Translate

Rabu, 12 Februari 2014

Sejarah Valentine Day…



Urusan yang satu ini memang tiada habisnya setiap tahun. Setiap kali ada yang sadar akan bahaya akan bahaya virus merah jambu ini, setiap kali pula ada generasi baru yang superpolos menerima apa yang di dakwahkan oleh kapitalis hedonis tentang apa yang harus mereka lakukan pada tanggal 14 februari.


Remaja memang target utama setan –ada yang bentuk jin, ada bentuk manusia- dalam menjalankan cinta palsu, yaitu sejenis cinta berbalut syahwat. Wajar saja kenapa remaja yang dipilih, karena masa remaja adalah saat-saat mencari jati diri, bahasa kerennya aqua age. Ibarat air, remaja bisa berubah cepat mengikuti lingkungannya. Bila laingkungannya baik, dia ikutan baik; bila lingkungannya buruk, mereka ikuti pula. 


Remaja bukan lagi anak-anak namun belum sampai dewasa apalagi kolot. Anak baru gede, itu bahasa gaulnya. Apanya yang gede? Ya semuanya: badannya, tenaganya, juga nafsunya. Bahasa agamanya sudah akil balig. Tadinya ketemu lawan jenis biasa-biasa saja, mendadak muncul rasa-rasa yang kurang biasa. Begitulah.

Sebab rasa di antara lawan jenis itulah, orang bilang masa remaja masa yang paling indah. Nikmat hidup sudah mulai terasa dan belum perlu pikirkan nafkah. Senang berinteraksi dengan lawan jenis bisa diraih, komitmen dan tanggung jawab belum perlu pikirkan. Apa saja yang indah saat remaja?


Saat muncul rasa cinta, kepikiran terus. Ingin dekat dengannya, ingin selalu bersamanya. Sepertinya apa yang dikatakan berubah menjadi puisi terindah, suaranya bagaikan senandung bidadari dan keberadaannya sendiri lebih penting daripada dunia dan seisinya. Halah.


Biasanya strategi pendekatan anak sekolah yang wajib, setelah muncul rasa-rasa iniialah pinjem buku –dari tahun 70 an nggak ada kreativitas, nih- atau strategi kolot lain seperti belajar kelompok bersama-klise banget. Dilanjutkan dengan jalan-jalan bareng. Kalau ada yang sudah kecantol, ya, diajak nonton bareng.


Nah, di sini sudah mulai horor. Setelah berhasil diajak nonton bareng, biasanya pengen menyentuh, pengen pegang-pegang, pengen cium, pengen, pengen, pengen. Di ujung cerita, halim deh, eh… hamil deh.


Tiada kuat menanggung malu, akhirnya nyawa dalam kandungan direnggut paksa dengan aborsi. Na’udzubillahi min dzalik. Banyak yang mengumbar nafsu bertopengkan cinta, padahal yang dicari kenikmatan fisik belaka. Hal ini terjadi bukan hanya karena ada niat dan usaha lelaki, tapi juga wanita yang memberikan kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!


Bagi remaja, interaksi lawan jenis memang paling menarik. Lebih menarik daripada sapi yang lagi membajak sawah. Karena itulah kalangan-kalangan yang tidak suka kepada Islam terus-menerus mempropagandakan segala sesuatu yang berkaitan dengan kenikmatan interaksi lawan jenis remaja, baik itu hiburan visual-audio seperti film, sinetron atau bioskop; bisa juga hanya audio seperti musik; atau sekalian visual-audio-kinetik, seperti pacaran –malah banyak kinetiknya.


Agar generasi remaja penerus Islam lalai dengan agamanya, mereka dihujani dengan doktrin-doktrin tentang cinta menyesatkan. Contoh paling mudah, yaitu Valentine Day.


Setiap 14 februari, para remaja diarahkan untuk merayakan hari cinta, hari kasih sayang. Judulnya sih begitu, praktiknya tidak lebih dari hari syahwat dan maksiat.


Entah consensus dari mana, tetapi cinta hanya disetarakan dengan kartu ucapan, cokelat dan bunga mawar, dengan harga yang tentu tak murah. Merugikan yang punya cinta dab hekas menguntungkan pengusaha –yang bukan konon katanya, tapi memang meraup miliaran rupiah –dari bisnis syahwat ini.


Dari segi akidah, iman pun tergadai dengan adat kebiasaan yang bukan dari Islam. Dari segi kehormatan lebih parah lagi, Valentine Day sudah menjelma menjadi ajang pelepasan kehormatan secara massal, yang akan kita bahas lebih nantinya.

Supaya nggak asal usil, mari kita tengok asal usul Valentine Day. Alkisah, zaman dahulu kala di suatu negeri antah berantah, hiduplah seorang putri raja cantik nan jelita. Begini ceritanya. Seperti yang kita ketahui, bangsa Romawi yang menjadi dasar peradaban Barat, hidup dengan suatu adat, yaitu menjadikan kepuasan fisik badaniah sebagai tujuan hidup mereka. Money, drink and sex, itulah sekali tiga uang dalam kehidupan mereka.


Bila kita perhatikan mitologi Yunani-Romawi, akan kita dapatkan cara pandang ini dalam cerita-cerita mereka. Ada dewa yang selingkuh, ada dewa yang diselingkuhi. Bahkan ada dewa yang memilih menikah dengan dewa lainnya dalam bentuk hewan. Ada hubungan seks dalam keluarga, bahkan ada dewi cinta. Itulah mitologi mereka yang dipenuhi dengan kepuasan badaniah.


Dari segi penampakan pun, patung-patung yang diukir dan lukisan-lukisan yang digambar oleh seniman yang hidup di zaman Yunani-Romawi penuh eksploitasi terhadap fisik wanita. Merupakan sebuah pemandangan yang biasa di kuil-kuil penyembahan mereka, patung-patung wanita tanpa busana dan lukisan-lukisan bugil.
Jauh sebelum dunia mengenal hari kasih sayang, perang Romawi mengenal perayaan “Festival Lupercalia”, yaitu rangkaian hari raya yang dipersembahkan kepada dewa Lupercus sang Dewa Kesehatan dan Kesuburan dan Juno Februa yang juga Dewi Pernikahan dan Kesuburan. Perayaan ini digelar setiap tahunnya pada 13-15 Februari.


Lupercus sendiri adalah Dewa Kesuburan Seksual Romawi yang di ilustrasikan sebagai manusia berkaki dan berkepala kambing atau setara dengan Pan dalam mitologi Yunani. Pan inilah yang juga menjelma menjadi Baphomet –dalam tradisi pemuja setan Yahudi, Dewa Kesuburan yang menjadi lambang regenerative lelaki dan wanita sekaligus lambang seks.


Adapun Juno Februa, Dewi Pernikahan dan Kesuburan, yang di ilustrasikan memakai mantel dari kulit kambing –ciri kesuburan –adalah istri dari para pemimpin dewa, Jupiter. Dalam mitologi Yunani, Juno dikenal sebagai Hera yang menikah dengan Zeus pada bulan Gamelion yang terletak antara pertengahan Januari dan pertengahan Februari.


Dalam suatu legenda, diceritakan bahwa Pen mempunyai affair dengan Dewi Kecantikan dan Dewi Cinta Aphrodite (dikenal juga dengan nama Venus), dengan Eros (dikenal juga sebagai Cupid) yang digambarkan sebagai anak kecil tampan bersayap yang membawa panah cinta –anak dari Aphrodite yang menjadi pengamat dan promoter.


Menurut legenda yang lain lagi, bahkan Aphrodite sangat tertarik dengan ketampanan anaknya sendiri sehingga melakukan hubungan badan dengan anaknya.Waduh!
Begitu pula yang dirayakan saat ”Festival Lupercalia” 13-15 Februari. Perayaan itu dilakukan untuk meneladani semangat Pan, Juno, Venus, Cupid, yang kesemuanya bermuara pada satu kata: nafsu.


Perayaan dimulai dengan menaruh nama-nama perawan di sebuah tempat dalam kertas-kertas yang terpisah. Kemudian lelaki maju satu per satu untuk mengambilnya secara acak. Siapa yang terpilih itulah akan menjadi partner untuk melakukan hubungan terlarang sepanjang malam. Setelahnya berlanjut menjadi pasangan hingga tahun berikutnya.
Begitulah “Festival Lupercalia” yang dipraktikkan selama berabad-abad pada masa Romawi. Hubungan badan yang dihalalkan dalam bentuk adat-istiadat, yang tentu saja bersesuaian dengan misi hidup mereka, yang menjadikan nafsu sebagai tuhan.
Setelah kaum Kristiani berkuasa, sekira 494 M, Paus Gelasius I mengakulturasi Festival Lupercalia ini menjadi “Fesival Penyucian Bunda Maria” sebagai pengganti penyembahan terhadap Lupercalia. Namun, esensi  perayaan ini tetap sama, penuh dengan nafsu dan keburukan, berkelindan dengan kepentingan konsumerisme yang
menjadi target para kapitalis.


Pernah pula gereja menjadikan 14 Februari dengan mencangkokkan tokoh Saint Valentine yang berjuang demi cinta hingga menjadi martir pada 14 Februari, hingga hari kematiannya diperingati sebagai hari perjuangan cinta, Valentine Day.


Namun kebenarannya tidak bisa diverifikasi dan esensi perayaannya tetap lah sama, hingga pada 1969 Valentine Day dihapuskan dari kalender gereja oleh Paus Paul VI.

Sampai di sini saja, sebetulnya sudah cukup alasan bagi kaum Muslimim untuk meninggalkan Valentine Day. Karena asalnya dari perayaan pagan Romawi dilanjutkan sebagai hari besar gereja. Belum lagi hasilnya mengerikan pada zaman ini. Valentine Day dijadikan sebagai hari untuk menyatakan cinta, mencari pacar, melakukan aktifitas maksiat dengan kehormatan sebagai taruhan. Itu berarti awal dari down payment kiamat bagi kaum wanita.

Simaklah nasihat Allah dan Rasul-Nya kepada manusia berkaitan dengan Valentine Day dan perayaan lainnya yang bukan dari Islam dan segala budaya yang mengajak manusia mendewakan manusia serta nafsunya dan meninggalkan Allah.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan merkea setelah pengetahuan yang datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi Pelindung dan Penolong bagimu.”
QS Al-Baqarah [2] : 120

“Kamu akan mengikuti sunnah-sunnah kaum sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, dan ketika mereka masuk ke lubang biawak pun, kalian tetap mengikutinya.’Kami bertanya ‘ Apakah mereka itu kaum Yahudi dan kaum Nasrani? ‘ Rasul menjawab, ‘Siapa lagi? (bila bukan mereka –pen).’”
HR Al-Bukahri

Inna lillah, ketika syahwat bertopeng cinta, bagaikan setan bersolek. Namun sayang, mata remaja sulit terbuka karena ditutupi dunia fana. Pertanyaanya, Valentine Day itu love or lust? Sayang atau syahwat?

Diambil dari Buku “Udah Putusin Aja”, Karya Ust Felix Y. Siauw.

Nah Sahabat, di atas sudah dijelaskan tentang asal usul peringatan Velntine Day. Banyak buruknya, dan bahkan tak ada kebaikan sama sekali di dalamnya. Sebagai umat Islam, sudah sepantasnya tidak merayakan hari Valentine Day –yang katanya disebut dengan hari kasih sayang. Terlebih lagi Rasul sangat membenci umat Islam yang mengikuti sebuah perilaku suatu kaum, bahkan dikatakan barang siapa yang mengikuti perilaku suatu kaum akan di cap sebagai pengikut kaum tersebut. Tentu tidak mau bukan di benci Allah dan Rasul-Nya? Na’udzubillah..


Sahabat remaja, mari bersama menjaga iman dan kehormatan. Baik untuk sahabat laki-laki maupun sahabat perempuan.
Semoga dengan menjaga kehormatan dan menjauhi maksiat, bisa menjadi salah satu amal mendapatkan syafaat dan pertolongan di hari tak ada pertolongan selain pertolongan Allah SWT. Aamiin.

#Mohon maaf bila ada kesalahan kata dan tulisan. Semoga bisa bermfaat bagi semua. Insya Allah.#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar