Entah mengapa aku tetap mencintai orang yang memang sudah jelas sekarang tak lagi menyayangiku. Meski aku berkali-kali dibuatnya sakit. Entah. Aku tetap berharap padanya. Aku tak tahu. Dunia tak adilkah? Atau memang inilah cinta yang tulus pada seorang wanita hingga tak lagi terfikirkan betapa sakitnya perasaan yang telah terluka? Berkali-kali terluka.
Fyuhh...
Tak tahulah. Aku hanya bisa mencintainya saja. Hingga batas waktu yang ditentukanNya tiba, aku akan tetap mencintainya.
Hari ini, aku tahu dia sedang teringat tentang mantannya dulu. Bahkan bercerita kalau dia masih cemburu saat sms yang dikirimkannya dibalasseorang cewek yang dia tak tahu siapa. Mendengar dia berkata begitu, akupun cemburu. Hatiku terasa sakit, entah. Tapi aku sangat sadar mungkin memang bukan aku yang dicintainya. Meski dulu dia pernah menyatakan sayang padaku, mungkin hanya sebuah kata dari mulutnya saja. Bukan dari hatinya.
Aku tak tahu dengan diriku sendiri. Meski berulang kali terluka mendengar ceritanya menyukai orang lain. Jalan-jalan dengan orang lain. Bahkan yang lain aku tak tahu.
Tapi aku cemburu. Sakit. Meski ku tersenyum, tetap saja tak mengubah sakit dan perih ini. Aku mencintainya dan mungkin terlalu mencintainya. Hanya yang terbaik yang ku doakan untuknya. Hidupnya, kesuksesannya dan semua yang dia inginkan.
Biarlah sebuah cinta yang tak terbalas terasakan perih dan sakitnya kini. Meski aku tak tahu apakah dia akan bersanding denganku atau tidak. Mungkin aku terlalu bodoh untuk tidak melepasnya saat aku tahu dia mencintai yang lain. Bukan aku. Baru kali ini aku mencintai seorang wanita seperti ini. Seharusnya memang tidak begini, tapi entah mengapa aku bertahan meski seribu sembilu telah menggoreskan perih pada perasaan.
Sore ini terlalu indah. Menghiburku yang tengah gundah. Bukan karena cinta yang telah direngkuh, tapi karena cemburu yang kejam. Mencintainya dalam kebisuan. Aku teringat sebuah pesan pendek yang dituliskan seorang temanku.
"Mungkin aku belum bisa membuatnya bahagia, tapi setidaknya aku tak membuatnya bersedih"
Jika cinta memang seperti itu, mungkin aku akan begitu. Membuatnya bahagia meski beribu sembilu memgiris pilu dalam kalbu.
Aku mencintainya. Biarkan saja. Aku terima apa yang ada. Jika memang dia untukku, nantinya pun akan selalu ada disampingku. Jika tidak, setidaknya mencintainya dan membuatnya terenyum bahagia adalah persembahanku untuknya. Suatu yang bisa aku berikan untuknya. Untuk seorang yang aku cintai.
Fyuhh...
Tak tahulah. Aku hanya bisa mencintainya saja. Hingga batas waktu yang ditentukanNya tiba, aku akan tetap mencintainya.
Hari ini, aku tahu dia sedang teringat tentang mantannya dulu. Bahkan bercerita kalau dia masih cemburu saat sms yang dikirimkannya dibalasseorang cewek yang dia tak tahu siapa. Mendengar dia berkata begitu, akupun cemburu. Hatiku terasa sakit, entah. Tapi aku sangat sadar mungkin memang bukan aku yang dicintainya. Meski dulu dia pernah menyatakan sayang padaku, mungkin hanya sebuah kata dari mulutnya saja. Bukan dari hatinya.
Aku tak tahu dengan diriku sendiri. Meski berulang kali terluka mendengar ceritanya menyukai orang lain. Jalan-jalan dengan orang lain. Bahkan yang lain aku tak tahu.
Tapi aku cemburu. Sakit. Meski ku tersenyum, tetap saja tak mengubah sakit dan perih ini. Aku mencintainya dan mungkin terlalu mencintainya. Hanya yang terbaik yang ku doakan untuknya. Hidupnya, kesuksesannya dan semua yang dia inginkan.
Biarlah sebuah cinta yang tak terbalas terasakan perih dan sakitnya kini. Meski aku tak tahu apakah dia akan bersanding denganku atau tidak. Mungkin aku terlalu bodoh untuk tidak melepasnya saat aku tahu dia mencintai yang lain. Bukan aku. Baru kali ini aku mencintai seorang wanita seperti ini. Seharusnya memang tidak begini, tapi entah mengapa aku bertahan meski seribu sembilu telah menggoreskan perih pada perasaan.
Sore ini terlalu indah. Menghiburku yang tengah gundah. Bukan karena cinta yang telah direngkuh, tapi karena cemburu yang kejam. Mencintainya dalam kebisuan. Aku teringat sebuah pesan pendek yang dituliskan seorang temanku.
"Mungkin aku belum bisa membuatnya bahagia, tapi setidaknya aku tak membuatnya bersedih"
Jika cinta memang seperti itu, mungkin aku akan begitu. Membuatnya bahagia meski beribu sembilu memgiris pilu dalam kalbu.
Aku mencintainya. Biarkan saja. Aku terima apa yang ada. Jika memang dia untukku, nantinya pun akan selalu ada disampingku. Jika tidak, setidaknya mencintainya dan membuatnya terenyum bahagia adalah persembahanku untuknya. Suatu yang bisa aku berikan untuknya. Untuk seorang yang aku cintai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar