Bersyukur pada Tuhan
Berdoa semua tentang kebaikan dan kebahagiaan
Juga doa tentangmu
Mengharap kamu ada menghadirkan
senyum dan tawamu
Kehidupan ini hanyalah setitik
waktu yang masih bisa ku lalui bersamamu.
Aku tak tahu, apakah disana kita
juga akan bersatu?
-teruntuk
Kamu
@@@
Sepenggal puisi itu sengaja
ditinggalkannya di atas meja. Sepenggal puisi perpisahan yang ia tujukan
padaku. Meninggalkan kenangan yang tak terhitung bilangan angka. Baru sebentar
dia melengkapi sisi kekosongan jiwaku, namun begitu cepat ia pergi. Membawa
serta semuanya yang dulu pernah ada. Tawa, senyum, tangis, marah, kecewa, manja
dan… dia sendiri. Kini menghilang bersama kepergiannya. Tak berbekas.
Aku rindu dengan godaan manjanya
yang selalu membuatku geli saat aku mendengarnya. Meski aku tidak suka, tetapi
dia lucu dan aku masih ingin mendengarnya. Tawanya yang lepas lalu tertahan,
seakan mengejek ketidakmampuanku saat melakukan sesuatu.
Kamu, meskipun tak tahu, ternyata
sedikit demi sedikit sebuah perasaan halus menyelusup pada salah satu pintu
diantara ribuan pintu yang ada dalam hatiku
Kamu adalah arakan awan putih
peneduh di padang gersang. Meski memang indah saat cerah, tapi aku rindu kamu
untuk memberi warna yang berbeda pada birunya langit dunia. Melihatmu terbawa
bayu, membuatku tertawa ternyata kamu tak terlalu perkasa. Namun pada akhirnya
kamu membuktikan, kamu mampu kembali meneduhkan padang savana. Memberikan hidup
dari air yang kamu bawa.
Kamu adalah awan putih yang
berarak di langit luas. Memberi warna beda yang mampu meperindah dunia.
Diawali pertemuan singkat dulu
saat kamu akan membayar uang SPP. Ya. Di lorong kecil di depan kantin sbelum
menuju kantor administrasi di kampus kita. Tak tahu aku atau kamu yang memulai,
tapi pertengkaran kecil itu terjadi. Suatu yang tidak penting memang. Masalah
sepele, mungkin karena idealism dan kesombongan yang tinggi, aku langsung
membentak tarikan tanganmu yang menarik sengaja lenganku. Kamu menghindarkanku
dari bola liar yang terbang dari Lapangan basket di sebelah kanan lorong itu.
Aku yang tak tahu karena sedang terburu, kaget. Kamu menarik tannganku
kebelakang saat bola itu sedikit lagi mengenai kepalaku. Semua buku bawaanku
terjatuh.
Dengan reflex yang tak terduga, mulut
ini langsung mengeluarkan sumpah serapah tak tahu arah dan ditujukan untuk
siapa. Karena saat itu pun aku belum tahu kamu. Kamu yang bodoh, tidak melihat
didepannya ada orang yang sedang sama-sama jalan, atau aku yang terlalu tergesa
tak mau menghindari bola itu hingga akhirnya kamu menarik tanganku. Tak peduli
itu. Bagaikan mesin penembak, sumpah serapah langsung keluar tak terkendali
menghabisi lalat bahkan semut di depanku. Tak kenal tempat ataupun waktu.
Padahal waktu itu sedang ramai-ramainya kantin di kampus kita. Sontak
pengunjung kantin di sebelah langsung menatap padaku. Malu. Dengan muka yang
memerah aku melanjutkan jalanku. Meninggalkanmu yang terbengong tak percaya
mendapat marah dari seorang yang kamu tolong. Ah, itu bukan urusanku pikirku sambil
berjalan tak acuh menuju ruang kuliah.
@@@
Aku tak tahu harus darimana
kuceritakan semua ini padamu. Tentang kerinduanku, kecemasanku, kecintaanku dan
semua tentangmu yang ku ingin kamu tahu semua itu. Selama ini hanya
coretan-coretan sajak tak berjudul yang menggantikan hadirmu. Menghiburku untuk
mengulur waktu, supaya aku kuat menahan cinta ini agar tetap untukmu.
Aku berkeliling dunia tak
berujung mencarimu. Kamu tahu, saat kamu pergi, kamu pun telah membawa sebagian
hatiku bersamamu. Aku sangat kehilanganmu. Hati ini tak lengkap tanpa setangah
hatiku yang terbawa bersama kepergianmu. Setelah semua yang telah aku lalui
bersamamu aku tak bisa untuk tidak mencintaimu.
Telah lama aku tak merasakan
cinta atau bahkan belum merasakan cinta kepada sosok pria selain ayah dan
kakek. Ya. Gie, kamu yang pertama mampu membuat hati ini merasakan cinta pada
sosok manusia sepertimu. Ah semua sangat indah saat aku mengenal dan dapat
bersamamu. Waktu terasa lambat saat aku bisa menatap sinar ketegaran pada dua
bola matamu. Kamu menceritakan tentang kampung halamanmu di kota kecil di Jawa
Tengah. Sebuah kabupaten kecil yang terapit dua kabupaten besar di karesidenan
Banyumas. Aku lupa, tapi ada kesamaan nama dengan sebuah kabupaten di
Kalimantan dan Jawa Barat. Kabupaten Banjar… ah, bagian belakangnya aku lupa.
Tapi aku sangat ingat cerita yang kau ceritakan padaku tentang kota kelahiranmu.
Aku berangkat kuliah suatu pagi
tepatnya satu minggu sebelum ujian semester. Dengan langkah ragu dan malas, aku
berusaha melangkahkan kakiku menuju gerbang kampus. Universitas Padjajaran
Bandung, tepatnya Fakultas Ekonomi. Gerbang fakultas masih sepi, belum ada
kegiatan kampus yang terlihat. Pukul Sembilan pagi lewat lima belas menit.
Biasanya kamu sudah berdiri di depan gerbang kampus menunggu sahabatmu, Cho.
Dengan topi cokelat dan hem berwarna biru kotak-kotak yang tak kamu kancingkan,
kamu menunggu sahabatmu dengan sebuah buku kecil yang sudah lusuh.
“Heh! Penjaga pintu! Kotor nih,
disapu dong? Kotor kok dibiarin aja?” sapaku pertama kali setelah kamu menjatuhkanku
di sebelah kantin dulu. Melihatmu sok keren di gerbang kampus, iri.
“Maksudmu? Aku tukang sapu?”
balasmu dengan tatapan kaget melihat kearahku.
“Kamu tuch yang harusnya di
masukin ke tong sampah. Ditolong koq g terima kasih, udah kemarin marah-marah, sekarang
ngolok-olokin lagi. Bodoh!” lanjutmu tanpa beranjak dari sandaran tembok
gerbang.
“Apa!” bentakku.
Wajahmu tertutup topi yang
terpasang lekat di kepalamu. Matamu bersembunyi atau sengaja kamu sembunyikan
dari tatapan marahku. Dan kamu tak pedulikanku. Kembali menikmati dunia yang
tercipta di otakmu dari buku lusuh di tanganmu.
Dengan langkah tergesa dan
sedikit marah, aku berjalan menghampirimu. Kamu sedikitpun tak mempedulikan
kehadiranku. Lalu dengan gerakan yang tak kusadari, aku merebut buku ditanganmu
dan ku buang di tepat depanmu. Kamu mendongak, menatap kearahku dengan tatapan
aneh. Raut muka tak berekspresi yang kosong tapi penuh harap.
“Apa kau bilang! Coba kau ulangi
lagi!”
“Tidak ada siaran ulang, Nona.
Terima kasih” datar kamu ucapkan seraya mengambil buku di depanmu. Lalu kamu
pergi menghampiri sahabatmu yang datang tepat saat aku membuang bukumu.
Aku masih bengong tak percaya
saat itu, saat kamu membiarkanku berdiri sendiri di gerbang itu. Sebuah foto
tertinggal atau mungkin terjatuh dari buku lusuhmu itu saat kamu
meninggalkanku. Foto kamu dan kedua sahabatmu. Aku tahu yang satu, tapi yang
satu aku belum tahu siapa dia. Tapi yang jelas mereka sahabatmu.
Untuk
Sahabatku, Gie. .
Jalan
kita masih panjang kawan. Akhir ini adalah sebuah awal yang baru. Selamat
berjuang, kawan. Aku menempuh jalan lain di percabangan jalan ini. Tapi aku
yakin kita akan dipertemukan lagi di persimpangan jalan lain di depan. Aku
yakin itu.
Semangat
berjuang kawan. Ingat selalu janji kita. Salam Semangat.,.!
:)
Sahabatmu
DAQ
(Bara,
16 Juli 2010)
Sebuah foto dan puisi. “Pasti kamu
akan mencariku, aku tunggu kamu.”
@@@
Lalu di hari berikutnya tak jauh
berbeda. Kamu berdiri di depan gerbang seperti biasa, tapi sekarang sudah
bersama dengan sahabatmu. Dan sekarang bukan aku yang menghampirimu, tapi kamu
yang menghampiriku. Selalu sama, dengan topi cokelat yang kamu pakai dan hem
kotak-kotak biru yang tak kamu kancingkan kamu berjalan tergesa ke arahku.
“Maaf, bisa bicara sebentar?”
Waw! Ternyata kamu sangat sopan
dengan wanita. Ada apa ini? Aku hanya mengangguk dan mengikuti arah jalanmu
menuju tempat duduk kecil di bawah pohon.
“Mau bicara tentang apa?” ucapku
memancingmu bicara.
“Maaf, kamu kemarin kan yang
menarik buku yang ku pegang?”
“Terusss?”
“Di dalamnya ada fotoku dengan
sahabatku. Apa kamu menemukannya? Atau…”
Kata-katamu berhenti saat aku
keluarkan foto yang kamu cari.
“Eits!?” hindarku menjauhkan foto
itu dari jangkaumu saat kamu berusaha mengambilnya dari tanganku.
“Tolonglah… foto itu sangat
berharga bagiku. Tolong kembalikan.”
“Hemm… baik. Akan aku berikan,
tapi dengan syarat. Syaratnya, kamu harus mengajariku belajar sebelum tes
semester minggu depan. Deal or no deal?”
“Itukan fotoku, kenapa mesti
dengan syarat.” Ucapmu kesal.
“Ya udah, kalo gak mau, gak akan
aku kembaliin.”
“Okey. Deal!” ucapmu setuju
dengan syaratku meskipun rautmu tanpa senyum sama sekali. Aku tak peduli, yang
penting sekarang ada yang mau mengajariku tentang materi-materi di kuliahku.
“Foto ini akan aku berikan setelah
tes semester usai. Di tempat ini.” Ucapku sembari berdiri dan melangkah pergi
tak pedulikan persetujuanmu.
@@@
Seminggu belajar mengenai materi
kuliah sebenarnya tidak menyenangkan bagiku. Tapi kamu membuatnya berbeda.
Semua berjalan lebih menyenangkan saat ini. Kamu ternyata tidak seperti yang ku
kira. Sebagai seorang yang dulu pernah memarahimu, membencimu dan yang sekarang
sedang mengerjaimu aku jadi malu pada diriku sendiri.
Kamu pelengkap kecil diantara
kekosongan puzzle yang belum terisi di kehidupanku. Kamu sangat hebat dalam
memotivasi orang. Seperti yang kamu lakukan padaku. Aku yang sangat benci
dengan pelajaran geometri, dengan kesabaranmu kamu mampu mengubahku untuk
setidaknya tidak membenci satu pelajaranpun. Dan itu sangat membantuku mengatasi
masalahku. Tapi, apakah kamu tahu ada yang lain yang kini menjadi masalah
baruku. Suatu yang lain yang tak bisa terungkap mudah dengan sepatah kata.
“Kamu mau jadi apa nanti?”
Kamu menanyakan aku pertanyaan
yang sangat sulit untuk ku jawab di hari terakhir sebelum test semester.
“Hmm… apa ya? Mungkin jadi…
ekonom terhebat di dunia…” jawabku ragu. Lalu tawamu lepas, melihat raut bodoh
mukaku dan jawaban tak yakin yang keluar dari mulutku sendiri.
“Kenapa tertawa?” tanyaku heran.
Perlahan tawamu terhenti mencoba menanggapi kata-kataku.
“Kamu itu aneh. Masa udah besar
gini, udah kuliah pula, masih ga tahu mau jadi apa? Anak TK aja kalau di tanya
kayak gitu akan dengan pasti menjawa ‘aku mau jadi dokter! Aku mau jadi guru!
Aku mau jadi presiden! Aneh kamu.. hahaha”
Aku jadi kesal padamu. Masa
dibading bandingkan dengan anak TK, yang benar saja. Aku gemas padamu. Beberapa
cubitan aku berikan sebagai jawaban dari pernyataan yang kamu berikan.
“Aw..! Aw..! oke oke.. maaf maaf
dech hehehe”
“Tu kan? Masih mau ketawa?”
tatapku mengancam. Tapi kamu memang tak kenal menyerah, masih saja meledekku
dan tertawa di depanku. Aku pun lama-lama ikut tertawa juga. Tertawa melihat
tawamu yang lucu.
Hari beranjak malam. Lalu kamu
pulang dengan pesan yang seperti biasa kamu tinggalkan padaku.
“Temukan dirimu. Bukan menjadi
seperti yang orang lain harapkan. Tapi jadilah apa yang kamu sukai dan kamu yakini itu yang terbaik bagimu. Karena
hidup terlalu singkat untuk menjadi orang lain. Okey?”
“Okey pak tua.” Jawabku sambil menatap
mantap matamu. Kamu tersenyum. Senyum yang berbeda dari semua senyum yang telah
kamu nampakkan di tiap pertemuanku dengan kamu. Kamu berjalan pergi, kulihat
punggungmu semakin menjauh lalu perlahan menghilang.
“Aku sayang kamu, Gie” ucapku
lirih dengan senyum yang termanis yang bisa kulakukan. Sayang, kamu sudah
menghilang di antara kegelapan.
@@@
Hari ini hari pertama test
semester. Kamu seperti biasa sudah berada di depan gerbang dengan topi hitam
yang sudah menjadi bagian di hari-harimu. Aku hanya melihatmu dari jauh. Kamu
dan Cho berjalan masuk, dan aku mengikutimu dari belakang. Banyak yang
menyapamu, tak hanya teman-teman cowokmu, tapi juga teman-teman cewekmu. Dan
saat itu aku merasakan yang lain. Cemburu.
“Gie..!! Tunggu aku dong..!!”
panggilku keras. Aku langsung berlari mensejajarkan langkahmu.
“Kenapa lari-lari? Kayak mau
nangkap maling aja si…hehehe” kata sahabatmu.
“Iya… Nih malingnya, hehehe”
kataku sembari menunjuk kearah kamu. Ekspresimu yang lugu sangat lucu, aku
tertawa. Innocence. Mungkin karena memang kamu tak bersalah atau tak tahu apa
salah yang telah kamu lakukan.
Sebelum test dimulai, aku meminta
kamu mengulas semua yang telah kita pelajari bersama. Aku merasa tenang.
@@@
Seminggu sudah. Test semester
sudah selesai. Aku menunggumu di tempat duduk di bawah pohon sesuai janji kita
dulu.
“Mana minumannya? Kok Cuma bawa
satu si?” protesku padamu saat kamu datang dan hanya membawa satu botol minuman
di tanganmu.
“Owh.. ini kan memang buat kamu.
Aku sengaja bawa satu. Cuma buat kamu.” Katamu sembari menyerahkan minuman itu
padaku dengan senyum seperti malam kemarin. Senyum yang membuatku mulai
menguatkan diri untuk mengutarakan suatu padamu.
“Aah.. Maaf ya” mukaku ku rasa
memerah. Malu.
“Udah, jangan malu-malu. Diminum
gih? Ntar aku yang minum hlo…?”
“Eits!? Jangan donk? Katanya buat
aku? Gimana sih…” kesal, langsung habiskan tak membiarkanmu berkomentar lebih
jauh lagi.
“Ya ampun. Sekali tenggak? Hebat
kali? Hahaha…” responmu dengan logat Medan yang lucu.
“Heh! Gak boleh? Ntar aku
muntahin lagi nih?!”
“Yeee.. gitu aja marah. Lagi
dapet ya? Dapet emosi maksudnya. . hehehe”
“Iigghhh.. kamu nih ya?”
Kamu malah senyam senyum melihatku.
Katamu, ekspresiku lucu. “Emang orang lagi marah lucu. Lucu dari mananya?
Fikirku. Dasar kamu!” Batinku merutuk.
“Ya udah udah, maaf deh.
Sekarang, fotonya mana? Sini kembalikan, dah janji hlo? Janji itu harus
ditepati..”pintamu dengan sedikit ceramah.
“Gak usah ceramah. Aku gak
bakalan ingkar janji kok. Nih, fotonya.”
Kamu mau mengambilnya ditanganku,
saat tiba-tiba aku jauhkan foto itu dari jangkaumu.
“Kena lagi deh ni. Hemmm. . . Mau
apa lagi nih?”ucapmu kesal.
“Aku mau ngomong sesuatu. Tolong
didengerin dan langsung dijawab. Deal or no deal”
“Deal dech., daripada fotonya gak
balik.” Jawabmu kesal melengos tak memperhatikan mukaku yang memerah. Wajahmu
lucu mengekspresikan kekesalanmu. Mungkin benar katamu, aku terlihat lucu saat
marah tadi, karena kamu pun terlihat lucu saat ini.
“Ak aku. . . aku sayang kamu,
Gie” ucapku lirih dan pelan mengungkapkan kata yang terpendam. Kamu terlihat
kaget dan langsung mematap mataku. Mencari kesungguhan kata yang tadi terucap.
@@@
Liburan ini akan menjadi sangat
lama bagiku. Kamu akan pulang kampung di kota kecil Banjarnegara. Ya,
Banjarnegara aku ingat sekarang. Kota kecil yang katamu berada di dua kota
besar, Purwokerto dan Wonosobo. Aku secara tidak sadar, mendadak menjadi
seorang detektif yang mencari keberadaan dirimu. Meski aku tahu kamu akan
memegang janjimu, tapi rindu ini memaksaku untuk mencarimu. Banjarnegara,
sambutlah aku.
@@@
Aku kirimkan foto saat kita
bersama dan sebuah puisi. Doa singkat untuk kamu. Agar kamu mengerti
kerinduanku.
Pada
sedetik waktu
Jarak
telah memisahkan aku dan kamu
Menguji
seberapa kuat rasamu dan rasaku
Tapi
aku yakin dengan kamu
Kamu
akan menjaga hatimu dan hatiku
Sampai
saat itu
Saat
kamu dan aku menyatu
-teruntuk Kamu
*Diambil dari fantasiku yang selesai ku tulis
tanggal 27 September 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar