Translate

Kamis, 05 Juli 2012

Kamu, Kelopak Mawar Biru Itu


Hujan masih mengguyur deras sampai sore ini. Awan mendung tidak menipis sedikitpun. Air hujan mengalir sampai jernih menandakan hujan ini sudah lama dengan volume air yang juga banyak. Suhu pun semakin dingin, menembus jaket hijau tebal yang Fal kenakan.

@@@

“Fal! Bertahanlah. Pegang tanganku! Cepat!” katanya bersikeras menolongku. Matanya tajam menatapku. Menyuruhku segera memegang tangannya. Hujan semakin deras, air sungai semakin meninggi. Fal mengulurkan tangannya, menggapai tangan Ryo.

“Cepat Fal! Air semakin meninggi! Cepat!!” bentaknya padaku bersamaan dengan petir yang menggelegar berwarna putih berkilat di atas langit.

“Hyaaaa…!!!” aku terjatuh disamping tubuhnya yang terlihat mulai lelah. Nafasnya cepat, bersaing dengan semakin derasnya hujan.

“Aw..!!” setengah menjerit, sakit. Tanganku meraba kebelakang. Hangat
.
“Fal! Kamu tidak apa-apa?” sapanya dengan nafas tersengal. Khawatir.

Tanganku merah lalu gelap. “Fal! Fal! Sadarlah Fal!” teriakan Ryo masih terdengar. Suaranya makin khawatir, namun semakin lirih.

@@@

“Hey! Ngapain ngelamun? Entar kesambet hlo? Hehehe..” sapa Melly menyadarkanku. Bayang masa lalu yang sedari tadi melingkupi pikiranku, terhempas gerimis. Jatuh. Mengalir bersama air menuruni saluran air kecil menuju sungai serayu. Air itu mencuri lagi sebagian cerita yang sedang aku nikmati bersama hujan.

“Ah.. eh.. gangguin orang aja! Udah tahu sedang ngelamun, jangan dikagetin donk!” balasku keras sambil menunjukkan  muka tak senang. Raut berbeda. Entah marah atau sedih tidak mampu terbedakan. Marah seperti petir yang dengan keras menyuarakan kesediahan langit yang kelam.

“Iya deh, maaf maaf Falinda Diana. Maafkan kelancangan saya ya?” katanya sambil menunduk meminta maaf. Tak mengira aku hanya mengerjainya saja.

“Kenna dehh!! Hahaha. Satu sama ya Mel! Hahaha.” Aku tertawa lepas sukses mengerjai Melly yang sudah menghancurkan lamunanku. Wajahnya lucu, kesal terkena jahilanku. Dan aku sangat menyukai saat seperti ini.

“Iigghh.. kamu ini. Gue kira marah beneran. Dasar! Hahaha” 

Aku tertawa lepas diserambi. Menciptakan dunia baru yang hanya aku saja yang tahu apa yang sedang ku nikmati. Suhu dunia nyata yang dingin sampai tidak terasa. Hilang terhapus tawa dan emosi bahagia yang tercipta. Ya. Setelah kejadian itu, hanya Melly lah yang setia menemani .

Melly merupakan sahabat karib Fal dari SMP, SMA dan sampai sekarang di perguruan tinggi. Meski jurusan yang diambil tidak sama, tapi tidak masalah bagiku untuk menemuinya. Bercerita kesana kesini menceritakan semua yang kami alami. Cinta, kuliah, film bahkan tukang sayur yang melintasi rumah kost pun tak absen mereka ceritakan.

Hujan tak bergeming untuk mengurangi volume air yang diturunkannya. Bahkan, malampun kalah. Malam ini tak ada bintang atau bahkan bulan. Hujan menang kali ini. Menyimpan bintang dan bulan untuk lain kali, untuk hadir saat tak ada seorangpun yang dapat menemaniku mencurahkan tiap kesedihan yang dialaminya.

@@@

Aku melihat ke teras halaman, memberikan senyum terindah pada seorang yang pasti datang di tiap akhir minggu seperti ini. Ryo dengan sepeda unta tua disampingnya menantiku untuk turun. Mengajaknya bersepeda sore. Menikmati keindahan alam saat senja datang, menyambut bintang-bintang hadir mengisi ruang kosong di langit yang menghitam. Aku sudah tidak diperbolehkan untuk aktif di kegiatan pecinta alam setelah kejadian yang menimpanya. Kedua orang tuaku langsung melarang putri semata wayangnya itu dari kegiatan kampus yang berhubungan dengan alam terbuka. Mendaki gunung, berkemah atau pun yang sejenisnya. Sebenarnya Aku tidak terlalu bermasalah dengan itu, namun kedua orang tuaku trauma. Dan tidak ingin kejadian itu kembali terulang lagi.

Untuk mengobati kerinduanku pada alam, setiap akhir minggu Ryo setia menemaniku menikmati langit senja yang jingga. Keindahan alam yang tak dapat digantikan dengan lukisan manapun. 

“Alam adalah anugerah terindah dari Pencipta. Tak akan ada yang mampu menggantikan keindahannya. Tak seorangpun, meskipun itu adalah pelukis terkenal sekalipun.” Katanya padaku saat sedang melintasi hamparan luas taman bunga milik paman Ryo. Aku hanya bisa tersenyum di belakang sadel. Sambil menikmati indahnya bunga-bunga yang sedang mekar terkena cahaya keemasan mentari sore. Mawar, anggrek, dahlia, krisan dan masih banyak lagi. Aku menghadap ke barat, menyampaikan salam perpisahan pada matahari untuk hari ini. Berpesan besok masih menjumpainya lagi. Untuk memberikan sinar kabahagian para penghuni semesta. 

Aku mempererat peganganku di lingkar perutnya. Mengharap ini adalah awal dari kebahagiaan yang amat aku nantikan. Sepoi angin mennyanyikan irama indah dedauan yang saling bergesek. Mengajak rambutku menari mengikuti iramanya.

Sebelah tangannya menggenggam tanganku. Hangat. “Aku harap kau menikmati ini Fal.” Wajahnya menoleh kebelakang, mencari mataku. Di sepersekian waktu, aku menangkap sorot matanya. Sorot kebahagiaan yang terpancar bening. Sebening hatinya mencintaiku. Aku bahagia. Andaikan saja aku memiliki alat penghenti waktu. Akan aku hentikan waktu untuk menikmati keindahan sorot matanya saat itu. Memandangnya sampai bosan mataku menatap. Tapi itu tak akan mungkin terjadi. “Saat ini adalah saat yang tak akan terulang lagi. Lakukan hal terbaik yang ingin kau lakukan hari ini.” Kata dari seorang temanku waktu aku di sekolah menengah atas tiba-tiba terngiang di kepalaku. Seorang aktifis organisasi kerohaniahan islam yang sangat cukup disegani oleh teman-temannya.

Aku menyandarkan kepalaku ke punggunggya. Memejamkan mataku. Merekam dan menyimpan episode ini. Menyimpan sore ini dengan bunga-bunga yang bermekaran dan langit yang menjingga. Sepoi angin dan melodi dedaunan. Semerbak wanginya dan hangat genggaman tangannya. Aku menyiapkan kotak terindah di suatu tempat yang jauh dari orang-orang. Lalu aku letakkan di dalamnya, menyimpannya dan menguncinya. Agar saat nanti dapat aku nikmati lagi saat ini. Mengulang semua yang terjadi saat ini. Membuktikan pada temanku, apa yang dikatakannya tidaklah benar. Saat ini pasti akan terjadi lagi saat nanti.

Malam menyampaikan salamnya untuk datang, tapi Ryo pamit untuk pulang. Setelah mengantarkanku ke rumah dan memastikan aku sudah di kamar, dia pulang. Aku melihatnya dari balkon lantai dua dekat kamarku. Setelah melambaikan tangan dan memberikan senyumnya, ia pergi. Aku menatap punggungnya sampai ia hilang dari tatap ku.

“Terimakasih Ryo” lirihku. Setelah tak terlihat, ada yang aneh menyelusup. Aku tak mau kehilangannya. Semenit saja ia meninggalkanku, aku sudah merindukannya. Takut dia menghilang dari pelukku. Kehilangan senyumnya, sorot matanya, hangat genggaman tangannya dan kehilangan cintanya. Aku tidak menginginkan itu. Aku ingin bersamanya. Selalu bersamanya,agar semua yang terjadi dulu dapat terulang lagi suatu saat nanti.

Suara serangga meminta izin menyambut malam yang mulai datang. Bintang bintang pun satu demi satu berdatangan. Menghiasi kekosongan ruang dilangit yang gelap. Aku duduk di balkon lantai dua. Menunggu semua bintang untuk datang lalu ku ceritakan semuanya hari ini. Saat aku duduk memboncong di sadel sepeda. Saat aku menikmati hamparan bunga-bunga, saat aku menatap dua bola matanya saat merasakan aliran darah di genggaman tangannya. Merasakan kebahagian cinta yang diisyaratkan degup jantungnya. Akan aku ceritakan semua. Dan akan aku titipkan kotak itu pada sang rembulan. Agar ia menyimpannya untukku. Menjaganya tetap jauh disana. Agar dapat ku nikmati lagi kenangan itu saat nanti. Saat ia sejenak meninggalkanku untuk menciptakan dunia yang baru untukku. Senyum yang baru, kebahagiaan yang baru dan semua kehidupan yang baru.

@@@

Mataku melayang pada awan yang berjalan sendirian di birunya siang. Udara segar mengisi ruang di semua bilik di paru-paru tubuhku. Menyebar bersama dengan darah menuju ke seluruh anggota tubuh. Tangan, kaki, kepala, jantung, serta bagian terfital yang tak mungkin bisa digantikan apa bila rusak. Otak.

Ya, udara itu mengalir bersama darah menuju otak. Memberi tenaga baru yang segar. Menguatkan 
lagi otak yang akan melakukan aktifitas. Oh sungguh. Betapa Tuhan Maha Mengetahui. Di waktu saat otak membutuhkan asupan tenaga tambahan di sepenggalah pagi. Waktu menunjukkan pukul 09.30. masih ada waktu untukku melaksanakan shalat sunnah dhuha. Bermunajat pada Allah di sepenggalah waktu dipagi hari, bersyukur atas semua yang telah dimiliki dan meminta dimudahkan dalam menjemput rezeki. Rezeki ilmu, sehat dan jodoh. Diberi kekuatan untuk menjemput rizkinya dengan cara dan hasil yang halal.

Selesai dhuha, aku berjalan menuju toko bunga yang ibu berikan padaku  untuk aku kelola. Aku sangat suka dengan bunga, begitupun dengan ibu. Mungkin kesukaanku pada bunga adalah warisan dari ibuku. Bunga yang paling aku sukai adalah mawar biru.

Mawar Biru. Mawar yang ingin aku berikan untuknya saat perpisahan itu. Tapi entah, dia mengembalikannya padaku. “Aku pasti kembali Fal” katannya mantap. Matanya tegas. Aku tahu dia dari dulu, dia selalu menepati apa yang diucapkannya. “Jaga ini ya?” dia memberikan sebuah kalung mawa biru. 

“Pakailah ini agar aku tahu kau selalu ada disini menantiku” katanya sembari memakaikan kalung itu dileherku. Matanya menatapku. Sejuk dan damai tatapanya. Aku sungguh tak mau  jauh darinya. Aku memeluknya erat, takut kehilangannya.

Pesawat menuju Korea terbang tepat pukul empat sore. Meninggalkan Indonesia. Dia meninggalkanku. Untuk sementara, aku kehilangan satu kelopak mawarku yang dibawanya. Kelopak itu adalah dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar