Rinduku berteriak dalam kebisuan
Melonglong pada puncak cemara
Setiap malam
Sebelum pagi datang
Saat matahari terik bersinar
Di waktu sore
Dan kembali lagi mendekapku malam
ini
Terbawa pada aliran serayu
Deras
Sederas rindu yang tiba-tiba
membanjiri
Semua bagian hati dan pikiranku
Mengapa aku merindukanmu
Sedangkan kamu tidak?
Enak saja!
Boleh saja kamu menganggapku gila
Sedangkan kau tak sedetikpun
memikirkanku
Bahkan bebatuan di tengah dan di
pinggir serayu
Tak lagi mampu membendung dan
Menghentikan kerinduanku
Menunggu waktu hadirkan ragamu
Dan menatap lekat dua matamu
Harus kepada siapa lagi aku
Mengadukan rindu?
Jika setiap detik aku merindu
Tak mampu ku sapa dirimu
Mungkin aku tak waras
Yang mengadu pada batu-batu serayu
Mencoba meringankan kepalaku
Yang semakin berat menahahan
rindu
Jika bisa
Akan ku sulap kau menjadi buku
saku
Agar bisa ku bawa kemanapun
sesukaku
Dan kutuliskan beribu rindu
untukmu
Ah! Terlalu...
Aku berteriak dalam bisu rinduku
Mengalir pada banyu serayu
Setiap malam
Sebelum pagi datang
Saat matahari terik bersinar
Di waktu sore
Dan entah apa lagi deskripsi
waktu
Aku (teralu) selalu merindumu
seperti serayu
Mengalir deras
Tak terhentikan bebatuan yang
menghadang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar