Urusan yang satu
ini memang tiada habisnya setiap tahun. Setiap kali ada yang sadar akan bahaya
akan bahaya virus merah jambu ini, setiap kali pula ada generasi baru yang superpolos menerima apa yang di
dakwahkan oleh kapitalis hedonis
tentang apa yang harus mereka lakukan pada tanggal 14 februari.
Remaja memang
target utama setan –ada yang bentuk jin, ada bentuk manusia- dalam menjalankan
cinta palsu, yaitu sejenis cinta berbalut syahwat. Wajar saja kenapa remaja
yang dipilih, karena masa remaja adalah saat-saat mencari jati diri, bahasa
kerennya aqua age. Ibarat air, remaja bisa berubah cepat mengikuti
lingkungannya. Bila laingkungannya baik, dia ikutan baik; bila lingkungannya
buruk, mereka ikuti pula.
Remaja bukan lagi
anak-anak namun belum sampai dewasa apalagi kolot. Anak baru gede, itu bahasa
gaulnya. Apanya yang gede? Ya semuanya: badannya, tenaganya, juga nafsunya.
Bahasa agamanya sudah akil balig. Tadinya ketemu lawan
jenis biasa-biasa saja, mendadak muncul rasa-rasa yang kurang biasa. Begitulah.
Sebab rasa di
antara lawan jenis itulah, orang bilang masa remaja masa yang paling indah.
Nikmat hidup sudah mulai terasa dan belum perlu pikirkan nafkah. Senang
berinteraksi dengan lawan jenis bisa diraih, komitmen dan tanggung jawab belum
perlu pikirkan. Apa saja yang indah saat remaja?
Saat muncul rasa
cinta, kepikiran terus. Ingin dekat dengannya, ingin selalu bersamanya.
Sepertinya apa yang dikatakan berubah menjadi puisi terindah, suaranya bagaikan
senandung bidadari dan keberadaannya sendiri lebih penting daripada dunia dan
seisinya. Halah.
Biasanya strategi
pendekatan anak sekolah yang wajib, setelah muncul rasa-rasa iniialah pinjem
buku –dari tahun 70 an nggak ada kreativitas, nih- atau strategi kolot lain
seperti belajar kelompok bersama-klise banget. Dilanjutkan dengan jalan-jalan
bareng. Kalau ada yang sudah kecantol, ya, diajak nonton bareng.
Nah, di sini sudah
mulai horor. Setelah berhasil diajak nonton bareng, biasanya pengen menyentuh,
pengen pegang-pegang, pengen cium, pengen, pengen, pengen. Di ujung cerita,
halim deh, eh… hamil deh.
Tiada kuat
menanggung malu, akhirnya nyawa dalam kandungan direnggut paksa dengan aborsi. Na’udzubillahi min dzalik. Banyak yang
mengumbar nafsu bertopengkan cinta, padahal yang dicari kenikmatan fisik belaka.
Hal ini terjadi bukan hanya karena ada niat dan usaha lelaki, tapi juga wanita
yang memberikan kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!
Bagi remaja,
interaksi lawan jenis memang paling menarik. Lebih menarik daripada sapi yang
lagi membajak sawah. Karena itulah kalangan-kalangan yang tidak suka kepada
Islam terus-menerus mempropagandakan segala sesuatu yang berkaitan dengan
kenikmatan interaksi lawan jenis remaja, baik itu hiburan visual-audio seperti
film, sinetron atau bioskop; bisa juga hanya audio seperti musik; atau sekalian
visual-audio-kinetik, seperti pacaran –malah banyak kinetiknya.
Agar generasi
remaja penerus Islam lalai dengan agamanya, mereka dihujani dengan
doktrin-doktrin tentang cinta menyesatkan. Contoh paling mudah, yaitu Valentine
Day.
Setiap 14 februari, para remaja diarahkan untuk merayakan
hari cinta, hari kasih sayang. Judulnya sih begitu, praktiknya tidak lebih dari
hari syahwat dan maksiat.
Entah consensus
dari mana, tetapi cinta hanya disetarakan dengan kartu ucapan, cokelat dan
bunga mawar, dengan harga yang tentu tak murah. Merugikan yang punya cinta dab
hekas menguntungkan pengusaha –yang bukan konon katanya, tapi memang meraup
miliaran rupiah –dari bisnis syahwat ini.
Dari segi akidah,
iman pun tergadai dengan adat kebiasaan yang bukan dari Islam. Dari segi
kehormatan lebih parah lagi, Valentine Day sudah menjelma menjadi
ajang pelepasan kehormatan secara massal, yang akan kita bahas lebih nantinya.
Supaya nggak asal
usil, mari kita tengok asal usul Valentine Day. Alkisah, zaman dahulu kala di
suatu negeri antah berantah, hiduplah seorang putri raja cantik nan jelita.
Begini ceritanya. Seperti yang kita ketahui, bangsa Romawi yang menjadi dasar
peradaban Barat, hidup dengan suatu adat, yaitu menjadikan kepuasan fisik
badaniah sebagai tujuan hidup mereka. Money,
drink and sex, itulah sekali tiga uang dalam kehidupan mereka.
Bila kita
perhatikan mitologi Yunani-Romawi, akan kita dapatkan cara pandang ini dalam
cerita-cerita mereka. Ada dewa yang selingkuh, ada dewa yang diselingkuhi.
Bahkan ada dewa yang memilih menikah dengan dewa lainnya dalam bentuk hewan.
Ada hubungan seks dalam keluarga, bahkan ada dewi cinta. Itulah mitologi mereka
yang dipenuhi dengan kepuasan badaniah.
Dari segi
penampakan pun, patung-patung yang diukir dan lukisan-lukisan yang digambar
oleh seniman yang hidup di zaman Yunani-Romawi penuh eksploitasi terhadap fisik
wanita. Merupakan sebuah pemandangan yang biasa di kuil-kuil penyembahan
mereka, patung-patung wanita tanpa busana dan lukisan-lukisan bugil.
Jauh sebelum dunia
mengenal hari kasih sayang, perang Romawi mengenal perayaan “Festival
Lupercalia”, yaitu rangkaian hari raya yang dipersembahkan kepada dewa Lupercus sang Dewa Kesehatan dan
Kesuburan dan Juno Februa yang juga Dewi Pernikahan dan Kesuburan. Perayaan
ini digelar setiap tahunnya pada 13-15 Februari.
Lupercus sendiri
adalah Dewa Kesuburan Seksual Romawi yang di ilustrasikan sebagai manusia
berkaki dan berkepala kambing atau setara dengan Pan dalam mitologi Yunani. Pan inilah yang juga menjelma menjadi Baphomet –dalam tradisi pemuja setan
Yahudi, Dewa Kesuburan yang menjadi lambang regenerative lelaki dan wanita
sekaligus lambang seks.
Adapun Juno Februa, Dewi Pernikahan dan
Kesuburan, yang di ilustrasikan memakai mantel dari kulit kambing –ciri
kesuburan –adalah istri dari para pemimpin dewa, Jupiter. Dalam mitologi
Yunani, Juno dikenal sebagai Hera
yang menikah dengan Zeus pada bulan Gamelion yang terletak antara
pertengahan Januari dan pertengahan Februari.
Dalam suatu legenda,
diceritakan bahwa Pen mempunyai affair dengan Dewi Kecantikan dan Dewi Cinta Aphrodite (dikenal juga
dengan nama Venus), dengan Eros (dikenal juga sebagai Cupid)
yang digambarkan sebagai anak kecil tampan bersayap yang membawa panah cinta
–anak dari Aphrodite yang menjadi
pengamat dan promoter.
Menurut legenda
yang lain lagi, bahkan Aphrodite sangat tertarik dengan ketampanan anaknya
sendiri sehingga melakukan hubungan badan dengan anaknya.Waduh!
Begitu pula yang
dirayakan saat ”Festival Lupercalia”
13-15 Februari. Perayaan itu dilakukan untuk meneladani semangat Pan, Juno, Venus, Cupid, yang
kesemuanya bermuara pada satu kata: nafsu.
Perayaan dimulai
dengan menaruh nama-nama perawan di sebuah tempat dalam kertas-kertas yang
terpisah. Kemudian lelaki maju satu per satu untuk mengambilnya secara acak.
Siapa yang terpilih itulah akan menjadi partner untuk melakukan hubungan
terlarang sepanjang malam. Setelahnya berlanjut menjadi pasangan hingga tahun
berikutnya.
Begitulah
“Festival Lupercalia” yang dipraktikkan selama berabad-abad pada masa Romawi.
Hubungan badan yang dihalalkan dalam bentuk adat-istiadat, yang tentu saja
bersesuaian dengan misi hidup mereka, yang menjadikan nafsu sebagai tuhan.
Setelah kaum
Kristiani berkuasa, sekira 494 M, Paus
Gelasius I mengakulturasi Festival Lupercalia ini menjadi “Fesival Penyucian Bunda Maria” sebagai
pengganti penyembahan terhadap Lupercalia. Namun, esensi perayaan ini tetap sama, penuh dengan nafsu
dan keburukan, berkelindan dengan kepentingan konsumerisme yang
menjadi target
para kapitalis.
Pernah pula gereja
menjadikan 14 Februari dengan mencangkokkan tokoh Saint Valentine yang berjuang demi cinta hingga menjadi martir pada
14 Februari, hingga hari kematiannya diperingati sebagai hari perjuangan cinta,
Valentine Day.
Namun kebenarannya
tidak bisa diverifikasi dan esensi perayaannya tetap lah sama, hingga pada 1969
Valentine Day dihapuskan dari kalender gereja oleh Paus Paul VI.
Sampai di sini
saja, sebetulnya sudah cukup alasan bagi kaum Muslimim untuk meninggalkan
Valentine Day. Karena asalnya dari perayaan pagan Romawi dilanjutkan sebagai
hari besar gereja. Belum lagi hasilnya mengerikan pada zaman ini. Valentine Day
dijadikan sebagai hari untuk menyatakan cinta, mencari pacar, melakukan
aktifitas maksiat dengan kehormatan sebagai taruhan. Itu berarti awal dari down payment kiamat bagi kaum wanita.
Simaklah nasihat
Allah dan Rasul-Nya kepada manusia berkaitan dengan Valentine Day dan perayaan
lainnya yang bukan dari Islam dan segala budaya yang mengajak manusia mendewakan
manusia serta nafsunya dan meninggalkan Allah.
“Orang-orang
Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama
mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).”
Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan merkea setelah pengetahuan yang
datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi Pelindung dan Penolong bagimu.”
QS Al-Baqarah [2]
: 120
“Kamu akan
mengikuti sunnah-sunnah kaum sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta
demi sehasta, dan ketika mereka masuk ke lubang biawak pun, kalian tetap
mengikutinya.’Kami bertanya ‘ Apakah mereka itu kaum Yahudi dan kaum Nasrani? ‘
Rasul menjawab, ‘Siapa lagi? (bila bukan mereka –pen).’”
HR Al-Bukahri
Inna lillah, ketika syahwat bertopeng
cinta, bagaikan setan bersolek. Namun sayang, mata remaja sulit terbuka karena
ditutupi dunia fana. Pertanyaanya, Valentine Day itu love or lust? Sayang atau syahwat?
Diambil dari Buku “Udah Putusin Aja”,
Karya Ust Felix Y. Siauw.
Nah Sahabat, di
atas sudah dijelaskan tentang asal usul peringatan Velntine Day. Banyak
buruknya, dan bahkan tak ada kebaikan sama sekali di dalamnya. Sebagai umat
Islam, sudah sepantasnya tidak merayakan hari Valentine Day –yang katanya
disebut dengan hari kasih sayang. Terlebih lagi Rasul sangat membenci umat
Islam yang mengikuti sebuah perilaku suatu kaum, bahkan dikatakan barang siapa
yang mengikuti perilaku suatu kaum akan di cap sebagai pengikut kaum tersebut.
Tentu tidak mau bukan di benci Allah dan Rasul-Nya? Na’udzubillah..
Sahabat remaja,
mari bersama menjaga iman dan kehormatan. Baik untuk sahabat laki-laki maupun
sahabat perempuan.
Semoga dengan
menjaga kehormatan dan menjauhi maksiat, bisa menjadi salah satu amal
mendapatkan syafaat dan pertolongan di hari tak ada pertolongan selain
pertolongan Allah SWT. Aamiin.
#Mohon maaf bila
ada kesalahan kata dan tulisan. Semoga bisa bermfaat bagi semua. Insya Allah.#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar