Hujan masih mengguyur deras sampai
sore ini. Awan mendung tidak menipis sedikitpun. Air hujan mengalir sampai
jernih menandakan hujan ini sudah lama dengan volume air yang juga banyak. Suhu
pun semakin dingin, menembus jaket hijau tebal yang Fal kenakan.
@@@
“Fal!
Bertahanlah. Pegang tanganku! Cepat!” katanya bersikeras menolongku. Matanya
tajam menatapku. Menyuruhku segera memegang tangannya. Hujan semakin deras, air
sungai semakin meninggi. Fal mengulurkan tangannya, menggapai tangan Ryo.
“Cepat
Fal! Air semakin meninggi! Cepat!!” bentaknya padaku bersamaan dengan petir
yang menggelegar berwarna putih berkilat di atas langit.
“Hyaaaa…!!!”
aku terjatuh disamping tubuhnya yang terlihat mulai lelah. Nafasnya cepat,
bersaing dengan semakin derasnya hujan.
“Aw..!!”
setengah menjerit, sakit. Tanganku meraba kebelakang. Hangat
.
“Fal!
Kamu tidak apa-apa?” sapanya dengan nafas tersengal. Khawatir.
Tanganku
merah lalu gelap. “Fal! Fal! Sadarlah Fal!” teriakan Ryo masih terdengar.
Suaranya makin khawatir, namun semakin lirih.
@@@
“Hey!
Ngapain ngelamun? Entar kesambet hlo? Hehehe..” sapa Melly menyadarkanku.
Bayang masa lalu yang sedari tadi melingkupi pikiranku, terhempas gerimis.
Jatuh. Mengalir bersama air menuruni saluran air kecil menuju sungai serayu.
Air itu mencuri lagi sebagian cerita yang sedang aku nikmati bersama hujan.
“Ah..
eh.. gangguin orang aja! Udah tahu sedang ngelamun, jangan dikagetin donk!”
balasku keras sambil menunjukkan muka
tak senang. Raut berbeda. Entah marah atau sedih tidak mampu terbedakan. Marah
seperti petir yang dengan keras menyuarakan kesediahan langit yang kelam.
“Iya
deh, maaf maaf Falinda Diana. Maafkan kelancangan saya ya?” katanya sambil
menunduk meminta maaf. Tak mengira aku hanya mengerjainya saja.
“Kenna dehh!! Hahaha.
Satu sama ya Mel! Hahaha.” Aku tertawa lepas sukses mengerjai Melly yang sudah
menghancurkan lamunanku. Wajahnya lucu, kesal terkena jahilanku. Dan aku sangat
menyukai saat seperti ini.
“Iigghh.. kamu ini. Gue
kira marah beneran. Dasar! Hahaha”
Aku
tertawa lepas diserambi. Menciptakan dunia baru yang hanya aku saja yang tahu
apa yang sedang ku nikmati. Suhu dunia nyata yang dingin sampai tidak terasa.
Hilang terhapus tawa dan emosi bahagia yang tercipta. Ya. Setelah kejadian itu,
hanya Melly lah yang setia menemani .
Melly
merupakan sahabat karib Fal dari SMP, SMA dan sampai sekarang di perguruan
tinggi. Meski jurusan yang diambil tidak sama, tapi tidak masalah bagiku untuk menemuinya.
Bercerita kesana kesini menceritakan semua yang kami alami. Cinta, kuliah, film
bahkan tukang sayur yang melintasi rumah kost pun tak absen mereka ceritakan.
Hujan
tak bergeming untuk mengurangi volume air yang diturunkannya. Bahkan, malampun
kalah. Malam ini tak ada bintang atau bahkan bulan. Hujan menang kali ini.
Menyimpan bintang dan bulan untuk lain kali, untuk hadir saat tak ada seorangpun
yang dapat menemaniku mencurahkan tiap kesedihan yang dialaminya.
@@@
Aku
melihat ke teras halaman, memberikan senyum terindah pada seorang yang pasti
datang di tiap akhir minggu seperti ini. Ryo dengan sepeda unta tua disampingnya
menantiku untuk turun. Mengajaknya bersepeda sore. Menikmati keindahan alam
saat senja datang, menyambut bintang-bintang hadir mengisi ruang kosong di
langit yang menghitam. Aku sudah tidak diperbolehkan untuk aktif di kegiatan
pecinta alam setelah kejadian yang menimpanya. Kedua orang tuaku langsung
melarang putri semata wayangnya itu dari kegiatan kampus yang berhubungan dengan
alam terbuka. Mendaki gunung, berkemah atau pun yang sejenisnya. Sebenarnya Aku
tidak terlalu bermasalah dengan itu, namun kedua orang tuaku trauma. Dan tidak
ingin kejadian itu kembali terulang lagi.
Untuk
mengobati kerinduanku pada alam, setiap akhir minggu Ryo setia menemaniku
menikmati langit senja yang jingga. Keindahan alam yang tak dapat digantikan
dengan lukisan manapun.
“Alam
adalah anugerah terindah dari Pencipta. Tak akan ada yang mampu menggantikan
keindahannya. Tak seorangpun, meskipun itu adalah pelukis terkenal sekalipun.” Katanya
padaku saat sedang melintasi hamparan luas taman bunga milik paman Ryo. Aku
hanya bisa tersenyum di belakang sadel. Sambil menikmati indahnya bunga-bunga
yang sedang mekar terkena cahaya keemasan mentari sore. Mawar, anggrek, dahlia,
krisan dan masih banyak lagi. Aku menghadap ke barat, menyampaikan salam
perpisahan pada matahari untuk hari ini. Berpesan besok masih menjumpainya
lagi. Untuk memberikan sinar kabahagian para penghuni semesta.
Aku
mempererat peganganku di lingkar perutnya. Mengharap ini adalah awal dari
kebahagiaan yang amat aku nantikan. Sepoi angin mennyanyikan irama indah
dedauan yang saling bergesek. Mengajak rambutku menari mengikuti iramanya.
Sebelah
tangannya menggenggam tanganku. Hangat. “Aku harap kau menikmati ini Fal.”
Wajahnya menoleh kebelakang, mencari mataku. Di sepersekian waktu, aku
menangkap sorot matanya. Sorot kebahagiaan yang terpancar bening. Sebening
hatinya mencintaiku. Aku bahagia. Andaikan saja aku memiliki alat penghenti
waktu. Akan aku hentikan waktu untuk menikmati keindahan sorot matanya saat
itu. Memandangnya sampai bosan mataku menatap. Tapi itu tak akan mungkin
terjadi. “Saat ini adalah saat yang tak akan terulang lagi. Lakukan hal terbaik
yang ingin kau lakukan hari ini.” Kata dari seorang temanku waktu aku di
sekolah menengah atas tiba-tiba terngiang di kepalaku. Seorang aktifis
organisasi kerohaniahan islam yang sangat cukup disegani oleh teman-temannya.
Aku
menyandarkan kepalaku ke punggunggya. Memejamkan mataku. Merekam dan menyimpan episode
ini. Menyimpan sore ini dengan bunga-bunga yang bermekaran dan langit yang
menjingga. Sepoi angin dan melodi dedaunan. Semerbak wanginya dan hangat
genggaman tangannya. Aku menyiapkan kotak terindah di suatu tempat yang jauh
dari orang-orang. Lalu aku letakkan di dalamnya, menyimpannya dan menguncinya.
Agar saat nanti dapat aku nikmati lagi saat ini. Mengulang semua yang terjadi
saat ini. Membuktikan pada temanku, apa yang dikatakannya tidaklah benar. Saat
ini pasti akan terjadi lagi saat nanti.
Malam
menyampaikan salamnya untuk datang, tapi Ryo pamit untuk pulang. Setelah
mengantarkanku ke rumah dan memastikan aku sudah di kamar, dia pulang. Aku
melihatnya dari balkon lantai dua dekat kamarku. Setelah melambaikan tangan dan
memberikan senyumnya, ia pergi. Aku menatap punggungnya sampai ia hilang dari
tatap ku.
“Terimakasih
Ryo” lirihku. Setelah tak terlihat, ada yang aneh menyelusup. Aku tak mau
kehilangannya. Semenit saja ia meninggalkanku, aku sudah merindukannya. Takut
dia menghilang dari pelukku. Kehilangan senyumnya, sorot matanya, hangat
genggaman tangannya dan kehilangan cintanya. Aku tidak menginginkan itu. Aku
ingin bersamanya. Selalu bersamanya,agar semua yang terjadi dulu dapat terulang
lagi suatu saat nanti.
Suara
serangga meminta izin menyambut malam yang mulai datang. Bintang bintang pun
satu demi satu berdatangan. Menghiasi kekosongan ruang dilangit yang gelap. Aku
duduk di balkon lantai dua. Menunggu semua bintang untuk datang lalu ku
ceritakan semuanya hari ini. Saat aku duduk memboncong di sadel sepeda. Saat
aku menikmati hamparan bunga-bunga, saat aku menatap dua bola matanya saat
merasakan aliran darah di genggaman tangannya. Merasakan kebahagian cinta yang
diisyaratkan degup jantungnya. Akan aku ceritakan semua. Dan akan aku titipkan
kotak itu pada sang rembulan. Agar ia menyimpannya untukku. Menjaganya tetap
jauh disana. Agar dapat ku nikmati lagi kenangan itu saat nanti. Saat ia
sejenak meninggalkanku untuk menciptakan dunia yang baru untukku. Senyum yang
baru, kebahagiaan yang baru dan semua kehidupan yang baru.
@@@
Mataku
melayang pada awan yang berjalan sendirian di birunya siang. Udara segar
mengisi ruang di semua bilik di paru-paru tubuhku. Menyebar bersama dengan
darah menuju ke seluruh anggota tubuh. Tangan, kaki, kepala, jantung, serta
bagian terfital yang tak mungkin bisa digantikan apa bila rusak. Otak.
Ya,
udara itu mengalir bersama darah menuju otak. Memberi tenaga baru yang segar.
Menguatkan
lagi otak yang akan melakukan aktifitas. Oh sungguh. Betapa Tuhan
Maha Mengetahui. Di waktu saat otak membutuhkan asupan tenaga tambahan di
sepenggalah pagi. Waktu menunjukkan pukul 09.30. masih ada waktu untukku
melaksanakan shalat sunnah dhuha. Bermunajat pada Allah di sepenggalah waktu
dipagi hari, bersyukur atas semua yang telah dimiliki dan meminta dimudahkan
dalam menjemput rezeki. Rezeki ilmu, sehat dan jodoh. Diberi kekuatan untuk
menjemput rizkinya dengan cara dan hasil yang halal.
Selesai
dhuha, aku berjalan menuju toko bunga yang ibu berikan padaku untuk aku kelola. Aku sangat suka dengan
bunga, begitupun dengan ibu. Mungkin kesukaanku pada bunga adalah warisan dari
ibuku. Bunga yang paling aku sukai adalah mawar biru.
Mawar
Biru. Mawar yang ingin aku berikan untuknya saat perpisahan itu. Tapi entah,
dia mengembalikannya padaku. “Aku pasti kembali Fal” katannya mantap. Matanya
tegas. Aku tahu dia dari dulu, dia selalu menepati apa yang diucapkannya. “Jaga
ini ya?” dia memberikan sebuah kalung mawa biru.
“Pakailah
ini agar aku tahu kau selalu ada disini menantiku” katanya sembari memakaikan
kalung itu dileherku. Matanya menatapku. Sejuk dan damai tatapanya. Aku sungguh
tak mau jauh darinya. Aku memeluknya
erat, takut kehilangannya.
Pesawat
menuju Korea terbang tepat pukul empat sore. Meninggalkan Indonesia. Dia
meninggalkanku. Untuk sementara, aku kehilangan satu kelopak mawarku yang
dibawanya. Kelopak itu adalah dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar