terjadi” pada kesempatan lain aku kembali melihatnya datang membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Maka ku katakana kepadanya, “Singkapkanlah”, Malaikat itupun menyingkapnya dan ternyata kain itu memuat gambarmu. Lalu aku berkata, “Jika ini merupakan ketentuan Allah, maka dia pasti akan membuatnya terjadi. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Subhanallah, aku tidak percaya ini. Namun aku tetap bertawakal kepada Allah. Jikalau aku mendapatkan kesalahan atas apa yang terjadi pada peristiwa tersebut.

Karena aku menyadari bahwa muslimah tersebut ku lihat di mimpiku, maka akupun berdoa kepada Allah agar Allah menghentikan keberadaannya di mimpiku lantaran aku tidak menginginkan apa yang aku impikan itu adalah penyerupaan jin, terkecuali di waktu ketika aku membutuhkan kedatangannya. Alhamdulillah, beberapa waktu kemudian aku tidak memimpikannya lagi, hingga aku pun merasa lebih legaan lantaran aku takut syaitan ikut campur dalam hal ini. Bagiku cukup dengan Ketawakalan dan Keyakinan dari hatik yang terdalamlah yang sekiranya mampu membuatku membedakan dirinya dengan sesuatu yang menyerupai dirinya. Semoga Allah menunjuki kita semua kepada jalan yang benar. Allahumma Aamiin..

Memang dirinya sudah tidak sering datang di dalam mimpi-mimpiku. Namun, dirinya kadang-kadang datang diwaktu aku perlu ada yang menegurku. Entah mengapa setiap kali aku berbuat zalim seperti halnya aku tidak mampu menundukkan pandanganku, dirinya terkadang hadir di mimpiku beberaoa hari kemudian ataupuun bisa malam harinya ketika aku tertidur untuk menegurku denga bahasa khasnya yang cukup mampu menjadi nasehat dan introspeksiku atas perbuatan yang telah aku perbuat. Bukan hanya itu, iapun juga akan terlihat memberikan nuansa kepuasannya  yang khas ketika aku mampu mengendalikan diriku. Dia seolah benar-benar telah hidup di dalam diriku meskipun aku tidak mengenali siapa dirinya. Namun aku yakin dia ada.

Dan ada pula beberapa hal special yang aku alami setelah peristiwa itu terjadi di mana perasaanku merasa tidak nyaman ketika aku menempatkan seseorang wanita untuk aku jatuh cintai jika bukan sosok tersebut. Hatiku seolah kering, tidak menenangkan dan mampu meresapi indahnya rasa cinta itu seperti hal yang pernah aku rasakan dahulu terhadap siapa yang mempesonakanku. Seolah hati itu telah menjadi tidak peka terhadap cinta ketika aku sembarangan menempatkan seorang yang salah di sana. Namun ketika aku ingat dengan sosok yang pernah hadir di mimpiku itu, entah mengapa seolah hati ini begitu luas dan begitu ‘basah’ untuk menempatkan dirinya di hati ini. Subhannallah, hal ini benar-benar mampu mengajarkanku untuk mempertahankan perasaanku dengannya demu membantuku untuk mempertahankan Kecintaanku Kepada Allah, lantaran aku menyadari bahwa hatiku hanya satu sehingga aku tidak mampu jika harus mencintai lebih dari satu cinta terkecuali aku mencintai yang lainnya karenaNYA. Insya Allah..

%%%

Mengenai keberadaannya pernah menjadi pertanyaan bagiku, namun hatiku lebih tentram ketika meyakini bahwa keberadaannya itu memang benar-benar ada. Meskipun aku tidak tahu dimanakah ia saat ini. Jika saja muslimah sehebat Aisyah, Fatimah, Khadijah, Asiah dan Maryam pernah hidup di bumi ini, maka hal itu membuatku makin percaya akan keberadaannya.

Peristiwa ini mampu menjadikanku tersadar akan keterbatasan kemampuanku dalam memelihara hati demi menjaga Kecintaanku Kepada Allah, membuatku yakin dengan kedatangan seseorang yang akan aku nikahi dan membuatku mengurungku diri untuk mengira-ngira seseorang disekelilingku sehingga hal ini dapat cenderung membuatku mengurangi kesia-siaan.

Namun seperti dari awa, aku berharap kepada Allah agar Allah mempertemukanku ketika aku hendak menikahinya lantaran aku tidak mau menjadikan hati ini berlama-lama bermain dengan peraaanku terhadapnya walaupun nantinya dirinya akan dinikahkan olehku.

Namun aku tidak berharap banyak, cukuplah Allah sebagai harapanku. Allah mengajarkanku keikhlasan dan karenanya aku mencoba ikhlas untuk menerima selain dari yang dicirikan itu. Jikalau memang benar dia tidak ada di bumi ini dan di waktu yang bersamaan denganku ketika aku hidup. Meskipun aku berharap kehadirannya lantaran aku merasakan bahwa dialah belahan jiwaku. Bisa jadi aku menemukan sosok itu setelah aku menikah dengan seseorang muslimah, ataupun bisa jadi muslimah itu adalah anak-anakku nanti yang dimana hal itu akan sangat membanggakan orang tuanya karena mengetahui memiliki anak yang shaleh dan shalehah. Ataupun aku tidak menemukannya di manapun, karena bisa jadi dia adalah diriku sendiri yang memang telah Allah tentukan di dalam diriku agar aku bisa menjadi seperti dirinya dan mengajarkan itu kepada istriku kelak agar apa yang aku dapati dalam yakinku dapat terwujud. Insya Allah..

Aku tidak ‘jatuh cinta’ bukan karena aku tidak seperti laki-laki seperti biasanya. Hatiku kupersembahkan kepada Pemiliknya dan diisi hanya kepada yang halal olehku, siapapun yang mengisinya nanti, dialah bidadariku.. Subhanallah..

Insya Allah …

Terima kasih kepada siapa yang pernah mengalami peristiwa ini. Semoga Allah senantiasa merahmati dan mengampunkan segala dosa-dosamu beserta dosa-dosa kita semua dan menjadikan kita semua orang-orang yang dijauhi dari kesia-siaan.
Allahuma Aamiin..


(Sumber dari print out beberapa lembar kertas yang tercecer di antara tumpukan kertas yang sedang dirapikan. Dan karena saya tidak mau mengubah keotentikan naskah, saya hanya menyalinnya saja. Mohon maaf bila ada yang sudah membaca atau bahkan yang membuat naskah tersebut, membaca salinan ini terdapat kesalahan dalam penulisannya. Karena saya hanya manusia yang pasti banyak salah, untuk itu saya memohon maaf yang seikhlas-ikhlasnya. Semoga salinan ini bermanfaat bagi pembaca. ‘Afwan wa Jazakallah khairan katsir…)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar