Translate

Senin, 02 Juli 2012

Semua Tentang Kamu

Bersyukur pada Tuhan
Berdoa  semua tentang kebaikan dan kebahagiaan
Juga doa tentangmu
Mengharap kamu ada menghadirkan senyum dan tawamu
Kehidupan ini hanyalah setitik waktu yang masih bisa ku lalui bersamamu.
Aku tak tahu, apakah disana kita juga akan bersatu?
                                                                        -teruntuk Kamu
@@@


Sepenggal puisi itu sengaja ditinggalkannya di atas meja. Sepenggal puisi perpisahan yang ia tujukan padaku. Meninggalkan kenangan yang tak terhitung bilangan angka. Baru sebentar dia melengkapi sisi kekosongan jiwaku, namun begitu cepat ia pergi. Membawa serta semuanya yang dulu pernah ada. Tawa, senyum, tangis, marah, kecewa, manja dan… dia sendiri. Kini menghilang bersama kepergiannya. Tak berbekas.

Aku rindu dengan godaan manjanya yang selalu membuatku geli saat aku mendengarnya. Meski aku tidak suka, tetapi dia lucu dan aku masih ingin mendengarnya. Tawanya yang lepas lalu tertahan, seakan mengejek ketidakmampuanku saat melakukan sesuatu.
Kamu, meskipun tak tahu, ternyata sedikit demi sedikit sebuah perasaan halus menyelusup pada salah satu pintu diantara ribuan pintu yang ada dalam hatiku

Kamu adalah arakan awan putih peneduh di padang gersang. Meski memang indah saat cerah, tapi aku rindu kamu untuk memberi warna yang berbeda pada birunya langit dunia. Melihatmu terbawa bayu, membuatku tertawa ternyata kamu tak terlalu perkasa. Namun pada akhirnya kamu membuktikan, kamu mampu kembali meneduhkan padang savana. Memberikan hidup dari air yang kamu bawa.

Kamu adalah awan putih yang berarak di langit luas. Memberi warna beda yang mampu meperindah dunia.

Diawali pertemuan singkat dulu saat kamu akan membayar uang SPP. Ya. Di lorong kecil di depan kantin sbelum menuju kantor administrasi di kampus kita. Tak tahu aku atau kamu yang memulai, tapi pertengkaran kecil itu terjadi. Suatu yang tidak penting memang. Masalah sepele, mungkin karena idealism dan kesombongan yang tinggi, aku langsung membentak tarikan tanganmu yang menarik sengaja lenganku. Kamu menghindarkanku dari bola liar yang terbang dari Lapangan basket di sebelah kanan lorong itu. Aku yang tak tahu karena sedang terburu, kaget. Kamu menarik tannganku kebelakang saat bola itu sedikit lagi mengenai kepalaku. Semua buku bawaanku terjatuh.

Dengan reflex yang tak terduga, mulut ini langsung mengeluarkan sumpah serapah tak tahu arah dan ditujukan untuk siapa. Karena saat itu pun aku belum tahu kamu. Kamu yang bodoh, tidak melihat didepannya ada orang yang sedang sama-sama jalan, atau aku yang terlalu tergesa tak mau menghindari bola itu hingga akhirnya kamu menarik tanganku. Tak peduli itu. Bagaikan mesin penembak, sumpah serapah langsung keluar tak terkendali menghabisi lalat bahkan semut di depanku. Tak kenal tempat ataupun waktu. Padahal waktu itu sedang ramai-ramainya kantin di kampus kita. Sontak pengunjung kantin di sebelah langsung menatap padaku. Malu. Dengan muka yang memerah aku melanjutkan jalanku. Meninggalkanmu yang terbengong tak percaya mendapat marah dari seorang yang kamu tolong. Ah, itu bukan urusanku pikirku sambil berjalan tak acuh menuju ruang kuliah.

@@@

Aku tak tahu harus darimana kuceritakan semua ini padamu. Tentang kerinduanku, kecemasanku, kecintaanku dan semua tentangmu yang ku ingin kamu tahu semua itu. Selama ini hanya coretan-coretan sajak tak berjudul yang menggantikan hadirmu. Menghiburku untuk mengulur waktu, supaya aku kuat menahan cinta ini agar tetap untukmu.

Aku berkeliling dunia tak berujung mencarimu. Kamu tahu, saat kamu pergi, kamu pun telah membawa sebagian hatiku bersamamu. Aku sangat kehilanganmu. Hati ini tak lengkap tanpa setangah hatiku yang terbawa bersama kepergianmu. Setelah semua yang telah aku lalui bersamamu aku tak bisa untuk tidak mencintaimu.

Telah lama aku tak merasakan cinta atau bahkan belum merasakan cinta kepada sosok pria selain ayah dan kakek. Ya. Gie, kamu yang pertama mampu membuat hati ini merasakan cinta pada sosok manusia sepertimu. Ah semua sangat indah saat aku mengenal dan dapat bersamamu. Waktu terasa lambat saat aku bisa menatap sinar ketegaran pada dua bola matamu. Kamu menceritakan tentang kampung halamanmu di kota kecil di Jawa Tengah. Sebuah kabupaten kecil yang terapit dua kabupaten besar di karesidenan Banyumas. Aku lupa, tapi ada kesamaan nama dengan sebuah kabupaten di Kalimantan dan Jawa Barat. Kabupaten Banjar… ah, bagian belakangnya aku lupa. Tapi aku sangat ingat cerita yang kau ceritakan padaku tentang kota kelahiranmu.

Aku berangkat kuliah suatu pagi tepatnya satu minggu sebelum ujian semester. Dengan langkah ragu dan malas, aku berusaha melangkahkan kakiku menuju gerbang kampus. Universitas Padjajaran Bandung, tepatnya Fakultas Ekonomi. Gerbang fakultas masih sepi, belum ada kegiatan kampus yang terlihat. Pukul Sembilan pagi lewat lima belas menit. Biasanya kamu sudah berdiri di depan gerbang kampus menunggu sahabatmu, Cho. Dengan topi cokelat dan hem berwarna biru kotak-kotak yang tak kamu kancingkan, kamu menunggu sahabatmu dengan sebuah buku kecil yang sudah lusuh.

“Heh! Penjaga pintu! Kotor nih, disapu dong? Kotor kok dibiarin aja?” sapaku pertama kali setelah kamu menjatuhkanku di sebelah kantin dulu. Melihatmu sok keren di gerbang kampus, iri.

“Maksudmu? Aku tukang sapu?” balasmu dengan tatapan kaget melihat kearahku.
“Kamu tuch yang harusnya di masukin ke tong sampah. Ditolong koq g terima kasih, udah kemarin marah-marah, sekarang ngolok-olokin lagi. Bodoh!” lanjutmu tanpa beranjak dari sandaran tembok gerbang.

“Apa!” bentakku.

Wajahmu tertutup topi yang terpasang lekat di kepalamu. Matamu bersembunyi atau sengaja kamu sembunyikan dari tatapan marahku. Dan kamu tak pedulikanku. Kembali menikmati dunia yang tercipta di otakmu dari buku lusuh di tanganmu.

Dengan langkah tergesa dan sedikit marah, aku berjalan menghampirimu. Kamu sedikitpun tak mempedulikan kehadiranku. Lalu dengan gerakan yang tak kusadari, aku merebut buku ditanganmu dan ku buang di tepat depanmu. Kamu mendongak, menatap kearahku dengan tatapan aneh. Raut muka tak berekspresi yang kosong tapi penuh harap.

“Apa kau bilang! Coba kau ulangi lagi!”

“Tidak ada siaran ulang, Nona. Terima kasih” datar kamu ucapkan seraya mengambil buku di depanmu. Lalu kamu pergi menghampiri sahabatmu yang datang tepat saat aku membuang bukumu.

Aku masih bengong tak percaya saat itu, saat kamu membiarkanku berdiri sendiri di gerbang itu. Sebuah foto tertinggal atau mungkin terjatuh dari buku lusuhmu itu saat kamu meninggalkanku. Foto kamu dan kedua sahabatmu. Aku tahu yang satu, tapi yang satu aku belum tahu siapa dia. Tapi yang jelas mereka sahabatmu.

Untuk Sahabatku, Gie. .
Jalan kita masih panjang kawan. Akhir ini adalah sebuah awal yang baru. Selamat berjuang, kawan. Aku menempuh jalan lain di percabangan jalan ini. Tapi aku yakin kita akan dipertemukan lagi di persimpangan jalan lain di depan. Aku yakin itu.
Semangat berjuang kawan. Ingat selalu janji kita. Salam Semangat.,.! :)
Sahabatmu DAQ
                                    (Bara, 16 Juli 2010)
Sebuah foto dan puisi. “Pasti kamu akan mencariku, aku tunggu kamu.”

@@@

Lalu di hari berikutnya tak jauh berbeda. Kamu berdiri di depan gerbang seperti biasa, tapi sekarang sudah bersama dengan sahabatmu. Dan sekarang bukan aku yang menghampirimu, tapi kamu yang menghampiriku. Selalu sama, dengan topi cokelat yang kamu pakai dan hem kotak-kotak biru yang tak kamu kancingkan kamu berjalan tergesa ke arahku.

“Maaf, bisa bicara sebentar?”

Waw! Ternyata kamu sangat sopan dengan wanita. Ada apa ini? Aku hanya mengangguk dan mengikuti arah jalanmu menuju tempat duduk kecil di bawah pohon.

“Mau bicara tentang apa?” ucapku memancingmu bicara.

“Maaf, kamu kemarin kan yang menarik buku yang ku pegang?”

“Terusss?”

“Di dalamnya ada fotoku dengan sahabatku. Apa kamu menemukannya? Atau…”

Kata-katamu berhenti saat aku keluarkan foto yang kamu cari.
“Eits!?” hindarku menjauhkan foto itu dari jangkaumu saat kamu berusaha mengambilnya dari tanganku.

“Tolonglah… foto itu sangat berharga bagiku. Tolong kembalikan.”

“Hemm… baik. Akan aku berikan, tapi dengan syarat. Syaratnya, kamu harus mengajariku belajar sebelum tes semester minggu depan. Deal or no deal?”

“Itukan fotoku, kenapa mesti dengan syarat.” Ucapmu kesal.

“Ya udah, kalo gak mau, gak akan aku kembaliin.”

“Okey. Deal!” ucapmu setuju dengan syaratku meskipun rautmu tanpa senyum sama sekali. Aku tak peduli, yang penting sekarang ada yang mau mengajariku tentang materi-materi di kuliahku.

“Foto ini akan aku berikan setelah tes semester usai. Di tempat ini.” Ucapku sembari berdiri dan melangkah pergi tak pedulikan persetujuanmu.

@@@

Seminggu belajar mengenai materi kuliah sebenarnya tidak menyenangkan bagiku. Tapi kamu membuatnya berbeda. Semua berjalan lebih menyenangkan saat ini. Kamu ternyata tidak seperti yang ku kira. Sebagai seorang yang dulu pernah memarahimu, membencimu dan yang sekarang sedang mengerjaimu aku jadi malu pada diriku sendiri.

Kamu pelengkap kecil diantara kekosongan puzzle yang belum terisi di kehidupanku. Kamu sangat hebat dalam memotivasi orang. Seperti yang kamu lakukan padaku. Aku yang sangat benci dengan pelajaran geometri, dengan kesabaranmu kamu mampu mengubahku untuk setidaknya tidak membenci satu pelajaranpun. Dan itu sangat membantuku mengatasi masalahku. Tapi, apakah kamu tahu ada yang lain yang kini menjadi masalah baruku. Suatu yang lain yang tak bisa terungkap mudah dengan sepatah kata.

“Kamu mau jadi apa nanti?”

Kamu menanyakan aku pertanyaan yang sangat sulit untuk ku jawab di hari terakhir sebelum test semester.

“Hmm… apa ya? Mungkin jadi… ekonom terhebat di dunia…” jawabku ragu. Lalu tawamu lepas, melihat raut bodoh mukaku dan jawaban tak yakin yang keluar dari mulutku sendiri.

“Kenapa tertawa?” tanyaku heran. Perlahan tawamu terhenti mencoba menanggapi kata-kataku.

“Kamu itu aneh. Masa udah besar gini, udah kuliah pula, masih ga tahu mau jadi apa? Anak TK aja kalau di tanya kayak gitu akan dengan pasti menjawa ‘aku mau jadi dokter! Aku mau jadi guru! Aku mau jadi presiden! Aneh kamu.. hahaha”

Aku jadi kesal padamu. Masa dibading bandingkan dengan anak TK, yang benar saja. Aku gemas padamu. Beberapa cubitan aku berikan sebagai jawaban dari pernyataan yang kamu berikan.

“Aw..! Aw..! oke oke.. maaf maaf dech hehehe”

“Tu kan? Masih mau ketawa?” tatapku mengancam. Tapi kamu memang tak kenal menyerah, masih saja meledekku dan tertawa di depanku. Aku pun lama-lama ikut tertawa juga. Tertawa melihat tawamu yang lucu.

Hari beranjak malam. Lalu kamu pulang dengan pesan yang seperti biasa kamu tinggalkan padaku.

“Temukan dirimu. Bukan menjadi seperti yang orang lain harapkan. Tapi jadilah apa yang kamu sukai dan  kamu yakini itu yang terbaik bagimu. Karena hidup terlalu singkat untuk menjadi orang lain. Okey?”

“Okey pak tua.” Jawabku sambil menatap mantap matamu. Kamu tersenyum. Senyum yang berbeda dari semua senyum yang telah kamu nampakkan di tiap pertemuanku dengan kamu. Kamu berjalan pergi, kulihat punggungmu semakin menjauh lalu perlahan menghilang.

“Aku sayang kamu, Gie” ucapku lirih dengan senyum yang termanis yang bisa kulakukan. Sayang, kamu sudah menghilang di antara kegelapan.

@@@

Hari ini hari pertama test semester. Kamu seperti biasa sudah berada di depan gerbang dengan topi hitam yang sudah menjadi bagian di hari-harimu. Aku hanya melihatmu dari jauh. Kamu dan Cho berjalan masuk, dan aku mengikutimu dari belakang. Banyak yang menyapamu, tak hanya teman-teman cowokmu, tapi juga teman-teman cewekmu. Dan saat itu aku merasakan yang lain. Cemburu.

“Gie..!! Tunggu aku dong..!!” panggilku keras. Aku langsung berlari mensejajarkan langkahmu.

“Kenapa lari-lari? Kayak mau nangkap maling aja si…hehehe” kata sahabatmu.

“Iya… Nih malingnya, hehehe” kataku sembari menunjuk kearah kamu. Ekspresimu yang lugu sangat lucu, aku tertawa. Innocence. Mungkin karena memang kamu tak bersalah atau tak tahu apa salah yang telah kamu lakukan.

Sebelum test dimulai, aku meminta kamu mengulas semua yang telah kita pelajari bersama. Aku merasa tenang.

@@@

Seminggu sudah. Test semester sudah selesai. Aku menunggumu di tempat duduk di bawah pohon sesuai janji kita dulu.

“Mana minumannya? Kok Cuma bawa satu si?” protesku padamu saat kamu datang dan hanya membawa satu botol minuman di tanganmu.

“Owh.. ini kan memang buat kamu. Aku sengaja bawa satu. Cuma buat kamu.” Katamu sembari menyerahkan minuman itu padaku dengan senyum seperti malam kemarin. Senyum yang membuatku mulai menguatkan diri untuk mengutarakan suatu padamu.

“Aah.. Maaf ya” mukaku ku rasa memerah. Malu.

“Udah, jangan malu-malu. Diminum gih? Ntar aku yang minum hlo…?”

“Eits!? Jangan donk? Katanya buat aku? Gimana sih…” kesal, langsung habiskan tak membiarkanmu berkomentar lebih jauh lagi.

“Ya ampun. Sekali tenggak? Hebat kali? Hahaha…” responmu dengan logat Medan yang lucu.

“Heh! Gak boleh? Ntar aku muntahin lagi nih?!”

“Yeee.. gitu aja marah. Lagi dapet ya? Dapet emosi maksudnya. . hehehe”

“Iigghhh.. kamu nih ya?”

Kamu malah senyam senyum melihatku. Katamu, ekspresiku lucu. “Emang orang lagi marah lucu. Lucu dari mananya? Fikirku. Dasar kamu!” Batinku merutuk.

“Ya udah udah, maaf deh. Sekarang, fotonya mana? Sini kembalikan, dah janji hlo? Janji itu harus ditepati..”pintamu dengan sedikit ceramah.

“Gak usah ceramah. Aku gak bakalan ingkar janji kok. Nih, fotonya.”

Kamu mau mengambilnya ditanganku, saat tiba-tiba aku jauhkan foto itu dari jangkaumu.

“Kena lagi deh ni. Hemmm. . . Mau apa lagi nih?”ucapmu kesal.

“Aku mau ngomong sesuatu. Tolong didengerin dan langsung dijawab. Deal or no deal”

“Deal dech., daripada fotonya gak balik.” Jawabmu kesal melengos tak memperhatikan mukaku yang memerah. Wajahmu lucu mengekspresikan kekesalanmu. Mungkin benar katamu, aku terlihat lucu saat marah tadi, karena kamu pun terlihat lucu saat ini.

“Ak aku. . . aku sayang kamu, Gie” ucapku lirih dan pelan mengungkapkan kata yang terpendam. Kamu terlihat kaget dan langsung mematap mataku. Mencari kesungguhan kata yang tadi terucap.

@@@

Liburan ini akan menjadi sangat lama bagiku. Kamu akan pulang kampung di kota kecil Banjarnegara. Ya, Banjarnegara aku ingat sekarang. Kota kecil yang katamu berada di dua kota besar, Purwokerto dan Wonosobo. Aku secara tidak sadar, mendadak menjadi seorang detektif yang mencari keberadaan dirimu. Meski aku tahu kamu akan memegang janjimu, tapi rindu ini memaksaku untuk mencarimu. Banjarnegara, sambutlah aku.

@@@

Aku kirimkan foto saat kita bersama dan sebuah puisi. Doa singkat untuk kamu. Agar kamu mengerti kerinduanku.

Pada sedetik waktu
Jarak telah memisahkan aku dan kamu
Menguji seberapa kuat rasamu dan rasaku
Tapi aku yakin dengan kamu
Kamu akan menjaga hatimu dan hatiku
Sampai saat itu
Saat kamu dan aku menyatu
                                    -teruntuk Kamu



*Diambil dari fantasiku yang selesai ku tulis tanggal 27 September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar